
...Happy Reading...
...❤...
Keenan baru saja turun dari dari mobilnya di depan sebuah restoran. Di saat bersamaan sebuah mobil juga berhenti di tempat yang sama. Dia berada di sana karena ada janji dengan Alana juga suaminya.
Lelaki itu berencana untuk menceritakan semua itu pada Riska, dengan melibatkan Alana dan suaminya sebagai saksi. Dia juga meminta Alana untuk membawa kenangan atau bukti yang akan menguatkan ceritanya.
Sepanjang hari, dia terus memikirkan tentang masa lalu yang selalu membayangi rumah tangganya. Dia berencana untuk memberi tahu Riska dulu sebelum dia mengungkapkan rasa sayangnya. Walau sebenarnya sudah beberapa kali dia mengungkapkan rasa, meskipun tidak secara langsung.
Ya, hanya sesekali dia menyelipkannya di dalam panggilan, saat merayu Riska. Jujur saja, Keenan membutuhkan banyak tenaga hanya untuk memanggil Riska seperti itu.
Jantungnya yang sering kali tidak dapat dikontrol saat bersama dengan Riska, membuatnya harus mengeluarkan tenaga ekstra, agar dapat mengendalikan diri, supaya tidak terlihat gugup atau bahkan kaku.
Tadi siang, dia memang sudah menghubungi suami Alana untuk meminta mereka membantunya, mereka pun langsung menyetujuinya.
Sore tadi, saat dia menerima pesan dari Riska, Keenan sengaja tidak membalasnya. Lelaki itu malah berencana untuk memberikan kejutan pada Riska, dengan datang langsung ke restoran yang istrinya itu maksudkan.
"Keenan, pas sekali, kita sampai bersamaan," ujar Alana begitu dia dan Keenan keluar dari dalam mobil.
"Wah, kebetulan sekali ya. Hai, Alana ... hai, Aryo," sapa Keenan pada sepasang suami istri itu.
"Hai, Ken. Apa kabar?" tanya Aryo, menjabat tangan Keenan.
"Aku baik. Kalian bagaimana?" tanya Keenan. Saat ini posisi mereka sedang berdiri di depan mobil sebelum menuju pintu masuk.
"Kami juga baik. Iya kan, honey?" tanya Aryo pada Alana yang langsung mendapatkan anggukan kepala.
"Syukurlah. Kalau anak-anak? Bagaimana kabarnya?" tanya Keenan lagi.
"Mereka juga baik. Ayo kita langsung masuk saja," ujar Alana, mengajak dua lelaki yang hampir saja lupa daratan karena berbincang itu untuk masuk ke dalam restoran.
"Mari," ujar Keenan membiarkan sepasang suami istri itu berjalan terlebih dahulu.
Namun, ketika mereka baru saja masuk ke dalam, ponsel milik Aryo berdering, hingga memaksa ketiga orang itu berhenti di ambang pintu.
"Kalain masuk saja dulu, saya harus mengangkat telepon sebentar," ujar Aryo, kembali melangkah ke luar.
Keenan pun menganguk bersamaan dengan Alana, mereka berdua kemudian masuk berdua dengan berdampingan.
Sedangkan Aryo memilih untuk berbincang dengan si penelepon terlebih dahulu di luar restoran.
__ADS_1
Saat hampir sampai di meja, tiba-tiba saja Alana tergelincir, hingga dengan refleks Keenan menahan tubuh Alana.
Posisi yang lamayan intim dan tiba-tiba itu, menjadikan mereka pusat perhatian bagi seluruh orang yang ada di restoran itu.
"Maaf, aku hanya refleks," ujar Keenan, setelah membantu Alana untuk berdiri tegak lagi.
"Gak apa-apa, Keenan. Harusnya aku berterima kasih sama kamu karena udah nolongin aku," jawab Alana.
Keduanya pun akhirnya duduk di kursi dengan posisi berhadapan. Keenan mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sang istri. Akan tetapi dia tak juga dapat melihat Riska.
"Maaf, aku sedikit lama," ujar Aryo begitu ia duduk di hadapan Keenan dan di samping Alana.
"Tak apa, aku juga belum menemukan istriku. Sebentar biar aku tanyakan pada pelayan saja," ujar Keenan, sambil berdiri.
"Ah, tunggu sebentar, Keenan. Ini aku membawa buku album kenangan kalian berdua yang dimiliki Aluna. Coba lihat dulu, siapa tau ada yang kurang." Aryo menahan gerakan Keenan yang hampir saja berjalan.
Keenan duduk kembali, dia kemudian mengambil sebuah buku yang lebih persis seperti buku agenda dengan sampul berwarna coklat muda.
Baru saja membuka halaman pertama, Keenan sudah dibuat terkejut, karena itu bukanlah sebuah album, akan tetapi seperti sebuah agenda harian.
Keenan kembali membuka halaman ke dua, dia bisa melihat jelas, itu adalah itu seperti catatan yang sering Riska buat di rumah untuk diserahkan kepada Ayu.
"Kamu dapat di mana buku ini?" tanya Keenan, menatap Aryo dan Alana begitu tajam.
"Ini bukan milik Luna, ini milik istriku," Keenan mengangkat buku itu hampir sejajar dengan wajahnya.
"Tidak mungkin, jelas-jelas tadi aku membawa album foto milik Luna," sanggah Alana dengan wajah bingungnya, dia pun mengambil alih buku di tangan Keenan dan membukanya.
Matanya terbelalak begitu melihat isi dari buku yang suaminya bawa dari mobil itu.
"Honey, kamu dapat dari mana buku ini?" tanya Alana beralih pada suaminya.
Aryo tampak termenung sebentar, sebelum menjawab. "Ah, aku ingat. Tadi aku sempat bertabrakan dengan seorang perempuan, sepertinya itu buku miliknya."
"Siapa? Seperti apa orangnya?" tanya Keenan, tidak sabar.
Jantungnya sudah bertalu dengan segala prasangka di dalam hatinya. Aryo pun menjelaskan ciri-ciri perempuan yang ia tabrak saat masuk ke dalam restoran.
Keenan menegakkan tubuhnya, dia yakin kalau perempuan yang ditabrak oleh Aryo itu adalah Riska.
'Apa dia tadi melihatku? Kenapa dia tidak menyapa?' gumam Keenan prustasi sendiri, dia akhirnya mengambil buku dan pamit pulang karena rencananya telah gagal.
'Jangan-jangan dia salah paham padaku dan Alana?!' gumamanya lagi, saat mengingat kalau tadi dirinya masuk berdua dengan Alana.
__ADS_1
"Akh! Sial!" kesal Keenan pada dirinya sendiri.
Lelaki itu keluar dengan tergesa-gesa, dia berharap masih bisa menyusul istrinya dan memberikan penjelasan. Akan tetapi semua itu hanya bisa ia telan kembali dengan kekecewaan, saat ia melihat tidak ada lagi Riska di sekitar restoran itu.
Keenan kembali dan bertanya pada penyambut tamu yang berjaga di luar pintu, karyawan yang tadi sempat meremehkan Riska itu, memberi tahu Keenan kalau istrinya sudah naik taksi beberapa waktu lalu.
Keenan kini berlari dan masuk kembali ke dalam mobilnya, sambil mencoba menghubungi Riska. Akan tetapi, Riska tak menjawab teleponnya.
"Jawab dong, Ris. Jangan bikin aku khawatir gini," ujar Keenan.
Keenan terus menghubungi Riska, sambil terus berusaha fokus untuk menyetir mobil, mengingat ini adalah waktunya jalanan ramai.
"Ke mana aku harus mencari kamu, Ris?" gumam Keenan lagi, dia berpikir kira-kira ke mana Riska pergi kalau sedang marah.
Matanya melebar, saat dia menemukan satu pemikiran yang menurutnya bisa ia andalan untuk mencari istrinya itu.
Kemudian Keenan menghubungi satu nomor, yang sudah pasti bisa membantunya mencari Riska.
"Halo, Rio. Kamu ada di mana sekarang?" tanya Keenan, dengan nada suara dibuat senetral mungkin.
"Halo, Kak Keenan. Aku sedang ada di rumah, baru s.aja datang. Ada apa, Kak?" jawab Rio, yang tak lain adalah adik dari Riska.
"Ooh, sekarang kamu lagi sama siapa?"
Rio sedikit mengernyit saat mendengar pertanyaan aneh itu. Akan tetapi, dia tetap menjawab pertanyaan kakak iparnya
"Gak ada, Kak. Ibu sedang menghadiri pengajian di rumah tetangga. Jadi aku cuman sendiri di tumah. Memang kenapa, Kak?"
"Riska gak ada di sana, Rio?" tanya Keenan.
"Gak ada, Kak. Rumah kosong waktu aku datang. Memang Kak Riska ke mana, Kak?"
"Ah, enggak. Aku cuma iseng aja tanya, soalnya tadi malam dia bilang kangen sama ibu dan kamu," dalih Keenan.
Keenan pun akhirnya menutup teleponnya dan kembali mencari keberadaan istrinya saat ini, dengan perasaan yang semakin tak menentu.
...🌿...
Kira-kira Riska ada di mana ya? Dapatkah Keenan menemukan Riska?
...Komen👍...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...