Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.163 Mencuri


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Bruk!


Keenan tak bisa lagi menahan gerakan dari Riska, kini ia ikut terjatuh ke atas tempat tidur dengan Riska berada di bawahnya.


Riska terdiam dengan tangan menekan dada Keenan yang berada tepat di atasnya. Sedangkan lengan Keenan berada tepat di samping kepalanya.


Mata keduanya terpaut dalam, Riska tak dapat berkata-kata, tubuhnya kaku, seakan susah untuk digerakan.


Keenan menelan salivanya, dengan jantung yang bertalu, wajah keduanya kini hanya berjarak beberapa centimeter saja, dengan wajah Riska yang memerah dan tampak sedikit bergetar.


Cup


Tanpa sadar Keenan memberikan kecupan di kening Riska dan langsung berdiri sebelum istrinya itu menyadari perbuatanya.


"Bang Keee! Dasar nyebelin!" teriak Riska, saat Keenan sudah berlalu ke kamar mandi setelah sempat mencuri ciuman di keningnya.


"Ahahaha!" tawa Keenan pecah mendapati teriakan kesal Riska.


"Itu baru kening, belum yang lain!" teriak Keenan sebelum menutup pintu kamar mandi.


Brak!


"Dasar mesum!" Riska melempar bantal yang ada di sekitarnya kepada pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


Keenan terkekeh di dalam kamar mandi, ternyata menjahili gadis polos yang galak itu lumayan menyenangkan.


"Ternyata dia sangat polos, bagaimana bisa dia menyembunyikan semua itu dengan sikap galak dan cerewetnya, sampai tidak ada orang orang tau?" gumam Keenan, mengingat wajah Riska yang memerah saat dia mengecupnya.


"Lucu juga dia kalau sedang tersipu malu begitu," ujarnya lagi, diiringi kekehan kecil di belakangnya.


Sedangkan Riska, dia memukul ranjang di sampingnya berkali-kali, melampiaskan kesal yang ada di dalam dirinya.


"Dasar mesum! Menyebalkan!" perkataan itu terus Riska ucapkan berulang, sambil memukul ranjang di sisinya.


"Astaga, ini pertama kalinya aku dicium oleh laki-laki ... bahkan Rio saja tidak pernah aku izinkan menciumku setelah kita dewasa, sekarang dia malah mencurinya!" Riska bersungut kesal.


"Apa tadi dia bilang? Baru kening? Terus dia mau apa lagi?" ujarnya sambil memegang kening di mana bekas bibir Keenan masih terasa.


"Oh, astaga! Tidak boleh, jangan sampai dia mencuri lagi di mana pun!" pekiknya sambil menangkup wajahnya.


"Dasar Bang Ke mesum!"

__ADS_1


Hufthh!


Riska menghembuskan napas, menenangkan hati dan juga jantungnya yang terasa bekerja lebih keras dari biasanya, hingga membuat dirinya merasa lelah.


Dia kemudian mengedarkan pandangannya pada seluruh kamar. "Aku tidur di mana? Kalau aku tidur di sofa lagi, nanti dia nuduh aku cari perhatian lagi. Tapi, kalau aku tidur di sini, nanti dia ngapa-ngapain aku."


Riska bergidik ngeri dengan pemikirannya sendiri.


Terdiam beberapa saat, memikirkan kira-kira di mana tempat tidur yang nyaman untuknya.


Lelah dengan pemikirannya sendiri, Riska akhirnya memilih tidur di ranjang, menggulung seluruh tubuhnya dengan selimut, agar Keenan tak bisa lagi berbuat seenaknya.


"Awas saja kalau dia berani macam-macam sama aku lagi, akan aku tendang sampai dia terjatuh dan mencium lantai seperti pagi tadi," gumam Riska sebelum menutup matanya.


Tidak menunggu lama, gadis yang baru saja menjalani kehidupan sebagai seorang istri itu sudah terlelap bersama mimpinya.


Beberapa saat kemudian, Keenan keluar dari kamar mandi, dia melihat Riska yang sudah tidur di atas ranjang, menggulung seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal, hingga kini yang terlihat hanya kepalanya saja.


Keenan terkekeh geli. "Aku kira doa akan tidur di sofa lagi."


Merebahkan tubuhnya di samping Riska dan bersiap untuk ikut tidur, tubuhnya yang masih terasa lelah langsung membawanya menuju alam mimpi sesaat setelah menutup mata.


.


Di kamar Ezra dan Ayu, lelaki itu baru saja masuk ke dalam kamar, dia melihat istrinya sudah terlelap di atas sofa dengan buku parenting tergeletak di sampingnya.


"Kamu ini, selalu saja begini, menunggumu sampai tertidur," gumam Ezra, dia menyelipkan rambut Ayu yang menghalangi wajahnya ke belakang cuping kupingnya.


Dia menyelipkan tangannya di belakang pundak dan belakang lutut, mengangkat wanita yang sedang hamil besar itu dan memindahkannya pada ranjang.


"Mas, kamu sudah pulang?" gumam Ayu, membuka matanya sedikit hingga alisnya mengernyit.


"Iya, tidur lagi saja ya, aku mau mandi dulu," bisik Ezra sambil menarik selimut sebatas dada Ayu.


"Heem," jawab Ayu hanya bergumam, kemudian menutup matanya kembali, saat Ezra mencium keningnya.


Ezra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam itu semua penghuni rumah akhirnya tertidur lelap, setelah mengalami berbagai kejadian yang melelahkan.


.


Pagi menyapa dengan hangatnya caranya mentari, tiga pasangan suami istri dengan satu anak kecil, sudah berada di meja makan untuk menyantap sarapan pagi.


Hari minggu yang cerah dengan anggota keluarga lengkap membuat senyum smua orang terlihat mengembang. Berbagai canda tawa menghiasi pagi keluarga Darmendra, dengan suasana hangat khas kekeluargaan.


Berbeda dengan jejaring sosial media yang kembali dihebohkan oleh penangkapan tiga orang pengusaha yang masih berstatus kerabat dekat, tadi malam, dengan waktu yang bersamaan.

__ADS_1


Berbagai bukti kecurangan di dalam berbisnis pun terkuak hingga banyak dari para investor menarik dana mereka dari perusahaan itu.


Harga saham pun anjlok dan bisa dipastikan ketiga perusahaan itu gulung tikar hanya dalam kurun waktu beberapa jam saja.


Semua itu begitu membuat dunia bisnis menjadi gempar, hingga kini pembahasan terus meluas dan menjadi ternding topik harian.


Berita tentang Keenan dan keluarga Darmendra pun terlupakan begitu saja, beralih dengan berita baru yang lebih menghebohkan.


Ya, itulah kekuatan jejaring media sosial, mereka bisa menjadi keuntungan dan bencana dalam sekali waktu bila kita salah dalam menggunakannya.


Ezra dan Keenan sebagai dalang kehebohan itu kini tersenyum bahagia, dengan laporan yang dikirimkan oleh para anak buahnya.


"Berikan mereka bonus, untuk menghargai kerja kerasnya," perintah Garry setelah dia melihat hasil kerja sama kedua anaknya.


"Siap, Pah. Itu juga sudah menjadi rencana kita berdua, iya 'kan, Kak?" jawab Keenan sumringah.


"Iya, kita sudah menyiapkan dana untuk memberikan mereka semua bonus, Pah," imbuh Ezra, membenarkan perkataan Keenan.


"Bagus, kalian memang anak Papah," bangga Garry.


Setelah menikmati pagi masing-masing dengan berbagai aktifitas, kini semua anggota keluarga Darmendra sudah berkumpul kembali di ruang keluarga.


"Jadi, sekarang kamu sudah memutuskan mau tinggal di mana?" tanya Nawang pada Keenan.


Dia tidak mau memaksa anaknya itu untuk tinggal di rumah, walaupun dalam hati dia berharap bisa tinggal bersama dengan salah satu anaknya.


Keenan melirik Riska yang tampak menundukkan kepala, mereka belum sempat membicarakan masalah ini.


"Untuk sementara, kami akan tinggal di apartemen saja, Mah, Pah." jawab Keenan.


Riska langsung menatap Keenan, dia mengira akan tinggal bersama kedua mertuanya, tetapi, ternyata Keenan lebih memilih tinggal berdua saja di apartemen yang selama ini menjadi tempat peristirahatannya.


"Baiklah, kalau itu memang sudah keputusan kalian berdua, Mama mau bilang apa. Padahal Mama sangat berharap kalian berdua mau tinggal bersama dengan kita," lemas Nawang.


"Maaf, Mah. Tapi, menurut aku ... untuk sementara ini kami lebih baik tinggal bersama, apa lagi kita harus banyak beradaptasi dengan status baru ini," jelas Keenan.


"Iya, Mama tau. Kapan kalian mau pindah ke apartemen?" tanya Nawang.


"Mungkin nanti siang atau sore saja, Mah. Lagi pula paling kita cuman bawa baju buat Riska, aku 'kan sudah banyak baju di sana," ujar Keenan.


"Oh, ya sudah nanti Mama bantu beres-beres di sana."


Riska meringis, mendengar percakapan antara Keenan dan Nawang. Dia menatap suaminya dengan raut wajah kesal.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2