Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.211 Adik


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ayu kembali menatap wajah suaminya lalu beralih melihat tirai panjang di depannya.


Menghirup napas panjang lalu menghembuskannya, sebelum akhirnya tangannya menarik tali di yang diberikan oleh suaminya itu.


Ayu menatap Ezra dengan rasa tidak percaya di dalam dirinya.


"Mas, ini?" Ayu bahkan tak bisa berkata-kata.


Ezra tampak tersenyum sambil menganggukkan kepala, seakan memberi keyakinan kepada istrinya, bahwa semua yang ia lihat itu adalah benar adanya.


"Lift?" Ayu berujar dengan rasa terkejutnya.


"Ya, ini memang lift pribadi untuk kita," ujar Ezra.


"Tapi, bagaimana bisa, Mas. Ini semua, dalam tiga hari?"


Ayu bahkan merasa seperti mimpi, tiga hari yang lalu bahkan tidak ada tanda-tanda akan melakukan renovasi.


Namun, kini dia bisa melihat, sebuah lift telah berdiri di depannya dengan sempurna, tanpa ada kekurangan sedikit pun.


"Ya, sebenarnya ini semua aku siapkan jauh-jauh hari, untuk menyambut kelahiran purta kita. Juga untuk kembalinya kamu ke rumah kita ini. Hanya saja, pengerjaannya, dimulai saat kamu masuk rumah sakit," ujar Ezra.


"Mulai sekarang, kamu hanya boleh turun naik menggunakan lift. Aku tidak mau kamu sampai kecapean karena mengurus dua anak kita."


Ezra memberikan ultimatum kepada Ayu.


Senyum Ayu semakin mengembang, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, hampir saja menumpahkan airmata.


"Mas."


Ayu menghambur pada pelukan suaminya, menyembunyikan air mata kebahagiaan di dada bidang suaminya.


Dia tak pernah menyangka akan diperlakukan begitu spesial oleh suaminya, dengan semua kejutan dan perlakuan lembut yang selalu membuatnya merasa semakin dihargai dan disayangi.


"Ssshh .... " Ezra mendekap tubuh bergetar istrinya, berusaha menenangkan wanita yang baru saja melahirkan itu.


"Terima kasih," lirih Ayu.


"Ini adalah kewajibanku sebagai seorang suami, sayang. Memastikan kebahagiaan dan kenyamanan untuk seorang istri, adalah salah satu dari kewajiban seorang suami ... dan aku hanya mencoba melakukan semua itu."


Ezra berkata lembut, untuk membuat Ayu tak merasa merepotkannya.

__ADS_1


"Ayo, sekarang kita naik ke atas. Aku masih mempunyai kejutan lainnya," ujar Ezra, mengeluarkan kartu akses untuk lift khusus itu.


Ayu, Ezra dan Bi Yati yang menggendong Baby Zain, masuk ke dalam lift.


Hanya membutuhkan beberapa detik saja, untuk pintu lift itu kembali terbuka di lantai dua, kediaman Ayu dan Ezra.


Ezra kembali membawa Ayu pada salah satu pintu yang berada di ruangan itu.


Ayu kembali mengernyit, saat ini bukanlah pintu ke kamar mereka.


"Mas, ini kan ruang kerja?" tanya Ayu, dia kembali dibuat bingung oleh suaminya.


"Coba kamu buka dulu, pintunya," ujar Ezra.


Kali ini Ayu tak lagi ragu, dia bahkan penasaran dengan apa yang terjadi di dalam sana, setelah kejutan yang baru saja terjadi.


Perlahan Ayu meraih gagang pintu dan membukanya, dan?


"SELAMAT DATANG BABY ZAIN DAN MAMA NINDI!"


Ayu menutup mulutnya dengan kedua tangan, terkejut dengan apa yang ada di dalam sana.


Semua keluarga dan pegawai butik ada di sana, tersneyum bahagia menyambut kedatangan Ayu dan Baby Zain dengan dandanan yang meriah.


Ruangan yang tadinya diperuntukan ruang kerja Ezra kini telah berubah menjadi kamar bayi bernuansa biru dan putih.


Dekorasi yang dipenuhi dengan berbagai macam balon berwarna biru, juga mainan khas anak lelaki itu, terlihat begitu indah.


"Selamat datang, sayang," ujar Ezra memberikan bunga itu pada sang istri.


"Terima kasih, Mas. Terima kasih," ujar Ayu berulang, dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Sepertinya menjadi ibu, cukup membuat Ayu menjadi lebih sensitif dibandingkan dengan sebelumnya.


Ezra memeluk Ayu sekilas, karena di sana masih banyak orang yang ingin berbicara dengan istrinya itu.


"Yeay, Baby Zain sama Mama udah pulang!" Naura tampak bersorak gembira dengan kepulangan ibu dan adiknya dari rumah sakit.


"Aku mau liat Baby Zain ... aku mau liat Baby Zain!" ujar Naura dan Bian yang saat itu juga ada di sana.


Dua anak itu tampak melompat-lompat di samping Nanwang, yang kini sedang menggendong Zain.


"Iya, iya ... ayo kita duduk dulu, biar kalian lebih mudah untuk melihat Zain," ajak Nawang, kepada dua anak kecil itu.


Naura dan Bian pun akhirnya mengikuti langkah Nawang menuju sofa yang berada di kamar itu.


"Bagaimana kabar kamu, Ndi?" tanya Elena setelah berpelukan sekilas dengan adik iparnya itu.

__ADS_1


"Alhamdulilah, aku baik, Kak. Kakak bagimana?" tanya Ayu.


"Syukurlah, sekarang ini kamu sedang masa pemulihan, jadi tidak boleh terlalu cape dulu, ya," nasihat Elena.


"Iya, Kak," angguk Ayu.


"Mommy, aku mau adik kayak Baby Zain!" tiba-tiba terdengar teriakan Bian yang membuat hampir semua orang di dalam ruangan itu terkejut.


" Tuh, Kak ... Bian udah nagih pengen dikasih adik," ujar Ayu, menggoda kakak iparnya itu.


"Ish, kamu itu gak usah ikut-ikutan sama kakak kamu itu deh," gerutu Elena.


Dia memang masih belum berniat memberi Bian adik, karena lumayan trauma sama masa morning sickneess yang lumayan parah waktu mengandung Bian.


Namun, sepertinya akhir-akhir ini dia sudah mulai mempersiapkan kesehatannya untuk mengandung untuk yang kedua kalinya.


"Lebih baik dipercepat, Kak. Agar anak kita seumuran lagi. Naura kan seumuran sama Bian, nah sekarang giliran Zain juga gak beda jauh sama adiknya Bian." Ayu mulai menghasut kakak iparnya itu.


"Hem, iya juga ya, biar nanti kita bisa ketemu di sekolah setiap hari lagi," ujar Elena, yang langsung diangguki oleh Ayu.


Melihat para wanita mulai asik dnegan perbincangnnya masing-masing, Ezra memilih untuk memisahkan diri dan keluar dari ruangan itu, bersama para lelaki lainnya di ruang tengah.


Sedangkan para perempuan kini masih memenuhi kamar bayi itu, dengan Baby Zain dan Ayu sebagai pusat perhatian.


Waktu berjalan dengan begitu cepat, sebagian orang kini sudah berpamitan pulang, hingga kini, di sana hanya tinggal keluarga inti dua keluarga itu.


Ayu menidurkan Zain di tempat tidur, setelah anak lelakinya itu dalam keadaan pulas.


Setelah memastikan kenyamanan anaknya, Ayu berbalik dan duduk di sofa yang masih terdapat di kamar bayi itu.


Nawang dan yang lainnya sudah keluar sejak beberapa saat yang lalu, sedangkan Riska memilih untuk menemani bos sekaligus kakak iparnya itu.


"Ada apa, Ris?" tanya Ayu, begitu dia duduk di samping Riska.


"Mba, aku mau tanya sesuatu soal masa lalu, Abang," ujar Riska, dengan suara lirih dan terdengar sedikit bergetar.


"Masa lalu apa, Ris? Kalau aku tau pasti aku akan menjawab pertanyaan kamu." Ayu kini memilih sedikit memiringkan duduknya, untuk bisa melihat Riska dengan lebih jelas.


"Eumh, ini ... ini tentang Luna."


...🌿...


Ada apa lagi sama Riska ya? Kenapa dia masih bertanya tentang Luna pada Ayu?


...Komen👍...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...



__ADS_2