
...Happy Reading...
...❤...
Siang ini terasa sangat terik, Ayu menghentikan laju mobilnya di sebuah rumah sederhana dua lantai yang terlihat Asri dan nyaman untuk di tinggali.
" Selamat siang Bu Ayu " sapaan yang terdengar sopan dari lelaki paruh baya di hadapan nya membuat senyum Ayu mengembang.
" Selamat siang Pak "
" Saya Anto Bu, yang bertugas menjaga rumah ini dan di percaya untuk mencari pembeli, sebentar lagi juga ada pengacara kepercayaan orang yang mempunyai rumah, dia akan mendampingi Ibu " lelaki paruh baya itu menjelaskan panjang lebar.
" Mari Bu, tunggu di dalam saja " sambungnya lagi memberikan jalan kepada Ayu untuk masuk ke dalam halaman rumah.
" Saya tunggu di sini saja ya Pak " Ayu menolak untuk masuk ke dalam rumah.
Tidak lama kemudian Ayu, Anto dan satu orang perempuan sebagai pengacara keluarga yang mempunyai rumah itu sudah berada di dalam rumah.
Ayu berkeliling melihat kondisi dan suasana rumah.
" Saya suka dengan rumah ini, terasa hangat dan sejuk oleh berbagai tanaman "
Sekarang mereka bertiga sudah duduk di ruang keluarga di rumah itu.
" Baiklah, kalau begitu kapan kita bisa mengurus semua prosedur jual beli rumah ini ?" tanya Ayu, setelah mendapat penjelasan dari kedua orang di hadapannya.
" Besok siang, saya pastikan semua syarat dan kebutuhan berkata jual beli sudah siap " ucap Wanita berumur sekitar tiga puluh lima tahun di depannya saat ini.
" Baiklah, saya tunggu kabar baiknya " Ayu bersalaman sebelum pamit.
Setelah mengajukan gugatan beberapa minggu yang lalu, Ayu memutuskan untuk pindah dari rumahnya yang sekarang.
Terlalu banyak kenangan bersama Radit dan Mala di sana.
Ayu ingin memulai hidup baru dengan suasana baru dan melupakan semua masa lalu yang menyakitkan.
Sejak saat itu, Ayu mencoba mencari rumah baru yang sesuai dengan keinginannya.
Rumah sederhana namun nyaman untuk dirinya tinggali seorang diri.
Kemarin, tak sengaja Ayu melihat sebuah iklan rumah yang akan di jual, tidak jauh dari lokasi butik nya.
Ayu langsung menghubungi nomor yang tertera di sana.
Akhirnya dengan terpaksa Ayu harus memakai uang tabungannya untuk mengembangkan butik.
Ya... Ayu sebenarnya mempunyai rencana untuk membuka cabang di salah satu kota besar, namun sepertinya semua itu harus ia tunda dulu.
Karena uang tabungannya harus ia pakai untuk membeli rumah kembali.
__ADS_1
Hufth....
Ayu membuang napasnya kasar, sebelum keluar dari dalam mobil.
" Aunty...!" Teriakan dua orang anak kecil yang menyambut kedatangannya membuat Ayu terkejut.
" Eh, kok kalian ada di sini, sama siapa ?" tanya Ayu pada dua anak yang sudah ada di dalam pelukan nya.
" Sama Nenek, tuh " tunjuk Naura pada seorang perempuan paruh baya yang sedang duduk di kursi tunggu.
" Bu Nawang, kenapa tidak mengabari aku dulu kalau mau main ke butik ?"
" Maaf, tadi aku ada keperluan sebentar di luar, jadi Ibu harus menunggu " ucap Ayu sopan sambil melakukan cipika-cipiki dengan Nenek Naura.
" Gak papa Yu, Ibu juga gak sengaja kok mampir, tadi kebetulan lewat sini, eh dua anak kecil itu maksa buat mampir. Katanya kangen sama Aunty nya " jelas Bu Nawang.
" Oh, jadi ganteng sama cantiknya Aunty ini pada kangen sama Aunty, hm ?" Ayu beralih kembali pada Naura da Bian.
Kedua anak di hadapan Ayu itu mengangguk ribut, meng-iyakan perkataan Ayu.
" Baiklah, sekarang kalian mau main ke mana ? Aunty temani "
" Beneran Aunty mau temenin kita main?" tanya antusias Bian.
" Iya, Ayo kita main sepuasnya " ucap Ayu tak kalah semangat.
" Kita mau ke mall yang banyak mainan yang itu Aunty, pasti di sana seru deh "
" Oke, kalau gitu izin dulu sama Nenek "
" Andaikan saja dia belum mempunyai suami, mungkin aku sudah menjadikannya menantuku " gumam Bu Nawang di dalam hati.
" Nenek, boleh ya kita main sama Aunty ?" Naura bertanya pada sang Nenek.
Anggukan dari Bu Nawang membuat kedua anak kecil itu berjingkrak riang.
" Hore... main sama Aunty..!" sorak gembira Naura dan Bian.
Empat puluh lima menit kemudian Ayu, Bu Nawang dan dua anak kecil yang tak pernah melepaskan tangan mereka dari Ayu, sudah sampai di lobby sebuah mall besar.
" Ayo cepat Aunty...!" teriak Naura semangat, menarik tangan Ayu agar berjalan lebih cepat.
" Iya-iya sayang " Ayu berjalan lebih cepat setelah mendapat anggukan dari Bu Nawang.
Mereka langsung menuju tempat berbagai jenis permainan yang terdapat di sana.
Selama satu jam Ayu, Naura dan Bian bermain hingga akhirnya mereka memilih untuk duduk di salah satu kursi di depan kedai es krim, sambil menunggu Bu Nawang yang sedang pergi ke toilet.
Di tangan mereka masing-masing memegang satu cup es krim.
" Bian, kamu ngapain di sini ?" Suara seseorang mengalihkan perhatian Ayu dari dua anak di sampingnya itu.
Seorang gadis remaja, terlihat menatap penuh selidik kepadanya.
__ADS_1
" Kamu siapa, kenapa bisa bersama dengan keponakan aku ?" gadis remaja itu berucap cukup keras dengan tatapan curiga pada Ayu.
Ayu melihat ketiga orang remaja yang menatapnya tajam.
" Kak Melati " Ayu melihat Bian yang memanggil remaja itu dengan sebutan Kakak.
" Bian kenal Kakak itu sayang ?" tanya Ayu mengusap puncak kepala anak di sampingnya itu.
" Jangan pegang keponakan aku !" sentak remaja yang di panggil melati oleh Bian sambil menarik Bian ke sisinya, sampai es krim di tangan lelaki kecil itu jatuh.
" Kakak es krim aku jatuh " rajuk Bian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Nanti Kakak belikan lagi, kamu cengeng sekali sih. Ayo ikut kakak pulang, ngapain kamu main sama orang yang gak di kenal " omel remaja tadi menarik tangan Bian dengan kuat.
Ayu langsung memegang pergelangan tangan remaja tadi.
" Jangan berbuat kasar pada anak-anak, aku membawanya bermain karena sudah mendapatkan izin " ucap Ayu masih mempertahankan wajah ramah nya, walau dalam hati dia sangat tidak suka perlakuan kasar remaja tadi pada Bian.
Bian langsung berlindung di belakang Ayu dengan ketakutan.
" Kak Melati, Bian pergi sama Rara, tadi juga ada Nenek tapi sekarang lagi ke toilet " ucap Rara menjelaskan kepada perempuan di depannya.
" Kamu dengar sendiri kan? Seorang anak kecil tidak akan berbohong " Ayu menaikkan satu alisnya kepada Melati.
Melati menghempaskan tangan Ayu cukup kencang sampai genggaman Ayu terlepas.
" Eh, Melati, kamu juga di sini?" Bu Nawang yang baru saja kembali dari toilet menghampiri mereka dengan senyum mengembang.
" Eh, Tante Nawang, iya Tante, kebetulan aku lagi maen sama temen " nada suara remaja tadi berubah lembut dengan wajah yang sangat ramah.
Berbeda sekali dengan saat dia melihat Ayu tadi.
Ayu hanya tersenyum kecut, sudah terbiasa dengan perlakuan para orang kaya padanya saat pertama kali melihat penampilan dirinya yang sederhana.
...Penampilan Ayu...
...🌿...
...🌿...
...🌿...
Sambil nungguin aku up lagi, coba baca karya Kak Nophie yang berjudul Berbagi cinta: Pengkhiantan.
Ceritanya bagus dan tulisannya juga rapih, pasti gak bakal nyesel.
kalau kalian penasaran sama ceritanya mampir ya, dan jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, vote dan hadiah.
Eh jangan lupa kasih rate bintang lima ok...
__ADS_1
terima kasih kakak-kakak baik hati 🥰