Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.192 Panik


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Hari sudah beranjak sore, Ayu yang harus menggantikan Riska untuk pergi ke butik, baru saja bisa mengirup napas lega, setelah menghadapi Beberapa orang klien yang mau memesan berbagai macam baju.


Mengusap pinggang yang terasa panas, dengan sedikit ringisan di bibirnya.


"Apa aku teralu capek, ya? Kenapa rasanya lelah sekali?" gumam Ayu, sambil terus mengelus pinggangnya.


Biasanya Ezra akan menungguinya dan memberinya peringatan jika dia sudah terlalu terlena dengan pekerjaannya.


Namun, kali ini Ezra tidak ada di sana, karena terpaksa harus menggantikan Keenan memenuhi janji yang sudah terlanjur dibuat, bersama beberapa klien.


"Maaf, sayang ... Mama buat kamu gak nyaman, ya," ujar Ayu sambil mengusap pelan perutnya yang terasa kencang.


Hembusan napas panjang, berulang kali dia lakukan untuk meredam rasa tidak nyaman, lengannya tak henti mengusap perutnya, berharap sebentar lagi semua rasa itu sudah menghilang.


Ketukan di pintu membuat Ayu kembali menegakkan tubuhnya. Tak berapa lama, Sekar masuk ke dalam.


"Ada apa, Sekar?" tanya Ayu.


"Sudah waktunya tutup, Mba," jawab Sekar.


"Ah, tutup aja dulu ... Mba mau istirahat sambil nungguin Mas Ezra," ujar Ayu.


"Baik, Mba," jawab Sekar, dia langsung kembali ke luar dan bersiap untuk menutup butik.


Sedangkan Ayu, beralih duduk di atas sofa, dia menaikan kedua kakaknya lurus di atas sofa, tubuhnya ia sandarkan dengan banyak sebagai ganjalan di bagian pinggang. Berusaha mencari tempat yang nyaman, sambil menunggu kedua karyawannya benar-benar selesai menutup butik.


Memejamkan mata, berusaha menenangkan diri dan menahan rasa yang terasa smakin mengganggunya.


"Sayang, kamu kenapa, Nak? Sayang, marah sama Mama, ya ... karena Mama terlalu lama bekerja?" gumam Ayu sambil terus mengelus perutnya.


Beberapa saat kemudian Sekar dan Wanda datang kembali ke ruangan Ayu, mereka melaporkan kalau butik sudah ditutup, sekalian mau berpamitan untuk pulang lebih dulu.


Namun, mereka berdua jadi ragu untuk meninggalkan Ayu, saat melihat wajah bosnya itu sudah sedikit pucat.


"Mba, gak apa-apa kita tinggal pulang di sini?" tanya Sekar, saat mereka baru saja mengungkapkan niatnya untuk pulang.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku cuman sedikit lelah saja, dibawa istirahat sebentar juga pasti akan lebih baik. Kalian pulang saja duluan, sebentar lagi pasti Mas Ezra juga datang," ujar Ayu, dengan senyum di wajahnya.


Kedua orang itu saling menatap, sebelum akhirnya mereka terpaksa harus meninggalkan Ayu, karena memang ada acara lain lagi setelah dari butik.


Ayu masuk ke dalam ruang istirahatnya, sambil berusaha menghubungi Ezra, hinga beberapa saat kemudian suaminya itu sudha mengangkat teleponnya.


"Sayang, maaf, sepertinya aku datang terlambat. Aku terjebak macet di jalan, setelah menghadiri rapat di luar kantor," ujar Ezra.


Lelaki itu bahkan langsung menjelaskan sebelum Ayu mempunyai kesempatan untuk membuka suara.


"Ya sudah, gak apa-apa. Aku tunggu, Mas, di ruang istirahat saja, ya. Mas, bawa kunci butik, 'kan?" tanya Ayu, samabil merebahkan diri di atas tempat tidur.


"Iya, nanti aku masuk. Kamu istirahat saja dulu, aku akan berusaha sampai secepatnya," jawab Ezra.


"Heem. Mas, hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut," ujar Ayu.


"Iya, aku tau," jawab Ezra, sebelum menutup teleponnya.


Setelah sambungan terputus, Ezra langsung menghidupkan map di ponselnya, mencari jalan pintas untuk segera sampai ke butik istrinya.


Suara Ayu yang terdengar lemah, membuat perasaannya tidak tenang.


Sementara itu, Ayu berusaha menutup matanya, walau rasa tidak nyaman terus mengganggunya yang mulai terlelap, hingga dirinya terus tersandar kembali.


Ayu terbangun dan berjalan ke kamar mandi, saat rasa ingin buang air besar terasa begitu mendesaknya. Akan tetapi, setelah lebih dari lima menit dia ada di sana, belum juga ada yang keluar.


"Astagfirullah, kenapa perut aku mulas begini?" keluh Ayu, menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, setelah keluar dari kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, Ayu terlihat kembali berjalan ke kamar mandi saat rasa mulas kembali begitu terasa mendesaknya. Akan tetapi, beberapa saat kemudian Ayu sudah terlihat keluar kembali dengan wajah yang semakin pucat.


Di sisi lain, Ezra baru saja berhenti di pelataran butik, dia langsung masuk ke dalam dengan sangat tergesa-gesa, dia bahkan tak menghiraukan keberadaan Gino dan beberapa pengawal bayangan Ayu yang hendak menyapanya.


Sampai di dalam dia langsung berlari menuju ruangan sang istri dan membuka pintu kamar istirahat yang ada di sana. Matanya langsung melebar saat melihat Ayu yang baru saja keluar drai kamar mandi, dengan kondisi yang cukup membuatnya terkejut.


Wajah pucat dengan keringat yang menetes, hinga membasahi rambut juga keningnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ezra sambil berlari dan langsunng merengkuh tubuh ringkih sang istri.


Ezra membawa Ayu menuju ranjang dan membaringkannya di sana, raut wajah khawatir begitu terlihat dari lelaki itu. Keadaan Ayu yang tidak memakai krudung, membuat Ezra bisa melihat sendiri, betapa banyaknya keringat di tubuh istrinya itu.


Ayu tak menjawab pertanyaan Ezra, dia hanya menggeleng samar, sambil terus mengatur napasnya.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit sekarang!"putusnya, sambil mengambil jilbab bergo dan baju untuk sang istri.


"Aku bantu ganti baju dulu," ucapnya, sambil membantu Ayu bangun.


"Aku bisa sendiri, Mas. Sakitnya sudah agak mendingan kok," tolak Ayu, saat Ezra mau membuka bajunya.


"Kamu diam saja, biar kali ini aku membantu kamu," ujar Ezra, dengan nada suara tak mau di bantah.


Ayu langsung terdiam dan memilih untuk menurut dengan sang suami, saat mendengar nada tegas Ezra. Dia memilih pasrah dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


Ezra menggantikan baju Ayu dan memasangkan hijab bergo dengan begitu telaten, dia juga mengelap tubuh Ayu terlebih dahulu, agar istrinya itu terasa nyaman.


"Ayo, kita berangkat sekarang," ujar Ezra, dengan tangan yang hendak menggendong Ayu.


"Tunggu, Mas. Sepertinya aku mau buang air besar lagi," ujar Ayu, dia hendak beranjak berdiri.


Ezra terdiam saat dia merasakan istrinya mencegkram bajunya, saat hendak menggendong Ayu.


"Biar aku bawa kamu ke kamar mandi," ujar Ezra sambil mengangkat istrinya.


"Mas, aku masih bisa sendiri," gumama Ayu.


"Tidak usah banyak protes," jawab Ezra, dengan nada rendah, akan tetapi, terdengar begitu menekan.


Bukan maksud Ezra, untuk berbicara seperti itu pada istrinya, hanya saja, rasa khawatir yang teramat sangat, membuatnya tak dapat mengontrol apa yang ada di dalam dirinya sendiri.


Ezra masih berdiri di depan Ayu saat istrinya itu, duduk di atas kloset dengan menahan rasa sakit yang terlihat begitu menyiksa. Ingin rasanya ia segera merengkuh wanita di depannya dan membawanya ke rumah sakit.


Ponselnya sudah berada di telinga untuk mengabarkan Gio untuk menyiapkan mobil di depan, dan memerintahkan lelaki itu mengemudikan mobilnya itu.


Beberapa saat menunggu, Ezra langsung merengkuh tubuh Ayu dan membawanya keluar dari butik, setelah melihat wajah sang istri yang tampak lebih tenang.


Para pengawal bayangan langsung bersiap saat melihat wajah panik bos besar mereka. Gio langsung membuka pintu belakang, untuk Ezra dan Ayu.


"Kita ke rumah sakit sekarang, cari jalan yang paling cepat!" ujar Ezra begitu Gino duduk di kursi kemudi.


"Baik, Pak.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2