Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.154 Pamit


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Rio duduk di ruang tengah setelah ibu dan kakaknya membereskan bekas sarapan mereka, dia menyalakan televis kecil di ruangan itu, berniat untuk mencari hiburan di akhir pekan, sambil menunggu waktu bermain bersama temannya nanti siang.


Lengannya terus menekan tombol di remot kontrol untuk memindahkan saluran televisi dan mencari acara yang dia sukai. Akan tetapi, tiba-tiba tengannya terhenti oleh sebuah berita yang memperlihatkan foto Riska dan Keenan.


Riska yang saat itu baru saja kembali untuk membereskan karpet, berdiri mematung dengan mata yang mulai memerah, menahan desakan air mata.


"Kak," Rio berusaha memanggil pelan kakaknya. Akan tetapi, tak kunjung mendapat jawaban.


Rio hendak menekan tombol untuk mematikan televisi saat Riska mencegahnya, dia ingin tahu berita apa saja yang menyebar di luar sana.


Ibu yang baru saja selesai mencuci piring ikut menyusul kedua anaknya di ruang tengah, wanita paruh baya itu ikut terkejut dengan berita yang kini masih bergulir di televisi.


"Riska." Ibu menghampiri anak sulungnya itu, mengusap kedua pundak yang terlihat turun itu, dengan gerakan halus, mencoba memberi kekuatan untuk sang anak.


"Bu, ini semua gak bener. Riska gak ngelakuin apa pun sama Bang Keenan, kita hanya tertidur, karena motor Riska hilang dan mobil Bang Ken mogok. Di sana gak ada rumah warga, makanya kita memutuskan untuk menunggu pagi di dalam mobil karena takut ada binatang buas," ujar Riska, dengan nada khawatir, dia takut ibunya itu salah paham karena berita yang sekarang mereka lihat. Padahal kemarin sore Keenan sudah menjelaskan kronologis kejadian itu pada ibu dan Rio.


"Iya, Ibu percaya denganmu dan Keenan. Kalian tidak akan melakukan hal yang dilarang oleh agama, Ibu tau itu," jawab Ibu, dengan tangan beralih mengelus rambut Riska.


Riska memeluk ibunya dengan tetes air mata yang sudah tak dapat lagi dia tahan. Suara isak tangis lirih itu begitu terasa sendu. IBu pun ikut meneteskan air matanya, tak sanggup ia melihat anak yang selama ini begitu tegar menghadapi hidup kini terlihat begitu rapuh.


"Aku malu, Bu. Bagaimana anggapan orang nanti kepada Riska? Mereka pasti mengira kalau Riska itu perempuan murahan," gumam Riska di dalam pelukan sang ibu.


"Aku akan menjaga, Kakak, siapa pun yang berani berkata seperti itu sama, Kakak ... akan aku beri pelajaran. Kakak, jangan takut lagi, ya." Rio bangun dari duduknya,menghampiri dua orang perempuan yang begitu disayanginya itu, lalu ikut memeluk Riska.


Saat itu suara pintu terbuka, Keenan melihat ketiga anggota keluarga itu tengah berpelukan, saling memberikan kekuatan satu sama lain, dengan televisi yang masih menyala, menampilkan pemberitaan tentangnya dan Riska.


Perasaan bersalah kepada keluarga kecil itu kini semakin besar, terlebih kepada Riska. Secara tidak sengaja dia telah membuat hidup gadis sederhana itu terseret dalam masalah besar ini.


Perlahan Keenan menghampiri ketiga orang itu, dia berdiri tepat di belakang Rio. "Maaf, semua ini karna saya yang tak bisa menjaga anak ibu."


Ibu, Riska dan Rio mengurai pelukan mereka saat mendengar perkataan Keenan. Ketiga orang itu, kini memfokuskan pandangannya pada lelaki yang baru satu hari menjadi anggota baru di dalam keluarga mereka.


Ibu memegang bahu Keenan, menepuknya berulang kali dengan tatapan yang terlihat begitu sendu. Mata itu terlihat merah dan basah, menandakan tangis yang baru saja terhenti.


"Ibu, tidak menyalahkanmu, Nak. Ini semua sudah tekdir yang dipilihkan tuhan untuk kalian berdua. Hanya saja bolehkah ibu meminta sesuatu padamu?" ucap lembut Ibu pada Keenan.

__ADS_1


Keenan menatap Ibu dengan perasaan tak menentu, dia kemudian mengangguk menyetujui perkataan mertuanya itu.


"Tentu saja boleh, Bu. Apa yang Ibu mau? Aku pasti akan berusaha untuk memberiknnya," ujarnya.


"Bisakah kamu melakukan klarifikasi dan membersihkan nama Riska kembali? Ibu tidak akan sanggup bila melihat tatapan hina dari orang diluar sana, pada anak ibu yang selama ini begitu menjaga sikapnya agar tak membuat malu keluarga, terutama almarhum ayahnya," ujar Ibu. Dia tidak bisa bmembayangkan bagaimana pandangan orang di luar sana tentang anak sulungnya itu.


Keenan mengangguk. "AKu akan melakukannya, Bu. Hanya saja kita perlu bersabar karena aku harus mendapatkan bukti dan tersangkanya dulu, agar mereka percaya dengan apa yang aku katakan."


Keenan membagi pandangannya pada Riska, mata sembap, hidung merah dan seesegukan yang masih tersisa, membuat gadis itu terlihat begitu menyedihkan. Dua bersandar pada tubuh Rio yang sudah hampir menyamai tinggi Riska.


"Semantara itu, Kak Ezra dan Kak Nindi menyuruh aku membawa kalian ke rumahnya, demi menghindari para pencari berita yang sudah pasti akan terus mencari celah di antara kita," sambung Keenan lagi.


"Tidak, ibu masih bisa mengatasi mereka. Ibu akan tetapi tinggal di rumah ini, kamu bawa saja Riska bersamamu," tolak Ibu.


"Tapi, Bu–" Riska yang mulai berbicara langsung di potong oleh Rio.


"Tidak apa-apa, Kak. 'Kan ada aku yang akan selalu menjaga Ibu," Rio ikut berbicara.


Riska kini beralih melihat kepada adiknya itu, ada rasa khawatir jika dia meninggalkan keduanya di sini.


"Tidak apa, nanti aku akan kirim orang untuk menjaga mereka bedua, sekarang kamu siapkan barang yang kan kamu bawa, sebentar lagi orang yang akan menjemput kita datang," ujar Keenan.


"Bu?" Riska masih merasa berat, ia kembali melihat sang ibu dan adiknya.


Dengan berat hati akhirnya Riska berjalan menuju kamar, untuk menyiapkan barang yang ia akan dia bawa ke rumah Ayu.


"Maafkan aku, Bu. Karena semua ini Ibu dia Rio harus ikut menanggung malu seperti ini," ujar Keenan kembali. Dia tetap saja merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.


"Tidak apa ... sudah, jangan menyalahkan diri sendiri terus, yang terpenting sekarang adalah bagaimana menyelesaikan masalah ini agar tidak berlarut-larut. Ibu titip Riska ya, Nak," ujar Ibu menepuk pundak Keenan berulang.


Keenan mengangguk pasti. "Pasti, Bu. Aku akan berusaha menjaga Riska sebaik-baiknya," jawab Keenan dengan janji di dalam hatinya.


Beberapa saat menunggu, Riska sudah keluar dari kamar dengan membawa tas berukuran cukup besar. Keenan langsung mengambil alih tas itu, dari tangan Riska, mereka berdua langsung pamit kepada Ibu dan Rio, setelah jemputan yang dikirim oleh Ezra datang.


"Bu, aku pamit. Ibu dan Rio, jaga diri baik-baik ... hubungi aku kalau terjadi sesuatu," ujar Riska, kemudian mencium punggung tangan sang ibu.


"Iya, kamu gak usah terlalu khawatir sama kita, kita baik-baik saja di sini. Kamu di sana juga harus ingat sama statusmu sekarang, Ris ... layani suami kamu sebagaimana mestinya, walau kalian menikah dengan cara yang tidak biasa," nasehat Ibu.


Riska mengangguk. "Iya, Bu. Riska akan berusaha melakukan apa yang seharusnya Riska lakukan, apa lagi di sana juga ada Mba Ayu, dia pasti bisa menegur Riska kalau Riska berbuat kesalahan."


Memeluk ibunya sekilas sebelum beralih pada Rio yang berada di samping ibu. "Kamu, baik-baik di sini, jagain Ibu buat kakak, jangan nakal, ya."

__ADS_1


Rio mengangguk. "Iya, Kak. Aku tau, selama ini aku juga gak pernah nakal," jawab Rio.


Riska tersenyum sambil mengusap cepat air mata yang terlanjur menetes, lalu memeluk erat adik kesayangannya itu.


Setelah Riska selesai berpamitan sekarang giliran Keenan, dia memegang lengan Ibu dan menyelipkan sebuah kartu di sana.


"Apa ini, Nak?" tanya Ibu sambil mengerutkan keningnya.


"Ini untuk Ibu dan Rio, Kak Ayu tidak memperbolehkan ibu bekerja dulu, sebelum masalah ini selesai, jadi Ibu guankan ini dulu ya," ujar Keenan.


"Gak usah, Nak. Ibu masih ada uang ... ini, kamu pegang lagi saja." Ibu mau engembalikan kembali kartu itu kepada Keenan.


"Ibu simpan saja, setidaknya bila ada keperluan mmendadak, atau untuk membayar sekolah Rio. Sedangkan uang ibu bisa tetap ibu gunakan untuk kebutuhan sehari-hari ... tolong terima ya, Bu. Agar Riska bisa tenang meninggalkan kalian di sini," ujar Keenan, melirik sekilas gadis yang sekarang berada di belakngnya.


Keenan tahu kalau selama ini Riska adalah tulang punggung keluarga, maka dari itu mulai dari hari ini dia ingin mengambil tanggung jawab itu dari istrinya.


Ibu tampak menatap Riska, dia akhirnya mengangguk saat menerima persetujuan dari anak sulungnya itu.


"Baiklah ini ibu terima, Terima kasih, Nak," ujar ibu.


Keenan mengangguk dengan senyum lebar di bibirnya. "Ini sudah menjadi kewajiban aku sebagai menantu Ibu," ujar Kenan, lalu mencium punggung tangan Ibu.


Ibu tak bisa lagi menahan air matanya, dia begitu bersyukur karena telah diberikan menantu sebaik Keenan, walau dalam hati masih ada rasa tidak enak atas kartu yang sekarang berada di tangannya.


Rasanya belum pantas ia menerima pemberian dari Keenan, karena pernikahan anaknya itu bukanlah karena cinta, ibu juga tahu kalau Riska belum melakukan kewajiban utamanya sebagai seorang istri.


Dia hanya bisa berdoa, semoga kehidupan rumah tangga dadakan itu, bisa berjalan dengan bahagia dan perlahan menumbuhkan rasa cinta juga kasih sayang di antara keduanya.


"Sekolah yang bener, Jangan mengecewakan ibu dan kakakmu, kasih tau aku kalau ada masalah atau kamu perlu sesuatu, ya?" ujar Keenan pada Rio.


Iya, Kak. Aku janji akan sekolah dengan benar dan mendapat nilai tinggi," janji Rio.


"Bagus, Kakak suka anak yang mempunyai semangat belajar seperti kamu," ujar Keenan, sambil mengacak rambut bagian atas Rio. Mereka berpelukkan kilas sebagai adik dan kakak ipar.


"Yuk," ajak Keenan pada Riska, dia menggandeng lengan istrinya menuju ke luar, sedangkan tas Riska sudah diambil alih oleh Rio.


Sampai di luar, dua mobil sudah terparkir di halaman. Salah satu anak buah Ezra menghampiri dan mengambil alih tas Riska yang ada di tangan Rio, kemudian membawanya ke dalam mobil yang ada di depan.


"Kami pamit, Bu. Assalamualaikum."


...🌿...

__ADS_1


...🌿...


...Bersambung...


__ADS_2