Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.120 Hilang kendali


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Flash back


“Sel, kamu masih di rumah sakit?” tanya Larry dari sambungan teleponnya.


“Iya, Pah. Ada apa?”


“Papah mau jenguk Naura, ini lagi di jalan. Kamu bisa temenin Papah gak?”


“Bisa, aku juga sudah mau pulang kok. Kita ketemu di sana saja ya, Pah?”


“Iya.”


Sambungan telepon pun terputus begitu saja, setelah mereka berjanji bertemu di tempat parkir rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah berjalan di lorong lantai ruang rawat Naura berada. Ansel bahkan sudah menempelkan tangannya di gagang pintu untuk membukanya, tetapi, suara percakapan Keenan dan Ezra, membuatnya menghentikan gerakannya.


“Ada apa, Sel? Ayo buka, Papa mau melihat kondisi cucu, Papa,” desak Larry.


Bukannya menurut, Ansel malah menaruh telunjuknya di ujung bibir, sebagai tanda agar ayahnya diam dulu. Melihat semua itu Larry jadi ikut penasaran, dia malah berkonsentrasi untuk mendengarkan suara Keenan yang terdengar samar, tetapi, cukup jelas.


Tangannya mengepal kuat, saat ia dapat mendengar semua kenyataan yang di tutup Ezra darinya dan semua orang. Matanya memerah dengan urat di kening terlihat menonjol, menandakan dirinya betul-betul terkejut dengan semua itu.


Begitu pun Ansel, pegangan tangannya di gagang pintu terlihat semakin mengeras, itu terlihat dari urat di atas tangannya yang menonjol, matanya menajam dengan napas memburu, menahan gejolak emosi yang mulai menghimpit paru-parunya.


Begitu terdengar Ezra mengakhiri perkataan Keenan, Ansel langsung mendorong pintu itu, dengan wajah merah dan mata menatap tajam.


“Tidak usah, kami sudah mendengar semuanya!” ucap Ansel dengan napas memburu.


“Papa, Ansel, silakan masuk.” Ezra langsung berdiri dan berkata canggung, dia tak pernah menyangka semuanya akan terbongkar dengan cara seperti ini.


Keduanya bahkan masih menenangkan rasa panas di dalam hati, saat ujung mata Ansel melihat Ayu yang tertidur lelap di atas brankar dengan  memeluk Naura.


“Tidak, lebih baik jangan membicarakan ini di sini, kita bicara di luar saja,” tolak Ansel, sebelum berbalik untuk berjalan ke luar, di susul oleh Ezra dan Keenan.


Flash back off


Sampai di kafe yang terdapat di depan rumah sakit, keempat lelaki itu langsung memilih tempat yang private agar lebih leluasa untuk bicara.


“Bisa kamu jelaskan apa yang dikatakan oleh Keenan di ruangan rawat Naura, Zra?” Ansel langsung menodong sahabat dan adik iparnya itu setelah mereka duduk.


Ezra menegakkan tubuhnya, menatap bergantian ketiga orang di sekitarnya. Dirinya sekarang bagaikan seorang terpidana yang sedang disidang. Walaupun dia masih berusaha tetap tenang, tetap saja jantungnya berdetak begitu cepat, hingga ujung jari pun terasa dingin menahan rasa gugup.

__ADS_1


‘Sialan, kenapa gue jadi ngerasa seperti pelaku gini sih!’ umpat Ezra dalam hati.


“Seperti yang Om dan Ansel dengar tadi, semua itu memang benar. Maaf, aku belum sempat menemukan waktu yang pas untuk berbicara dengan kalian berdua,” ucapnya lugas.


“Apa yang kamu takutnya untuk berbicara yang sebenarnya pada kami, Zra?” tanya Larry lirih.


Jujur saja, hatinya masih begitu sakit, mendengar semua perkataan Keenan, itu seperti menancapkan ribuan anak panah tepat di jantungnya.


Bagaimana mungkin selama ini dirinya begitu bodoh, hingga mudah saja dimanfaatkan oleh orang lain. Menjadi sumber kesengsaraan Ayu dan Puspa, dua orang perempuan yang menjadi korban akibat keserakahan kedua orang tuanya dan kebodohan dirinya sendiri.


“Tidak, Pah. Tidak ada yang aku takutkan, hanya saja  aku sedang mencari waktu yang tepat saja,” alasan Ezra.


Sebenarnya selama ini dirinya memang takut jika semua ini akan membuat Larry terlalu terkejut dan terpukul, juga membuat Ansel tak bisa menahan amarahnya.


Sebenarnya masalah ini bukanlah masalah sepele karena ini adalah kenyataan yang telah tertutup berpuluh tahu  lamanya. Tentunya penyesalan pun tak akan ada gunanya lagi, tetapi, terkadang manusia tak mampu menerima kenyataan, atas takdir yang sudah ditetapkan Sang Maha Kuasa.


Itulah yang sekarang terlihat oleh Ezra di kedua lelaki berbeda usia itu. Larry yang tampak terpukul dan menyalahkan dirinya, atas semua yang terjadi dan Ansel tak bisa mengontrol emosinya, setelah dia menyerahkan semua bukti yang dibawakan oleh salah satu anak buahnya, beberapa saat yang lalu.


Larry terduduk dengan kepala menunduk dalam, terdengar oleh Ezra napas berat yang berusaha tetap dihirup teratur oleh lelaki paruh baya itu.


“Papa, harus tenang. Semua ini sudah terjadi, biarlah itu menjadi pelajaran untuk kita semua. Sekarang kita hanya tinggal menjalani kehidupan kita ke depannya dengan sebaik-baiknya,” Ezra mengusap pelan punggung tua itu, memberikan kekuatan untuk sang mertua.


Sedangkan Ansel sudah meraung bahkan hampir menghancurkan seluruh ruangan tempat mereka sekarang, dia menyalahkan Larry dan kakek neneknya atas keserakahan dan kebodohan mereka, tangan lelaki itu bahkan harus di kunci oleh Keenan agar tak terus mengamuk.


“Ini semua karena orang tua Papa, mereka yang mengakibatkan kehancuran keluarga kita! Papa juga, kenapa selalu bodoh dan mudah sekali dihasut oleh ular berkepala manusia itu, hah?!” napas menderu dengan mata merah, telunjuknya menunjuk Larry tepat di wajahnya.


"Aaakh ... BRENGSEK, MEREKA SEMUA BRENGSEK!" dengan tangan mengepal kuat Ansel hampir saja meninju sebuah kaca pajangan di sana, untung saja Keenan langsung menagkapnya dan mengunci pergerakan lelaki itu.


Ansel bagaikan tengah mengeluarkan semua kemarahan, kekecewaan dan amarah, yang selama ini di pendam. Tingkahnya benar-benar tak dapat terkontrol, dia bagaikan sedang kerusakan setan.


Kali ini Ezra dan Keenan benar-benar merasa direpotkan dengan  kedua ayah dan anak ini, Ansel yang seperti orang mabuk, hilang kontrol karena terlalu terbakar emosi. Larry juga tampak sangat mengkhawatirkan.


Hingga getar ponsel di saku Ezra mengalihkan perhatiannya, ia mengambilnya dan melihat nama sang istri tertera di sana.


Ezra langsung memberi kode kepada Keenan untuk melumpuhkan Ansel, agar tak lagi membuat kekacauan.


Sungguh, kepalanya bahkan terasa mau pecah saat ini, mereka berdua benar-benar menguras habis kesabaran dan staminanya.


Dia khawatir Ansel akan melukai dirinya sendiri, sedangkan di sisi lain Ezra juga khawatir kalau Larry akan terkena serangan jantung atau ... ah entahlah!


Dukh


Keenan langsung memberikan pukulan di tengkuk Ansel, membuat lelaki itu langsung tak sadarkan diri.


“Hah, akhirnya.” Keenan bernapas lega, setelah melepaskan Ansel yang sudah tergeletak di atas lantai dengan  keadaan tak sadarkan diri.


Berjalan ke luar ruangan untuk memanggil anak buahnya yang tadi mengantarkan bukti.

__ADS_1


“Tolong bawa dia ke rumah sakit depan, bilang saja dia habis berkelahi dan mengalami benturan di tengkuk, selebihnya nanti aku yang bicara,” perintah Keenan.


‘Untung saja, dekat dengan rumah sakit, jadi tidak terlalu susah membawanya,’ gerutu Keenan dalam hati.


Ezra mengangkat teleponnya, setelah ruangan terasa hening, dan Ansel sudah tak sadarkan diri.


“Halo, sayang. Maaf aku keluar sebentar, apa kamu membutuhkan sesuatu?” tanyanya lembut.


“Assalamualaikum,  Mas. Naura mau pipis, tapi, gak mau digendong sama aku. Mas, bisa ke sini dulu gak?” tanya Ayu.


“Waalikumsalam, iya, aku ke sana sekarang,” jawab Ezra, sebelum menutup teleponnya.


“Pah, lebih baik istirahat saja di rumah, biar Keenan yang  mengantar.” Ezra berkata sambil melirik adiknya yang baru saja kembali dengan anak buahnya.


“Maaf aku tidak bisa mengantar, Papa. Naura dan Nindi tidak bisa aku tinggalkan saat ini,” tambahnya lagi, dengan penuh sesal.


Larry mengangguk samar, kepalanya sedikit terangkat demi melihat menantu lelakinya. “Tolong jaga anakku, tolong bahagikan dia. Cukup aku yang sudah memberi banyak penderitaan untuknya, jangan lagi,” pintanya penuh permohonan.


Ezra menatap mata merah yang tampak tak bercahaya, di sana terlihat penuh dengan penyesalan dan kekecewaan.


“Iya, Pah. Sekuat tenaga aku akan berusaha membahagiakan Nindi. Papa, bisa percaya padaku,” jawab Ezra yakin.


Larry mengangguk lalu berdiri dan pergi dari ruangan itu dengan langkah gontai dan kepala masih menunduk, bahunya pun tampak turun, menandakan betapa lemah dan terpuruknya dia saat ini.


Keenan mengikuti langkah Larry di belakang. Adik Ezra itu hanya melirik sang kakak, memberi kode untuk membereskan semua kekacauan ini.


Ezra mengangguk sebagai jawaban, ia mengedarkan pandangannya, melihat ruangan yang tampak sudah tak berbentuk.


Hufth


Menghembuskan napas kasar, sambil berjalan menuju ke luar, ia terpaksa mengurus semua ini dulu dengan manajer kafe sebelum kembali ke rumah sakit.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


Ish, ternyata Ansel bisa ngamuk juga🤭


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2