Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.104 Kesiangan


__ADS_3

 



...Happy Reading ...


...❤...


Secepat kilat Sari menghampiri anaknya yang sudah tak sadarkan diri. Membawa kepala berlumur darah itu ke dalam pangkuannya.


“Pak, tolong bantu saya bawa Radit ke rumah sakit!” paniknya, sambil mencoba menekan luka di kepala bagian belakang, agar pendarahannya berhenti.


Sepertinya Radit terpeleset saat berjalan ke kamar mandi, hingga kepalanya membentur sesuatu.


 


................................


 


Matahari mulai naik, menyebarkan kehangatan pada setiap makhluk hidup di dunia. Ayu mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea.


Meregangkan sedikit tangannya, untuk menghilangkan rasa kaku di tubuhnya.


“Astagfirullah!” Ayu langsung bangkit, saat menyadari hari sudah siang.


“Ada apa sayang, kenapa pagi-pagi buta kamu sudah ribut?” Ezra kembali menarik tubuh Ayu hingga terbaring di sampingnya kembali, masih dalam keadaan mata tertutup rapat.


Ayu menggeliatkan tubuhnya, berusaha keluar dari pelukan Ezra yang semakin mengerat.


“Mas, lepas ... aku mau mandi, ini sudah siang!”


Ezra tak mengidahkan rengekan Ayu, ia malah menelusupkan wajahnya pada ceruk leher istrinya. Menghirup wangi yang kini telah menjadi candunya.


“Mas, sudah. Lihatlah matahari bahkan sudah tinggi!”


Ayu semakin tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, apa lagi kini mereka masan dalam keadaan setengah polos.


Ezra hanya memakai celana pendek tanpa baju, sedangkan dirinya memakai baju tipis dan menerawang.


“Sebentar lagi, sayang. Biarkan aku menikmati harum tubuhmu.”


Tangan Ezra sudah mulai nakal, meraba bagian sensitif Ayu di balik selimut.


Ayu mengerutkan keningnya, saat merasakan tanda bahaya yang akan terjadi.


Dengan mengumpulkan kekuatan ia memberikan pukulan di punggung suaminya.


“Akh ... sayang, kamu sadis sekali. Kenapa aku dipukul?” Ezra langsung melepaskan pelukannya pada Ayu, dan beralih memegang punggungnya yang terasa berdenyut.


“Maaf ... tapi, kalau aku tidak begitu. Mas, gak akan mau melepaskanku!” Ayu berucap dengan rasa bersalah saat sudah berdiri agak jauh dari ranjang, kemudian berlari menuju kamar mandi.


“Astaga, lumayan juga pukulannya.” Ezra duduk di ujung ranjang sambil mengelus punggungnya.


“Kenapa aku bisa sampai lupa kalau istriku bisa bela diri?” sambungnya lagi, menatap nanar pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


“Sepertinya, aku harus bersiap untuk menghadapi kekuatannya,” gumam Ezra, dengan senyum di bibirnya. Entah apa yang sedang lelaki itu pikirkan.


Sedangkan di kamar mandi, Ayu mengulum senyumnya dengan wajah yang merah padam. Wanita itu merasa puas karena sudah melampiaskan kekesalannya.


Ya, Ayu menyalahkan Ezra atas kesiangan bangun yang ia alami. Kalau bukan karena suaminya itu yang tidak pernah puas, sampai meminta mengulangnya sampai jam tiga pagi, dirinya tidak akan seperti ini.


Menutup wajahnya saat bayangan pergulatan semalam yang membuatnya kelelahan, hingga ia langsung tertidur pulas setelah kegiatan mereka yang terakhir.

__ADS_1


Berjalan menuju bathtub untuk mengisi air, Ayu memutuskan untuk berendam sebentar, berharap itu bisa sedikit melemaskan ototnya yang terasa kaku, karena ulah Ezra.


Sambil menunggu Ayu mandi, Ezra memesan makanan dan juga menghubungi Keenan untuk membawakan baju ganti untuk Ayu.


Tadi malam ia sudah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya dari cerita Ayu, ia juga sudah bisa menebak, kira-kira siapa yang sudah mengerjai istrinya.


Ezra juga memeriksa ponselnya yang sejak  semalam ia matikan. Lelaki itu tersenyum melihat banyaknya pesan yang mengucapkan selamat untuk pernikahannya.


“Mas!”


Ezra mengalihkan pandangannya pada pintu kamar mandi yang hanya terbuka sedikit.


“Kenapa, sayang?” tanyanya, saat sudah berada di depan pintu.


“A—aku lupa bawa handuk,” lirih Ayu, menundukkan kepalanya, menahan malu.


“Memangnya kenapa? Kan aku juga sudah melihat semuanya,” acuh Ezra, berjalan kembali untuk duduk di sofa.


“Mas, jangan gitu dong. Tolong bawain aku handuk, aku mohon.” Ayu memelas, menatap suaminya yang tengah menatapnya dengan sunggingan senyum menyebalkan.


 “Baiklah, biarkan saja aku kedinginan di sini, aku tidak akan keluar, sebelum Mas membawakanku handuk!”


Brak!


Ayu menutup pintu kamar madi dengan cukup keras, setelah mengatakan kata itu. Ia sudah sangat malu pada suaminya itu, kenapa juga dirinya selalu saja berbuat ceroboh.


Ezra terlonjak kaget, melihat Ayu merajuk. Tadinya ia hanya berencana untuk menggoda, tapi, kenapa sekarang istrinya itu jadi marah beneran.


Beranjak mengambil handuk kimono lalu mengetuk kembali pintu kamar mandi dengan perasaan panik. Tidak lucu kan kalau baru sehari menikah mereka sudah berantem.


“Sayang, ini aku sudah bawakan handuk, buka dong pintunya,” ucap Ezra lembut.


Ayu membuka sedikit pintu, lalu mengulurkan tangannya ke luar, mengambil handuk d tangan Ezra tanpa memperlihatkan wajahnya.


Ketukan pintu mengalihkan perhatian Ezra.


“Sayang, kamu jangan keluar dulu ya, aku mau melihat siapa yang datang,” ucapnya.


Menyambar baju yang teronggok di atas kasur, lalu memakainya sebelum membuka pintu.


Ayu tak menjawab, tapi, ia bisa mendengar perkataan Ezra dari dalam.


Ternyata itu adalah Keenan yang membawa sebuah paper bag, berbarengan dengan para petugas hotel yang membawa pesanan makanan untuknya.


“Bagaimana, Kak? Apa Kakak puas dengan pekerjaan aku dan Mama?” tanya Keenan, dengan suara pelan.


“Sudah sana keluar, anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa!” Ezra mendorong Keenan untuk segera keluar dari kamarnya.


“Kak, aku bukan anak kecil lagi, aku bahkan sudah bisa menghasilkan anak kalau mau!” protes Keenan, tidak terima.


Mendengus kesal saat melihat pintu kamar kakaknya Sudah tertutup rapat.


“Sayang, kamu sudah boleh keluar.” Ezra kembali pada pintu kamar mandi.


“Itu baju ganti untukmu, aku mandi dulu!” Ezra menunjuk paper bag di atas tempat tidur sebelum masuk ke kamar mandi.


.


Siang hari yang cukup terik, Ezra dan Ayu tampak sudah berada di dalam sebuah mobil.


Ayu mengernyitkan keningnya saat melihat jalan yang mereka lalui bukanlah menuju rumahnya maupun kediaman keluarga Darmendra.


“Kita mau ke mana?” tanya Ayu, mengalihkan pandangannya pada Ezra yang tampak sedang fokus menyetir.

__ADS_1


Lelaki itu tampak melirik Ayu dengan senyum hangatnya, mencium sekilas tangan istrinya yang sejak tadi terus ia genggam.


“Nanti juga kamu tau,” jawab Ezra ambigu.


Ayu tak bertanya lagi, walaupun di dalam hatinya masih menyimpan rasa penasaran, ia memilih menatap jalanan yang terasa sedikit ramai.


Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya mobil Ezra memasuki sebuah perumahan mewah. Ayu semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi, sebenarnya suaminya ini akan membawanya bertemu siapa, mungkin begitu isi hati Ayu saat ini.


Tak jauh dari gerbang utama, mungkin hanya butuh waktu lima belas menit kalau berjalan kaki, Ezra kembali memasuki gerbang sebuah rumah yang mungkin memiliki luas yang sama dengan kediaman keluarga Darmendra.


“Mas, ini rumah siapa?” tanya Ayu lagi, matanya mengedar melihat seluruh halaman yang sangat luas.


“Kita keluar dulu, nanti aku beri tahu.” Ezra tersenyum sebelum berlalu ke luar terlebih dahulu.


Memutar mobil untuk mencapai pintu sebelah Ayu duduk, Ezra mengulurkan tangannya, membantu istrinya untuk turun dari mobil.


Perlahan Ayu menerima uluran tangan suaminya, terlihat ada beberapa orang yang menyambut kedatangannya, sedikit membungkukkan badan saat Ayu dan Ezra sudah berada di hadapan mereka.


“Selamat datang, Pak Ezra dan Bu Nindi!”


Ayu menganggukkan kepala dengan senyum mengembang di wajahnya, walaupun terlihat jelas pancaran kebingungan dari matanya. Apa lagi ia juga melihat keberadaan Bi Yati dan Mang Ujang di sana.


“Mas!” Ayu menahan Ezra yang akan membawanya masuk.


Ezra tersenyum, lalu merangkul pundak sang istri.


“Ini rumah kita, sayang. Mulai sekarang kita akan tinggal di sini, bagaimana kamu suka gak?” ucap Ezra.


Ayu menautkan alisnya, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya.


“Ta— tapi, bagaimana dengan rumahku?” tanya Ayu polos.


Ezra terkekeh sambil membawa Ayu melangkah masuk.


“Itu terserah kamu saja,” ucap lembut Ezra.


Ayu mengangguk, lalu mengedarkan pandangannya menelusuri setiap sudut rumah yang tampak mewah, wanita itu baru menyadari kalau di sana juga sudah banyak foto dirinya, bahkan foto pernikahannya saja sudah terpasang dengan bingkai yang sangat besar.


“Lalu  ke mana Naura?” tanya Ayu, saat tak melihat keberadaan Naura di rumah.


“Naura sedang berlibur bersama Mama ke puncak, mungkin besok baru pulang,” jawab Ezra.


Mereka terus berbincang sambil melangkah menuju lantai dua di mana kamar utama berada. Ayu bahkan sampai tak menyadari langkahnya, ia sibuk meneliti setiap sudut rumah yang kan ditinggalinya.


Sampai di dalam kamar, Ezra langsung merangkul tubuh istrinya, memeluknya dari belakang, memberikan ciuman di puncak kepala Ayu dengan gemas.


Sebenarnya sejak tadi ia sudah menahan diri untuk tidak memeluk istrinya itu di hadapan para pelayan, Ezra mengusap perut rata istrinya itu dengan gerakan halus dan membuai.


Ayu memejamkan matanya saat ciuman itu kini beralih pada wajahnya. Ia dapat merasakan napas memburu penuh hasrat Ezra yang menerpa wajahnya.


Allahuakbar ... Allahuakbar ...


Ayu mendorong dada Ezra sampai lelaki itu bergeser beberapa langkah ke belakang.


“Sudah azan, Mas!” ucap Ayu gugup.


Ezra meremas rambutnya kesal, menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2