
...Happy Reading...
...❤...
Setelah dari ruang kerja sang kakak, Keenan memilih untuk langsung masuk ke dalam kamarnya.
Berdiri menatap ke luar jendela dengan pikiran terus terngiang perkataan Ezra.
Perhatiannya teralihkah pada sebuah laci nakas yang berada tepat di sampingnya.
Perlahan tangannya terulur, membuka laci itu, terlihat foto dua orang remaja usia sekolah menengah akhir.
Keduanya tampak sangat bahagia, duduk berdua di sebuah taman sekolah, dengan buku di tangan sang gadis.
Meraih foto yang masih terlihat sangat terawat, di dalam sebuah bingkai cantik.
“Luna, ke mana sebenarnya kamu pergi? Tahukah, aku di sini masih menunggumu, sampai saat ini?”
“Benarkah apa yang di bilang mereka tentangmu, kalau kamu meninggalkanku untuk menikah dengan orang lain? Aku tidak akan pernah percaya sampai mataku sendiri yang akan menyaksikan semuanya!” gumam Keenan.
Mengelus lembut, raut wajah manis, berbingkai kaca mata itu, dengan penuh rasa rindu.
Walau rasa sakit, mengingat rumor yang beredar saat gadis pujaannya itu tiba-tiba saja menghilang, setelah acara kelulusan.
Predikat sad boy yang di tinggalkan menikah oleh pacarnya menikah dengan orang lain, telah ia sandang sejak saat itu.
Meskipun itu hanya ada di kalangan teman sekolahnya saja, bahkan rumor yang beredar, gadis yang bernama Luna itu, sudah mengandung, sejak masih sekolah.
Entah siapa yang menyebarkan gosip kejam seperti itu, Keenan sudah pernah mencari kebenarannya. Namun, seluruh keluarga Luna memilih bungkam, sedangkan gadis itu sendiri menghilang bak ditelan bumi.
Sebenarnya dia yakin kalau kakaknya tahu sesuatu, maka dari itu lelaki itu selalu melarangnya untuk mencari tahu lebih dalam lagi.
Sudah beberapa kali ia berusaha untuk bertanya pada Ezra, hanya saja lelaki itu pun selalu bungkam seribu bahasa.
“Sudah delapan tahun aku menunggu penjelasan darimu, Lun. Apa saat ini, sudah saatnya aku menyerah?” gumamnya lagi dengan nada lemas.
Hembusan napas lelah mengiringi perkataan Keenan.
Membalik letak bingkai itu, menaruhnya kembali di dalam laci, lalu menutupnya.
Memilih untuk melangkah masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Biarlah, nanti semua itu ia pikirkan lagi. Untuk saat ini, biar dia jalani kehidupannya, seperti sebelumnya.
..............................
__ADS_1
Malam ini adalah malam terakhir Ayu menyandang status sebagai seorang janda, karena, besok pagi acara ijab kabul akan segera di laksanakan.
Malam ini, baik Larry, Ansel, Elena dan Bian sudah berada di hotel yang sudah di siapkan untuk acara besok pagi, tentunya bersama dengan Ayu juga.
Sejak tadi pagi, kesibukan persiapan untuk besok sudah mulai terasa, dari mulai mendapat arahan dari pihak WO sampai memastikan ukuran baju yang akan ia pakai.
Di tambah, memastikan baju untuk para keluarga yang di desain langsung olehnya.
Hingga sampai jam menunjukkan lewat tengah malam, Ayu masih belum bisa memejamkan mata.
“Nin, kamu belum tidur?” tanya Elena, saat ia melihat adik iparnya itu masih berada di luar kamar.
“Iya, tadi habis cek lagi, kelengkapan baju buat besok, eh ternyata ada yang ketinggalan di butik, jadinya tadi nungguin Riska ngambil dulu,” jelas wanita itu.
“Ya ampun, kan aku udah bilang, biarin aja jadi urusan Riska sama pihak WO. Sudah, sekarang kamu tidur, jangan sampai besok pagi muka kamu kusam, gara-gara kurang tidur!” gemas Elena.
Bingung juga dia sama adik iparnya ini, sudah sejak siang ia terus memperingati untuk jangan sampai terlalu capek. Namun, sepertinya ucapannya hanya menjadi angin lalu saja bagi Ayu.
“Iya iya, maaf ya, Kak. Sekarang aku masuk ke kamar, janji!” Ayu, mengangkat dua jarinya membentuk huruf V, sambil tersenyum lebar, sampa semua gigi bagian depannya terlihat.
“Sudah, sana cepat masuk. Awas kalau masih begadang juga ya, besok pagi kamu harus sudah bangun jam tiga pagi, untuk persiapan make up!” Elena mendorong Ayu untuk segera masuk ke dalam kamarnya, sambil terus berbicara.
Ayu terkekeh geli, mendengar semua ocehan yang di katakan oleh kakak iparnya itu. Dirinya sebenarnya bukan hanya sedang menunggu baju, tapi memang butuh menenangkan hatinya yang sudah tak menentu sejak sore tadi.
Berawal dari kiriman bunga tidak di kenal yang ia terima, dari salah satu pegawai hotel, beberapa jam setelah ia sampai.
Awalnya ia mengira itu adalah salah satu properti untuk acara besok, atau mungkin kiriman dari Ezra. Namun, ternyata ia tidak menemukan nama pengirim di sana.
‘Kamu tidak akan pernah bahagia!’
Bunga itu langsung terlepas dari tangannya begitu saja, tulisan dengan menggunakan tinta berwarna merah darah itu, cukup membuatnya takut.
Ayu sangat ingin memberi tahu Ezra tentang semua itu, tetapi, karena mereka masih di pingit, dan kesibukan keduanya, ia sama sekali tidak bisa menghubungi calon suaminya itu.
Begitu juga dengan Keenan, entah ke mana calon adik iparnya itu pergi, hingga dia tidak bisa menemukannya di mana pun.
“Hufth ... tenang, ini semua pasti hanya kerjaan orang iseng aja, acara besok pasti akan berjalan lancar!” Ayu menghembuskan napasnya, berusaha memberikan kekuatan untuk dirinya sendiri.
Memilih untuk mengambil air wudu dan menjalankan Shalat sunah dua rakaat sebelum nanti memejamkan matanya.
Bunyi suara alarm di dalam ponselnya membangunkan tidur nyenyak Ayu.
Dengan masih menggunakan mukena dia tertidur di atas sajadahnya.
Duduk untuk beberapa saat, mengumpulkan nyawa yang masih tercecer entah ke mana, menggeliat meregangkan otot yang terasa kaku.
Bel kamar terdengar berbunyi, Ayu mengalihkan perhatiannya pada pintu.
“Apa mungkin itu Kak El, ya?” gumam Ayu sambil beranjak berdiri dan membereskan sajadah yang sudah terlihat sedikit kusut.
Cklek ....
“Kamu udah bangun, Ndi?”
__ADS_1
Ayu menghembuskan napas lega, melihat Elena dan Ansel yang ada di depan pintu kamarnya.
“Para MUA sudah datang, lebih baik kamu segera bersiap-siap untuk di rias ya,” ucap Elena.
“Ayo, biar Kakak bantu!” ucapnya lagi, membawa Ayu untuk segera masuk ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, dua orang perias profesional tampak masuk ke dalam kamar Ayu.
Setelah menjalankan Shalat subuh, proses make up pun dimulai.
Keluarga Andrea pun kini mulai datang, dan menemuinya di kamar.
Ayu tersenyum bahagia menyambut kedatangan keluarga keduanya itu.
Mereka semua tampak berkumpul bersama di kamar Ayu, menunggu calon pengantin itu selesai berdandan.
Bahkan, Larry dan Ansel pun ikut bergabung, mereka bahkan memilih untuk sarapan bersama di kamar itu.
Suasana kamar, benar-benar penuh kebahagiaan, hingga akhirnya ponsel milik Ansel berdering.
“Halo, Keen,” sapa Ansel, saat ia mengangkat teleponnya.
“Apa! Itu tidak mungkin, kamu pasti bercanda kan, Keen?!” teriak Ansel setelah mendengarkan perkataan Keenan di seberang sana.
Ayu beranjak, ia menghampiri kakaknya, dengan perasaan yang tak menentu.
“Ada apa, Kak?” tanya Ayu, kedua alisnya tampak bertaut.
“Ndi, kamu harus sabar ya,” ucap Ansel menatap nanar wajah adik perempuannya itu.
“Apa, Kak? Sabar kenapa? Tolong jelaskan?!” tanya Ayu, mulai panik.
Semua orang kini beralih fokus pada dua orang kakak beradik itu.
“Ezra ... Ezra kecelakaan, Ndi,” lirih Ansel.
Ayu menutup mulutnya, dengan air mata mulai mengalir begitu saja, kepalanya terus menggeleng, menolak semua perkataan yang terucap dari kakaknya.
“Enggak, Kakak pasti salah dengar! Atau Kakak lagi ngerjain aku ya ... ini gak lucu, Kak!” teriak Ayu.
Ansel langsung memeluk tubuh bergetar Ayu, berusaha memberikan kekuatan untuk adik perempuannya.
“Sabar, Ndi, lagi pula kita belum tahu apa yang terjadi sebenarnya, dan bagaimana kondisi Ezra. Aku yakin Ezra baik-baik aja. Kamu tenang dulu ya,” ucapnya berusaha menenangkan.
Orang yang berada di sana kini mengelilinginya, memberikan kata penyemangat untuknya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Wah kira-kira Ezra kenapa ya🤭✌
__ADS_1