
...Happy Reading ...
...❤...
Sampai di dalam, Riska melihat mobil Keenan yang perlahan meninggalkan pekarangan rumahnya, dia baru saja menutup lagi gorden saat suara ibunya terdengar di belakang.
“Kamu baru pulang, Nak?” tanya ibunya Riska, dia berdiri di depan pintu kamar.
Riska membalikkan badan melihat ke arah sang ibu, senyum ceria langsung menghias wajahnya. “Iya, Bu. Ibu belum tidur? Gimana Rio, apa panasnya udah turun?” ujar Riska.
“Sudah, tadi ibu hanya kebangun saat dengar ada kendaraan yang berhenti di depan. Rio juga sudah lebih baik kok, panasnya sudah turun sejak sore ... kamu tenang aja,” jawab wanita paruh baya itu.
“Kamu pulang sama siapa, Nak? Ini sudah malam sekali?” tanyanya lagi.
“Syukurlah, kalau dia sudah mendingan. Aku diantar sama adik iparnya Mba Ayu, Bu,” jawab Riska.
“Kamu cepat istirahat sana, besok bukannya harus ke butik?”
“Iya, Bu. Aku mau liat Rio dulu, nanti aku langsung istirahat kok,” jawab Riska, kemudian masuk ke dalam kamar sang adik, setelah melihat anggukkan kepala ibunya.
Lampu temaram yang menyinari kamar berukuran tiga meter persegi itu, menyambut Riska begitu dia masuk ke dalam kamar sang adik.
Terlihat Rio sedang tertidur miring menghadap ke arahnya, selimutnya sudah turun sampai ke bagian pinggang, kipas angin kecil sebagai alat pendingin di tengah hawa panas perkotaan, berputar menyejukkan ruangan.
Perlahan Riska menghampiri Rio, punggung tangannya ia tempelkan di kening, mengukur suhu tubuh adiknya itu.
“Kak, baru pulang?” gumam Rio, dengan mata masih terpejam.
“Hem, kamu tidur lagi aja ... Kakak cuma mau liat kamu aja,” jawabnya lirih. Membetulkan selimut tipis yang membungkus tubuh adiknya, lalu kembali keluar.
Sikap lembut yang hanya terlihat saat berada di situasi tertentu itu, yang tak banyak diketahui oleh banyak orang. Perannya sebagai anak pertama sekaligus tulang punggung keluarga, memaksanya untuk terlihat kuat dan ceria demi menjaga perasaan ibu dan adiknya.
Walaupun ibunya masih bisa bekerja sebagai penjahit baju di butik Ayu, tetapi gajinya tak sebesar dirinya, ditambah setelah mengalami kecelakaan waktu itu, kakinya tak bisa lagi digunakan cukup lama, hingga sekarang dia hanya bisa bekerja setengah hari.
Sampai di kamar, Riska langsung menjatuhkan badannya pada tempat tidur berukuran kecil itu, kipas angin kecil sudah dinyalakan sewaktu dia melewatinya. Lelah yang menderanya membuat gadis itu tak menunggu lama untuk terlelap.
.
__ADS_1
Di tempat lain, Keenan baru saja sampai di apartemennya, dia lebih memilih beristirahat di sana, di bandingkan dengan pulang lagi ke rumah sang kakak, atau ke rumah kedua orang tuanya.
Berjalan menuju kulkas yang berada di bagian dapur, dia mengambil minuman dingin lalu duduk di kursi mini bar.
Klak
Suara dari pembuka kaleng minuman soda itu terdengar, diiringi dengan desis yang keluar.
Glek
Jalan di leher Keenan terlihat naik turun saat dia menenggak minuman itu. Terasa begitu segar, walau itu hanya sekilas lalu berlalu, dengan meninggalkan rasa manis di ujung lidah.
Bayangannya kembali pada sosok gadis yang baru saja dia antarkan pulang, gadis cerewet dan menyebalkan yang sayangnya selalu mengganggu pikirannya.
Hufth.
Helaan napas kasar terdengar, Keenan menurunkan pandangannya pada kaleng minuman bersoda itu, memainkannya dengan cara memutarnya. Pikirannya berkelana jauh, menelaah rasa di hati yang masih saja menyelipkan satu nama.
Sudah bertahun berlalu, tanpa kehadirannya, seharusnya dia sudah melupakan. Akan tetapi, kenapa itu terasa begitu sulit, saat dia tak kunjung mendapat jawaban dari pertanyaannya.
Hatinya masih terpaut, mengunci satu nama yang tak bisa ia buka sendiri. Walau akal sehat selalu mengingatkan, agar dia bersiap menghadapi kenyataan yang menyakitkan suatu hari nanti.
Bayangan wajah tenang Riska tiba-tiba terlintas, membuyarkan semua angan yang sedang melayang.
Salah satu ujung bibirnya terlihat naik. “Kenapa dia malah muncul saat aku memikirkan Luna?” gumamnya.
Minuman telah habis, dengan hari yang mulai beranjak pagi, Keenan baru saja berjalan masuk ke dalam kamar, berniat untuk beristirahat dari sebentar, sebelum kembali pada rutinitasnya esok hari.
.
Sudah dua hari ini Ezra berada di luar kota bersama dengan Keenan, karena ada masalah dengan bengkel yang berada di sana. Maka dari itu, kini Ayu dan Naura hanya berdua saja di dalam toko buku besar itu.
“Sudah semuanya, sayang?” tanya Ayu, sambil mengecek kembali barang belanja mereka.
“Tinggal lem kertas sama tali pita, Mah,” jawab Naura, sambil melihat daftar list yang diberikan oleh guru di kelasnya.
Keduanya kini kembali berkeliling, mencari tempat barang yang mereka cari, Ayu pun memilih bertanya pada salah satu petugas yang berkeliling.
Kehamilannya yang sudah menginjak usia delapan bulan, tak membuatnya merasa berat atau menghalangi gerakannya, walau terkadang di sore hari barulah terasa pegal di tubuhnya, terutama kaki dan pinggang.
Setelah membayar di kasir, keduanya memutuskan untuk mampir sebentar di salah satu restoran makanan saji makan siang.
“Ayu, akhirnya aku bisa bertemu denganmu?” seorang lelaki terlihat berdiri di samping meja Ayu dan Naura.
Kedua perempuan berbeda usia itu langsung mengalihkan pandangannya pada sosok lelaki itu. Mata Ayu mengernyit, begitu ia dapat melihat wajah seseorang yang sudah begitu lama tak pernah ia lihat lagi.
Ayu memperhatikan penampilan lelaki itu yang tampak seperti seorang karyawan biasa. Bahkan dengan nampan yang dibawanya sekarang, menegaskan kalau Radit adalah seorang pelayanan di restoran cepat saji itu.
__ADS_1
“Bang Radit?” lirihnya, setelah bisa mengendalikan dirinya.
“Ya ... ini aku, Ay! Kamu apa kabar?” tanya sosok yang tak lain adalah Radit. Dia menaruh makanan pesanan Ayu dan Naura di atas meja.
Naura menatap Radit dengan tidak suka, sikap Radit yang terlihat akrab dengan Ayu membuatnya merasa tidak nyaman.
“Aku baik,” angguk Ayu. Melintas gelaran anak sambungnya yang sudah mulai merajuk, Ayu memilih memutuskan perbincangan dengan mantan suaminya itu.
“Terima kasih. Maaf kami berdua mau makan dulu,” ujar Ayu lagi, saat melihat Radit hendak membuka mulutnya lagi.
“Ah iya, selamat menikmati,” ujar Radit, tampak kikuk saat menyadari posisinya.
“Ayo kita makan sayang, Mama sudah lapar banget nih,” ujar Ayu, sambil menyiapkan makanan untuk akan sambungnya.
“Itu siapa, Mah? Sok kenal banget sih!” gerutu Naura. Umurnya yang semakin besar membuat anak itu tak gampang menerima orang baru di kehidupannya. Apa lagi dia sering mendengar orang-orang yang membicarakan Ayu dan meragukan kasih sayang ibu sambungnya itu kepadanya.
“Dia teman lama Mama, biarkan saja, mungkin dia hanya sekedar menyapa,” jawab Ayu. Dia bahkan tak memperhatikan Radit setelah lelaki itu pergi dari dekatnya.
Naura dan Ayu kini maka dengan suasana tenang, setelah drama pertemuan dengan Radit, Ayu berusaha menutupi rasa tidak nyamannya saat ujung matanya melihat Radit yang masih saja memperhatikan dirinya.
Diam-diam Ayu mengirim pesan kepada Gino, agar menyusulnya ke dalam restoran. Dia merasa tidak tenang saat melihat senyum di wajah mantan suaminya itu.
Gino yang berada di dalam mobil langsung masuk ke pusat perbelanjaan, tempat Ayu dia Naura berada, sesaat setelah menerima pesan dari majikannya.
Dia berkeliling mencari letak keberadaan kedua orang yang dipercayakan untuk ia jaga oleh Ezra. Hingga akhirnya dia melihat kedua orang itu dari arah luar, pandangannya kemudian tertuju pada sosok orang yang dilarang keras untuk dekat dengan Ayu oleh Ezra.
“Bukannya itu mantan suaminya ibu?” gumam Gino pada dirinya sendiri. Dengan langkah sedikit tergesa dia berjalan masuk, menghampiri keberadaan dua perempuan itu.
“Bu,” panggil Gino, begitu sampai di dekat Ayu dan Naura.
Ayu langsung bernapas lega, saat melihat sopir sekaligus bodyguardnya itu berada di dekatnya.
“Kamu duduk di sini, kita makan bareng,” perintah Ayu, sebenarnya dia hanya sedikit takut dengan keberadaan Radit di sana.
Kondisi kehamilannya yang sudah membesar, jelas saja akan menghalangi setiap pergerakannya, jika nanti terjadi apa-apa. Tidak mungkin kan dia berlari sambil menyeret Naura dan membawa semua belanjaannya, dalam kondisi seperti ini.
Ayu menggeleng kepala samar, saat pikiran buruknya tiba-tiba terlintas. Entah kenapa perasaan sensitif yang ia alami semakin menjadi saat kehamilannya bertambah besar.
Gino yang melihat wajah gusar Ayu, langsung mengangguk. “Biar saya pesan dulu,” jawab Gino kemudian.
“Tidak usah, aku pesan makanan lebih, kamu makan ini saja,” cegah Ayu, dia menggeser salah satu menu yang belum tersentuh sama sekali.
“Baik, Bu. Terima kasih,” ucapnya, menarik kursi yang berada di meja sebelah, lalu duduk bergabung dengan Ayu.
...🌿...
Selamat menunaikan ibadah puasa, bagi yang menjalankannya🙏🥰❤❤
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...