Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.269 Wanita Misterius


__ADS_3

......Happy Reading ......


......................


Riska mempercepat langkahnya, setelah melihat Toni sudah tidak ada di jendela. Dengan langkah sedikit tertatih dia berusaha berjalan menembus hari yang semakin gelap gulita, di tengah banyaknya pepohonan raksasa.


Ya Allah, bantu aku menemukan jalan yang benar untuk keluar dari tempat ini, gumamnya di dalam hati, saat pandangannya semakin tidak jelas karena hari yang semakin merayap malam.


"Hei, itu jalan yang salah, harusnya kamu berjalan ke sini."


Suara seorang wanita terdengar, membuat Riska menolehkan wajahnya pada suara itu.


Seorang wanita, dengan baju berwarna putih tulang, terlihat berdiri di belakangnya. Suasana yang sudah cukup gelap, membuat Riska tidak bisa melihat jelas wajahnya.


"Kamu siapa? Kenapa kamu ada di sini?" ujar Riska dengan sikap waspada, dia takut kalau wanita itu adalah salah satu yang menculik dirinya.


"Aku salah satu warga sini. Kamu sendiri sedang apa di sini malam-malam begini?" tanya wanita itu.


Riska tampak mencoba memicingkan mata, ingin melihat jelas wajah wanita yang cukup berjarak darinya berdiri. Akan tetapi, entah kenapa, dia tetap saja tidak bisa melihat jelas wajah wanita itu.


"A–aku, dibawa ke sini oleh seorang yang tidak dikenal, dan sekarang aku ingin meminta bantuan pada warga sekitar," jawab Riska, mencoba percaya dengan wanita di depannya.


"Kalau begitu, ayo aku antar ke luar dari sini." Wanita itu terlihat berbalik dan melangkah berlawanan arah dari langkah Riska.


Riska terdiam, dia masih enggan percaya begitu saja pada wanita yang dia temui di tempat seperti ini.


"Ikuti aku," ujar wanita itu lagi.


Entah mengapa, kaki Riska seakan melangkah sendiri mengikuti langkah wanita itu. Mereka berjalan dengan mempertahankan jarak di antara keduanya, entah itu Riska maupun wanita itu, tidak ada yang mau mendekat satu sama lain. Mereka seakan nyaman dengan semua itu.


Beberapa saat berjalan, wanita itu tampak berhenti, dia berbalik kembali untuk melihat Riska.


"Kamu berjalan sedikit lagi ke arah sana, maka akan menemukan jalan raya," tunjuknya ke arah lainnya.


Riska mengikuti arah telunjuk wanita itu, dia bisa melihat ada lampu yang menyala tidak jauh dari tempatnya kini.


"Kamu tidak ikut bersamaku?" tanya Riska sambil kembali menolehkan wajahnya pada tempat wanita itu berada.


Namun, ternyata di sana sudah tidak ada wanita itu lagi. Pandangannya mengedar, mencari keberadaan wanita yang menunjukan arah jalan padanya. Akan tetapi, dia tidak juga menemukan siapapun di sekitarnya.


"Ke mana, dia?" gumam Riska di dalam hati.

__ADS_1


.


.


Beberapa saat yang lalu, di tempat Keenan berada. Dia masih memperhatikan setiap orang yang tampak sedang kebingungan, hingga salah seorang dari mereka bertanya sesuatu pada temannya.


"Gimana? Apa kalian sudah menemukan petunjuk tentang wanita bernapas Riska itu?" tanya salah seorang laki-laki itu.


Keenan melebarkan matanya, dia otomatis menanamkan pendengarannya, saat nama sang istri disebutkan.


"Belum. Benar-benar merepotkan sekali! Tidak sangka wanita lemah sepertinya, akan bisa kabur dari kita," geram laki-laki itu mengeluh pada temannya.


Jadi Riska sudah kabur dari sini? Akh, sial! Kenapa sekarang ku malah terlambat untuk menyelamatkan kamu, sayang? gumam Keenan dalam hati.


Keenan mengabari salah satu anak buahnya yang berada dekat dari ruang belakang, untuk datang dan menyerang mereka, sehingga dia dengan leluasa bisa masuk dan mencari keberadaan sang istri.


Dia pun memilih untuk masuk ke dalam jajaran pohon besar, setelah salah satu anak buahnya ada yang sampai dan menyerang, untuk mengalihkan perhatian para penculik Riska.


Ya Allah, bantu hamba untuk menemukan istri hamba, doanya di dalam hati.


Langkahnya terus terayun dengan mata mengedar menembus kegelapan, mencari keberadaan istrinya yang kini entah berada di mana.


Cukup lama dia berjalan, hingga matanya tampak melihat bayangan seorang wanita yang sedang berdiri membelakanginya.


Walau keadaan gelap dan hanya ada cahaya bulan sebagai penerangan alaminya, Keenan bisa memastikan kalau itu adalah Riska.


Dengan langkah cepat dia menghampiri seluet perempuan itu, dengan senyum mengembang. Harapan untuk bertemu kembali dengan sang istri, kini mulai memberikan rasa bahagia, walaupun semuanya masih belum pasti adanya.


"Riska," ujarnya sambil menghentikan langkahnya tepat di belakang wanita itu.


Riska yang masih mencari keberadaan wanita itu, terkejut begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya.


Dengan gerakan cepat dia berbalik dengan mata yang berbinar, matanya semakin melebar begitu melihat laki-laki yang ada di belakangnya.


"Abang?" gumamnya, suara lirih.


Percaya tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini di depannya.


"Sayang," ujar Keenan, langsung memeluk tubuh lemah sang istri.


"Alhamdulillah, Ya Allah, terima kasih, terima kasih," gumam Keenan sambil mempererat pelukannya.

__ADS_1


Sesekali dia cium kepala dan pundak Riska, menyalurkan rasa bahagia yang membuncah di dalam dada.


Riska terisak dalam pelukan sang suami, dia benar-benar tidak percaya, bisa bertemu lagi dengan sang suami, begitu cepat dari yang dia bayangkan sebelumnya.


"Sshh, sayang. Aku ada di sini sekarang. Kamu, jangan takut lagi ya," ujar Keenan, sambil menguraikan pelukannya.


"Ayo kita keluar dari sini. Aku sama sekali tidak tenang, sebelum melihat kamu di dalam terang," ujar Keenan, sambil mengedarkan pandangannya mencari jalan keluar.


Riska mengangguk, dia menunjuk ke arah wanita tadi menunjukkan arah.


"Ke sana," ujar Riska lirih.


Keenan pun mengikuti arah telunjuk dari sang istri, dia menganguk lalu sedikit mencondongkan tubuhnya untuk menggendong Riska.


"Jangan, Bang. Aku masih bisa berjalan sendiri. Lagipula akan semakin sulit jika, Abang, menggendong aku." Riska menolak apa yang kan dilakukan oleh suaminya.


"Kamu yakin bisa jalan sendiri, sayang?" tanya Keenan.


Dia merasa ragu, saat mendengar suara istrinya yang sudah sangat lemah.


"Iya, aku yakin. Lagipula ini hanya tinggal sebentar lagi," ujar Riska, meyakinkan suaminya.


Keenan tampak termenung, dia akhirnya mengangguk dengan tangan masih merangkul pundak sang istri. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Keenan yang melihat Riska berjalan tertatih, akhirnya melepaskan tangannya dan beralih berjongkok di depan istrinya.


"Naiklah, kalau seperti ini, tidak akan mengganggu alngkahku, karena kamu berada di belakang," ujar Keenan, dengan nada suara yang lembut.


"Tapi, Bang,"


"Jangan membantah, atau aku akan memaksamu." Keenan sedikit memaksa istrinya.


Riska akhirnya menyerah dengan keras kepalanya, dia naik ke punggung suaminya, dengan wajah sendu.


Tetes air mata, bahkan kembali mengalir, seiring rasa bersalah yang menyelimuti hatinya. Karena, dia merasa bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri, saat suaminya tidak berada di sisinya.


...🌿...


Wanita misterius dan semua kejadian tidak masuk akan di dalam bab ini, hanya fiktif belaka, tidak mewakili apa pun. Hanya saja aku percaya pertolongan Tuhan, akan datang dalam bentuk apa pun bahkan dengan sesuatu yang tidak bisa dijangkau dengan nalar manusia sekalipun. Asal kita mau meminta dengan tulus dan berserah diri juga percaya dengan kekuasaan yang dia miliki di atas segalanya di dalam semesta. Tentunya disertai dengan usaha maksimal dan sebaik mungkin, tentu Tuhan akan memberikan kita yang terbaik pula menurut–Nya. Bahkan lebih dari apa yang kita harapkan juga inginkan.


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2