
...Happy Reading ...
...❤...
Waktu terus berlalu, kini hanya tinggal beberapa hari lagi menuju acara pernikahan itu akan terlaksana.
Saat ini Ayu dan Ezra sedang ada di tahap pingit atau tidak boleh bertemu sampai acara pernikahan di langsungkan.
Itu semua karena peraturan dari Nawang, wanita paruh baya itu hanya memperbolehkan mereka berdua berkomunikasi melalui telepon, itu pun tidak dengan video call.
Malam ini Ayu sedang duduk sendiri di taman dalam rumah, dengan teman kegelapan dan kesunyian malam.
Ya, lampu di rumah sudah di matikan beberapa waktu yang lalu.
Tadinya Ayu hanya berniat turun untuk mengambil air putih ke dapur, tetapi, entah mengapa saat ia melewati area kesukaannya itu, ia merasa ingin duduk dulu di sana barang sejenak.
Hingga sekarang di sinilah ia, duduk sendiri dengan pikiran melayang mengingat lagi semua kenangan kisah hidupnya, hingga sampai berada pada titik sekarang ini.
Kehancuran keluarganya yang ternyata karena wanita lain, semua perjuangan hidup yang ia lalui sendiri, tanpa ada bantuan dari keluarga kandungnya yang entah berada di mana.
Hingga rumah tangga yang ia harapkan bisa membuatnya memiliki keluarga kecil bahagia. Akan tetapi ternyata semua itu juga harus pupus oleh kehadiran orang ketiga.
Lalu beralih pada pertemuannya kembali dengan sang kakak yang membawanya pada Ezra.
Sosok lelaki yang tiba-tiba saja datang bagaikan malaikat pelindung untuknya, dalam menghadapi kekalutan hati dan semua cobaan hidup untuknya.
Kini setelah begitu lama laki-laki itu menjadi pelindung tanpa adanya status di antara mereka, beberapa hari lagi, ia akan berubah kembali menjadi seorang istri dari sosok duda beranak satu itu.
Menyusun kembali harapan yang sudah terlanjur hancur, tergerus kegagalan demi kegagalan di waktu lalu.
Tiing
Sebuah suara pesan dari ponsel yang tergeletak di sampingnya, menyadarkan lamunan wanita itu.
Senyumnya terbit begitu saja, walau mata terlihat basah oleh air mata.
‘Belum tidur?’
Pesan singkat dari lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu, membuat keningnya berkerut cukup dalam.
‘Kok tau sih?’
Ezra tersenyum saat melihat balasan dari calon istrinya itu. Awalnya dia hanya iseng, karna baru saja selesai lembur dan belum sempat memberi kabar.
‘Bisa dong, kan kita itu satu hati.’
Ayu menggeleng geli, membaca balasan dari Ezra. Kini mereka tampak seperti anak remaja yang sedang berkirim pesan.
‘Ish, apaan sih? Gak jelas banget!’
Drrtt drrtt
__ADS_1
Ayu membolakan matanya saat melihat Ezra meneleponnya.
“Assalamualaikum ....”
“Kenapa kok belum tidur sih, udah malem begini?” tanya Ezra dari seberang sana.
“Jawab salam dulu dong!”
“Akh, iya aku lupa. Wa ’alaikumsalam ... tuh udah kan, sekarang kenapa jam segini belum tidur, hem? Kangen aku ya?” cerocos Ezra, begitu saja.
“Enggak ih, enak aja. Siapa juga yang bilang kangen?” cebik Ayu.
“Aku, aku yang kangen, kangen banget sama kamu! Lima hari gak bisa liat kamu, serasa lima tahun tau gak?” Ezra langsung menyambar perkataan Ayu.
Ayu menyunggingkan senyumnya, dengan pipi yang memerah, mendengar perkataan Ezra, hatinya terasa menghangat, setiap kali lelaki itu mengungkapkan rasa sayangnya.
“Ih, lebay banget sih, udah kayak ABG aja!” cebik Ayu.
Menahan senyum yang terus saja ingin mengembang, tak bisa ia tahan.
“Lebay gimana, orang aku beneran kok. Kamu aja yang gak tau, gimana tersiksanya aku, menahan kangen sama kamu,” ucap Ezra.
“Ya udah, terserah kamu aja lah,” pasrah Ayu.
Dia memang tidak akan pernah menang bila berdebat dengan calon suaminya itu.
“Kak, ini laporan tentang orang yang -,” perkataan Keenan terhenti oleh gerakan tangan Ezra.
“Eh, kamu masih kerja ya?” tanya Ayu, saat mendengar suara Keenan.
“Kamu juga jaga kesehatan, jangan kerja terus, ingat tubuh kamu butuh istirahat,” ucap Ayu.
“Iya, setelah ini aku juga tidur kok.”
Telepon di antara keduanya pun terpurus begitu saja.
Ayu, meluruskan duduknya, melihat jam yang tergantung di dinding rumah.
Ternyata waktu sudah menunjukan hampir pukul dua belas malam, pantas saja suasana angin malam semakin terasa dingin.
Merapatkan kardigan yang ia pakai, lalu beranjak kembali menaiki tangga, untuk sampai ke kamarnya.
Sedangkan di tempat lain, Keenan meneruskan langkahnya.
“Kak ini laporan daftar orang yang menjenguk Bu Arumi di tahanan.” Kenaan menaruh map di meja kerja Ezra.
Ezra tampak langsung mengambil map tersebut, lalu memeriksa isi di dalamnya.
“Ada dua nama yang mencurigakan, mereka tidak ada hubungannya dengan keluarga Ardirnata ataupun keluarga Arumi sendiri.” Ezra menatap sang adik dengan kening berkerut dalam.
“Anak buah kita sedang mencari tau tentang dua orang itu, mereka beberapa kali datang, entah apa yang di bicarakannya pada Arumi,” jelas Keenan.
“Baiklah, aku harap besok semuanya sudah tuntas, dan tidak akan ada halangan di hari pernikahanku nanti!” desis Ezra.
__ADS_1
“Oh iya, bagaimana kabar anak sombong itu?” tanyanya saat mengingat nasihat Melati.
“Gadis itu akhirnya di kirim ke luar negri, dan menjalani asrama di sana. Kita juga menempatkan beberapa oeng yang mengawasi pergerakannya,” jawab Keenan.
“Hem, baguslah! Berarti Om Larry benar-benar berpihak pada Nindi untuk saat ini.” Ezra menghembuskan napas lega, mendengar penjelasan dari adiknya.
Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan semuanya aman terkendali, dia hanya tinggal memastikan dua nama yang tertera di daftar pengunjung itu, tidak berbahaya.
“Tenang saja, Kak. Kita sudah berusaha sebaik mungkin untuk keamanan acara bahagia Kakak nanti. Aku sendiri yang akan memimpin dan memastikan semua itu,” ucap Keenan mantap.
“Sudahlah, aku yakin semuanya sudah baik-baik saja. Kamu jangan berlebihan begitu, sesekali istirahatlah untuk mencari calon Aunty baru untuk Naura. Memangnya kamu tidak mau memiliki hubungan dengan seseorang lagi, hem?” Ezra tampak menepuk-nepuk pundak Keenan.
“Lupakan saja wanita brengsek itu, aku yakin di luar sana masih banyak perempuan yang lebih baik darinya, jangan terus terjebak dengan masa lalu, Keen!” sambungnya lagi.
Keenan tampak menatap wajah kakaknya, dengan mata di penuhi luka.
“Aku akan berusaha, Kak!”
Beranjak berdiri, melangkah keluar ruang kerja kakaknya itu, tanpa kata.
Ezra menghembuskan napasnya kasar, menatap sosok rapuh yang selalu terlalu apik oleh sikap ceria yang di miliki oleh adiknya itu.
“Semoga saja, kamu bisa segera melupakanmu dan menemui gadis yang mencintaimu dengan tulus,” gumam Ezra.
Memilih untuk masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.
Sudah cukup semua kegiatan melelahkan hari ini.
Setelah selesai membersihkan diri, tak lupa ia melihat Naura terlebih dahulu.
Anak yang baru saja genap berumur tujuh tahun, beberapa minggu lalu itu, tampak sudah sangat mandiri dengan tidur sendiri, tanpa ingin di temani oleh neneknya seperti biasa.
Meraih selimut yang sudah sedikit terbuka sampai kaki, membetulkannya, dengan penuh kehati-hatian agar tak mengganggu tidur gadis kecilnya.
Menyingkirkan sisa rambut yang menghalangi wajah cantik anaknya, kemudian memberikan sedikit kecupan di keningnya.
“Selamat tidur, sayang. Semoga mimpi indah, anak cantiknya Papa,” gumamnya, dengan senyum teduh, menghiasi wajahnya.
Berbalik untuk kembali ke kamarnya.
“Zra, kamu belum tidur?” Nawang yang baru saja keluar dari kamarnya bertanya pada Ezra.
“Ini habis liat Naura dulu, Mah. Mamah mau ke mana?”
“Mama mau tidur sama Naura aja, takut nanti dia kebangun,” ucap Nawang.
“Oh, ya udah Kalau gitu aku ke kamar dulu, Mah. Selamat malam!”
“Malam!”
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...