
...Happy Reading ...
...❤...
Pagi ini, Ayu dan Ezra tengah berjalan berdampingan di koridor salah satu rumah sakit besar. Setelah susah payah hampir sepanjang malam Ayu merayu suaminya itu, agar diizinkan untuk menjenguk mantan madunya.
Bahkan Ayu rela menggoda Ezra terlebih dahulu, asalkan dia bisa mendapatkan keinginannya, walaupun akhirnya gagal juga.
Flash Back
“Mas, aku mohon ... izinin aku ya,” rayu Ayu, sambil bersandar manja di atas dada bidang sang suami. Jari tangannya digerakkan membentuk pola abstrak, dengan gerakan manja.
“Sayang, kamu jangan menggodaku seperti ini,” desah Ezra, dia sudah gagal fokus karena ulah jail istrinya.
“Ya udah, izinin dulu ... baru aku mau berhenti,” rujukan Ayu, ia mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya.
Cup.
Ah, Ayu sepertinya sudah biasa dengan tingkah Ezra yang suka mencuri ciumannya secara tiba-tiba.
“Tidak, aku tidak akan mengizinkan. Untuk apa kamu mau bertemu lagi dengannya?” ujar Ezra, tetap tak berubah pikiran.
“Aws! Sakit, sayang,” sambungnya, saat merasakan cubitan di bagian dadanya, dengan cukup keras.
“Biarin! Siapa suruh, Mas, jadi nyebelin begini?” Ayu membalik melepaskan pelukannya, lalu berbalik membelakangi suaminya. Dia bahkan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Ezra menghembuskan napas kasar, walau senyum di wajahnya tak bisa ia sembunyikan lagi.
Melihat Ayu merajuk seperti ini tak membuatnya pusing, dia malah merasa lucu oleh tingkah istrinya itu. Akhirnya dia ikut menenggelamkan tubuhnya, lalu memeluk Ayu dari belakang.
“Masih mau menggodaku, hem?” goda Ezra, sambil menyelusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya.
“Gak! Siapa juga yang mau godaan, Mas? Sana Iih, geli ... tau!” salah satu tangan Ayu berusaha mendorong wajah Ezra, agar menjauh.
Namun, ternyata kekuatannya tak cukup kuat untuk menandingi kekuatan Ezra, dia bahkan kini semakin mempererat pelukannya.
“Kamu harus tanggung jawab, karena sudah membuatku menginginkanmu, sayang,” desah Ezra, dengan suara yang terdengar semakin berat.
Ayu menyunggingkan senyum miring, saat merasakan sesuatu di belakang tubuhnya.
“Gak, aku gak mau, ngantuk!” ujarnya, lalu menutup rapat matanya, tanpa mau memedulikan apa yang diperkuat Ezra padanya saat ini.
“Sayang, dosa loh, menolak suami. Apa lagi ini kamu yang mulai duluan,” rayu Ezra, tangan Ezra beralih mengusap lembut perut bagian bawahnya yang sudah mulai terasa sedikit menonjol.
__ADS_1
“Boy, tolong bantuin Papa buat rayu Mama, Papa mau nengokin kamu,” ujarnya sekarang berganti berbicara pada janin yang ada di dalam rahim sang istri.
Ayu langsung membuka mata, lalu menolehkan wajahnya ke samping, demi melihat wajah Ezra.
“Boy? Kita bahkan belum tahu jenis kelaminnya, lalu seenaknya, Mas, panggil Boy,” gerutu Ayu, melepaskan tangannya Ezra dari perutnya.
“Aku yakin kalau anak kita laki-laki. Dia yang akan menjadi penjagamu dan Naura jika sudah besar,” jawab Ezra dengan lugas.
Tanpa sadar Ayu membalik tubuhnya, ingatan untuk merayu Ezra kini ia kesampingkan dulu, demi mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.
“Apa maksud, Mas? Kalau dia yang akan jaga kami, terus Mas ke mana?” tanya Ayu, dia tak mau lagi ditinggalkan. Itu terlalu menakutkan bahkan untuk sekedar dibayangkan.
“Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan tetap ada bersamamu, sampai kapan pun,” jawab Ezra lagi. Mereka bahkan masih berada di bawah selimut saat ini.
“Gak, aku gak mau! Biarkan dia menjaga Naura dan gadis hang dicintainya saja, aku hanya mau dijaga sama kamu, Mas ... bukan yang lain,” Ayu memeluk Ezra erat, menghirup aroma yang selalu jadi favoritnya, sesekali bahkan ia memberikan kecupan di sana.
Kata yang dikatakan Ezra begitu ambigu dan membingungkan, membuatnya takut kalau suatu saat nanti lelaki itu akan meninggalkannya, seperti orang yang ia sayangi sebelumnya.
Entah apa yang akan terjadi padanya, jika semua itu terjadi, membayangkanya saja dia tidak sanggup.
Suara isakan dari istrinya, membuat Ezra menyadari kalau dia telah salah bicara. Hormon kehamilan memang merubah Ayu lebih sensitif dari sebelumnya.
“Sayang,” panggil Ezra begitu lembut, ia mengangkat dagu istrinya agar sedikit mendongak.
Terlihat wajah sembab juga hidung yang sudah memerah karena menahan tangis, terlihat lucu dan dan sangat menggerakkan, hingga membuat Ezra menahan kekehannya agar sang istri tidak merajuk lagi.
“Aku minta maaf ya, janji gak ngomong gitu lagi,” tambahnya lagi.
Ayu mengangguk, lalu kembali memeluk erat tubuh suaminya. “Aku gak mau dijagain sama orang lain, aku mau sama Mas sampai kapan pun,” lirih Ayu.
Ezra tersenyum di letakan dagunya di atas kepala Ayu, sambil sesekali memberikan ciuman di sana, tangannya terus mengusap lembut rambut istrinya.
“Iya, sayang. Kita akan terus bersama, sampai kapan pun ... kamu tak akan pernah terganti,” jawab Ezra.
Lama mereka berada di posisi yang sama, menikmati kebersamaan yang terasa begitu hangat dan menenangkan, dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang. Dalam hati, keduanya berdoa agar semua yang dirasakan ini tak akan pudar dan hilang dimakan waktu.
Hingga Ayu tiba-tiba mengurai pelukannya, dia kembali menatap wajah suaminya. “Berarti besok kita jadi ya ke rumah sakit, buat jenguk Mala?” tanya Ayu, menghancurkan suasana romantis di antara keduanya.
Ezra mencubit gemas hidung Ayu, karena sudah mengacaukan suasana. “Kita bicarakan besok ya, sekarang sudah malam, lebih baik kita tidur,” jawab Ezra malas, sambil memejamkan matanya.
“Gak mau. Mas, harus janji dulu kalau besok mau anterin aku jenguk Mala. Ya?” Ayu menggoyangkan tubuh suaminya.
“Baiklah, tapi ... hanya sebentar, itu pun harus denganku langsung, oke?” ujar Ezra, akhirnya dia pasrah juga, saat melihat waktu yang semakin larut, tapi istrinya belum mau tidur juga.
Ayu tersenyum senang. “Terima kasih ... Mas, memang terbaik. Sayang suami aku!” ucap Ayu sambil menciumi wajah istrinya.
__ADS_1
Ezra dibuat terkejut dengan perkataan istrinya barusan yang terdengar mengungkapkan kasih sayang, juga sikapnya yang sedikit agresif, ini adalah hal baru lagi yang bisa dia lihat dari istrinya.
Apakah memang hormon kehamilan yang merubahnya, atau memang sikap manja seperti yang sering dikatakan oleh Ansel kini sudah kembali?
Ah, Ezra tak mau memikirkan itu, yang penting kini dia menikmati sikap Ayu yang terasa semakin bergantung padanya, walau itu juga berawal dari peraturan ketatnya ketika mengetahui kehamilan istrinya.
Flash back off
Sampai di depan ruangan yang dikatakan resepsionis tadi, Ayu bisa melihat ada Hendra–yang tak lain adalah ayah dari Mala.
“Assalamualaikum,” ujar Ayu dan Ezra bersamaan.
Hendra mendongakkan kepalanya melihat dua orang yang berdiri tak jauh darinya, dia sempat terkejut melihat Ayu dan Ezra, tetapi, beberapa detik kemudian dia sudah bisa menguasai tubuhnya kembali.
“Waalikumsalam,” gumamnya.
Ayu berbicara tentang niatnya untuk menjenguk Mala, itu langsung disambut baik oleh Hendra, tak menunggu lama dia mengajak sepasang suami istri itu masuk ke dalam ruang rawat anaknya.
Sampai di dalam, Ayu bisa melihat kalau saat ini, Mala sedang disuapi sarapan oleh Tami. Tubuhnya sudah jauh berbeda, dia terlihat lebih kurus dengan wajah yang sangat pucat.
Mengembangkan senyum semangat, saat kedua mata itu menatapnya, dia tak pernah menyangka sama sekali, kalau sahabatnya bisa masuk ke dalam dunia seperti itu, apalagi sampai terkena penyakit seperti itu.
Mala menatap kedatangan Ayu dengan mata berkaca-kaca, dia bahkan menoleh suapan makannya. Tak pernah menyangka kalau orang yang telah dia sakiti begitu banyak, kini mau datang menjenguknya.
“Ayu,” bibir bergetar itu, menyebutkan nama yang selama ini ia rindukan, sosok sahabat yang tulus menyayangnya, di saat sosok orang tua pun tak ada untuk mendukungnya.
Namun karena dibutuhkan rasa iri dan dengki, dia terjebak dan dengan tega menghianati kepercayaan yang selama ini diberikan oleh Ayu padanya. Menghancurkan rasa sayang yang telah lama mereka jalin, hingga memutuskan janji untuk selalu bersama.
Ayu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Ezra, dia berusaha mengumpulkan kekuatan untuk tidak terlihat rapuh, di depan mantan sahabatnya itu. Melihat kondisi Mala saat ini, ada rasa sakit yang kini menggores hatinya. Walau bagaimanapun keduanya pernah melalui hari-hari bersama, berjuang dalam mewujudkan mimpi hingga akhirnya mereka berhasil bersama. Rasa sayang itu masih tersisa di dalam sana, dan kini mencuat kembali, setelah sekian lama terlupa.
Ayu perlahan melangkahkan kaki, berjalan menghampiri brankar tempat Mala terbaring lemah.
“Asslamulaikum, Mala.” Ayu tersenyum lembut, menatap wajah sayu yang sudah banjir dengan air mata di depannya.
Mala terdiam, hanya isak tangis yang terdengar, lidahnya kelu hanya untuk menjawab satu kata itu, bibirnya serasa terkunci, begitu berat untuk bergerak.
Tami berdiri, membiarkan Ayu untuk duduk di tempatnya barusan. Ezra dengan setia mendampingi istrinya. Dia berdiri tepat di samping Ayu, dengan lengan tak lepas dari genggaman.
Kedua mata wanita itu terpaut, seakan mencurahkan semua rasa yang ada, mengulang kembali setiap rasa yang pernah mereka lalui.
...🌿...
Kira-kira bakal gimana ya, kelanjutan pertemuan antara Mala dan Ayu🤔🤭
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...