
...Happy Reading...
......................
Hari terus berganti tanpa kita sadari, waktu pun terus berputar, semakin mengikis sisa umur yang terus berkurang.
Bulan pun terus berganti begitu saja, membawa kenangan dari setiap detik yang sudah terlewati bersama.
Dua insan dengan hati yang tengah berbunga, tampak masih terlelap, terbuai oleh mimpi yang tak bertepi.
Pancaran sinar matahari tidak bisa mengganggu mereka, dalam buaian bayangan yang tampak nyata.
Pagi di akhir pekan, memang cukup dinantikan banyak orang, apalagi bagi manusia yang bekerja aktif lima hari dalam satu minggunya.
Bermalas malasan, di atas ranjang, dengan guling bernyawa yang senantiasa menghangatkan, tentu dapat mengurangi rasa penat setelah beberapa hari bekerja keras.
Itu pula yang kini sedang dilakukan oleh Keenan pada sang istri. Memilih tidur kembali, setelah melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim, membuat tubuh mereka tampak enggan untuk terpisahkan.
Keenan memeluk erat tubuh sang istri, seakan takut ditinggalkan, begitu juga dengan Riska yang tampak nyaman di dalam pelukan suaminya itu.
Namun, kenyamanan keduanya terpaksa harus terusik oleh ketukkan di pintu yang sudah berulang kali terdengar. Memaksa sepasang anak manusia itu membuka matanya.
"Emh," Riska bergumam, dengan mata memicing, memaksa matanya untuk terbuka.
Keenan yang merasakan pergerakan istrinya, mengeratkan rangkulannya, sambil memberikan ciuman di pipi Riska.
"Biarkan saja, sayang. Hari ini aku hanya mau bermanja dengan kamu," ujar Keenan parau.
"Tapi, ada yang ketuk pintu dari tadi, Bang." Riska berusaha untuk bernegosiasi dengan suaminya itu.
"Biarkan saja, itu paling kerjaan Kak Ezra atau Alvin, yang mau mengganggu kesenanganku," jawab Keenan, sambil menelusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya.
Dia sedikit bergeser untuk mengambil ponselnya, tanpa melepaskan pelukan pada istrinya. Lalu, mengetikkan sesuatu di sana dan menyimpannya kembali.
Tangan Keenan kini beralih pada perut sang istri, dia menyingkap sedikit baju bagian bawah Risak, agar bisa menyentuh langsung kulit halus istrinya.
"Aku kangen sama dia, sayang. Boleh gak kalau aku tengokin?" tanya Keenan sambil terus mengelus lembut perut bagian bawah istrinya.
"Ini udah siang, Bang. Nanti kalau dicariin sama yang lain gimana?" Riska memejamkan matanya, meraskan kelembutan sentuhan suaminya.
Ada rasa nyaman dan hangat di dalam hati, bila suaminya sedang bersikap seperti ini padanya. Ditambah dengan hormon kehamilan yang membuat dirinya terkadang, mendamba sentuhan kasih sayang dari Keenan.
Perlahan Keenan menuntun dagu sang istri untuk sedikit naik hingga pandangan keduanya bertemu. Riska menatap satu wajah suaminya yang selalu terlihat tampan di matanya.
__ADS_1
"Aku menginginkan kamu, sayang," ujar Keenan.
Laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya, menatap penuh cinta wanita yang sudah menjadi istrinya beberapa bulan ini.
Entah sejak kapan hatinya sudah jatuh pada seorang gadis sederhana dari keluarga yang jauh berbeda dengannya.
Keenan tidak bisa memungkiri kalau dirinya tidak bisa melawan jerat cinta, dari gadis yang menjadi tulang punggung keluarganya, hingga menanggung beban yang besar di usia yang masih muda.
Saat ini Keenan akui, kalau dirinya bahkan sudah tidak bisa jauh dari wanita yang sedang mengandung benih cinta mereka di dalam rahimnya.
"Aku mencintai kamu, sayang," lirih Keenan, semakin mendekatkan wajahnya.
Tanpa sadar Riska pun mulai menutup mata, dia menerima permintaan dari sang suami, di pagi menjelang siang itu.
Bibir keduanya pun bertaut, saling menyalurkan kasih sayang yang semakin lama, terasa terus bertumbuh dan semakin besar, memenuhi semua rongga dada dan mengalir, menyatu dengan darah.
Ketukkan di pintu pun sudah berakhir sejak tadi, sepertinya orang di luar kamar itu, tau kalau sang pemilik masih ingin menghabiskan waktu hanya berdua.
Hangat sinar matahari pagi menjelang siang itu, seakan bercampur menjadi satu, dengan panas api percintaan yang tengah membara.
Dua insan yang saling melengkapi itu pun akhirnya menyatu, setelah keduanya puas bermain dan saling memuja.
.
.
"Om Al, kok uncle sama aunty gak jawab-jawab sih?" tanya Naura dengan pandangan polosnya.
Alvin berlutut di depan gadis kecil itu, untuk menyetarakan tinggi mereka. Tangannya menyelipkan rambut yang tampak menghalangi wajah Naura, ke belakang telinga.
"Mungkin, aunty dan uncle masih belum bangun. Lebih baik kita pergi dulu aja, nanti juga pasti mereka nyusul," jawab Alvin.
Padahal, dia sudah menerima pesan dari Keenan yang mengatakan kalau dirinya tidak mau diganggu.
"Tapi, ini kan udah siang, Om. Kok uncle sama aunty belum bangun juga?" tanya Naura lagi.
Alvin menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, pikirannya berputar, mencari jawaban yang bisa membuat Naura puas dan mau menurutnya.
"Mungkin uncle dan aunty, kelelahan karena kemarin malam kan mereka baru datang. Lebih baik kita gak usah ganggu uncle dan aunty dulu ya, kasihan sama dede bayi yang ada di perut aunty, mau istirahat dulu," jelas Alvin, memberi alasan dengan sabar.
Kerutan di kening Naura masih saja terlihat, mungkin karena penjelasan dari Alvin masih belum masuk akal menurutnya.
Alvin tersenyum melihat itu, dia mengusap pelan kening gadis kecil itu, hingga akhirnya kembali normal.
__ADS_1
"Gak boleh gini terus, Om gak suka," ujar Alvin disertai kekehan kecil.
Naura ikut tersenyum, sambil melihat Alvin. Kemudian mengangguk dan memilih pergi dari depan kamar Keenan.
Dasar pasangan bucin, lagi kumpul keluarga gini, masih aja gak mau diganggu! gerutu Alvin di dalam hati, sambil berjalan kembali ke taman belakang.
Ya, awalnya Naura dan Alvin ingin memanggil Keenan dan Riska untuk ikut berkumpul di belakang vila.
Namun, sepertinya pasangan itu masih tidak ingin menghabiskan waktu berduanya, hingga keluarga yang lain tidak diingat lagi di kepala.
"Loh, mana Keenan dan Riska?" tanya Nawang yang melihat Alvin dan Naura datang.
"Masih tidur, Nek. Kata Om Al, aunty dan uncle masih capek, jadi gak boleh diganggu," jawab Naura dengan santainya.
Tanpa gadis itu sadari, di belakangnya Alvin susah ketar ketir, saat namanya disebut oleh Naura.
Astaga, nih anak gak bisa apa kalau gak bawa-bawa nama aku segala? batin Alvin.
"Itu, Bu. Emh ... tadi kata Pak Keenan, masih mau istirahat," jelas Alvin, mencoba memberi alasan.
"Kita kan gak ketemu sana uncle, Om." Naura menatap Alvin penuh tanya.
Alvin semakin di buat bingung untuk menjelaskan kepada Naura dan Nawang.
"Eum, itu ... tadi Pak Keenan, kirim pesan kepada saya, Bu," ujar Alvin.
Nawang tersenyum melihat wajah panik asisten dari anak pertamanya itu. "Iya, gak apa-apa, biarkan saja mereka. Lebih baik kita main lagi aja. Yuk, sayang,"
Nawang menggandeng tangan Naura, mengajaknya menghampiri suami, anak, dan menantunya.
Alvin pun tersenyum lega, lalu mengikuti dua perempuan itu dari belakang.
Saat ini seluruh keluarga Darmendra, sedang menikmati akhir pekan di vila pribadi yang berada di puncak.
Untuk merayakan kehamilan Riska, sekaligus membawa Zain ke luar dari rumah, untuk pertama kalinya dengan jarak yang lumayan jauh.
Umur Zain kini sudah menginjak enam bulan, bayi tampan anak kedua dari pasangan Ezra dan Ayu itu, kini sudah bisa diajak main dan mengenal orang-orang di sekitarnya.
Tingkahnya yang semakin lucu, membuat setiap orang yang melihatnya tidak bisa menahan gemas dan rasa suka pada bayi itu.
...🌿...
Jangan lupa komen dan likenya ya🙏🥰🥰
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...