Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.304 Akhir bahagia


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Lima tahun kemudian, dua orang anak laki-laki, terlihat sedang asik bermain di taman belakang sebuah rumah.


Sedangkan para perempuan yang menyandang status sebagai ibu muda, sedang duduk di sebuah gazebo, sambil memperhatikan anak-anaknya bermain.


"Zain, Aksa, hati-hati mainnya, Nak, jangan lari-larian!" teriak salah satu diantara mereka.


"Sudah, Ris. Biarkan saja, mereka memang sedang aktif. Nanti juga kalau udah capek berhenti sendiri," ujar Ayu, sambil menimang seorang anak kecil di pangkuannya.


Ya, Ayu kini telah dikaruniai satu orang anak laki-laki lagi, yang baru berusia tiga tahun, bernama Ersya Kairi Darmendra.


Seperti tidak mendengar terikat dari Riska, kedua anak laki-laki itu masih saja asik berlari sambil menyemprotkan pistol air mainan.


"Kak Zain, lihat tuh, Kak Naura lagi apa? Kita terjadinya yuk," ujar Aksa, si kecil yang jahil, persis seperti ayahnya.


"Ayuk!" Zain yang lebih kalem, mengangguk menyetujui saran dari Aksa.


Sekarang ini umur Zain sudah menginjak enam tahun, sedangkan Aksa baru berumur lima tahun satu bulan yang lalu.


Perbedaan usia yang cukup dekat, membuat kedua anak laki-laki itu, seperti dua orang anak kembar dengan kepribadian yang berbeda.


Zain yang terlihat kalem dan tidak banyak bicara, sama persis seperti Ezra. Sedangkan Aksa, lebih ceriwis, dengan banyak pertanyaan yang seakan tidak pernah habis, ditambah sifat jahil yang mirip seperti Keenan.


Keduanya mengendap-endap mendekati Naura yang sedang asik dengan kertas dan pensilnya. Kini anak gadis itu sudah menginjak umur tiga belas tahun.


Seiring bertambahnya usia, Naura tumbuh menjadi gadis yang ceria dan penuh kasih sayang. Walaupun, sikap manjanya terkadang masih ada.


"Tembak!" teriak Zain dan Aksa bersamaan, sambil mengarahkan pistol air itu kepada Naura.


"Aaa ... Zain, Aksa, berhenti!" teriak Naura yang terkejut dengan aksi dua bocah laki-laki itu.


Namun, sepertinya teriakannya tidak membuat Zain dan Aksa, menghentikan aksi jahilnya, mereka terus menyemprotkan air kepada Naura, hingga baju dan kertas di tangannya basah.


"Zain, Aksa, aku basah nih!" teriak Naura lagi.


"Hahaha, Kak Rara, basah!" Kedua anak itu malah tertawa, merasa puas karena dengan perbuatan mereka.


"Mama, Aunty, tolongin aku!" teriak Naura, mulai kesal dengan perbuatan dua adiknya.


"Ya ampun, anak-anak itu." Riska yang melihat kelakuan Zain dan Aksa, langsung berdiri hendak menghentikan mereka.


"Biarkan saja, lihat apa yang kan Naura lakukan." Ayu kembali mencegah Riska.


Riska pun kembali duduk, dia pun mulai memperhatikan anak-anak itu lagi.

__ADS_1


Naura yang sudah merasa terpojok, akhirnya melepaskan kertas dan pensil di tangannya, dia maju dan berusaha merebut pistol mainan itu dari para adiknya.


"Berani kalian, ya. Sini, kalau berani," ujar Naura sambil menampilkan wajah marahnya.


"Aaa ... takut, Kak Rara kayak monster!" teriak Aksa, sambil berlari menghindar dari Naura, begitu juga dengan Zain.


"Monster ya? Oke, sini hadapi aku ... haa!" Naura pun bergaya bagaikan monster.


Tidak menunggu waktu lama, pistol di tangan Aksa sudah berpindah kepada Naura, dia berbalik menyerang dua adiknya.


"Terima ini!" ujar Naura sambil bersiap untuk menembak.


"Aaa ... ada monster jahat, ayo lari!" teriak Aksa, sambil berlagak ketakutan.


Ayu dan Riska yang melihat anak-anak mereka yang sedang bercanda pun ikut terkekeh, seakan tawa anak-anak itu menular pada mereka.


Dari arah pintu, terlihat dua orang laki-laki tampak baru saja datang, membuat dua wanita muda itu tersenyum.


Ezra dan Keenan tampak berjalan beriringan, dengan pakaian kantronya.


"Papah!"


"Ayah!"


Zain dan Aksa berteriak memanggil Ezra dan Keenan bersamaan, sambil berlari menghampiri kakak beradik itu.


"Ayah, tolong, Kak Rara jadi monster!" ujar Aksa.


Naura pun menghentikan tembakannya, begitu melihat kedatangan ketiga laki-laki dewasa itu.


"Ck, dasar anak kecil! Bisanya ngadu sama, Papah dan Uncle!" decak Naura, melihat kesal kedua adiknya.


"Sudah ... mending ganti baju sana, nanti kamu masuk angin, sayang," ujar Ezra melerai kekesalan Naura, dia mengusap lembut rambut anda sulungnya.


Naura mengangguk, dia kemudian berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengganti baju, karena baju yang dipakainya basah, oleh ulah dua adiknya itu.


"Anak pintar," puji Ezra pada Naura.


Setelah melihat Naura yang mulai menjauh, Ezra dan Keenan pun meneruskan langkahnya menemui para istrinya, yang sedang bersantai di gazebo.


"Assalamualikum, sayang!" ujar keduanya serempak.


Ayu dan Riska pun mencium punggung tangan suami mereka, yang tentunya langsung dibalas dengan kecupan di kening keduanya.


"Kai, baru tidur, ya?" tanya Ezra sambil mengecup lembut balita berumur tiga tahun yang tengah tertidur di pangkaun istrinya.


"Iya, Mas," jawab Ayu.

__ADS_1


"Sini, biar aku yang gendong. Kamu, tolong bantu Zain ganti baju dulu," ujar Ezra, sambil menurunkan Zain dan membuka baju kemejanya, hingga kini hanya tersisa kaos berwarna putih, yang selalu dia pakai di bagian dalam.


Ayu mengangguk, dengan hati-hati, wanita itu memindahkan Kai ke dalam pangkuan suaminya.


"Ayo, sekalian sama Aksa, biar Mama bantu ganti bajunya," ujar Ayu, mengajak anak dari Keenan dan Riska sekalian.


Keenan pun menurunkan Aksa sari pangkuannya, dan membiarkan anak pertamanya itu, berjalan masuk bersama dengan kakak iparnya.


"Gimana keadaan si kecil di dalam sana?" tanya Keenan, sambil mengelus perut Riska yang sudah membucit.


Riska tersenyum, dia ikut mengelus perutnya yang sekarang sudah terlihat membesar.


"Baik, dia anteng di dalam sana," jawab Riska.


Ya, kini Riska tengah hamil anak kedua yang baru menginjak usia tujuh bulan. Riska yang cukup mempunyai trauma saat melahirkan, membuatnya selalu ragu untuk menambah anak lagi, hingga akhirnya satu tahun yang lalu dia mulai ingin mempunyai anak lagi, karena melihat Kai yang sangat lucu.


Beberapa saat kemudian, Ayu, Naura, Zain, dan Aksa, sudah kembali ke halaman bilang rumah di mana di sana masih ada Ezra, Kai, Keenan, dan Riska.


Para anak-anak pun kini bermain kembali, dengan beragam permainan yang ada di sana, sedangkan dua pasang suami istri itu, memperhatikan anak-anak mereka dari gazebo.


"Lengkap sudah kehidupanku, dengan adanya kamu san anak-anak kita di sampingku. Terima kasih, karena sudah mau menerima segala kekurangaku, dan menjadi istri dan ibu yang baik untuk aku dan anak-anak," bisik Ezra di telinga Ayu.


Ayu tersenyum lalu, menyandagkan kepalanya di pundak suaminya.


"Harusnya aku yang berterima kasih kepada kamu, Mas. Karena kamu sudah mau menerima wanita yang tidak sempurna seperti aku. Aku tidak akan menjadi aku yang sekarang, jika tidak ada kamu di sisiku, Mas," jawab Ayu dengan senyum di wajahnya.


Ezra pun tersenyum, salah satu tangannya dia lingkaran di pundak istrinya, melarikan agar lebih mendekat lagi.


"Terima kasih, sudah mau hadir di hidupku yang terasa abu-abu. Kamu memberikan aku banyak warna hingga aku bisa kembali menatap jelas tanpa terhalang kenangan masa lalu. Hadirmu dan anak-anak kita, membuatku menyadari arti pentingnya hidup dan masa depan kita," ujar Keenan, sambil memeluk Riska erat.


Riska mengusap lembut tangan Keenan yang berada di depan dadanya.


"Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan, Abang. Menjalani berbagai kehidupan baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan mendapatkan kasih sayang sebuah keluarga seutuhnya, juga malaikat kecil yang kan selaku menyatukan kita, adalah nikmat Tuhan yang tidak bisa aku bandingkan," jawab Riska.


Kehidupan dua keluarga kecil yang berawal dari kisah yang menarik, dan juga perjalanan panjang, hingga mencapai sebuah kebahgiaan.


Tidak ada yang abadi, begitu juga dengan kebahgiaan, cobaan akan terus ada, selama kita masih hidup di dunia, itu pula yang dirasakan oleh mereka, hanya saja kita akhir kisahnya sampai di sini saja.


...🌿Tamat🌿...


Terima kasih untuk kalian semua yang udah sabar nungguin cerita ini sampai akhir, dukungan kalian sangat berarti bagi aku, dalam meneruskan cerita ini, hingga sampai sekarang.


Aku sama sekali gak pernah menyangka kalau cerita ini bisa tembus 300 bab. Semua itu karena kalian yang senantiasa selalu mendukung aku.


Akh, pokoknya lope-lope sekebon untuk kalian semua. Maaf bila aku ada salah-salah kata, dan sampai jumpa di karya aku yang lainnyaπŸ‘‹πŸ™πŸ₯°


...😘😘😘😘😘😘😘😘...

__ADS_1


__ADS_2