
...Happy Reading...
...❤...
"Sepertinya aku pernah melihat orang itu?" Keenan berkata dengan mata menyorot salah satu orang di dalam video.
Ezra menatap adiknya dengan kening bertaut lalu mengikuti arah mata Keenan. Di sana ada seorang lelaki bertubuh kurus dengan menggunakan jaket hitam yang sedang berdiri di tepi jalan setelah keluar dari warnet.
"Kamu mengenal dia, Ken?" tanya Ezra, memastikan.
"Aku tidak tau, Kak. Hanya saja sepertinya aku pernah melihatnya, tapi, aku tidak terlalu mengingatnya," jawab Keenan, tanpa mengalihkan tatapannya.
Dia berusaha mengingat di mana pernah melihat orang itu, hingga beberapa saat kemudian dia mengingat sesuatu.
"Aku ingat! Dia adalah salah satu kepercayaan dari perusahaan yang kalah saing dengan Papa beberapa hari lalu, aku pernah memperingatkan Papa karena mereka sering menggunakan cara curang untuk memenangkan tender," ujar Keenan setelah mengingat sekilas tentang orang id dalam CCTV.
Ezra terlihat mengerutkan kening, selama ini dia memang tidak terlalu memperhatikan perusahaan papanya, dia memang tidak pernah tertarik dengan perusahaan papanya, makanya dia rela bila nanti Keenan yang akan mengambil alih semuanya.
"Kamu masih punya data tentang mereka?" tanya Ezra. Walaupun itu semua belum pasti, akan tetapi, berdasarkan apa yang Keenan katakan, semua itu mengarah kepada mereka.
"Sepertinya masih ada. Tapi di rumah, aku simpan di dalam flash disk," jawab Keenan.
"Telpon istrimu, biar Gino yang mengantarkannya ke sini," perintah Ezra.
"Tapi, aku menyuruh Riska untuk tidak mengaktifkan ponselnya, Kak." Keenan tidak bisa menghubungi Riska.
Ezra terdiam, dia tahu kalau saat ini, istri dan orang tuanya sedang istirahat.
"Kamu telepon Bi Yati, atau ke telepon rumah saja, biar mereka yang menyampaikan pesanmu pada Riska," saran Ezra.
Keenan mengangguk, dia langsung menghubungi nomor telepon Bi Yati.
Tak menunggu lama, wanita paruh baya itu sudah menerima panggilan darinya.
"Bi, bisa tolong panggilkan Riska, saya ada perlu dengannya?" ujar Keenan, begitu teleponnya tersambung.
"Eh, kebetulan Non Riska sedang ada di sini, sebentar ya, Den." Bi Yati, langsung memberikan ponsel miliknya kepada Riska.
"Iya, Bang. Ada apa?" tanya Riska, begitu dia menempelkan ponselnya di telinga.
"Tolong kamu carikan aku flash disk, di tas yang kemarin aku bawa dari mobil, nanti berikan pada Gino untuk dia bawakan ke kantor," ujar Keenan.
__ADS_1
"Iya, Bang. Aku cariin sekarang ya." Riska langsung menutup teleponnya setelah mendengar persetujuan dari sang suami.
Beberpa saat kemudian, Gino sudah sampai dia di kantor perusahaan pusat Darmendra grup.
Kedua kakak beradik itu langsung menganalisis ulang informasi yang sudah didapatkan oleh Keenan seeblumnya.
Hari beranjak malam, saat Ezra, Keenan dan semua tim mereka menemukan siapa yang menjadi dalang di dalam penjebakkan Keenan hingga berita yang sempat menjadi ternding beberapa jam yang lalu.
Kini di depan mereka sudah ada beberapa orang saksi dan pelaku yang sudah mengakui kesalahnnya, sekitar lima orang pria sedang berlutut di depan mereka, menunduk takut karena ancaman dari para anak buah Ezra yang bertugas di lapangan.
Salah seorang di sana bahkan sangat di kenal oleh Ezra maupun Keenan. Ya, dia adalah Boni, orang yang terlihat aktif di dalam pernikahan tiba-tiba Keenan di kampung kemarin.
Ezra menatap satu per satu wajah para lelaki itu, yang sudah dibayar oleh pesaing bisnis Garry untuk menlancarkan rencana penjebakkan Keenan.
"Kamu, bukannya yang menjemputku dan istriku?" tanya Ezra.
"I–iya, Tuan." jawabnya gugup, dengan kepala menunduk dalam, tak brani melihat wajah Ezra maupun Keenan.
"Ck, bagus juga kamu bermain peran, sampai-sampai kamu luput dari perhatianku," ujar Ezra berdecih kesal dengan tatapan tajam.
"Bawa mereka menuju mobil, kita temui orang itu sekarang juga!" perintah Keenan. Dia langsung berjalan ke luar dari ruangan itu, di ikuti oleh Keenan di
belakang.
Beberapa anak buah Ezra, sudah mengikutinya sejak siang. Memantau kondisi di sana dan melaporkannya pada Ezra.
"Hubungi pengacara keluarga kita, minta juga bantuan pada Papa, untuk menghubungi temannya yang mempunyai kedudukan di kantor polisi," perintah Ezra pada Keenan.
Keenan mengangguk dia langsung menjalankan perintah dari kakak sekaligus atasannya itu.
Semua sudah siap bersama rencana yang matang, kini Ezra dan Keenan masuk ke dalam mobil mereka, diikuti dua mobil lagi di belakangnya.
Setelah menempuh kurang lebih satu jam perjalanan, kini mobil yang dikendarai oleh Keenan, sudah berhenti tidak jauh dari perumahan elit yang masih berada di sekitaran jakarta.
Satu buah mobil dan sebuah motor sudah menunggu kedatangan rombongan dari Ezra dan para saksi.
"Maaf, saya sudah merepotkan kalian mala-malam begini," ujar Ezra sambil bersalaman dengan dua orang pria yang sama-sama bekerja dalam bidang hukum.
"Tidak ada yang berani menolak bila yang meminta tolong adalah keluarga Darmendra," ujar salah satu pria paruh baya yang berstatsu menjadi pengacara keluarganya. Sedikit bergurau ditengah ketegangan yang terjadi.
Ezra terkekeh kecil, walau gurauan itu tak bisa sama sekali merubah suasana hatinya saat ini. "Ah, bisa saja."
Mereka berbincang sebentar, sebelum akhirnya masuk ke dalam perumahan mewah tersebut. Tak ada kesulitan di depan pintu masuk, walau mereka datang tanpa janji sekalipun. Keberadaan pihak polisi juga nama keluarga Darmendra yang sudah tentu banyak orang tahu, membuat urusan mereka terasa lebih lancar.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mobil milik Ezra sudah berhenti di sebuah pagar tinggi di dalam satu rumah yang terlihat begitu mewah.
Seorang penjaga keamanan tampak menghampiri lalu bertanya maksud kedatangan beberapa mobil itu. Ezra hanya berdalih ingin bertemu dan sudah memiliki janji.
Entah mungkin karena melihat ada aparat kepolisian, atau yang lainnya, penjaga keamanan itu langsung mempersilahkan mereka untuk masuk, tanpa menghubungi ke dalam rumah terlebih dahulu.
Ezra keluar dari dalam mobil bersama dengan Keenan, mereka berdua masuk dengan didampingi oleh pengacara dan kepolisian, sedangkan yang kakinya sesungguhnya di dalam mobil bersama para saksi yang lain.
Bel rumah ditekan hingga mengundang sang pemilik untuk mengalihkan perhatiannya, sedangkan pelayan beranjak dan membuka pintu.
"Selamat malam, bisa bertemu dengan, Tuan Dodi Tarmika?" tanya Ezra, begitu seorang perempuan paruh baya dengan baju khas pelayan membukakan pintu.
"Ada, ini dengan siapa ya? Biar saya infokan dulu kepada Tuan," ujar sopan wanita paruh baya tadi.
"Bilang saja kalau kami adalah utusan dari perusahaan Darmendra grup," jawab Ezra.
"Ah, baik, Tuan. Mohon menunggu sebentar," ucap kembali pelayan tadi sebelum kembali menutup pintu.
Keenan menggeleng miris, melihat sikap angkuh yang berusaha ditunjukkan oleh sang pemilik rumah. Akan tetapi kenapa jadi seperti tidak menghargai tamu dan sedikit sombong.
Bagaimana mungkin, mereka membiarkan tamunya menunggu sambil berdiri di luar pintu. Pelayan bahkan tak menyuruh mereka masuk sampai ke dalam ruang tamu.
Ah, jangankan itu bahkan sebuah bangku kayu saja tidak ada di sini. Sungguh miris etika keluarga pengusaha satu ini.
Dari seluruh pengusaha yang pernah ia temui, sepertinya hanya keluarga ini yang sangat buruk dalam menjamu tamunya.
Ezra pun merasakan hal yang sama dengan adiknya, kini dia semakin tidak sabar untuk memberikan pelajaran pada orang yang sombong dan lirik itu.
Bukan karena pernikahan dadakan hang membuat mereka marah dna muka. Akan tetapi, semua berita tak berdasar yang jelas sekali ingin menghancurkan nama baik keluarga Darmendra bersama dengan keluarga kecilnya. Belum lagi perasaan Riska yang jelas-jelas tidak tahu apa-apa mengenai masalah mereka.
Riska hanyalah seorang gadis yang baru saja memasuki gerbang keluarga Darmendra, itu pun karena dipaksa oleh keadaan. Akan tetapi dia sudah ditempa oleh ujian mental yang begitu berat seperti ini.
Mengingat Riska, Keenan jadi semakin merasa bersalah, karena ternyata kejadian mereka dikarenakan oleh musuh dari sang ayah sendiri.
Karena semua itu, Riska terpaksa harus menerima pernikahan mereka, walau tanpa cinta. Masuk ke dalam permasalahan keluarganya dan ikut terseret dalam hal yang sama sekali dia tidak ketahui.
'Maafkan aku, Riska'
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1