Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.184 Menyerah


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


"Lalu, kenapa dia tidak bisa membagi rasa sakitnya padaku? Kenapa dia tidak bisa memberiku kesempatan untuk menemaninya di dalam susah? Kenapa?!" tanya Keenan lagi, dia mendongakkan kepala, menahan air yang sudah mendesak di pelupuk mata.


"Karena dia begitu mencintaimu, Keen. Dia tidak ingin kamu bersedih di dan membuatnya berat bila saat kepergiannya tiba. Dia lebih memilih untuk dibenci olehmu, walaupun itu menyakitkan untuknya sediri," jawab Alana dengan isak tangis tertahan mengiringi setiap perkataannya.


Keenan tersenyum miris, dia menjatuhkan pandangannya, dengan perasaan yang tak tentu. Tangannya memijit pangkal hidung, menghilangkan pening yang mulai menyerang.


"Gak, aku gak percaya sama kamu! Ini pasti hanya cerita karangan kamu, untuk menutupi kesalahanmu. Iya 'kan?" Keenan, berdiri dan hendak melangnkah menjauh dari Alana.


"Tunggu, Keen. Semua yang aku bicarakan itu benar adanya, tunggu sebentar ... aku akan meminta orang membawakan barang milik Luna selama kalian berjauhan," ujar Alana, menahan tangan Keenan.


"Aku mohon, Keen," lirih Alana lagi.


Keenan menghembuskan napas kasar, dia akhirnya mengangguk dan duduk kembali.


"Aku beri kamu satu kali kesempatan untuk membuktikan," ujar Keenan dengan nada berubah dingin dan datar. Semua itu ia lakukan untuk menyamarkan rasa sakit yang kini mendominasi hatinya.


Alana, terlihat mengambil tas miliknya dan menghubungi seseorang, untuk mengambilkan sesuatu di rumahnya.


Hampir satu jam menunggu, sempat berselang dengan kedatangan dokter juga anak-anak yang mulai siuman. Kini di dalam ruangan itu terlihat ada empat orang dewasa.


Tiga di antaranya sedang duduk di sofa, sedangkan satu orang lagi, sedang duduk di samping brankar anak-anak sambil mengajak ngobrol mereka.


"Keen, kenalkan ini Aryo, suamiku," ujar Alana, memperkenalkan seorang lelaki yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Halo, aku Aryo. Senang akhirnya Lana bisa bertemu denganmu, walaupun dengan kejadian yang tidak mengenakkan seperti ini," ujarnya, sambil mengulurkan tangan.


Keenan sempat terdiam, dia melihat tangan yang berada di depannya. Tak lama kemudian dia menyamnut uluran tangan itu.


"Keenan," ucapnya, memperkenalkan diri.


"Selama ini Lana selalu mencari keberadaanmu, walaupun selalu mendapatkan jalan buntu. Aku bahkan ikut membantu, hanya saja ternyata aku juga tidak bisa berbuat apa-apa," cerita lelaki yang bernama Aryo itu.

__ADS_1


Keenan tak menjawab lagi perkataan Aryo, dia terdiam saat melihat sebuah buku yang Alana simpan di depannya.


"Kamu pasti tau, ini buku apa 'kan?" tanya Alana, setelah menaruh buku berwarna magenta di atas meja.


"I–itu, buku milik Luna?" jawaban juga pertanyaan itu terucap dari bibir Keenan.


"Iya, ini buku milik Luna yang kamu belikan sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Kamu masih ingat?" tanya Alana.


"Ya, aku masih ingat .... sangat ingat," jawab Keenan. Tangan bergetarnya terulur mengambil buku itu.


"Bukalah, dia mencurahkan semua perasaannya di dalam buku itu," ujar Alana.


Keenan tampak Ragu, dia melihat kedua orang yang berada di depannya bergantian, mencari keyakinan untuk dirinya sendiri.


Alana dan Aryo mengangguk bersama sambil menyunggingkan senyum, sebagai dukungan untuk seseorang yang sedang di landa oleh dilema itu.


Perlahan tangan Keenan mulai membuka sampul buku itu, lembar pertama memperlihatkan sebuah foto dirinya saat masih menggunakan seragam putih abu-abu dengan seorang gadis di dalam pelukannya.


Tangannya mengusap lembut foto itu, dia masih mengingat saat foto itu di ambil, itu adalah hari di mana mereka resmi berpacaran. Saat itu adalah waktu istirahat sekolah, di halaman belakang Luna memberikan jawaban atas pernyataan cinta Keenan setelah menggantungnya selama tiga hari.


Di bawah foto itu terlihat ada tulisan indah yang berbunyi


Keenan tersnyum samar membaca tulisan itu, dia kemudian membuka lembar demi lembar berikutnya, membaca setiap baris kata yang tertulis begitu indah di setiap halaman.


Keenan terhenti di halaman yang ke sekian, hanya saja dari tanggal yang tertulis, itu adalah hari di mana mereka berdua baru saja selesai mengerjakan ujian nasional.


...Aku tau, kondisi tubuhku semakin lama semakin bertambah buruk. Aku bisa merasakannya, walau orang tuaku selalu berkata aku baik-baik saja....


...Di sini, akulah yang sakit, aku yang merasakannya, bagaimana hari demi hari tubuhku semakin lemah, dadaku semakin sering terasa sakit....


...Mereka tidak bisa terus membohongiku, aku bukan lagi anak kecil, aku sudah mengerti dengan apa yang aku alami....


...Keen, Sepertinya aku sudah harus mulai mejauhimu, aku tak mau menjadi beban untukmu, aku juga tidak mau bila nanti harus berat melepaskan hidupku karena ada dirimu....


...Maafkanlah aku, yang harus memberi sakit untumu, aku terpaksa, aku tak ingin melihat kesedihan di wajahmu, saat harus melepaskanku, dan merelakan aku pergi menuju alam kedamaian....


Keenan terhenyak, membaca setiap kata itu, di sana jelas sekali kalau Luna tengah mengeluh tentang penyakitnya, dia juga merencanakan untuk meninggalkannya bahkan beberpa hari sebelum kelulusan itu terjadi.

__ADS_1


Keenan kembali membuka lembar demi lembar buku itu yang kini terasa lebih sendu dan banyak mengeluh tentang kehidupannya, sangat berbeda saat di awal halaman yang terus menceritakan berbagai kebahagiaan.


Kembali Keenan terhenti pada satu halaman di mana namanya di sebut berulang kali.


...Keen, aku merindikanmu .... Aku rindu tawamu, candamu, dan kasih sayangmu juga semua tentang dirimu....


...Ingin rasanya aku pergi dari sini dan berlari menghampirimu, bila saja waktu bisa memberiku sedikit saja harapan untuk terus bertahan, atau harapan untuk kesembuhan, aku ingin kembali, kembali besama denganmu, Ken....


...Namun, kemudian aku tersadar ... ini semua hanyalah sebuah angan dan mimpi yang tak akan bisa menjadi kenyataan untukku....


...Aku tidak boleh egois, bukankah kata orang membenci itu akan lebih mudah melupakan, maka sekarang itulah yang aku pilih untukmu, Keen....


Aku ingin kamu membenciku, hingga kamu tidak akan terus mengingatku.


...Keen, hidupmu masih panjang, masa depan menunggumu untuk segera datang, menyambut kebahagiaan yang lain walau itu tak bersamaku....


...Keen, sekarang aku sadar ... kita berdua berbeda, aku merasa tak pantas lagi denganmu, dengan segala kelemahan dan waktu yang semakin terasa singkat. Sedangkan dirimu masih memiliki waktu yang panjang dan kesempatan yang banyak. Tak seperti aku yang hanya berkutat dengan rasa sakit ini....


...Aku menyerah, Keen .... Aku lelah. Sekarang ini aku sudah pasrah, rasanya di panggil untuk pergi akan lebih menyenangkan daripada hidup dengan segala siksa yang tanpa ada batas ini....


...Aku tak mau terus menjadi beban orang tuaku, Keen. Aku tidak mau terus melihat mereka menangis, meratapi kesakitanku yang tak pernah berhenti. Uang, materi, waktu dan kasih sayang sudah banyak mereka korbankan. Aku tak mau terus menjadi beban....


...Keen, kali ini aku hanya ingin berterima kasih, karena kamu sudah menjadi penyemangat hidupku, kamu juga sudah memberi warna di dalam singkatnya hidupku....


...Aku selalu merasa abu-abu sebelum bertemu denganmu, hidupku yang terasa selalu ada di ambang kematian, berubah lebih hidup dan menyenangkan saat kamu hadir, membawa berbagai macam warna ke dalam hidupku....


...Bencilah aku sebesar kamu bisa, umpatlah aku dan lampiaskan semua kesalahan hanya padaku. Aku egois, aku memilih egois, memilih untuk mementingkan diriku dan perasaanku, dibanding dengan orang yang ada di sekitarku. Aku mengakui itu, dan maaf karena aku sudah membawamu ke dalam rasa sakit itu....


flashback off


...🌿...


Gimana nih? Apa Keenan akan terouruk lagi, setelah kenyataannya itu terbongkar? Atau dia akan kembali bangkit untuk menjalani hidupnya yang baru dengan Riska? Komen👍❤


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H ... Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Dan Batin🙏❤❤


__ADS_2