Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.81 Sakit hati membawa benci


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Hari sudah beranjak sore. Tetapi dua orang itu masih terdiam di sebuah danau buatan yang terletak tak jauh dari kota.


Ezra dan Ayu.


Ya, mereka berdua kini tengah duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu di sisi danau tersebut.


Ingatan keduanya kembali pada kejadian tadi pagi.


Flash back


"Setidaknya, tidak akan ada berita, kalau istri dari pengusaha sukses Larry Ardinata telah di tangkap polisi di rumahnya sendiri," ucap Keenan lagi.


"Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak melakukan apapun, untuk apa aku ikuti keinginan kalian!" bantah Arumi.


"Lebih baik Anda bicarakan saja semua pembelaan di kantor polisi!" tegas Kemal.


"Mas, usir mereka semua, Mas. Aku gak salah, aku gak pernah lakuin itu!" teriak Arumi, sambil menggoyangkan tangan Larry.


"Stop, stop Arumi. Sudahi semua ini, aku kecewa denganmu Arumi. Kenapa kamu melakukan semua ini pada keluargaku?" lelaki paruh baya itu, memandang manik sang istri dengan emosi yang sudah memuncak.


Rasa kesal, marah, kecewa dan sedih semuanya bercampur aduk menjadi satu. Kini dirinya harus tega membiarkan istrinya itu untuk ikut ke kantor polisi, sebagai hukuman atas apa yang sudah sang istri lakukan.


Ya, selama ini dia tidak pernah menyangka kalau istri keduanya itu mampu melakukan hal sekeji itu. Karena dari awal menikah Arumi tampak seperti gadis sederhana yang ramah dan penyayang.


Karena semua itulah, ia mau untuk menikah dengan Arumi waktu itu.


Tapi sejak beberapa tahun yang lalu, semua anggapannya tentang Arumi telah terpatahkan dan berganti dengan kekecewaan mendalam.


"Kenapa, apa Mas juga tidak percaya padaku? Mas lebih percaya pada mereka?" tanya Arumi menatap Larry dengan penuh kekecewaan.


"Harusnya aku yang bertanya kepadamu, kenapa kamu melakukan semua ini kepada anakku dan menghalangiku untuk bertemu dengan putriku sendiri!" tekan Larry.


"Siapa putrimu? Kamu hanya mempunyai satu putri, Melati ... dia putrimu satu-satunya!" teriak Arumi, mulai terpancing emosi.


"Jangan lupa kalau aku juga salah satu putri dari suamimu, Nyonya Ardinata!"


Suara seorang wanita, dari arah pintu utama, mengalihkan perhatian semua orang yang berada di ruang tamu rumah besar tersebut.


Ayunindia Clarissa


Ya, wanita itu berjalan anggun dengan penuh percaya diri, melangkah masuk ke dalam ruang tamu tanpa ada yang mengijinkannya lebih dulu.


Ezra dan Keenan tersenyum melihat kedatangan wanita itu, sedangkan Ansel di landa keterkejutan saat melihat adiknya sudah berada di sana.


Larry menatap nanar wajah cantik yang sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya. Dalam hati ia menyimpan rindu dan rasa bersalah yang sangat besar, bagi anak perempuannya itu.


Sedangkan Arumi, memandang penuh amarah kedatangan Ayu, mukanya merah padam dengan sorot mata penuh dengan kebencian.


"Assalamualaikum, semuanya. Maaf saya datang secara tiba-tiba dan mengganggu kalian semua," ucap Ayu, tegas.


Tatapannya mengedar menatap satu per satu orang yang ada di dalam ruangan itu, dengan senyum tipis yang menghias wajah cantiknya.

__ADS_1


"Kamu? Buat apa kamu datang ke rumahku?!" sentak Arumi, langsung berdiri dan mendekat pada Ayu.


"Aku kemari untuk menemui ayahku? Memang kenapa? Salahkah seorang anak ingin bertemu dengan ayah kandungnya sendiri?" tanya Ayu panjang lebar.


Wajahnya tampak tenang, tanpa riak takut atau ragu sedikit pun.


Ezra, Keenan dan Ansel bahkan sampai tidak bisa mengedipkan matanya, melihat sikap wanita itu saat ini.


"Siapa Ayahmu? Dia bukan Ayahmu! Kamu hanyalah anak haram wanita sialan itu!" teriak Arumi penuh emosi dengan tangan menunjuk wajah Ayu.


"Arumi!" Larry langsung berdiri dan mendekat kepada Arumi dan Ayu yang sedang beradu pandang.


Ayu mengalihkan pandangannya pada lelaki paruh baya itu. Sekilas mata mereka salah beradu tatap.


Namun, dengan cepat, Ayu memutuskan tautan mata mereka, dan beralih kembali pada wanita di depannya.


"Dengar ya, Nyonya Ardinata ... Anda boleh menghina dan mencoba untuk melecehkan kehormatan saya. Tapi, jangan sekalipun Anda menghina ibu saya, wanita yang telah melahirkan dan membesarkan saya sendiri, tanpa di didampingi oleh siapapun. Wanita yang telah Anda ambil kebahagiaannya hanya karena harta semata."


Ayu berucap panjang lebar, dengan mata yang sudah memerah menahan semua amarah yang kini mendesak ingin segera di keluarkan.


Dia sangat tidak suka kalau ada yang menghina sang ibu. Baginya ibu salah seorang yang paling berharga dalam hidupnya, dan malaikat penyelamat hidupnya.


Tidak ada yang bisa menggantikan arti seorang ibu di dalam hidupnya. Bahkan sampai saat ini, semua kenangan bersama ibunya, masih tersimpan di dalam hati dan juga ingatannya.


"Arumi, kamu jangan keterlaluan!" ucap Larry lagi.


Ansel berdiri dan menghampiri adiknya, merangkulnya dalam pelukan.


"Yang Mama hina sekarng, adalah ibuku juga. Kenapa, Mah? Belum puas kah Mama mendapatkan Papah?" tanya Ansel, nada bicaranya rendah. Tetapi sedikit menekan.


Hatinya sakit mendengar hinaan yang di ucapkan ibu tirinya kepada ibu dan adik kandungnya.


"Kalian tidak tau perasaanku?!" teriak histeris wanita itu lagi.


"Kamu! Kamu tidak tau kan, Mas? Aku sangat mencintaimu, bahkan sejak awal aku melihatmu. Tapi, dengan tega kamu menolak perjodohan kita hanya karena wanita sialan itu! Ibu dari mereka!"


"Kamu tau kenapa aku memberikan obat itu padamu? Itu semua karena aku takut kamu meninggalkanku kembali, saat ingatan tentang mereka hadir lagi di antara kita!"


"Aku muak, Mas. Aku cemburu! Bahkan ketika kamu tidak mengingat wanita itu,di dalam tidurmu kamu selalu menyebut namanya! Kau tau, Mas? Hatiku terbakar setiap kali kamu menyebut namanya!"


Arumi meraung, mengeluarkan segala isi hatinya selama ini. Tatapannya nyalang pada Larry, dengan air mata berderai, mengiringi setiap perkataannya.


Setiap ucapan Arumi membuat lelaki paruh baya itu mematung, tak bisa berkata-kata.


Dirinya terkejut atas semua yang telah di katakan oleh istrinya tersebut.


"Kamu juga! Kamu bahkan tidak pernah menganggapku ibumu? Bahkan Melati, anakku, darah daging ayahmu, kamu juga tidak pernah menganggapnya ada!"


"Kamu tau, betapa sakitnya melihat anak sendiri di acuhkan orang terdekatnya, hanya karena seseorang yang bahkan tidak tau keberadaannya, hah?!"


Arumi beralih kepada Ansel, telunjuknya mengarah tepat pada anak tirinya itu.


"Kamu tau, bagaimana sakitnya hati seorang ibu, melihat anaknya menangis seorang diri hanya karna menginginkan kasih sayang dari kakaknya?!"


Ansel terdiam, kini ada rasa bersalah yang terselip dalam hatinya kepada Melati.


"Kalian berdua memang ada bersamaku, tubuh kalian memang dapat aku miliki. Tapi tidak dengan hati, aku bahkan tidak bisa menemukan celah untuk masuk ke dalam hati kalian. Kalian bisa bayangkan betapa sakitnya aku!" teriak wanita itu lagi, membagikan pandangannya pada dua orang lelaki yang selama ini menghiasi hidupnya.

__ADS_1


"Apakah aku salah, bila menginginkan kebahagiaan untukku dan untuk anakku? Aku hanya mengharapkan sedikit kasih sayang kalian! Tapi kenapa itu semua begitu sulit aku dapatkan?!"


"Sekarang kalian juga akan membawaku ke penjara? Silahkan ... aku tidak akan melawan, bila ini adalah harga yang harus aku tebus untuk kebahagiaan putriku!"


"Ya, aku mengakui semua kesalahanku. Akulah yang selama ini berusaha menjauhkan kalian dari dia! Aku juga yang menyuruh orang untuk memberikan pelajaran kepada wanita ini!" tunjuk Arumi pada Ayu.


"Kalian tau kenapa? Itu semua aku lakukan karena semenjak kedatangannya, perhatian kalian hanya tertuju padanya saja! Kamu, Mas ... kamu bahkan lupa hari ulang tahun Melati!"


Semua pengakuan Arumi membuat orang yang berada di sana, diam seribu kata.


Ayu menatap nanar wajah merah padam ibu tirinya itu, menyelami manik indah yang penuh dengan kekecewaan mendalam dan amarah menggebu.


Flash back off


"Sudah sore, kamu masih mau di sini?" tanya Ezra lirih.


Ayu menegakkan tubuhnya, saat suara lelaki itu membuyarkan semua lamuanannya. Menghapus air mata yang sudah terlanjur menetes.


"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu atas kejahatan orang lain? Apapun alasannya yang dia lakukan tetap saja salah," ucap Ezra dengan suara lembut.


"Tap-"


"Sstt ... tak ada pembelaan bagi setiap kejahatan, dia telah memilih jalan yang salah untuk meraih kebahagiaan dan itu harus dipertanggungjawabkan." Ezra langsung memotong ucapan Ayu.


"Nanti kita cari tau, apa benar yang dia katakan itu atau mungkin hanya sekedar alibi untuk membuatmu merasa bersalah seperti sekarang ini, hem?" Ezra menatap intens wajah sendu wanita di sisinya.


Ayu menganggukan kepala, menyetujui apa yang di katakan lelaki yang menemani dirinya sejak awal, di dalam menghadapi masalah ini.


"Terima kasih, kamu selalu membantu aku dalam menghadapi masalahku. Aku bahkan tidak tau harus membalas semua kebaikan kamu dengan cara apa," ucap Ayu, menunduk dalam.


"Kamu tidak perlu membalas apapun, aku tulus membantumu selama ini. Lagi pula sudah kewajibanku melindungi orang yang aku sayangi, bukan?"


Ayu langsung mengangkat kepalanya, menatap Ezra dengan alis bertaut.


Ezra hanya tersenyum hangat, menanggapi reaksi terkejut wanita itu.


"Ayo, sebaiknya kita pulang. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan," ucap Ezra, mengalihkan perhatian Ayu.


Wanita itu mengangguk dengan canggung, berdiri dan berjalan beriringan bersama Ezra, menuju mobilnya dan mobil lelaki itu terparkir.


Ya, seperti biasa, Ezra mengikuti Ayu yang menyetir dengan kencang setelah melihat Arumi di bawa ke kantor polisi. Karena memang hanya Ezra yang bisa menandingi kecepatan mobil Ayu di saat sedang ingin melupakan rasa gundah di dalam hatinya.


"Di mana mobilku?" tanya Ayu, saat melihat mobinya tidak ada lagi di tempat dirinya memerkirkan tadi.


"Aku tidak akan mengijinkanmu menyetir mobil, selama hatimu belum tenang. Sebaiknya sekarang kamu masuk," ucap Ezra yang sudah membuka pintu penumpang di mobilnya, untuk Ayu.


Ayu meringis melihat perhatian yang di berikan oleh lelaki itu.


Ada rasa hangat di dalam hatinya, namun terasa ada yang mengganjal dan itu entah apa.


...🌿...


...🌿...


Hari ini aku ngetik cukup panjang, hampir 1500 kata. Semoga kalian suka ya🥰🥰


Terima kasih semuanya, sampai jumpa di bab berikutnya👋👋❤❤

__ADS_1


...Sambil nunggu aku up lagi, boleh baca karya temen literasi aku ya....



__ADS_2