Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.151 Malam Pertama?


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Keenan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang terlihat masih sangat basah, tetesan air pun membasahi leher hingga terkena atas kaos rumahan yang ia pakai.


Tak terbiasa mengenakan pakaian dari dalam kamar mandi, membuatnya terasa risih karena tubuh yang masih terasa lebap. Riska, Ibu dan Rio sudah duduk beralaskan karpet di ruang tengah dengan menu makan malam sederhana yang berada di depan mereka.


"Sini, Nak Keenan. Kita makan malam dulu," ajak Ibu. Sedangkan Riska tampak diam, dia hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apa pun.


Keenan tersenyum sambil mengangguk samar, haduk di tangan ia taruh gantungan di leher untuk menghalangi air yang menetes dari rambutnya, kemudian duduk dia ntara Riska dan Rio.


Sayur asem, ikan asin, telur dadar, tempe goreng dan sambal, menjadi lauk makan mereka malam ini. Tak ada yang istimewa, Ibu tak pernah menyangka kalau Keenan akan memutuskan untuk menginap di rumahnya, maka dari itu dia tidak mempersiapkan semuanya.


"Maaf ya, Nak ... lauknya hanya ini," lanjut Ibu, merasa tidak enak hati.


"Tidak apa, Bu." jawab Keenan sambil tersenyum, walau dalam hati ia meringis saat melihat ada ikan asin di depannya. Dia tidak pernah merasakan ikan asin sebelumnya , kecuali teri.


"Ris, layani suamimu dulu," tegur Ibu, saat melihat Riska hendak menyendok nasi.


Riska menatap ibunya sekilas lalu mengangguk. "Iya, Bu."


"Mau makan apa?" tanya Riska berganti menatap sekilas wajah Keenan.


"Telur, dan sayur saja," jawab Keenan.


Riska mengambilkan nasi dan telur ke dalam piring Keenan, lalu mengambil sayur asem di tempat yang terpisah.


"Terima kasih," ujar Keenan, begitu Riska menaruh semua makanan itu di depannya.


Riska hanya mengangguk, tanpa mau membalas ucapannya dari suaminya itu. Dia kemudian beralih mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Makan selesai, hari beranjak malam. Ibu dan Rio sudah pamit untuk pergi ke kamarnya masing-masing setelah sebelumnya mereka berkumpul menghabiskan waktu di ruang tengah.

__ADS_1


Riska hendak beranjak dari tempat duduknya, saat Keenan mencekal tangannya. Dia berbalik menatap suaminya dengan perasaan tak menentu. "Ada apa?"


"Kamu mau ke mana?" tanya Keenan.


"Aku mau tidur, kenapa?" Riska berusaha untuk tidak terlihat gugup di depan Keenan.


"Boleh aku ikut?" tanya Keenan lagi.


Sejak tadi ia berfikir, tentang semua itu. Dia tahu kalau mungkin Riska akan tidak nyaman bila dia berada satu kamar dengannya. Akan tetapi, di sini mereka tidak bisa bertindak sesuka hati, apa kata ibu dan Rio jika nanti mereka melihat dirinya tidak tidur sekadar dengan istrinya sendiri.


Walau sebenarnya, dia bisa saja tidur di rumah tengah, atau ruang tamu. Mungkin? Akh, kalau berfikir soal itu, sepertinya akan lebih baik dia tidur di dalam mobil saja.


Tubuh Riska menegang begitu kata itu terlontar begitu mudah dari mulut lelaki di depannya. 'Apa dia tidak merasa canggung sama sekali, akan berdua di kamar seorang gadis?' Uh, memikirkannya saja mampu membuat Riska merinding. Walau akhirnya dia harus mengangguk juga.


Keenan dan Riska akhirnya masuk ke dalam kamar bersama-sama, keduanya tampak begitu canggung, hingga tak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu.


"Aku bisa tidur di lantai, jika kamu keberatan aku tidur bersamamu," ujar Keenan, begitu sudah menutup pintu.


"Tidak usaha!" ucap Riska cepat.


"Tidak, kamu perempuan. Biar aku saja yang tidur di lantai," tolak Keenan lagi. Dia bukanlah seorang lelaki pengecut yang mau membiarkan seorang gadis tidur dia tas lantai, sedangkan dia dia tidur di ranjang.


"Begini saja, kamu oleh tidur bersamaku. Tapi, hanya tidur ... aku, Aku belum siap untuk sesuatu yang lebih," ujar Riska setelah beberapa saat keduanya terdiam.


"Aku setuju, hanya tidur ... aku janji," ujar Keenan, dengan sunggingan senyum tipis.


Riska naik ke atas ranjang terlebih dahulu, menarik selimut tipis yang biasa ia gunakan, kemudian merebahkan diri dengan posisi terlentang. Keenan mengikutinya di belakang, dia ikut tidur dengan posisi yang sama di samping Riska.


"Terima kasih," ujarnya, sambil menatap langit rumah yang sudah terlihat banyak yang bolong, dengan garansi warna kecoklatan, sepertinya bekas air yang bocor.


Riska menoleh bersamaan dengan Keenan, keduanya tampak terkejut, saat mata itu bersirobok hingga tanpa sadar terpaut begitu dalam. Ada rasa aneh di dalam dada, yang tidak bisa mereka terjemahkan begitu saja, walau akhirnya ditepis oleh keduanya.


"U–untuk apa?" tanya Riska setelah dia memutuskan tautan mata mereka terlebih dahulu. Rasa gugup dan canggung kini mulai semakin besar di rasakannya.


"Karena sudah mengizinkan aku untuk tidur di sini, bersamamu ... dan maafkan aku atas kesalahanmu di kamar mandi tadi sore. Aku tidak bermaksud berbicara begitu padamu, ku hanya takut, kamu terlalu tertekan karena pernikahan kita ini," jawab Keenan sekaligus kembali membahas tentang masalah mereka sore tadi.

__ADS_1


Riska mengangguk, dia sadar tadi sore dia juga terlalu cepat tersinggung, mungkin karena keadaan hatinya yang belum baik-baik saja dan juga rasa lelah di tubuhnya yang membuatnya cepat tersinggung seperti tadi.


"Soal tadi sore, seharusnya aku yang minta maaf, karena aku yang marah-marah gak jelas sama kamu. Jujur aku memang semua yang aku katakan itu benar adanya. Tapi, aku sudah memutuskan untuk menerima pernikahan ini, setidaknya mencoba menjalaninya. Walau agamaku tak sepintar Mba Ayu, tapi, setidaknya aku tahu kalau perceraian itu dibenci oleh Tuhan kita, selama tidak ada alasan kuat, atau memang kamu yang mau memutuskan hubungan ini, aku akan mencoba untuk bertahan," ujar Riska, dengan mata terus menatap langit-langit kamar.


Keenan menatap sebelah wajah istrinya itu, ia bahkan sampai memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya menggunakan satu tangan, untuk melihat dengan jelas wajah gadis yang telah berubah status itu seutuhnya.


'Kenapa malam ini dia terasa begitu berbeda, kemana sifat judes dan cerewet yang selalu diperlihatkannya? Apa benar yang aku nikahi dan ada di depanku ini Riska yang sama?' pertanyaan konyol itu tiba-tiba terlintas di pikiran Keenan, hingga tanpa sadar dia menempelkan punggung tangannya di kening Riska.


"Eh, apaan nih? Kamu 'kan sudah setuju kalau kita hanya tidur, kenapa pake sentuh-sentuh segala?!" Riska menepiskasar tangan Keenan, matanya menajam menyorot Keenan dengan wajah kesalnya.


"Maaf-maaf, lagian kamu kok kayaknya beda banget sih, jadi aku takut kamu kesambet setan di kampung itu. 'kan serem, masa aku tidur sama setan?" ujar Keenan begitu ringan.


"Kamu samain aku kayak setan, hah?" tekan Riska, tanpa sadar dia juga memiringkan tubuhnya hingga kini keduanya tidur berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


"E–eh, bukan begitu, lagian kamu tiba-tiba kalem dan bijak, gak seperti biasanya yang galak dan judes–" Keenan langsung menutup rapat mulutnya saat sadar kalau dia kelepasan bicara.


'Astaga, kenapa aku bisa kelepasan sih? Tuh 'kan, mukanya udah berubah, bentar lagi berasap deh tuh,' gumam hati Keenan, melihat Riska yang sudah dalam mode galaknya lagi.


"Oh, jadi kamu lebih suka aku yang kayak gitu, oke liat aja nanti," tantang Riska, dia kembali menjatuhkan tubuhnya hingga berbaring terlentang kembali, kemudian menutup mata dengan seringai di bibirnya.


"Eh, kok gitu sih?" bingung Keenan, dia menatap wajah yang kini tengah memejamkan matanya.


Tanpa sadar dia menelusuri wajah istri barunya itu, bibir merah muda alami, pipi yang terlihat tirus dan hidung yang sedikit mancung membuat gadis itu terlihat cantik, dengan semua perpaduannya, mata hitam yang selalu menetapnya dengan tajam ketika terbuka dan alis tipis sebagai sapuan terakhir penglihatannya.


'Aku baru sadar kalau ternyata dia cantik juga bila sedang diam seperti ini, wajahnya tenang, tidak seperti bisanya' gumam hati Keenan.


Akhirnya malam ini yang merupakan malam pertama keduanya, hanya mereka habiskan dengan dengan perbincangan biasa hingga keduanya tertidur bersama, di dalam satu ranjang bersama. Mungkin karena terlalu lelah dengan kegiatan mereka sepanjang hari kemarin dan juga hari ini, Keenan yang tidak terbiasa dengan suasana di rumah itu pun tertidur dengan pulas, begitu juga dengan Riska.


...🌿...


Gara-gara gak bisa jadwal buat besok, jadinya aku up dua kali deh🙈 Jangan pada Ge'er ya😂🥰❤❤


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2