Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.240 Dua Bucin


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤️...


"Sayang, kamu sudah siap?" tanya Ezra, dia menghampiri Ayu yang baru saja selesai di rias.


Ayu melihat suaminya yang bahkan belum siap sama sekali, bahkan sekarang ini Ezra masih memakai baju rumahan.


"Sudah. Sekarang giliran, Mas, aku bantu siap-siap," ujar Ayu, sambil menatap wajah suaminya yang sedang memeluknya dari belakang.


Ya, saat ini Ayu sedang berdiri di depan cermin, menatap keseluruhan tubuhnya yang sudah tampil sempurna dengan gaun berwarna biru laut dengan sedikit sentuhan silver di pinggang dan bagian bawah gaunnya.


"Kamu cantik sekali, sayang. Aku jadi ragu untuk membiarkanmu ke luar dan bertemu dengan banyak orang," ujar Ezra, menatap wajah istrinya dari pantulan cermin.


Ayu tersenyum, dengan wajah yang bersemu mereh.


"Sudah merayunya ... sekarang waktunya, Mas, untuk bersiap," ujar Ayu sambil mengurai tangan suami di perutnya.


"Tapi, aku benar-benar tidak rela, kecantikan kamu dilihat oleh banyak orang, sayang. Bagimana kalau nanti ada yang suka sama kamu?" rajuk Ezra, tak mau melepaskan pelukannya.


"Untuk apa, Mas, takut? Mereka tidak akan ada yang berani untuk menyukaiku, karena sudah ada, Mas, disampingku," ujar Ayu, menyentuh wajah Ezra lembut.


"Ah, benarkah? Sepertinya istriku ini, sudah pandai merayu ya sekarang?" ujar Ezra, mencium pipi Ayu sekilas.


"Aku gak merayu. Itu semua memang benar adanya ... mereka tidak akan pernah bisa merebut perhatianku, karena semuanya sudah habis untuk suami dan anak-anakku." Ayu kembali menjelaskan apa yang ada di dalam hatinya.


"Heuh, baiklah. Sepertinya hari ini aku harus sedikit menahan emosiku, karena mereka pasti akan menjadikanmu perhatian."


Ezra menghembuskan napas pasrah, dia pun akhirnya mengurai pelukannya.


Ayu tersenyum, dia tahu kalau suaminya itu tidak suka kalau dirinya menjadi bahan perhatian para laki-laki lain, maka dari itu dia pun sudah mengerti dengan sikap suaminya itu.


Wanita itu akhirnya menyiapkan baju dan membantu Ezra untuk memakainya, dia mempersiapkan suaminya itu dengan sebaik mungkin.


Warna yang senada dengannya dan kedua anak mereka itu, khusus ia siapkan untuk hari ini. Walaupun agak sedikit terburu-buru, akan tetapi, semuanya bisa siap dengan sebaik mungkin.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah siap, mereka pun lebih dulu menuju kamar Zain, melalui pintu penghubung.


.


.


Di tempat lain, Keenan dan Riska yang sudah siap terlebih dahulu, memilih untuk menjaga Zain, sedangkan Nawang menjaga Naura yang juga sedang bersiap-siap.


"Gak terasa ya, Bang, sekarang Zain udah berumur empat puluh hari aja," ujar Riksa sambil menggendong bayi laki-laki itu.


"Iya, sekarang Zain udah tambah gendut dan lucu. Pipinya aja udah kayak kue bapau begini." Keenan menoel pipi Zain hingga sedikit bergoyang, membuat dirinya terkekeh kecil.

__ADS_1


Zain yang kini tengah bangun dan bermain dengan tangannya sendiri, tampak tak terganggu.


"Eh, jangan digituin dong, Bang. Nanti kalau sakit gimana?!" ujar Riska dengan alis yang bertaut.


"Sayang, sayang ... Uncle, galak ya, isengin Zain terus, ya?" sambung Riska beralih pada Zain.


Wanita itu mengelus lembut pipi halus Zain dengan sangat hati-hati.


"Eh, aku kan cuman noel gemas aja, gak ngapa-ngapain, kok dibilang galak sih?" gerutu Keenan.


'Yang galak itu kamu. Masa aku dari kemarin gak dikasih jatah, cuman gara-gara lupa nemenin kamu belanja mingguan aja' sambungnya hanya di dalam hati.


Ya, beberapa hari yang lalu, dirinya sempat lupa janjinya untuk berbalanja mingguan bersama istrinya, karena jadwalnya yang padat.


Itu semua membuat Riska marah, karena saat itu ponselnya juga tidak bisa dihubungi, sampai hari itu akhirnya Riska berbelanja sendiri.


Tentu saja itu juga setelah menunggu suaminya hampir satu jan lebih di butik yang bahkan sudah tutup.


Itu semua membuat Riska marah, dan memberi hukuman untuk Keenan agar tak menyentuhnya selama beberapa hari.


"Ganteng banget sih kamu, Zain. Aunty jadi gemes deh," ujar Riska sambil mencium pipi Zain.


"Sayang, aku juga mau," melas Keenan.


Riska melirik suaminya sekilas, dia masih kesal dengan kebiasaan suaminya yang sering lupa pada janjinya sendiri.


Bukan hanya sekali Keenan tak ada kabar, dengan keadaan ponsel yang tidak bisa dihubungi. Membuatnya khawatir, terjadi apa-apa pada sumainya.


Ya, sebenarnya Riska mengerti kalau semua itu karena suaminya masih beradaptasi, dengan pekerjaan barunya.


Apa lagi, Garry langsung melimpahkan hampir semua pekerjaannya pada Keenan, kecuali yang harus ke luar kota.


Itu juga permintaan Keenan, karena dia masih belum bisa jauh dari istrinya itu.


Semenjak bekerja di kantor ayahnya, Keenan jadi sering terlambat pulang dikarenakan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Bila pulang tepat waktu pun, Keenan akan menghabiskan waktunya kembali di ruang kerja, bahkan sampai tengah malam.


Karena semua itu, Riska memberi hukuman itu kepada suaminya, itu semua ia lakukan agar Keenan bisa memanfaatkan waktunya untuk beristirahat yang cukup, tanpa terhalang oleh kegiatan suami istri.


Tanpa Riska tahu, sebenarnya kegiatan suami istri itu, menjadikan Keenan lebih semangat di dalam bekerja, walaupun waktu istirahatnya memang akan berkurang.


Keenan menghembuskan napas pasrah, dia pun akhirnya mencium pipi Zain.


"Ya udah deh, Zain dulu aja yang dapat ciuman dari Uncle," ujarnya lemas.


Riska menahan senyumnya, melihat Keenan yang tampak tak bersemangat. Sebenernya dia juga tidak tega dengan suaminya.


Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatian kedua orang itu. Ayu dan Ezra masuk bersamaan.

__ADS_1


"Eh, kalian yang jagain Zain?" tanya Ezra, sambil berjalan menghampiri adiknya dengan tangan tak lepas dari pinggang sang istri.


Keenan mencebik kesal melihat kemesraan yang ditampilkan oleh kakaknya itu.


"Ya, ampun pasangan bucin datang juga akhirnya," ujarnya dengan helaan napas lelah, seakan sudah sejak lama menantikan kedatangan Ezra dan Ayu.


"Memang kamu enggak, hah? Kamu juga sampai meminta untuk tidak ditugaskan ke luar kota karena tidak bisa jauh dari Riska. Apa namanya kalau bukan bucin?"


"Eh, jangan bongkar kartu di sini dong, Kak. Curang nih!" gerutu Keenan.


Dia malu pada Riska dan Ayu yang kini sedang menahan senyumnya, apa lagi melihat semburat merah di pipi istrinya.


"Sudah-sudah, kalian ini pisah di kerjaan kenapa sekarang jadi berantem terus sih?" ujar Ayu, menengah kedua adik kakak itu.


Kedua laki-laki dewasa itu pun akhirnya terdiam, dan menyudahi acara adu mulutnya.


"Terima kasih ya, Riska, Keenan, sudah mau jagain Zain. Sekarang lebih baik kita ke luar, sebentar lagi acaranya akan segera berlangsung," sambung Ayu lagi.


"Iya, Mba. Aku senang kok jagain Zain," ujar Riska, sambil menyerahkan kembali Zain pada Ayu.


"Ya sudah, yuk kita keluar." Ezra kembali mendekat pada Ayu dan merangkul pinggang istrinya itu.


Keenan memutar bola matanya, melihat sikap sang kakak yang selalu saja tak bisa jauh dari istrinya itu.


'Aku kira, setelah berhenti jadi asistennya, gak bakalan liat kebucinan kakak lagi, eh ternyata sama saja' gerutu Keenan dalam hati


Dia dan Riska berjalan di belakang Ezra dan Ayu. Tanpa terduga Riska merangkul dan memberikan ciuman kilas pada pipinya.


Keenan yang terkejut, melihat Riska dengan wajah sumringah. "Sayang?"


"Hukumannya sudah selesai," ujar Riska, sambil kembali menegakkan tubuhnya dan melihat ke depan, karena saat ini mereka sudah keluar dari dalam kamar Zain.


Cup!


Keenan mencium kilas kening sang istri, dengan senyum mengembang.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu!" bisik Keenan.


"Aku juga," balas Riska dengan anggukkan samar.


"Kalian ini berisik sekali, kalau mau bucin di kamar sana, jangan di sini!" ujar Ezra.


"Idih, gak sadar diri!" balas Keenan, sambil memisahkan diri dari Ezra dan Ayu.


Ayu terkekeh mendapati wajah kesal suaminya.


"Sudah, Mas. Sesama bucin jangan saling meledek," ujar Ayu, sambil terkekeh kecil.


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2