
...Happy Reading...
.......โค.......
Hari masih sangat pagi, pergantian antara malam dan siang itu terasa sangat indah, dengan semburat warna jingga di langit yang mulai terang.
Matahari nampak malu-malu memperlihatkan dirinya, awan kelabu sisa hujan tadi malam, masih terlihat sedikit menyelimuti langit biru.
Suasana sejuk dan udara yang masih bersih, khas pedesaan terasa sangat menyegarkan. Hingga membuat orang yang merasakannya menjadi lebih bersemangat.
Pepohonan masih terlihat basah, dengan air yang menetes, dari daun-daun yang bergerak terkena angin.
Halaman rumah pun masih terlihat berantakan, oleh daun yang berjatuhan karena angin ribut kemarin malam.
Terlihat di sana, Mang Surip sudah mulai merapihkan halaman depan.
Ayunindia ....
Wanita berparas cantik dengan pakaian muslimah, yang selalu membuat dirinya terlihat anggun dan sederhana.
Duduk sendiri di kursi kayu yang berada teras rumah bagian belakang, biasanya tempat itu adalah tempat beristirahat kedua penjaga Vila ketika sedang bekerja.
Di sampingnya ada secangkir teh panas, untuk menghangatkan tubuhnya, di pagi yang terasa sangat dingin itu.
Dia memutuskan untuk menikmati pagi yang terasa sangat berbeda ini, setelah selesai menyiapkan sarapan untuk semua orang.
Duduk seorang diri, menikmati keindahan yang jarang sekali dapat ia lihat di perkotaan.
Sesekali dia terlihat menutup matanya dan menghirup napas panjang, mengisi setiap celah paru-parunya dengan oksigen yang masih terasa sangat bersih.
Tanpa ia sadari, senyum tulus mengembang begitu saja, hingga bibirnya tertarik ke atas dan membuat sebuah lengkungan.
Senyum itu, membuat seseorang yang sejak tadi memperhatikannya terpesona, untuk ke sekian kalinya.
Ekhm ....
Ayu terperanjat kaget, mendengar suara batuk dari lelaki yang ada di ambang pintu, dengan secangkir kopi di tangannya.
"Sepertinya kamu senang berada di sini," ucap lelaki yang ternyata adalah Ezra.
Ya, sejak tadi dia memang sudah berdiri di ambang pintu masuk, dan melihat pemandangan indah di hadapannya.
Wajah cantik dengan senyum tulus itu langsung membuat jantungnya terasa berdetak lebih cepat, dan tenggorokannya terasa kering seketika.
Sungguh ajaib ....
Belum pernah dia merasakan perasaan aneh seperti ini sebelumnya.
Ayu,tersenyum samar pada Ezra, mengambil cangkir tehnya dan menggeser duduk hingga ke sebelah sisi.
__ADS_1
Mendapat lampu hijau dari Ayu, Ezra ikut duduk di sisi lain bangku.
Ezra memang bukan lelaki yang terlalu taat dengan agamanya, tetapi, ia juga tau tatakrama dan sadar diri dengan keadaan Ayu yang berjilbab.
Apa lagi sekarang Ayu baru saja mendapatkan setatus baru. Status yang sangat rentan dengan gosip miring.
"Di sini, udaranya masih sejuk dan bersih. Berbeda sekali dengan udara kota yang sudah banyak kendaraan," jawab Ayu, menatap sekelilingnya yang masih penuh dengan pohon besar.
"Tempat ini memang sangat cocok untuk berlibur atau menyegarkan diri, dari kepenantan rutinitas harian di kota. Makannya aku membelinya." Ezra memperhatikan Ayu yang tengah tersenyum, sambil memandang satu pohon mangga yang masih berada di area pekarangan.
"Selain untuk berlibur, Vila ini juga bisa untuk menenangkan diri. Seperti kamu sekarang."
Ayu mengangguk, membenarkan perkataan Ezra.
Lelaki itu tersenyum melihat Ayu yang sudah kembali tenang dan terlihat lebih baik.
"Terima kasih." Ayu berkata dengan pandangan masih melihat pohon mangga yang sedang berbunga.
Ezra memandang Ayu, bingung.
"Terima kasih, karena sudah membawa aku ke sini." Ayu melempar senyum tulus pada lelaki di sampingnya.
Deg
Ezra mematung merasakan jantungnya yang terasa di hantam sesuatu.
'Cantik.' gumamnya dalam hati.
Ekhm ....
"Tidak perlu sungkan, aku senang kok bisa membuat kamu lebih tenang di sini," ucap Ezra sedikit gugup.
Ayu mengangguk, dan kembali memandang lurus ke depan.
...โค...
Di tempat lain, lebih tepatnya di rumah kediaman Radit dan Kemala.
Malam sudah semakin larut saat sebuah mobil berwarna merah terang masuk ke dalam halaman rumah.
Seorang wanita cantik dengan pakaian minim terlihat turun dari dalam mobil tersebut.
Kemala Rianti
Wanita yang berprofesi sebagai model itu, baru saja pulang ke rumah, setelah waktu menujukan pukul dua belas malam.
Sudah sejak tiga hari lalu, dirinya kembali menjalani rutinitas sebagai model pemotretan dan juga peragaan busana.
"Dari mana saja kamu? Tidak tau sekarang sudah jam berapa, hah?!" Radit menyambut kedatangan sang istri dengan amarah yang sudah memuncak.
Sudah beberapa hari ini, Mala selalu saja pulang malam. Hingga melupakan kewajibannya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Pulang larut malam dengan keadaan lelah, kemudian tidur, dan bangun siang.
Dirinya bahkan harus menyiapkan segala keperluannya sendiri.
Mulai dari baju, sarapan dan makan malam pun ia lakukan sendiri.
Dirinya sudah sangat geram denga kelakuan Mala yang seperti itu.
"Kerja lah, memang apa lagi?" ucap Mala sambil melenggang menuju kamarnya, tanpa menghiraukan Radit yang sedang duduk di sofa dan menatapnya tajam.
"Kamu itu sekarang sudah jadi seorang istri, harusnya tau batasan! Jangan kerja sampai larut malam gini, di rumah juga ada aku yang harus kamu urus!" Radit terus berbicara sambil mengikuti Mala.
"Mal, kamu dengar aku gak sih!" teriak Radit, mulai emosi karena Mala tidak menggubris perkataannya.
"Gak usah bentak-bentak dong! Aku keluar juga buat kerja, bukan main-main. Gaji kecil, masih minta di layanin kayak raja." Mala bersungut-sungut menjawab teriakan suaminya.
"Oh, jadi itu alasan kamu, pulang malam selama ini!"
"Iya, memangnya Kenapa? Gak suka, hah! Aku kerja juga buat menuhin kebutuhan aku, kalau ngandelin gaji kamu yang cuman recehan itu ... mana cukup! Buat kebutuhan rumah aja udah abis!" cibir Mala.
"Itu karena kamu gak pernah bersyukur, dengan apa yang aku kasih!" debat Radit.
"Sudahlah, aku capek, mau mandi trus istirahat. Besok aku harus bangun pagi-pagi karena ada pemotretan di daerah pegunungan! " Mala berjalan cepat menuju kamar mandi.
Menutup pintu dengan cukup kencang hingga terdengar suara.
"Si*lan!" umpat Radit menahan geram yang tidak bisa terlampiaskan.
Kembali berjalan ke bawah, untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ternyata menikah dengan seorang model dan anak satu-satunya, dari keluarga yang berkecukupan cukup sulit untuknya.
Sikap Mala yang terbiasa di manjakan oleh kedua orang tuanya dan pergaulannya yang bebas dan luas, membuat Radit cukup kewalahan untuk mengatur istrinya itu.
Radit menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, matanya terpejam dengan satu tangan memijat keningnya yang terasa berdenyut.
Memikirkan rumah tangganya bersama Mala yang tak seperti yang ia harapkan, semenjak kehilangan anak yang ada di dalam kandungan sang istri.
Sikap Mala yang tadinya penurut, manja dan mudah di atur, seakan bergantung kepadanya. Kini berubah drastis menjadi egois dan semaunya sendiri.
...๐ฟ...
...๐ฟ...
...Bersambung...
Maaf hari ini aku up sedikit terlambat๐
Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak-kakak baik hati๐
Terima kasih๐๐๐๐๐
__ADS_1