
...Happy Reading...
.......❤.......
"Papah tunggu di sini saja, biar aku bawa dulu barangnya," ucap Ansel, setelah mereka sampai di ruang keluarga rumah Ayu.
Larry tampak menganggukan kepala lalu duduk di sofa yang ada di sana, pandangannya mengedar meneliti setiap sudut rumah sederhana yang terlihat sangat nyaman itu.
Pandangannya terpaku pada sebuah bingkai foto yang terlihat mengiasi dinding rumah itu.
Di sana terlihat potret dari seorang anak remaja dan perempuan paruh baya, yang sedang berpelukan di sebuah taman, dengan penuh bunga di sisi kanan dan kiri mereka.
Tatapannya terpaku pada wajah yang terlihat lebih tirus dari ingatan terakhirnya, senyumnya masih sama, namun di foto itu dia sudah berhijab.
"Puspa," gumam Larry dengan tatapan sendu.
Tangannya terulur hendak mengambil bingkai foto itu. Tetapi, kedatangan Bi Yati membuatnya mengurungkan niatnya.
"Tuan, ini minumnya," ucap Bi Yati.
"Terima kasih, Bi." Larry kembali berjalan menuju sofa.
Tak lama setelah itu, Ansel terlihat turun dari lantai atas dengan membawa beberapa kotak.
"Ini semua isinya kenangan keluarga kita, Pah. Kalau ini isinya buku harian sama foto kita semua."
Ansel meletakkan dua kotak di atas meja, tepat di hadapan Larry.
Perlahan Larry membuka salah satu kotak di hadapannya. Tangannya mengambil satu persatu barang di dalam sana.
Berbagai macam foto yang berisi kebahagiaan sebuah keluarga kecil langsung terlihat oleh indra penglihatannya.
"Kata mereka ingatan Papah terhenti pada saat aku berusia toga tahun 'kan? Itu berarti satu tahun sebelum Nindi dilahirkan."
Ansel membuka salah satu album foto khusus dirinya, sebelum Ayu lahir.
"Ingatan Papah hanya sampai saat ini 'kan?"
Ansel memperlihatkan foto pesta ulang tahun dirinya yang ke tiga.
Larry mengambil album yang sudah terlihat usang itu, dari tangan sang anak.
Tangannya meraba setiap momen yang tertangkap oleh lensa kamera.
"Di sana, aku gak pernah tau kalau ternyata aku masih punya kakek dan nenek dari Papah. Hidup kita juga baik-baik aja."
Ansel mulai bercerita lagi.
"Coba Papah buka yang ini."
Larry menerima sebuah Album foto lainnya yang berwarna merah muda.
__ADS_1
"Itu album khusus foto Nindi, dari awal ibu hamil," ucap Ansel.
Perlahan Larry membuka album foto di tangannya.
Halaman pertama adalah sebuah foto bayi baru lahir, dengan baju berwarna putih.
Dengan segenap kekutannya, Larry mencoba mengingat semua kejadian yang telah ia lupakan. Tetapi semua itu tidak pernah berhasil.
Membuka lembar berikutnya. Di sana terdapat banyak foto dirinya dan Puspa dengan perut yang mulai membesar.
Di setiap foto juga ada keterangan, seperti salah satu gambar yang menyita perhatiannya, itu adalah gambar dirinya yang sedang memeluk Puspa yang sedang hamil besar di atas tempat tidur.
Sepertinya saat itu dirinya baru saja bangun tidur, dan itu di ambil acak dari kamera ponsel.
Lembar ketiga, di sana adalah momen kelahiran Ayu, dari mulai kontraksi sampai akhirnya Ayu lahir semuanya ada.
Kembali, dirinya di buat terkejut ketika melihat hampir di semua momen itu hanya ada dia dan istrinya, yang terlihat selalu menebarkan senyum walau wajahnya terlihat pucat.
Di sana ada satu potret yang menyita perhatiannya, yaitu foto dirinya yang sedang memeluk Puspa dengan bayi mungil di pangkuannya.
Senyum bahagia terlihat jelas dari wajahnya, tak ada tanda-tanda pertengkaran di antara mereka.
'Dia anakku, anak kandungku,' gumam Larry dalam hati.
Lembar-lembar berikutnya bercerita tentang pertumbuhan Ayu dari mulai merangkak, berjalandan sebagainya.
Album foto itu bukan hanya dua, namun ada banyak lagi, semuanya seakan bercerita mewakili orang yang membuatnya.
Ya, dulu Puspa memang sangat suka dengan fotografi dan itu masih sangat di ingat oleh dirinya.
Ansel melihat jelas, tatapan sendu dan penuh kerinduan Larry saat melihat foto-foto di dalam album itu.
'Kamu memang bisa merasakan menjadi seorang ayah. Tapi, kamu tidak akan tau rasanya berada di posisi aku, Nak,' gumam Larry dalam hati.
Anak dan ayah itu baru keluar dari rumah Ayu setelah waktu beranjak siang.
Larry sama sekali tak berkata apa-apa setelah melihat semua foto yang di perhatikan Ansel, dia hanya diam dengan tatapan sendu.
Ansel sendiri kebingungan menghadapi sikap ayahnya yang seperti ini.
...❤...
Di tempat lain, Ayu sedang berjalan berdua bersama Bi Een, mereka hendak memetik sayuran di kebun yang terdapat di belakang rumah Bi Een.
Tiga hari berada di kampung ini dirinya merasa nyaman dan lebih tenang. Menikmati keindahan dan keramahan warga kampung, dengan udara yang sejuk cenderung dingin.
Selama di sini dia selalu di temani oleh Bi Een dan Mang Surip, walaupun ketika siang, Mang Surip akan tetap pergi ke sawah atau kebun.
"Ini rumah Bibi, Neng," kata Bi Yati, ketika mereka sudah sampai di sebuah halaman rumah sederhana.
Sekarang Bi Yati dan Mang Surip memanggil Ayu dengan sebutan Neng, karena Ayu yang risiko bila di panggil Non, oleh mereka berdua.
Terus berjalan ke belakang hingga sampai di sebuah kebun sayur yang terlihat lumayan luas.
__ADS_1
*gambar hanya pemanis ya*
"Wah ... bagus banget kebunnya, Bi." Mata Ayu berbinar indah, melihat pemandangan di depan matanya.
Berbagai tanaman sayur terdapat di sana, memanjakan indra penglihatannya.
"Iya, Neng. Ini anak Bibi yang buat, katanya biar bagus, gak kumuh," jawab Bik Yati.
"Sekarang anak Bibi kemana?" tanya Ayu.
Mereka terus berbincang sambil memetik sayuran, untuk stok di vila.
"Dia merantau ke kota, Neng. Kerja di tempatnya Den Ezra," jawab Bi Yati.
"Oh!" Ayu mengangguk-anggukan kepalanya sambil ber oh ria.
Setelah di rasa sayuran yang terkumpul sudah cukup, mereka memutuskan untuk kembali ke vila.
Ayu sempat mampir di rumah milik Bi Yati untuk beristirahat sejenak.
Di dalam perjalanan sesekali Bi Yati berhenti untuk berbincang bersama para warga, Ayu hanya mengikuti langkah wanita paruh baya tersebut.
Keramah tamahan para warga membuat Ayu merasa senang, dan tidak canggung, walaupun berada di tempat baru.
Hingga di tengan perjalanan tiba-tiba saja dirinya tertabrak pundak seseorang.
Duk ....
Akh ....
Bruk ....
"Neng! Neng gak papa?" Bi Yati terlihat sangat panik, membantu Ayu untuk berdiri.
"Maaf," lelaki yang menabraknya langsung meminta maaf.
"Tidak apa-apa, Mas. Ini aku yang salah kok, tadi gak fokus liat jalan," ucap Ayu, memegang pundak sebelah kanannya yang terasa sakit.
Dirinya tadi memang sedang mengobrol dengan Bi Yati sambil melihat pemandangan sawah yang mereka lewati, sampai ia tidak sadar ada orang lain di sana.
Ayu tak meperdulikan kejadian tadi, dia pikir itu hanya sebuah kebetulan. Ayu dan Bi Yati langsung kembali ke vila, dan melupakan kejadian itu begitu saja.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, duh hari senin biasanya ada vote nih, malak boleh gak ya🤭🤭
Jangan di anggap serius ya, aku gak bercanda kok😂😂
__ADS_1
Makasih semuanya🙏🥰🥰