
...Happy Reading...
......................
"Nah, itu dia mereka sudah datang!" ujar Nawang, melihat ke arah kedatangan orang-orang yang mereka tunggu.
"Mama!" teriak Naura yang berlari menghampiri Ayu.
Tentu saja semua itu mengalihkan perhatian semua orang yang sedang berada di halaman belakang.
Ayu tersenyum melihat kedatangan anak sulungnya, dia merentangkan tangan menyambut kedatangan Naura.
Sedangkan di belakang Naura tampak tiga orang yang berjalan mengikutinya. Riska yang melihat kedatangan mereka tampak tersenyum bahagia.
"Ibu, Rio," lirih Riska, dengan mata yang berkaca-kaca.
Riska sama sekali tidak menyangka akan kedatangan ibu dan adiknya, mengingat setiap kali ada acara di keluarga mertuanya, Ibu dan Rio selalu menolak untuk datang.
Riska menghambur kedatangan ibu dan Rio, dia langsung menghambur ke dalam pelukan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu, kenapa gak bilang dulu kalau mau datang?" tanya Riska di dalam pelukan ibunya.
"Ibu, juga tidak tau akan dibawa ke sini sama Alvin," jawab Ibu, sambil mengurai pelukannya.
Riksa menatap Rio penuh kasih sayang, lalu mengacak puncak kepal adiknya itu, sambil tersenyum bahagia. Pandangannya lalu, beralih pada Alvin yang berada di belakang Ibu dan Rio.
"Terima kasih," ujar Riska tulus.
Alvin mengangguk, "Ini semua perintah dari Pak Keenan."
Ya, tadi siang saat Keenan mengajak Alvin pergi bersama, laki-laki itu menyuruh Alvin untuk membawa mertua dan adik iparnya ke mari, sebagai kejutan bagi Riska.
Naura yang sedang bermain bersama dengan Ezra pun, ingin ikut bersama Alvin, hingga gadis kecil itu pun akhirnya pergi bersama Alvin.
"Selamat datang, Ibu, Rio," ujar Keenan yang ikut menghampiri istri dan mertuanya, dia langsung mencium punggung tangan mertuanya, lalu beradu tangan dengan Rio.
Riska menatap haru wajah suaminya yang kini berada di sampingnya.
"Terima kasih, Bang," ujarnya dengan senyum senangnya.
Keenan tersenyum pada istrinya, dia kemudian mengangguk samar. Hatinya ikut berbahagia melihat wajah istrinya yang penuh binar.
"Sudah-sudah, acara kangen-kangennannya," ujar Nawang yang ikut bergabung.
"Riska, ajak ibumu bergabung, dan Keenan ajak Rio," perintah Nawang, setelah beramah-tamah sebentar kepada besannya.
.
.
"Assalamualaikum!" Lagi-lagi, terdengar suara salam dari beberapa orang.
Kini rombonga keluarga Ardinata yang baru saja datang. Mulai dari Larry, Ansel, Ellea, dan Bian, semuanya tampak hadir di acara malam itu.
"Wa'alaikumsalam!" jawab semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
Senyum di wajah Ayu pun terukir jelas, melihat seluruh keluarganya pun sudah datang. Dia langsung menghampiri mereka dengan wajah sumringah. Sedangkan Naura langsung berlari menghampiri Bian.
"Ayah, bagaimana kabarnya?" tanya Ayu, setelah mencium punggung tangan Larry.
"Alahamdulillah, Ayah baik. Kamu, bagaimana kabarnya, Nak?" tanya Larry, sambil mengusap pelan kepala Ayu yang tertutup oleh kerudung.
Belakangan ini, kondisi kesehatan Larry memang semakin menurun. Laki-laki paruh baya itu, bahkan sekarang sudah jarang ke luar rumah.
Sedangkan Ayu yang kini disibukkan dengan mengurus anak-anaknya, juga butik yang masih belum mendapatkan pengganti Riska, membuatnya sulit meluangkan waktu untuk bertemu berkunjung ke rumah Ansel.
"Alhamdulillah, kami semua sehat, Ayah." Ezra tampak mejawab dari belakang Ayu.
"Ayo, kita duduk dulu di sana, sebentar lagi semuanya siap," ujar Ezra lagi, setelah menciuum panggung tangan mertuanya dan menyapa Ansel juga Elena.
Ezra membawa Larry untuk duduk di salah satu kursi, sedangkan Ayu berjalan di belakangnya, beriringan dengan Elena dan Ansel.
"Zain, mana?" tanya Ansel, melihat tidak ada keponakan kecilnya di sana.
"Zain, masih di kamar bersama Bi Yati, sebentar aku panggilkan dulu," ujar Ayu.
Wanita dua anak itu, kemudian memisahkan diri dan melangkah masuk ke dalam rumah, untuk menjemput Zain di kamar.
Bayi tampan anak dari Ayu dan Ezra itu, memang sengaja tidak diajak ke luar rumah terlebih dahulu, sebelum semua keluarga datang.
Udara malam di puncak yang terasa cukup dingin, membuat Ayu dan Ezra cukup khawatir akan kesehatan anak laki-laki mereka, bila dibawa ke luar.
Beberapa saat kemudian, Ayu sudah kembali bersama dengan Bi Yati yang sedang menggendong Zain, sedangkan dirinya tampak membawa sebuah baju hangat dan sebuah paper bag, di tangannya.
Ayu menghampiri Larry, yang sedang berbincang bersama dengan Garry.
"Ayah, Ndi, buatkan ini untuk, Ayah," ujar Ayu sambil mengulurkan baju hangat untuk Larry.
"Sini, Ndi, pakaikan," sambung Ayu lagi, sambil membantu Larry untk memakai baju hangat itu.
"Terima kasih, Nak. Nyaman sekali, dan terasa hangat," ujar Larry, sambil mengusap baju pemberian dari anaknya itu.
"Aku juga buatkan untuk, Papah," ujar Ayu, beralih pada Garry.
"Benarkah? Mana, sini Papah lihat?" Garry, tampak ikut bersemangat.
Ayu mengambil paper bag yang sebelumnya dia taruh di bawah, lalu mengambil isi di dalamnya. Dia hendak memberikannya pada Garry, akan tetapi, Ezra langsung menyambarnya.
"Kalau, Papah biar aku aja yang pakaikan," ujar Ezra, sambil bersiap memakaikan baju hangat itu pada Garry.
Garry mendengkus kesal melihat sikap anaknya yang terlewat posesif kepada istrinya.
"Ck, kamu ini, Zra ... masa sama Papah sendiri juga cemburu?" decak Garry, walau dirinya juga tidak menolak dipakaikan baju hangat oleh anak pertamanya.
"Suka-suka aku dong, lagian istriku juga gak masalah. Iya kan, sayang," ujar Ezra, sambil kembali berdiri di samping istrinya.
Ayu tersenyum malu, dia menatap canggung ayah dan mertuanya. Walupun sebenarnya seluruh keluarganya sudah tahu tingkah posesif Ezra terhadap Ayu.
Namun, bila terjadi di depan banyak orang seperti ini, tetap saja terkadang Ayu merasa tidak enak hati.
"Ck, dasar bucin! Ayo balik lagi, daging yang harus kita panggang masih banyak tuh," ujar Keenan yang menyusul kakanya.
__ADS_1
"Tuh dengar, kalian yang masih muda, sana kerja. Biarkan kami para orang tua yang menikmatinya di sini," ledek Garry pada kedua anaknya.
"Iya, iya!" Ezra pun terpaksa pergi meninggalkan kedua laki-laki paruh baya itu dan juga istrinya.
Ayu pun tampak kembali bergabung dengan Riska dan Elena, sedangkan Nawang dan Ibunya Riska, memilih menjaga Zain bersama-sama.
Malam itu, semua orang tampak bahagia, mereka asyik bercanda tawa bersama, menikmati dinginya suasana puncak di malam hari, yang tersamarkan oleh kehangatan kasih sayang keluarga.
"Semuanya sudah siap, ayo-ayo kita makan!" teriak Keenan sambil membawa daging barbeque di tangannya.
Semua orang kini berkumpul di atas sebuah karpet yang sengaja digelar, mereka makan bersama dengan gaya lesehan, membuat suasana kekeluargaan makin terasa.
Acara makan bersama malam yang bergaya sederhana itu, terasa begitu meriah dan penuh canda tawa, dengan berkumpulnya semua anggota keluarga.
Riang suara anak-anak pun semakin menambah ceria suasana malam itu. Hingga tanpa terasa, makanan yang disiapkan bersama-sama kini telah habis tidak tersisa.
"Om Al, ayo main kembang api," ajak Naura, setelah dia merasa kenyang.
"Iya," jawab Alvin sambil beranjak berdiri.
Setelah makan bersama, kini mereka tampak asyik duduk bersama di halaman itu.
Ezra yang sudah menyiapkan sesuatu, memberi kode kepada anak buahnya, hingga satu per satu kembang api tampak meluncur ke atas, memberikan pemandangan indah di langit puncak malam itu.
"Kamu bahagia, sayang?" tanya Ezra, sambil merangkul posesif pinggang istrinya.
Ayu mengangguk, dia menatap Ezra sekilas lalu kembali melihat pijaran cahaya kembang api di atas sana.
"Terima kasih, Mas," lirih Ayu.
"Apa pun untuk kebahagiaan kamu, sayang," jawab Ezra.
"Semoga keluarga kita akan terus bahagia seperti ini," lirih Ayu.
Ezra sedikit menundukkan kepalanya, menatap penuh kasih sayang istri cantiknya, dia memberikan kecupan kilas di kening Ayu.
"Dan semoga kita kan terus bersama hingga takdir yang akan memisahkan." Ezra menambahkan do'a istrinya, sambil mengeratkan pelukannya.
"Aamiin," ujar keduanya bersamaan.
Ayu tampak menyandarkan kepalanya di dada Ezra, menikmati setiap kebahgiaan di dalam dada.
...🌿...
KETIKA SEORANG CASANOVA, BERTEMU DENGAN PEREMPUAN DINGIN YANG MENAKLUKAN HATINYA.
Blurb:
Diandra, perempuan dingin dan cenderung angkuh, berusia 27 tahun. Kehidupannya begitu rumit, dengan berbagai masalah yang mengelilinginya. Pertemuannya dengan laki-laki yang merupakan seorang pemain wanita, perlahan mulai merubah kehidupannya.
Giovano, laki-laki dewasa berusia 32 tahun. Seorang casanova juga pewaris perusahaan keluarganya. Dia hidup dengan sebuah janji kepada mending ayahnya. Hingga akhirnya dia harus pergi ke suatu tempat terpencil, untuk mengembalikan kembali kejayaan hotel peninggalan kakeknya. Giovano merasa tertanang saat bertemu dengan seorang perempuan yang terus menolak pesonanya.
Bagaimanakah kelanjutan kisah mereka berdua?
Mampukan Giovano membantu Diandra untuk menyelesaikan semua permasalahannya?
__ADS_1
Mau tau kelanjitannya, yuk mampir di kisah Giovano dan Diandra.