
...Happy Reading...
...❤...
Ayu sedang duduk di atas ranjang kayu, ia baru saja selesai menjalankan ibadah shalat isya.
Dengan masih memakai mukena, dia mengambil ponsel di atas nakas. Sudah seminggu ini dia tidak pernah menghubungi ke kota.
Rasa rindu yang hampir tidak bisa lagi ia tahan, membuatnya memantapkan diri untuk menekan tombol power yang terdapat di samping benda pipih di tangannya.
Menekan beberapa nomor yang sudah sangat ia ingat.
Tut ... tut ... tut ...
Terdengar suara nada sambung, pertanda teleponnya tersambung.
"Assalamualaikum. Keen, bagaimana perkembangan situasi di sana?"
Ayu, bertanya dengan antusias, bahkan tak menunggu jawaban salam yang ia ucapkan dari orang di seberang sana.
"Keen, halo ... kamu denger aku gak? Apa sinyalnya sedang eror lagi ya?."
Wanita itu mengerutkan keningnya, melihat ponselnya, memastikan kalau masih ada sinyal dan panggilan masih tersambung.
"Astagfirullah, Keen ... jawab aku dong, ada suaranya gak ke sana?!" kini suaranya sedikit meninggi, karena mengira memang sinyalnya kembali bermasalah.
Di kampung itu, memang cukup sulit mendapatkan sinyal, walau hanya untuk menelepon saja.
Ayu bangkit menuju dekat jendela, sambil sedikit mengangkat ponselnya, berharap sinyalnya dapat bertambah.
"N-Nin ... Nindi?"
Tubuh wanita itu mematung, saat mendengar suara berbeda dari seberang sana.
Melihat kembali layar ponselnya, ia takut salah memasukan nomor ponsel.
Namun itu semua benar, di sana tertulis nomor ponsel milik Keenan, bukan Ezra.
"Nin-Nindi, kamu masih di sana 'kan?" tanya Ezra lagi, setelah lelaki itu bisa menguasai tubuhnya.
"P-Pak Ezra?" gumam Ayu hampir saja tak terdengar. Salah satu tangannya menekan bagian dada yang terasa bergemuruh.
Matanya mengabur, terhalang oleh air yang tiba-tiba saja berkumpul di pelupuk mata.
Entahlah rasa apa yang kini ia rasakan. Namun, sebisa mungkin wanita itu menyangkal apa yang ada di dalam hatinya.
"Iya, ini aku! Kamu bagaimana di sana? Kamu baik-baik saja 'kan?" cerocos Ezra dengan berbagai macam pertanyaan.
"Maaf-maafkan aku, aku lalai menjagamu sampai kamu harus melawan mereka sendiri. Maaf, Ndi."
Berkali-kali lelaki itu meminta maaf pada wanita yang kini telah meneteskan air matanya, di tempat yang cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Menggigit bibirnya, agar suara isak tangisnya tak terdengar.
Kenapa di saat ada di dekat lelaki itu, dia selalu saja tak bisa menyembunyikan perasaannya?
Pertanyaan itu, selalu berputar di dalam pikirannya. Namun sebisa mungkin ia selalu menampik apa yang ia rasakan.
Dia tak pantas, wanita itu takut walau hanya untuk berharap, bahkan berpikir untuk mewujudkan perasaannya saja ia tidak berani.
"Ti-tidak, Pak. Ini semua bukan salah Bapak!" geleng Ayu, sambil menghapus air mata di pipinya.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Ezra dengan suara panik, ketika mendengar suara Ayu yang sedikit sengau.
"Eng-enggak kok, aku baik-baik saja," ucap Ayu, berusah merubah suaranya menjadi seperti biasanya.
__ADS_1
Ceklek ....
"Siapa yang telepon, Kak?" Dengan memakai handuk Keenan keluar dengan santainya.
Ezra memandang tajam, sang adik dengan ponsel masih menempel di telinganya.
Kedatangan Keenan menyadarkannya, kalau saat ini dia sedang memegang ponsel adiknya.
Keenan menautkan alisnya, dengan sikap sang kakak. Menghampirinya dengan tubuh setengah telanjang.
"Siapa, Kak? Sini biar aku yang gomong aja," ucapnya hendak mengambil ponsel dari tangan Ezra.
Namun, kakaknya itu dengan sigap menagkis lengannya dengan cukup keras, hingga membuat dirinya meringis menahan sakit.
"Astaga, Kak! Sakit!" kaget Keenan.
"Pak, Pak Ezra apakan Keenan? Jangan marah padanya, Pak. Dia tidak salah apa-apa!" terdengar suara panik Ayu di sambungan teleponnya, saat mendengar teriakan Keenan.
"Kenapa? Aku berhak marah padanya? Dia sudah berani main-main di belakangku," ucap Ezra dengan mata masih menatap tajam sang adik. Namun, suaranya melembut.
Keenan membolakan matanya saat mulai menyadari, siapa yang sekarang menghubunginya.
"K-Kak Nindi?!" ucapnya sedikit berteriak, karena terkejut dengan pemikirannya sendiri.
'Mati gue, bisa-bisa gue di sidang semalaman,' batin Keenan meratapi nasibnya malam ini.
"Eh, bukan gitu. Ini semua ide dari aku, Pak. Keenan hanya membantu aku saja," ucap Ayu berusaha menjelaskan.
Ezra berjalan meninggalkan kamar Keenan dengan ponsel masih di telinganya.
"Kak, ponsel aku!" teriak Keenan.
Ezra langsung kembali menantap tajam sang adik.
"Iya-iya. Silahkan, pakai saja sampai puas," pasrah Keenan. Dalam hati ia mengerutu kesal pada sang kakak.
"Eh, kok gitu!" kaget Ayu.
"Jadi benar kamu suka sama dia?!" tekan Ezra lagi.
Brak ....
Suara pintu di tutup dengan keras, menggema di lantai dua rumah besar keluarga Darmendra.
"Ada apa dengan kakakmu?" tanya Nawang yang baru saja keluar dari kamar Naura.
"Gak tau, kesurupan kali," acuh Keenan, mengangkat kedua bahunya, lalu kembali masuk ke dalam kamar.
Nawang hanya menggelengkan kepala, melihat kelakuan kedua anaknya itu.
"Engga, aku gak suka sama Keenan!" jawab Ayu sedikit meninggikan suaranya.
'Kenapa aku jadi kesal di tuduh begitu oleh Ezra,' gumam Ayu dalam hati.
"Lalu sukanya sama siapa?" Ezra mulai menggoda wanita itu lagi.
Memang sejak tadi, dia hanya mengerjai wanita itu.
"Enggak ada! Udah ah, males aku ngomong sama kamu. Ingat jangan apa-apakan Keenan!" ucap Ayu panjang lebar.
"Assalamualikum."
Panggilan berakhir begitu saja dengan salam dari Ayu.
Ezra memandang ponsel Keenan dengan senyum merekah di bibirnya.
Salah satu tangannya ia letakan di dada, merasakan detak jantung yang berdetak dengan cepat sejak tadi.
__ADS_1
Di tempat lain, Ayu menatap nanar ponsel yang kini tergeletak begitu saja di atas tempat tidur.
Menghela napas berat, memilih beranjak keluar dari kamar dengan balutan mukena membungkus seluruh tubuhnya.
Di kamar Ezra, lelaki itu baru keluar kamar mandi, saat ia melihat Keenan hendak keluar dari kamarnya, dengan cara mengendap-endap.
"Heh, ngapain loe?" Ezra langsung menarik baju bagian belakang milik adiknya itu.
"A-ampun, Kak. Aku cuman ngambil ponsel aku aja!" Keenan mengangkat kedua tangannya, dengan ponsel berada di genggaman tangan kanannya.
"Sini, loe. Gue butuh penjelasan!" ucapnya menarik Keenan ke balkon kamarnya.
Adik dari Ezra itu memejamkan matanya, pasrah. Kakaknya memang keras kepala dan tidak kan menyerah dengan apa yang menjadi keinginannya.
Sekarang dia harus kena imbasnya, karena membantu Ayu pergi dari rumah beberapa waktu lalu.
"Cepat jelaskan, apa yang terjadi sampai kamu membantu Nindi untuk pergi dari rumah?"
"Dasar adik, sialan!" umpat Ezra, berkecak pinggang. Memandang Keenan seperti seorang pelaku kejahatan.
"Iya-iya, ini aku mau jelaskan,"
"Bagus," angguk Ezra.
"Jadi saat itu aku sedang perjalanan pulang dari bertemu klien, dan kebetulan terjebak macet di jalan XX."
Flash back
Keenan menajamkan penglihatannya saat melihat orang yang ia kenal.
"Kak Nindi?" gumamnya.
Memutuskan untuk meninggalkan mobilnya di pinggir jalan dengan alasan mogok, ia menghampiri wanita itu.
"Kak-,"
Sapaannya langsung terputus saat lengan Ayu lebih dulu membungkam mulutnya.
Sssttt
Ayu memberikan isyarat mata pada Keenan, agar tidak berisik.
Wanita itu baru melepaskan tangannya saat Keenan sudah menganggukan kepalanya.
"Ada apa, Kak?" bisik Keenan mengikuti arah pandangan Ayu.
Alisnya bertaut saat melihat ada anak buah Ezra yang sedang berbicara dengan seseorang, beberapa meter di depannya.
Setelah selesai melakukan pengintaian itu, keduanya memutuskan untuk berbicara di salah satu restoran yang ada di sana.
Saat itulah, Ayu menceritakan semuanya pada Keenan. Akhirnya mereka merencanakan sesuatu untuk memancing musuh keluar dan Ezra bisa mendapatkan banyak bukti.
Setelah menyetujui semua itu, mereka berpisah begitu saja, seperti orang yang tidak saling mengenal satu sama lain.
Flash back off
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Sampai sini dulu ya, terima kasih yang masih setia nunggu aku up, dan selamat datang kepada para pembaca baru. Semoga kalian suka cerita receh dari aku.
Terima kasih juga, kepada yang terus kasih dukungannya, dalam bentuk apapun. Semua itu sangat berarti untuk aku.
Sambil nunggu aku up lagi, boleh baca novel karya temen aku ya.
__ADS_1