
...Happy Reading ...
.......❤.......
Di dalam ruangan kerja yang berada di sebuah bengkel modifikasi mobil mewah, Ezra dan Ansel sedang berbincang bersama.
"Gimana kalau kita bantu proses perceraian Nindi dengan si brengs*k itu?" Ansel bertanya tentang pikirannya selama ini.
Dia sudah sangat tidak sabar,melihat proses perceraian sang adik yang menurutnya terlalu lama, padahal memang begitulah prosedurnya.
"Tapi, apa kita tidak terlalu ikut campur ke dalam masalah pribadinya, kalau begitu?" tanya Ezra mengerutkan keningnya.
"Iya juga sih. Tapi, bukannya kalau kita bantu, Nindi akan lebih cepat terlepas dari masalahnya dengan suami tidak tau diri itu?!" Ansel tetap kukuh dengan pemikirannya.
"Mungkin menurut kita itu baik. Tapi, kita 'kan enggak tau perasaan Ayu bagaimana. Bisa saja dia masih mencintai suaminya dan berharap kembali?" Ezra berusaha bersikap dewasa, walau di dalam hatinya seperti tersayat sesuatu ketika mengatakan itu.
'Apa aku sudah begitu mencintai dia? Sampai untuk mengatakan dia masih mengharapkan orang lain saja, aku bisa merasakan sakit seperti ini?' gumamnya dalam hati.
"Tidak akan gue biarkan adik gue kembali pada lelaki bajingan seperti dia! Sudah cukup lelaki itu menyakiti Nindi," debat Ansel tidak setuju dengan perkataan Ezra.
"Iya, gue tau itu. Tapi, lebih baik loe ajak bicara dulu Nindi, sebelum mengambil keputusan secara sepihak. Kalau udah dapet persetujuan dari Nindi, gue juga bakal bantu loe, untuk mempercepat perceraiannya." Ezra memberi saran kepada sang sahabat.
Ansel tersenyum dengan wajah menyebalkan, saat mendengar perkataan terakhir dari Ezra.
"Nah 'kan! loe juga gak sabar 'kan nungguin adek gue jadi janda? Biar gak ada penghalang lagi, buat loe deketin Nindi!" tunjuk Ansel, menggoda sang sahabat.
"Mungkin," jawab acuh Ezra, mengedikan kedua bahunya.
"Si*lan loe! Awas aja kalau loe mainin perasaan adek gue!" ancam Ansel dengan wajah yang mulai memerah.
Ezra menghela napas berat, ternyata sahabatnya ini, masih terlalu sensitif bila di ajak bercanda tentang adik kesayangannya itu.
"Memangnya loe pernah liat gue mempermainkan perasaan orang, heh?" tanya Ezra mencondongkan badannya ke arah Ansel yang sedang duduk di depannya.
Ansel terdiam sejenak, berpikir tentang jawaban dari pertanyaan Ezra barusan.
"Enggak pernah sih," geleng Ansel seperti seorang murid kepada gurunya.
"Nah, itu loe tau." Ezra kembali menyandarkan badannya pada sofa.
Obrolan kedua sahabat lama itu akhirnya harus terputus karena Ansel harus segera kembali ke rumah sakit.
...❤...
Pukul empat sore, Ansel sudah memarkirkan mobil miliknya di parkiran butik milik sang adik.
Dia berencana untuk membicarakan tentang perceraian Ayu dan Radit, sesuai dengan saran dari Ezra tadi siang.
"Selamat datang di Clarissa boutique, selamat berbelanja," sapaan ramah dari pegawai butik menyambut kedatangannya.
Ansel tersenyum ramah, pada pegawai yang berdiri di dekat salah satu manekin gaun malam berwarna hitam dengan gradasi warna gold di sisinya.
"Eh, Pak Ansel. Mau cari Mba Ayu, ya?" tanyanya saat telah melihat penuh seseorang yang datang.
"Iya, apa Ayu ada?"
"Ada, Pak, silahkan langsung ke ruangannya," jawab pegawai yang bernama Sekar tersebut.
Ansel mengangguk dengan senyum tipis, lalu berjalan menuju ruangan sang adik.
__ADS_1
Di ruangannya Ayu sedang berbincang dengan seorang lelaki dan seorang perempuan yang sedang berkunjung ke butik.
Galang dan Rea.
Ya, kedua kakak angkat dari Ayu itu, sengaja berkunjung, setelah mengetahui kalau beberapa hari yang lalu adik angkatnya itu jatuh sakit.
"Kamu ini, selalu saja begitu! Kalau sakit, pasti gak pernah bilang!" gerutu Rea memandang Ayu dengan kening berkerut.
"Maaf, aku gak mau merepotkan kalian semua," jawab Ayu, menundukkan kepalanya dalam.
Saat ini, dia seperti seorang terpidana yang sedang di hakimi.
Kedua orang di hadapannya melihatnya, dengan tatapan yang tajam.
Tok ... tok ... tok ...
Ketukan di pintu, mengalihkan ketiga orang tersebut, Ayu berjalan untuk membuka pintu.
"Assalamualaikum ... cantik!" Ayu tersenyum senang, melihat sang kakak berdiri di depan pintu.
"Wa'alaikumsalam ... Kak," jawab Ayu, tersenyum cerah.
"Lagi ada tamu, ya?" tanya Ansel melihat ke dalam ruangan.
"Engga kok, cuman ada Kak Rea sama Kak Galang," ucap Ayu beralih ke pinggir pintu, untuk memberi jalan kepada sang kakak.
Ansel masuk, dan langsung menyapa kedua orang yang lebih dulu berada di sana.
Mereka pun berbincang bersama, sambil menunggu Ayu bersiap menuntup butiknya.
"Sudah selesai?" tanya Ansel saat Ayu kembali ke dalam ruangan.
"Eum," angguk Ayu.
Ketiga orang di sana berdiri, sama-sama bersiap untuk pulang.
"Ayo!" ajak Ayu pada ketiganya.
Sampai di parkiran, mereka berpisah dan masuk ke dalam mobil masing-masing.
Rea merasa senang karena sekarang Ayu sudah bisa menerima Ansel kembali.
Dia berharap, kedepannya, kehidupan adik angkatnya itu, bisa lebih baik lagi.
"Jadi, selama ini, mereka yang sudah ada untuk kamu, Dek?" tanya Ansel, melirik Ayu yang duduk di sampingnya.
"Eum, kalau gak ada mereka, mungkin dari dulu aku sudah menyusul ibu," jawab Ayu sendu.
Mengingat sang ibu, selalu membuat hatinya sakit, karna teringat perjuangannya dalam membesarkan dirinya sendiri, tanpa dukungan dari siapapun.
Ibunya harus bekerja menjadi staf kantor, hingga terus menerima lembur, agar gajinya cukup untuk menghidupi mereka berdua, juga biaya berobat dirinya.
Maka dari itu, banyak tetangga yang mengira kalau sang ibu mencari uang dengan cara pekerjaan haram.
Semua itu, karena sang ibu selalu pulang larut malam, dan kembali pergi di pagi harinya.
Status janda yang di sandang, membuat para tetangga dengan mudahnya memberi cap sebagai wanita penggoda kepada sang ibu.
Fitnah keji itu, terus berlanjut, bahkan sampai sang ibu telah memegang nyawa.
Begitu jahatnya, mulut para orang-orang itu, kepada kehidupan mereka.
__ADS_1
"Sudah, jangan di ingat lagi. Biarkan semua itu menjadi kenangan." Ansel menggenggam tangan sang adik.
Ayu menolehkan pandangannya pada sang kakak, yang sedang tersenyum hangat padanya.
Mengangguk dengan senyum yang terlihat masih saja di paksakan.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai di rumah Ayu.
Ansel mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan pada Ayu, setelah mereka duduk berdua di taman dalam rumah.
Ayu nampak terdiam, seperti sedang berpikir.
"Aku setuju saja, aku juga sudah capek dengan masalah ini," jawab Ayu.
Ansel mengembangkan senyumnya, mendengar jawaban dari sang adik.
"Baguslah, kalau begitu, kakak dan Ezra akan berusaha membantu kamu, untuk mempercepat proses perceraian kalian," kata Ansel, penuh semangat.
"Kenapa harus ada dia lagi?" tanya Ayu, menautkan kedua alisnya.
"Siapa? Ezra?" tanya Ansel, memandang penuh wajah sang adik.
Ayu mengangguk malas.
"Dia lebih banyak mempunyai koneksi di bandingkan dengan Kakak," jelas Ansel.
"Memang kenapa?" tanya Ansel, mengulum senyumnya.
"Tidak!" jawab Ayu cepat.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa muka kamu cemberut gitu, hem?" Ansel memainkan alisnya, naik turun.
"Apa sih, Kak?! Di bilang gak ada apa-apa kok!" ucap Ayu melempar bantal kecil di pangkuannya pada Ansel.
Tawa ansel langsung pecah, karena berhasil menggoda sang adik.
Ayu mencebik kesal kepada sang kakak.
"Udah ah, aku mau bersih-bersih," ucapnya, berjalan menuju lantai dua.
Di dalam kamar, ingatannya kembali pada nasib rumah tangganya, yang ternyata harus berakhir berantakan.
Menghela napas berat, kemudian duduk di sofa kecil yang ada di dalam kamar.
Harapan bersama dengan Radit, memang sudah hilang sejak lama.
Sejak penghinaan waktu itu, rasa cinta yang dulu masih ada di dalam hatinya, perlahan menghilang.
Sudah cukup, dirinya memberi kesempatan kedua pada lelaki yang telah menyakiti hatinya.
Tidak akan ada lagi kesempatan ke tiga darinya.
Menurutnya, orang yang sudah mengulang kembali kesalahannya, tidak pantas untuk di berikan ke perayaan lagi.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Maafkan bila bab ini, ceritanya sedikit tidak jelas. Lagi kurang enak badan, dari kemarin sore, badan meriang, bersin terus menerus di tambah idung mampet, pala juga agak pening, jadi gak konsen buat mikir🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih, buat yang masih setia baca, dan nungguin aku up, lope-lope buat kalian semua❤❤❤