
...Happy Reading...
...❤...
Cukup lama mereka menunggu, hingga akhirnya pelayan tadi kembali dan mempersilahkan masuk. Ezra dan yang lainnya dibawa menuju ruang tamu, disana sudah ada orang yang mereka cari, berdiri meyambut dengan senyum palsu.
Raut wajah terkejut itu tertangkap olah Ezra, walau hanya skeilas, sebelum lelaki paruh baya yang merupakan tuan rumah itu, bisa mengedalikan diri dan menyembunyikannya lagi.
"Silakan duduk, suatu kehormatan bagi aya, bisa dikunjungi oleh para penerus generasi keluarga Darmendra secara langsung," ujar lelaki yang bernama Dodi itu. Senyum sumringah dengan raut wajah yang sangat meyakinkan tak bisa mengecoh mata tajam Ezra dan Keenan.
"Terima kasih, Tuan Dodi," jawab Ezra, masih dengan raut wajah tenang.
Mereka semua duduk tenang, Ezra terdiam dengan mata tetap menatap tajam pada tuan rumah yang terlihat duduk gelisah di hadapannya.
"Kalau boleh tau, ada perlu apa, sampai Tuan Ezra dan Tuan Keenan menyempatkan diri mengunjungi rumah saya?" tanya Dodi, lelaki paruh baya itu sudah tidak bisa menahan lidahnya untuk berucap.
"Kami ke mari, untuk memberikan ini untuk Anda, silakan di lihat dulu." EZra yang berbicara, akan tetapi, Keenna yang menaruh sebuah amplop di atas meja.
Kening lelaki paruh baya itu mengerut dalam, menatap amplop berwarana coklat yang lumayan besar.
"Apa ini, Tuan?" tanya Dodi.
"Ini adalah bukti atas semua kecurangan yang selama ini sering ANda lakukan kepada perusahaan lain termasuk Darmendra Grup," jawab Ezra dengan nada yang cukup rendah, akan tetapi, berhasil membuat lelaki paruh baya di depannya terkejut bukan main.
Dodi melebarkan matanya, menatap Ezra dengan raut wajah terkejut. Rangkaian kata yang terdengar santa diucapkan itu, bagaikan petir di musim kemarau untuknya. Apa lagi sekarang ini di depannya sudah ada pihak kepolisian dan pengacara keluarga Darmendra.
"A–apa maksud Anda? Saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan oleh Anda barusan. Jangan sembarangan Anda! Ini bisa saya perkarakan sebagai tuduhan pencemaran nama baik!" Dodi tampak tak menerima perkataan Ezra, dia berbicara dengan suara yang semakin tinggi.
Keenan mengepalkan tangannya, dia hampir saja tersulut emosi karena perkataan dari Dodi. Seenaknya lelaki paruh baya itu menuduh dan memutar balikan fakta menjadi dia dan sang kakak yang terlihat bersalah, bahkan sebelum amplop di atas meja terbuka sama sekali.
Ezra yang tahu Keenan yang hampir saja melawan, langsung memegang pergelangan adiknya itu, dia melirik mata sang adik sebagai tanda untuk lebih menenangkan diri.
"Benarkah? Bagaimana jika Anda buka dulu amplop itu sebelum Anda banyak bicara? Tenaang saja, saya sudah membawakan aparat kepolisian dan pengacara sekaligus bila Anda ingin melaporkan kami," ujar Ezra masih dengan nada tenang, walaupun tatapan matanya terlihat semakin tajam.
__ADS_1
Dodi mengambil amplop di atas meja dengan gerakan kasar, melirik kedua orang di depannya sebelum membuka benda di tangannya itu.
Napasnya tercekat dengan dada yang bergemuruh, begitu Dodi membaca setiap baris kata di dalam amplop tersebut, ia kemudian mengeluarkan beberapa kertas di sana dan membacanya dengan lebih teliti.
"D–dari mana kalian mendapatkan semua ini?" tanya Dodi, gugup. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Ezra barusan, ini adalah bukti dari semua kacurangannya.
Ezra tersenyum miring, melihat wajah gugup dan panik bercampur takut dari lelaki paruh baya di depannya. Ini lah yang dia sukai dari wajah para pembuat onar, ketika sedang memberi pelajaran kepada orang yang sudah berani bermain-main dengannya dan keluarganya.
"Dari mana kami mendapatkannya, kamu tidak perlu tau, yang terpenting, sekarang semua bukti itu sudah sampai di pihak yang berwajib," ujar Ezra, yang langsung membuat Dodi lemas seketika.
"Oh iya, bukti ini juga sedang dikirimkan kepada dua sudaramu yang ain, yaitu Tuan Rusady dan Nyonya Dania," imbuh Ezra.
"Ti–tidak mungkin! Kalian tidak bisa berbuat begitu kepadaku, aku tidak salah ... aku tidak bersalah!" geleng Dodi.
"Kami juga membawa beberapa saksi untuk membuktikan, jika Anda masih menyangkal," ujar Keenan menimpali perkataan sang kakak.
Beberapa saat kemudian aparat kepolisian sampai untuk melakukan penangkapan kepada Dodi, sedangkan orang kepercayaannya sudah lebih dulu tertangkap.
"Tidak! Aku tidak mau ditangkap! Aku tidak bersalah!" raung Dodi begitu dirinya tidak bisa lagi menghindar dari kepolisian.
Ezra dan Keenan tidak menghiraukan raungan dari istri Dodi, mereka keluar dari rumah itu bersama dengan para kepolisisan.
"Tuan, saya mohon jangan bawa ayah saya, bagaimana kami hidup jika tanpa ayah saya, Tuan," seorang gadis tiba-tiba berlutut di depan Ezra dan Keenan, di susul dengan istri Dodi, mereka menghalangi langkah kedua kakak beradik itu.
"Ambilah, kalian akan tahu siapa sebenarnya ayah dan suami kalian. kami harap kalian mengerti, dengan apa yang kami lakukan, setelah melihat isi di dalam amplop ini, dan amplop yang tadi dilihat oleh suami Anda di ruang tamu," ujar Keenan, sambil memberikan sebuah amplop lagi kepada kedua perempuan di depannya.
"Itu juga bisa menghindarkan kalian dari kasus yang saat ini menjerat Tuan Dodo," sambung Ezra dengan nada dinginnya.
Setelah mengatakan itu, Ezra dan Keenan kini melanjutkan langkahnya menuju mobil mereka yaang terparkir tidak jauh dari pintu utama rumah itu.
"Terima kasih atas kerja samanya, kasus ini akan segera kami proses," ujar Lelaki yang merupakan orang yang cukup berpengaruh di dalam kepolisian.
"Sama-sama, Pak. Terima kasih kembali ... maaf kami mengganggu Bapak malam-malam begini," ujar Ezra sambil berjabat tangan dengan lelaki di depannya.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi, selamat malam."
__ADS_1
"Selamat malam," jawab Ezra dan Keenan bersamaan.
Kini semua tersangka sudah dibawa oleh pihak kepolisian, berikut dengan lima orang yang ikut serta dalam rencana Dodi.
.
Di tempat lain yang bertempat di rumah keluarga Tuan Rusadi dan Nyonya Dania juga terjadi hal yang sama, kedua orang itu dibawa ke kantor polisi akibat terlibat dengan penyebaran berita palsu dan penjebakkan Keenan dan Riska.
Malam ini, semua orang yang mencari masalah dengan keluarga Darmendra sudah menerima akibatnya, walau kejutan di esok hari masih berlanjut.
Ezra dan Keenan akhirnya bisa bernapas lga, setelah mlm semakin larut, bahkan sebentar lagi mencapai pergantian hari, setelah seharian ini kepala mereka dipaksa untuk berpikir demi menyelesaikan masalah yang terjadi.
Keenan menjalankan mobilnya menuju kediaman sang kakak untuk beristirahat, dan bertemu istrimasing-masing.
Istri? Ya, benar dirinya kini sudah memiliki seorang istri, walau melalui kejadian yang tidak diharapkan.
Mengingat itu, membuat senyum tipis itu terbit begitu saja di bibir Keenan.
Walaupun itu pernikahan paksa, tetapi Keenan tak pernah menyesalinya, dia bahkan berharap pernikahan ini adalah pernikahan pertama dan terakhirnya, walau belum ada cinta di hatinya dan Riska.
Sedangkan Ezra, dia menutup mata dengan bayangan sang istri dan anaknya menghiasi kegelpannya, rasa lelah yang mendera seakan sedikit terobati hanya dengan membayangkan dua wajah perempuan yang amat sangat dicintainya itu.
Satu lagi masalah sudah terselesaaikan, semoga tidak ada lagi masalah baru yang menimpa rumah tangga kedua kakak beradik itu kedepannya.
...❤...
Ada yang mau lewat bentar ya, jangan lupa mampir di karya keren milik teman literasi aku, ceritanya bagus dan udah tamat loh, jadi bisa baca maraton🤭 eh tapi jangan lupa kasih dukungannya ya👍🙏
...🌿...
Terima kasih doa, dukungan, dan semangatnya🙏 doa terbaik juga untuk kalian semua🤲 Semangat untuk kita semua💪 lope-lope sekebon untuk kalian semua ❤❤❤❤❤
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...