
...Happy Reading...
...❤...
Pukul tujuh malam, kedua pengantin baru itu tambak keluar dari kamar, setelah datang tadi siang.
Kali ini para pelayan yang bertugas di rumah itu baru bisa melihat dengan jelas, wajah majikan baru mereka, kecuali Bi Yati yang tentunya sudah mengenal Ayu terlebih dahulu.
Ayu dan Ezra berjalan menuruni tangga dengan tangan bertaut, lelaki itu seakan tak ingin melepaskan Ayu walau hanya seketika saja.
Ezra menggeser kursi untuk tempat duduk Ayu, sebelum dia duduk di tempatnya.
"Terima kasih." Ayu tersenyum dengan pipi yang kembali merona. Mendapatkan perlakuan seperti itu di hadapan para pelayan, membuatnya merasa malu.
Ayu menghentikan langkah pelayan yang ingin melayani keduanya, dia menatap Bi Yati yang sudah tau pasti kebiasaan Ayu di rumah, kemudian menatap Ezra dengan tatapan tidak nyaman.
Ezra yang mengerti semua itu, langsung menyuruh para pelayan untuk meninggalkan mereka berdua. Setelah itu barulah Ayu menyiapkan makanan untuk suaminya dengan sangat telaten dan cekatan.
“Mau makan apa, Mas?” tanya Ayu.
Ezra tersenyum, menatap wajah lelah istrinya, karena perbuatannya. Ya, setelah melaksanakan shalat Ashar, Ezra kembali menerkam Ayu tanpa ampun.
“Apa saja, terserah kamu, aku akan makan apa pun yang kamu siapkan, sayang!” jawabnya.
Ayu mengangguk, lalu memilih makanan yang kira-kira suaminya sukai. Setelah dirasa cukup, Ayu meletakan piring Ezra di hadapan suaminya.
Ezra yang melihat semua itu, tampak tersenyum, hatinya menghangat mendapatkan perlakuan dari Ayu. Selama ini dia selalu dilayani oleh para pekerja di rumahnya, bahkan saat ibu kandung Naura masih ada.
Mungkin karena dulu mereka sama-sama dari keluarga berada dan terbiasa dengan dilayani, jadi Ezra tak pernah mempermasalahkan sikap istri pertamanya yang tidak melayani seluruh keperluannya. Lagi pula Ezra termasuk lelaki yang santai akan semua itu. Ia bukanlah lelaki yang gila akan pelayanan dari istrinya.
Keduanya makan bersama, Ezra sesekali menggoda Ayu dengan meminta suapan dari istrinya, begitu pula dirinya, terkadang menyuapkan makanannya pada Ayu.
“Assalamualaikum! Wah, kebetulan sekali aku sedang sangat lapar, boleh aku bergabung?”
Ezra menatap kedatangan adiknya yang tidak tepat itu dengan tatapan tajam.
‘Benar-benar tidak tahu suasana, adik kurang ajar!’ umpat Ezra dalam hati. Ia tahu pasti kalau semua yang dikatakan adiknya hanya alasan saja, untuk mengganggu waktunya bersama Ayu.
Kalau saja tidak ada istrinya, sudah pasti dia akan memberikan adiknya itu satu pukulan keras di kepalanya, agar bisa berpikir dengan benar.
“Kak, boleh kan aku ikut bergabung dengan kalian? Di rumah gak ada orang, Mama membawa semuanya berlibur ke puncak dan meninggalkan aku sendirian.” Dengan wajah memelas, Keenan berbicara pada Ayu, tanpa peduli tatapan mematikan Ezra.
“Tentu saja boleh,” jawab Ayu, ia bahkan hendak menyiapkan makanan untuk Keenan, sebelum Ezra memegang tangannya dan menyuruhnya duduk kembali.
__ADS_1
“Ohya, aku juga bawa bunga spesial untuk kakak iparku tersayang.” Keenan mengulurkan buket bunga yang ia bawa, dengan senyum mengembang.
“Wah, terima kasih. Ini cantik sekali. Memangnya kapan Mama berangkat ke puncak?” Ayu tampak tersenyum dan mengambil bunga dari tangan adik iparnya. Ia baru mengingat tentang kepergian ibu mertuanya itu.
“Kemarin sore, setelah acara pernikahan kalian, Mama langsung membawa semuanya ke sana!” jawab Keenan dengan seringai tipis di bibirnya.
Ya, sebenarnya ada sedikit kebohongan dalam perkataannya, di rumahnya tentu saja ada pelayan yang akan siap sedia untuk melayaninya, tetapi karena otak jahilnya masih berfungsi, jadi dia memilih untuk mengganggu kedua pengantin baru.
Ayu menatap buket bunga yang baru saja diterima dari Keenan, ingatannya kembali pada saat menerima bunga berisi ancaman sebelum hari pernikahannya.
Ezra menghabiskan makanannya dengan sedikit kasar, karena kesal dengan kedatangan adiknya. Tanpa ia sadari Ayu sudah tidak memakan makanan di depannya dan hanya mengaduknya saja dengan pandangan kosong.
Beberapa saat kemudian Ezra baru menyadari kalau Ayu sedang melamun, setelah ia sama sekali tak mendengar suara dari istrinya.
“Sayang, ada apa? Kamu melamun?” tanya Ezra lembut, sambil menyentuh pundak Ayu, setelah beberapa kali memanggil tapi tak juga mendapat respons dari wanita itu.
“Ah, aku ... aku hanya mengingat sesuatu,” jawab Ayu, dengan pandangan gusar, seperti ada yang disembunyikan.
Ezra dan Keenan saling melirik, mereka bisa menangkap kegelisahan Ayu, memilih diam dan membiarkan Ayu memiliki waktu untuk menenangkan dirinya terlebuh dulu.
Kedua kakak beradik itu kini sibuk berkomunikasi lewat tatapan mata, mengira apa yang sekiranya dapat mengganggu pikiran wanita itu.
Setelah makan malam, Ayu langsung kembali ke kamarnya, sedangkan Ezra berbicara terlebih dulu dengan Keenan.
“Kamu yakin, tidak melewatkan sesuatu yang bisa membuat Nindi gusar seperti tadi?” tanya Ezra.
Beberapa saat berbicara, Keenan pamit pergi.
Ezra langsung pergi ke kamarnya, membuka pintu dengan sangat perlahan, takut Ayu sudah terlelap.
Namun, ternyata semua pikirannya terbantahkan oleh apa yang ia lihat, wanita itu tampak tidak berada di atas ranjang.
Pandangan Ezra mengedar mencari keberadaan istrinya, sampai ia melihat pintu balkon yang terbuka.
“Kenapa berdiri di sini malam-malam begini, nanti kamu masuk angin,” ucap Lembut Ezra, tangannya ia lingkaran di perut rata istrinya.
Ayu terlonjak kaget, saat merasakan tangan yang melingkar kuat di perutnya, di tambah hembusan napas hangat yang mengenai pipi.
Tersenyum samar, saat menyadari siapa yang kini berada di belakangnya, menyandarkan kepala di dada bidang milik suaminya, merasakan kehangatan yang menjalar menghilangkan udara dingin malam ini.
“Mas.”
“Hem.” Ezra memejamkan matanya, meletakan dagu di puncak kepala sang istri.
“Sebenarnya aku mau bicara sesuatu padamu,” ucap Ayu, setelah berhasil menenangkan dirinya.
“Bicaralah, aku akan dengarkan.” Ezra membuka matanya kembali, memberikan kecupan di puncak kepala istrinya.
__ADS_1
Ayu berbalik, menatap wajah tampan suaminya yang tersenyum teduh kepadanya.
“Sebenarnya satu hari sebelum kita menikah, Aku mendapatkan sebuah kiriman bunga dari seseorang yang tak dikenal—,”
Ezra mengerutkan keningnya mendengar perkataan Ayu.
“Lalu?” tanya Ezra.
“Ada sebuah kartu ucapan di dalamnya yang berisi sebuah kata ancaman,” lirih Ayu dengan tangan mencengkeram baju Ezra, menahan rasa takut di dalam hatinya.
Ingatannya kembali pada saat ia menerima beberapa ancaman yang ternyata dilakukan oleh Arumi.
Untung saja waktu itu ada Keenan yang mau membantunya, menemukan pelaku dengan bantuan Ezra tentunya.
Ezra dapat merasakan kegundahan dalam hati istrinya.
“Tenanglah, sekarang kamu tidak sendiri lagi, ada aku yang akan selalu ada bersamamu.” Ezra memeluk Ayu, dengan sangat lembut, tangannya mengusap punggung istrinya.
Ayu memejamkan mata, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang suaminya, hingga perlahan hatinya merasa tenang.
“Apa kamu masih menaruh kartu ancaman itu?” tanya Ezra.
Ayu menggeleng. “Aku membuang semuanya, saat itu juga,” ucap lirih Ayu.
“Ya sudah, tidak apa-apa. Lebih baik sekarang kita istirahat, wajah kamu terlihat sedikit pucat.” Ezra membawa Ayu masuk ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur, ia memeluk istrinya hingga napas Ayu perlahan teratur, menandakan kalau wanita itu mulai terlelap.
Ezra melepas pelukannya, meletakan kepala Ayu di atas bantal, dan membetulkan letak selimut, memberikan kecupan di kening sebelum beranjak berdiri.
Meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas, Ezra berjalan menuju balkon untuk menghubungi seseorang.
Lelaki itu tampak berbicara serius dengan seseorang di balik sambungan teleponnya, tangannya mengepal mencengkeram pembatas besi balkon di hadapannya, menyalurkan emosi yang kini menguasai perasaannya.
Berdiam diri dengan pikiran melayang, Ezra tampak duduk di sofa kamar, dengan tatapan tertuju pada ranjang, tempat istrinya tertidur. Pandangannya terlihat rumit, dengan berbagai ingatan yang mengganggu pikirannya.
.........................
Di tempat dan waktu yang berbeda, Sari tampak sedang menangis meratapi nasibnya anaknya.
Di depannya Radit terbaring tak sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan darah, juga benturan keras di kepala bagian belakang, hingga membuatnya mengalami cedera yang cukup serius.
Dokter bilang, bila sampai besok pagi Radit tidak bisa sadarkan diri, itu bisa menjadi indikasi kalau terjadi sesuatu yang fatal dalam kepalanya.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...