Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.218 Gagal Total


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Sepanjang jalan Alana tampak melamun, bayangan sikap Keenan dan Riska sejak datang ke restoran berputar di ingatannya. Dia bahkan sudah memperhatikan mobil Keenan ketika mulai memasuki area parkir.


Ya, sejak kejadian kecelakaan yang mempertemukannya dengan Keenan, dia sudah menyelidiki tentang lelaki yang menjadi cinta pertama dan terakhir adiknya itu.


Flashback


Alana sudah menunggu hampir tiga puluh menit lamanya, dia bahkan sudah menghabiskan satu gelas minumannya, karena merasa gelisah.


"Ke mana mereka, kenapa sudah lama sekali tidak datang?" gerutu Alana, sambil melihat ke area parkir berulang kali.


Dia kemudian tersenyum sinis saat membayangkan bagaimana hubungan Keenan dan Riska yang renggang karena ulahnya beberapa hari yang lalu.


Ya, sewaktu kejadian dirinya yang hampir jatuh dan ditanggakap oleh Keenan. Sebenarnya itu semua adalah ulah dari Alana, dia memang sengaja ingin membuat Riska cemburu dan salah paham kepadanya dan Keenan.


"Pasti saat ini, hubungan mereka masih renggang, makanya Keenan meminta kami bertemu dengan istrinya itu," gumamnya lagi, dengan senyum puas.


Kembaran dari mantan kekasih Keenan itu, merasa sudah berhasil membuat hidup Keenan sedikit kacau, walau hanya dengan sedikit saja kesalahpahaman yang dia buat.


"Akh, aku tidak sabar, melihat lelaki itu terluka bahkan merasakan rasa sakit seperti yang dirasakan oleh Aluna," ujar Alana kembali.


Alana kembali diam, dia melihat ke area parkir, menanti kedatangan orang yang ia tunggu sejak tadi.


"Ya, ampun, honey. Kenapa kamu terlihat gusar seperti itu?" tanya Aryo, yang baru saja datang dari toilet.


Alana sempat terkejut dengan suara Aryo yang tiba-tiba saja sudah berada di belakngnya.


Namun, dengan cepat, ia merubah kembali raut wajahnya, seperti biasa.


"Ah, honey, kamu sudah datang? Aku tidak apa-apa, hanya sedikit ... bosan," ujar Alana.


"Apa mereka belum datang juga?" tanya Aryo, melihat ke luar restoran sekilas, lalu beralih kembali pada sang istri.


"Heem, sepertinya belum," jawab Alana, sambil melihat kembali ke luar.


"Oh ya, honey, aku sudah memesankan makanan untuk kita," ujar Alana, dengan senyum tak bersalah dari wajahnya.


Aryo mengernyit, menatap wajah sang istri.


Alana yang melihat perubahan dalam raut wajah suaminya, tersenyum lebar lalu menjelaskan alasannya.


"Aku sudah lapar, lagi pula mereka juga telat, jadi tak apa kan aku memesan lebih dulu," ujar Alana, manja.


Aryo yang tadinya menatap Alana tidak suka, akhirnya menghembuskan napas kasar, lalu mengangguk pasrah, menuruti keinginan sang istri.

__ADS_1


Tak berapa lama, Alana bisa melihat mobil Keenan mulai memasuki area parkir. Dia menatap ke luar, memperhatikan pergerakan mobil itu.


Dia tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya, membuat otomatis tertarik ke atas, walau hanya sedikit.


"Ada apa, honey? Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" tanya Aryo.


"Hah? Enggak ... enggak apa-apa kok," jawab Alana, sambil kembali melihat ke arah parkiran, di mana di sana Keenan dan Riska baru saja, keluar dari mobil.


Tangannya mengepal menahan rasa kesal, saat melihat sepasang suami istri itu, malah tampak mesra.


'Heh! kenapa mereka malah terlihat mesra? Bukannya mereka sedang berselisih paham, karena kejadian seminggu yang lalu?' geram Alana di dalam hatinya.


Perasaannya semakin panas dan marah, melihat Keenan memperlakukan Riska begitu lembut dan romantis.


'Harusnya dulu, Aluna juga mendapatkan semua itu. Seharusnya, kamu berada di sisi Aluna, saat dia membutuhkan perhatianmu!'


Alana, menggeram dalam hati, kemarahannya semakin memuncank, saat melihat senyum cerah dari Keenan.


Matanya terus mengikuti Keenan dan Riska, dia kemudian tersenyum saat mereka sudah berada di dalam restoran.


"Itu mereka sudah datang, honey," tunjuk Alana pada Keenan dan Riska menggunakan dagunya.


Baru saja Alana hendak memanggil Keenan, ternyata lelaki itu sudah melihatnya, dan menghampiri.


Melihat sikap Keenan yang begitu lembut, Alana baru sadar, kalau Keenan dan Riska sudah berdamai, bahkan terlihat sangat rukun.


Dia pun menyadari kalau rencana kecilnya itu sudah gagal total. Kesalahpahaman itu tak mampu untuk membuat sepasang pengantin baru di depannya menjadi retak.


Dia tersenyum kemudian, saat pelayan mulai menyajikan makanan yang tadi sudah ia pesan.


Kini dia mulai melakukan rencananya, untuk kembali merenggangkan hubungan antara Keenan dan Riska.


Namun ternyata, semua itu pun tak bisa membuat rencananya berhasil.


Riska dan Keenan malah terlihat memanfaatkan makanan itu untuk memperlihatkan kemesraan mereka di depannya.


Hatinya semakin panas, terbakar oleh kobaran api kemarahan dan dendam yang sudah menguasai hati dan tubuhnya.


Flashback off


.


.


Keenan mendesak Riska ke dinding lift, begitu pintu lift itu tertutup.


"Bang! Mau apa?" tanya Riska, menatap mata penuh hasrat sang suami.


"Aku sudah tidak tahan, sayang. Apa kamu tahu, kalau sikap kamu di restoran itu bahkan sudah membuat hasratku bangkit," gumam Keenan, dengan suara tertahan.

__ADS_1


Lelaki itu semakin mendekatkan wajahnya, dengan hembusan napas yang semakin terdengar berat. Seminggu ini, dia terpaksa harus menahan hasratnya saat berdekatan dengan Riska, karena tamu bulanan itu.


Maka dari itu, dia sudah tak bisa lagi menahannya saat diberi sedikit rangsangan oleh istrinya itu.


"Abang, i–ini di dalam lift." Riska tampak gugup, dia mencoba menghindar dari kungkungan tubuh suaminya.


"Tak ada siapa pun, sayang." Keenan terus berusaha merayu istrinya, dia semakin mendesak hingga kini bibirnya berada di depan telinga Riska.


"T–tapi, Bang. Ini kan ada CCTV–nya," ujar Riska masih mencoba menjauh dan menghindari dari serangan sang suami.


Ting!


Suara pintu lift terbuka, sedikit mengalihkan perhatian Keenan, dia pun langsung mengangkat Riska dan menggendongnya ala bridal style.


"Hk," Riska tersentak dan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Keenan.


"Abang, turunkan aku," ujar Riska, dia mengedarkan pandangannya pada sekitarnya, takut akan ada orang yang melihatnya.


"Jangan banyak membantah, atau aku tak akan memberikanmu ampun nanti," ujar Keenan, dengan seringai di wajahnya.


Riska pun terdiam, dia mengatupkan mulutnya dan memilih pasrah dengan apa yang dilakukan Keenan padanya.


"Good girl," puas Keenan, sambil mengecup sekilas kening istrinya.


Riska mengalungkan tangannya pada tengkuk suaminya, menyembunyikan wajah merahnya pada dada bidang Keenan.


'Astaga, kenapa dia seperti ini sih? Aku kan jadi ngeri,' gumam Riska dalam hati.


Sampai di dalam unit apartemen milik Keenan, dia langsung membaringkan istrinya di atas sofa yang berada di ruang televisi.


"Aku merindukanmu, sayang," gumam Keenan, dengan wajah yang hanya berjarak beberapa sentimeter di depan Riska.


Dia langsung menerkam tubuh istrinya, menyatukan bibir keduanya dengan gerakan halus dan membuai, walau terasa lebih intens dan berhasrat dibandingkan dengan biasanya.


Riska berusaha mengimbangi permainan sang suami, walau dia selalu dibuat kewalahan, oleh hasrat suaminya itu.


Keenan bagaikan seperti seseorang yang sudah menahan kelaparan begitu lama, dan baru saja menemukan makanan.


Beberapa saat kemudian pakaian keduanya, kini sudah tak lagi menutupi tubuh sepasang suami istri itu, diiringi dengan suara kenikmatan yang terdengar menggema di seluruh ruangan.


Aktivitas olahraga siang hari itu pun baru berakhir, setelah keduanya kelelahan dan kalah dari pertarungan hebat yang baru saja terjadi.


...🌿...


Anget aja lah, jangan panas-panas, takut ada yang kegerahan🤭


...Komen👍...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2