
...Happy Reading ...
...❤...
Sekitar tiga puluh menit kemudian Ezra sudah memarkirkan mobilnya, di dekat sebuah jembatan lama, yang terlihat sudah tidak terpakai.
Mengambil ponsel yang baru saja diberikan Max sebelum berangkat.
Iit bukanlah sebuah ponsel biasa, benda itu dilengkapi alat penyadap dan pelacak yang langsung terhubung dengan ahli IT black eagle.
Mengetikkan nomor yang tadi menghubunginya.
“Aku sudah membawa apa yang kau mau,” ucapnya, setelah mendengar suara di seberang sana.
“Mana buktinya kalau kamu bersama mereka?”
“Aku akan memberikan buktinya, jika kalian juga memperlihatkan adikku.”
“Oke, aku akan memperlihatkan adikmu sekarang juga.”
Panggilan itu mati begitu saja, beberapa saat kemudian sebuah pesan video masuk ke dalam ponselnya.
Ezra mengepalkan tangannya dengan mata yang menajam, terlihat sekali dia sedang menahan emosi di dalam dirinya. Hingga urat-urat di sekitar tangan, leher dan kening tampak menegang.
Di sana, dia bisa melihat adiknya yang sedang duduk dengan keadaan yang lemah, juga penuh luka. Darahnya seakan mendidih saat mengetahui keadaan Keenan saat ini.
“Kak, jangan kesini, ini jebakan!” Keenan tampak berteriak memperingati dirinya.
Bugh ....
Brak ....
“Brengsek, diam kau!” bentuk seorang lelaki bertubuh kekar yang berdiri di samping Keenan.
Wajah Ezra semakin menggelar, melihat Keenan yang kembali menerima pukulan di bagian perut, hingga terungkap ke belakang bersama dengan kursi yang dia duduki.
Mengambil foto dirinya dan dua orang paruh baya di kursi belakang, lalu mengirimkannya pada orang tersebut.
“Eumh,” gumaman dari Ayu menyadarkan Ezra dari lamunan panjangnya.
Istrinya itu tampak mengerjapkan matanya, sambil berusaha untuk duduk di samping Ezra.
Lelaki itu tersenyum, melihat Ayu yang malah bersandar kembali di dadanya, dan memeluk tubuhnya, perlahan.
Lengannya tetap setia mengusap puncak kepala istrinya dengan begitu tenang.
“Jam berapa sekarang, Mas?” tanya Ayu dengan suara parau khas bangun tidur.
“Jam satu siang, sayang,” jawab santai Ezra, sesekali ia menunduk untuk mencium kepala Ayu.
Ayu langsung membuka matanya, ia tak menyangka bisa tertidur begitu lama, padahal selam ini, dia paling tidur siang beberapa menit saja.
“Mas, Naura belum dijemput!” ucapnya, langsung bangun dan berdiri di samping ranjang, sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Mas kok gak bangunin aku sih, kan kasihan Naura pasti nungguin di sekolah,” gerutu Ayu.
“Sayang, pelan-pelan. Naura sudah dijemput sama sopir, dia di bawa ke rumah Mama. Aku memang sengaja gak bangunin kamu, biar kamu istirahat yang cukup. Tadi Bi Yati bilang kamu suka tidur malam, sama telat makan beberapa hari ini.” jelas Ezra, menahan lengan Ayu yang akan berjalan menuju kamar mandi.
“Iya, maaf. Aku cuman lagi gak selera aja,” ucap Ayu.
__ADS_1
Ezra tersenyum, ia menarik kembali istrinya untuk duduk di sampingnya.
“Ke rumah Mama? Bukannya Mama dan Papa lagi ke luar negeri ya?” tanyanya lagi, kembali duduk di samping Ezra.
“Mereka sudah pulang dari kemarin sore,” jawab Ezra.
Ayu menganggukkan kepalanya, sambil membulatkan bibirnya membentuk huruf O tanpa suara.
“Tapi kan kasihan, Mama sama Papa pasti masih cape, aku jemput aja ya,” ucap Ayu.
“Gak usah, tadi Mama yang minta Naura nginep di sana, soalnya kangen sama cucu katanya. Selama ini kan, kalau Mama pulang mendampingi Papa pasti ada Naura yang menyambutnya.”
Ayu akhirnya mengangguk, walaupun di dalam hati terasa ada yang kosong karena anak sambungnya tidak ada di rumah.
“Mau ke mana, sayang?” Ezra bertanya lagi, saat melihat Ayu berdiri kembali.
“Aku mau ambil wudu, Mas. Mau shalat zuhur dulu.”
Ezra mengangguk.
Beberapa saat kemudian Ayu sudah kembali. Ezra menatap istri yang sedang melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, hatinya terasa berdesir, ia seakan tak percaya bisa mendapatkan wanita salehah seperti Ayu.
“Mas pasti belum makan siang kan? Aku siapin dulu ya sebentar,” ucap Ayu, sambil membereskan peralatan salatnya.
Ezra mengangguk. “Tapi kamu juga harus makan sama aku ya,” ucapnya.
“Iya, nanti aku bawa makanannya ke sini.”
Keluar dari kamar, Ayu langsung pergi ke arah dapur untuk menyiapkan makan siang.
Di tengah jalan, pandangannya teralihkan pada Keenan tang tampak sedang melamun di teras samping rumahnya.
Ayu sudah hampir membelokkan langkahnya, tetapi, ia urungkan.
Beberapa waktu yang lalu, Keenan baru saja keluar dari kamar Ezra, setelah melihat Ayu datang.
“Untung aku bisa kabur dari situasi tegang itu,” gumamnya, mengusap dada dengan hembusan napas panjang.
Walaupun begitu, ia masih harus berada di rumah ini, karena Ayu dan Ezra tak mengizinkannya pulang. Kondisi wajah dan tubuhnya yang penuh dengan luka, akan membuat kedua orang tuanya khawatir.
Memilih duduk di tera samping yang langsung berhadapan dengan kolam berenang.
Pikirannya kembali saat ia baru saja memisahkan diri dari Ezra dan Max beserta anak buahnya, karena rasa lelah yang mendera.
Bertarung langsung di tambah menggunakan senjata, cukup menguras tenaganya. Ia ingin segera sampai ke apartemen untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Namun, ternyata rencananya tidak berjalan lancar, sekitar dua puluh menit setelah ia terpisah, tiba-tiba mobilnya terhalang oleh satu mobil van yang menghalangi hampir seluruh jalannya.
“Ada apa lagi sih ini?” menggerutu kesal sambil membuka kaca mobilnya.
“Ada apa ya pak?” tanyanya pada seorang lelaki yang terlihat sedang melihat mesin di kap depan.
“Mobil saya mogok, apa Anda bisa membantu?” ujar lelaki yang berdandan seperti seorang sopir.
“Memangnya mogok kenapa, Pak?” tanpa menaruh curiga sama sekali, Keenan langsung turun dari mobilnya dan menghampiri lelaki tersebut.
Bugh ....
Batu saja ia melangkah menjauh dari mobnya, tiba-tiba saja ada sesuatu yang menghantam punggungnya.
Keenan terhuyung ke depan beberapa langkah, punggungnya terasa berdenyut akibat kerasnya pukulan itu.
Alangkah terkejutnya saat ia menegakkan tubuhnya, ternyata dia sudah di kepung dengan sekitar sepuluh orang lelaki bertubuh keker.
“Akh, sial! Ternyata ini jebakan?” umpat Keenan.
__ADS_1
Tenaganya sudah cukup terkuras dengan penyerangan tadi, dan sekarang dia harus melawan mereka semua seorang diri.
Saat itu juga, ia menyesal karena sudah memisahkan diri dari Ezra. Harusnya tadi ia bisa bersabar dan memilih ikut saja dengan kakaknya.
Dengan berusaha bersikap santai dan sedikit bodoh, Keenan mengangkat menatap satu per satu wajah lelaki di depannya dengan senyum yang dibuat sebodoh mungkin.
“Ini ada apa ya?” ucapnya, dengan masih mempertahankan senyumnya , ia harus sedikit mengulur waktu agar bisa mengumpulkan kembali tenaganya.
“Gak udah banyak omong, sekarang sebutkan ke mana Ezra membawa Arumi dan Lucas?!” tanya salah satu lelaki yang mungkin pemimpinnya.
“Siapa, Arumi? Bukannya dia dipenjara ya?” Keenan tampak mengerutkan keningnya dalam.
“Dan, siapa tadi Lu ... lu siapa tadi namanya? Aku tidak tau nama itu,” tambahnya lagi, seakan ia benar-benar tidak tahu. Wajahnya bahkan dibuat sepolos mungkin.
Mungkin kalau saat ini di sana ada Ezra, katanya itu akan meledeknya habis-habisan setelah ini. Atau bahkan tertawa terbahak-bahak.
“Alah gak usah sok bodo, cepat jawab ke mana orang itu membawa Arumi dan Lucas! Atau kita tidak akan segan menghabisimu di sini!” ancam lelaki itu. Tatapannya tajam dengan aura intimidasi begitu kuat.
Namun, sepertinya semua itu tidak mempan kepada Keenan.
“Aku benar-benar tidak tahu, gimana dong?” jawab Keenan, sedikit meledek mereka.
“Gak usah banyak bacot, kalian semua serang dia!” perintah lelaki yang sedari tadi bertanya pada Keenan.
Bukannya takut, Keenan malah menyeringai dengan tatapan yang berubah tajam. Memasang kuda-kuda dan bersiap menerima serangan langsung dari mereka semua.
Perkelahian tidak seimbang itu pun akhirnya berlangsung cukup sengit, dengan sekuat tenaga Keenan berusaha melawan semua lelaki itu, hingga beberapa di antara mereka ada yang sudah terlihat parah.
Hingga tiba-tiba ia merasakan sesuatu menusuk bagian tengkuknya dan berakhir dengan kegelapan yang merenggut kesadarannya.
......
Keenan mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk, alisnya tampak bertaut menahan rasa pening yang menyerang kepalanya. Tubuhnya terasa sangat remuk seperti habis dipukuli puluhan orang.
Matanya mengedar melihat sekitarnya, ia batu sadar kalau sekarang dalam keadaan terikat di sebuah kursi.
“Di mana ini?” gumamnya, tangannya terus bergerak, berusaha melepaskan tali yang mengikatnya.
Ruangan sempit, yang terlihat bagaikan sebuah gudang itu terasa penuh debu dan lembap.
Ceklek
Perhatiannya teralih pada pintu yang mulai terbuka.
Matanya memicing melihat orang yang akan masuk, berawal dari sepatu pantofel hitam mengkilat, di lanjutkan dengan kemunculan seorang lelaki berpakaian rapi, tampak jas hitam dan celana bahan bermerek, melekat membalut tubuh yang terlihat masih sangat bugar.
Senyum smirk terukir di bibirnya, seakan mengejek kondisi Keenan saat ini.
Jujur saja, Keenan tidak tahu, siapa lelaki yang kini berdiri dengan sangat angkuh di depannya dengan jarak beberapa meter. Otaknya memutar mengingat apakah ia pernah bertemu dengan orang itu. Tetapi, sepertinya ingatannya tidak bisa menemukan apa yang ia cari.
Mata Keenan semakin melebar, dengan kemunculan seseorang di belakangnya, ini terlalu mengejutkan, ia berusaha memastikan lagi, takut tadi matanya salah melihat atau mengenali seseorang.
Namun, ternyata semua itu hanya sia-sia, semua yang dilihatnya memang benar adanya. Seseorang yang baru saja datang adalah orang yang ia kenal dengan cukup baik.
Tangan yang terikat di belakang, mengepal kuat, menahan emosi. Wajahnya mengeras, matanya dipenuhi kebencian, bahkan suara gemeletuk gigi kini mulai terdengar.
"Hai, sudah lama ya kita gak ketemu?"
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Aduh, siapa tuh ya🤔
__ADS_1