
...Happy Reading ...
...❤...
Siang hari yang terasa cukup terik, Keenan dan Riska sedang berburu oleh-oleh untuk di bawa ke pulang nanti sore, belanja mulai dari pernak-pernik khas bali, sampai makanan yang bisa mereka bawa.
Keduanya berjalan bersama dengan ditemani oleh salah satu staf hotel yang memang asli lahir di Bali.
Suasana yang ramai dengan lalu lalang para warga dan wisatawan, membuat Riska dan Keenan memilih untuk berjalan kaki, menyusuri setiap stan oleh-oleh yang berada di sana.
Entah disadari atau tidak, sejak keluar dari hotel beberapa jam yang lalu, ada seseorang yang sedang mengikuti mereka.
"Abang, lihat itu kayaknya bagus deh!" ujar Riska saat melihat sebuah kain pantai khas Bali.
Keenan tampak memperhatikannya, dia tersenyum lalu mengangguk.
"Bagus, mau masuk?" tanya Keenan.
Keenan dan Riska pun akhirnya masuk ke salah satu toko yang menjual berbagai macam pakaian dan kain pantai.
Riska tampak memilih beberapa jenis baju dan kain sambil menghitung orang yang akan ia beri oleh-oleh.
Keenan tak ikut memilih, dia hanya memperhatikan istrinya yang tampak sibuk dengan aktivitasnya kali ini.
"Aku kira dia gak suka belanja, ternyata memang wanita tidak bisa meninggalkan kesenangannya yang satu ini."
Kenan menggeleng lucu, saat mengingat betapa perhitungannya Riska pada uang.
Walaupun Keenan sudah sering menemani ke super market untuk belanja mingguan. Akan tetapi, dia tidak pernah melihat istrinya itu membeli baju ataupun barang-barang untuknya pakai sendiri, seperti baju, tas atau sepatu.
Ujung mata Keenan menangkap gelagat yang mencurigakan, saat berkali-kali dia seperti melihat orang yang sama, ada di dekatnya.
Keenan menghiraukannya, dia kembali fokus memperhatikan sang istri yang sedang memilih barang untuk dibawa pulang.
Beberapa menit kemudian, Riska dan Keenan sudah keluar dari toko yang cukup besar itu, dengan menenteng beberapa kantong belanja di tangan keduanya, ditambah dengan orang yang mengantar mereka pun ikut membawa barang bekanjaan Riska.
"Sudah cukup pelum? Kita cari makan dulu yuk," ajak Keenan.
"Ayok, aku juga sudah lapar. Kalau ini, sepertinya tinggal cari makanannya saja," jawab Riska dengan senyum mengembang.
Keduanya pun akhirnya berjalan kembali, menuju mobil yang mereka parkir cukup jauh dari tempat mereka bediri.
Orang yang mengantarkan mereka pun maju dan berjalan terlebih dahulu, agar bisa menunjukan jalan menuju mobil.
__ADS_1
Riska dan Keenan kini sedang berdiri di pinggir jalan, untuk menyebrang menuju mobil.
Keenan dan Riska berjalan beriringan, sedangkan pegawai hotel itu berjalan di depan mereka, saat mereka berada di tengah jalan, tiba -tiba ada motor yang melaju cukup kencang, ke arah mereka bertiga.
"Awas!" teriak Keenan, menyadarkan orang yang berada di depannya.
Brak!
Barang belanjaan pun berserakan di tengah jalan, dengan suara nyaring Keenan membuat hampir semua pengguna jalan mengalihkan perhatiannya.
Mereka tampak langsung berjalan mendekati ketiga orang itu dengan raut wajah cemas.
"Kamu gak apa-apa, sayang?" tanya Keenan, melihat tubuh Riska dari ujung kaki hingga ujung rambut
Riska meenggelang, walau jantungnya masih bertalu dengan wajah yang pucat karena terkejut.
Keenan beralih menolong pegawai hotel yang terjatuh karena terlambat menghindar, hingga terserempet motor yang entah sudah kabur entah ke mana.
Kejadian yang begitu cepat, membuat orang-orang terkejut dan mengerumuni mereka bertiga, untuk mengetahui kondisisnya, apa lagi pegawai hotel tadi sempat jatuh.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Keenan, sambil berjongkok di depan pegawai tadi, sambil melihat kondisinya.
"Saya tidak apa-apa, Pak. Hanya sedikit lecet-lecet saja, diobati sedikit saja sudah sembuh," jawab pegawai pria itu, sambil memperlihatkan beberapa lecet di tangan dan kakinya.
Ya, karena kejadian kilat itu, seketika membuat jalanan macet dan akan semakin panjang bila tidak cepat diuraikan.
Ada pula orang yang membantu Keenan, mengambil barang belanjaannya yang berserakan di jalan.
Keenan mengangguk, dia menunjuk satu orang untuk membantu pegawai hotel itu ke pingir jalan, sedangkan dirinya kembali menghampiri Riska.
"Ayo, kita istirahat di sana dulu," ujar Keenan, sambil menunjuk sebuah mini market, tempat mobilnya terparkir.
Riska mengangguk, dia merasa seluruh tubuhnya kaku seakan sulit untuk digerakan, dikarenakan terlalu terkejut.
Keenan membantu istrinya untuk berjalan ke tempat itu, dia kemudian mendudukan Riska di depan mini market itu.
"Ini barang belanjaannya, Pak," ujar salah satu orang yang membantu menolong Keenan.
"Terima kasih," jawab Keenan, sambil melihat orang itu sekilas dan kembali fokus pada Riska.
"Aku belikan minum dulu ya," ujar Keenan sambil mengusap bulir keringat yang keluar di sekitar dahi istrinya.
Riska mengangguk, dia masih terlalu sulit untuk mengendalikan diri, hingga tak bisa mengeluarkan suara.
"Ya Allah, terima kasih Engkau masih menyelamatkan kami dari mara bahaya," lirih Riska, mengingat kejadian singkat yang terjadi beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Dirinya bahkan tak menyadari keberadaan motor yang menyerempetnya. Kalau saja saat itu tidak ada Keenan di sisinya, entahlah apa yang terjadi padanya.
Ya, Keenan yang lebih waspada saat kejadian itu langsung merangkul Riska dan membawanya menghindar, hingga akhirnya mereka selamat tanpa ada yang terluka.
Namun, pegawai hotel yang tidak sempat menghindar, harus terjatuh hingga terkena luka di beberapa bagian tubuhnya, karena terserempet motor ugal-ugalan itu.
Riska melihat pegawai itu, yang duduk di depannya, dia menatap miris dengan kondisinya saat ini.
"Sayang, kenapa kamu liatin dia?" tanya Keenan, begitu dia menghampiri istrinya.
Keenan menaruh dua botol air mnum dan obat-obatan pertolongan pertama untuk pegawai hotel.
"Abang!" tegur Riska, menatap Keenan tidak suka.
Ayolah, mereka bru saja hampir kecelakaan dan suaminya malah cemburu buta hanya karena dia melihat pegawai hotel yang terluka saja.
Keenan tersenyum, dia memang tak bisa menahan rasa cemburunya bila sedang berada di dekat istrinya itu.
"Minum dulu, biar kamu merasa lebih tenang," ujar Keenan sambil menyodorkan air minum botol itu yang sudah dibuka terlebih dahulu.
Riska mengambilnya dan meminumnya untuk meredam rasa haus dan tenggorokannya yan tiba-tiba saja kering.
Setelah Riska, Keenan pun ikut minum dari botol yang sama dengan Riska.
Sedangkan botol yang satunya lagi diberikan pada pegawai hotel tadi.
Keenan pun menelepon pihak hotel untuk mengirim seseorang yang akan membawa mereka kembali ke hotel.
"Ya, karena kejadian itu, Keenan memutuskan untuk kembali ke hotel dan menenangkan diri dulu, sebelum nanti sore harus kembali ke ibu kota.
Beberapa saat menunggu, banuan yang dikirim oleh hotel sudah datang, mereka mengirim dua orang pegawai.
"Kamu antar rekanmu, berobat dan bawa pulang ke rumahnya bila tidak perlu dirawat inap," tujunjuk Keenan pada slah satu di antara dua orang yang datang.
"Baik, Pak."
"Kamu, tolong antar aku dan istriku ke hotel, lalu carikan oleh-oleh makanan khas Bali yang bisa kami bawa pulang." Keenan kembali berucap.
Akhirnya, acara jalan-jalan dan berburu oleh-oleh pun berakhir dengan kejadian kurang menyenangkan.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1