Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.114 Melati


__ADS_3

 



...Happy Reading...


...❤...


Kenan semakin mengeratkan rahangnya, saat gadis remaja dengan tampilan sporty itu berjalan mendekat ke arahnya.


Melati, gadis itulah yang kini berada tepat di depannya, dengan senyum yang sangat berbeda dari sebelumnya.


Dia tidak terlihat seperti seorang remaja polos, gadis itu  lebih terlihat dewasa dengan tatapan penuh kebencian.


Dilengkapi oleh tampilannya yang memperlihatkan sosok tangguh di dalam dirinya, kaos hitam ketat di lapisi dengan jaket denim yang menutupi sampai bagian tengah perutnya, di tambah celana ketat warna hitam yang membentuk kakinya.


Sungguh, penampilan yang jauh dari biasanya. Jika yang ia tahu, Melati adalah sosok gadis sombong dengan gaya khas remaja manja.


Memakai pakaian bermerek dan keluaran terbaru dengan gaya feminin atau lebih ke kasual berwarna cerah.


Oh, ya ampun apa mungkin selama ini dia telah membodohi semua orang dengan tampilan polosnya? Menyembunyikan semua kesan gangster dengan sangat apik!


Mungkin itulah yang sekarang tengah dipikirkan oleh Keenan saat ini.


“bagaimana kabarnya, Kak Keenan?”


Sunggingan di sebelah ujung bibirnya, membuat Keenan semakin mengerutkan keningnya.


“Hem, sepertinya Kakak sedang tidak baik-baik saja ya?”


Ketukan jari telunjuk di dagu dengan tatapan meneliti dari ujung kepala sampa ujung kaki tampak dilakukan oleh gadis itu.


Keenan tampak mendengus kasar, tanpa menjawab pertanyaan Melati, dia memilih untuk mengalihkan pandangannya.


“Kakek, lihatlah ... Kak Keenan tidak menjawab pertanyaanku,” rengeknya, beralih pada lelaki yang kini masih berdiri di ambang pintu.


Astaga, kenan dibuat terkejut oleh perubahan ekspresi di wajah itu yang begitu cepat.


Baru beberapa detik yang lalu ia melihat wajah angkuh yang di dominasi aura hitam, sekarang ia kembali melihat Melati bersikap seperti seorang remaja pada umumnya.


Merengek kepada kakeknya ketika tak mendapatkan apa yang diinginkan.


‘Kakek?’ gumam Keenan dalam hati. Mengerutkan kening begitu dalam, menandakan ia tengah berpikir keras.


‘Apa mungkin ini, Abra Ruzik?’ tebaknya dalam hati, walaupun ia sendiri tidak yakin dengan pikirannya sendiri.


“Benarkah? Hem, kira-kira hukuman apa yang pantas diterima oleh dia ya?”

__ADS_1


Berkata santai dengan nada mengejek, juga mata tajam dan smirk yang terlihat jelas, berusaha membangkitkan emosi Keenan.


Tidak, dirinya tidak boleh terpancing kata-kata dan sikap arogan kedua orang di depannya.


Keenan mencoba menguasai dirinya, meredam amarah yang hampir saja keluar dan tumpah begitu saja.


Beberapa saat mereka terus menggodanya dengan kata-kata kurang ajar yang begitu menyiksa batinnya, hingga pertahanan itu goyah dan hancur.


Keenan meluapkan emosinya, ia membalas setiap perkataan Melati dan lelaki yang disebut sebagai kakeknya itu.


Namun, Keenan tetap bungkam dengan lokasi posisi Arumi juga Lucas saat ini. Walau apa pun yang mereka lakukan terhadapnya.


“Brengsek kalian semua, dasar pengecut! Akh.” Keenan meraung menerima pukulan kembali dari salah satu lelaki kekar yang menjaganya.


“Nikmatilah waktumu di sini, itu semua adalah akibat pilihanmu sendiri, semakin kau bungkam semakin mudah juga kami mengancam kakakmu itu. Kau tahu, perbuatanmu saat ini malah membawa Ezra datang kemari.” Lelaki tua itu tampak menjeda kalimatnya, menatap Keenan dengan wajah menyebalkan.


“Ya, itu sepertinya akan lebih menyenangkan,” ucapnya lagi, santai, tanpa beban, sebelum pergi meninggalkan Keenan dalam keadaan hampir babak belur.


“Sialan, brengsek kalian semua, aku bersumpah akan membuat kalian menyesal dan menderita!” teriak Keenan, saking kerasnya, suara itu terdengar ke area luar kamar, walau pintu sudah tertutup rapat.


“Siapkan semuanya, kita sambut kedatangan Ezra dan anakku, dengan sedikit kejutan!”


Keenan terdiam, mendengar suara lelaki itu memberikan perintah pada anak buahnya, jantungnya tampak berdetak kencang, matanya goyah dengan raut wajah sangat terlihat khawatir.


“Ini jebakan! Mereka berniat menjebak Kak Ezra. Sebenarnya apa yang mereka inginkan dari kakakku?” gumamnya dengan suara penuh resah.


Kedua tangan di belakang punggung, tampak mengepal erat, pikirannya berpikir, mencari cara untuk segera keluar dari tempat ini dan menemui Ezra.


Lelaki itu tampak mengeluarkan ponsel di tangannya, lalu mengarahkannya pada Keenan.


“Ucapkan hai pada kakakmu,” ucap lelaki itu, meledek Keenan.


Deg!


Itu berarti mereka benar-benar mengancam Ezra, lalu akan menukarnya dengan Arumi dan Lucas.


Keenan langsung mengangkat kepalanya, menatap tajam lelaki itu. Ia harus mencegah Ezra untuk datang ke sini.


“Kak, jangan ke sini, ini jebakan!” sekuat tenaga ia berteriak, berharap kakaknya bisa memahaminya.


Bugh ....


Baru saja ia akan membuka mulut, sebuah tendangan kembali mendarat tepat di perut bagian atasnya, hingga dirinya terjungkal ke belakang bersama kursi yang ia duduki.


Rasa sesak dan panas kini mulai menyerang tubuhnya. Sungguh, tendangan itu mendarat tepat di bagian ulu hatinya.


Setelah mengembalikannya dalam posisi duduk, kedua lelaki berbadan kekar itu keluar dan meninggalkannya sendiri di ruangan pengap tanpa celah sedikit pun. Ya, bahkan untuk sebuah lubang angin saja tidak ada di sana. Ia bahkan tidak tahu ini sudah sore atau bahkan malam.

__ADS_1


Tidak sampai setengah jam, kedua orang itu kembali ke tempat penyekapan Keenan, melepas ikatan tubuhnya dengan kursi, tanpa melepas ikatan di tangannya.


“Ikut kita dan bersikaplah patuh, kalau kau tak ingin membuat kakakmu dalam bahaya,” desis lelaki paruh tua yang tadi dipanggil kakek oleh Melati. Setelah mereka berada di luar ruangan itu. Kedua tangannya di pegang kuat oleh dua orang kekar, sepertinya mereka cukup takut dengan kekuatan Keenan.


Berjalan menuju ke arah luar, Keenan mengedarkan matanya, meneliti situasi di sana. Sepertinya itu memang sebuah rumah kosong yang sudah ditinggalkan lama oleh pemiliknya.


Bisa ia lihat beberapa sarang laba-laba yang cukup banyak menghiasi sudut rumah itu, ditambah perabotan rumah yang tertutup oleh debu.


Sampai di area luar, Keenan bisa . Keenan mengira kalau itu mungkin berada di pinggiran kota, itu terlihat dari suasana yang lumayan sejuk, juga masih ada pohon-pohon  besar di sekitarnya.


Berjalan menyusuri jalan setapak, hingga matanya membulat melihat kakaknya yang sedang berdiri di samping sebuah mobil tak dikenal.


Pandangannya mengedar dengan iris mata bergetar, mencoba mencari keberadaan Max atau anak buahnya. Tetapi, semuanya nihil, ia tak menemukan sesuatu apa pun.


Sial! Kakaknya benar-benar ke sini sendiri, tanpa ada orang lain. Itu sama saja dia menyerahkan diri pada para bajingan ini.


“Mana Arumi dan Lucas?!”


Pertanyaan tegas penuh intimidasi itu, terlantar dari mulut lelaki tua di depannya.


“Mereka ada di dalam mobil, kau bisa mendapatkannya ketika adikku sudah kembali!” Ezra menyahut tegas.


Saat ini jarak di antara mereka kurang lebih lima belas meter, Keenan mencoba melepaskan diri dengan menyentak tubuhnya sendiri.


Namun, lengan kedua lelaki itu, menahannya sangat erat. Hingga ia sama sekali tidak bisa melepaskan cekalannya.


“Hahaha ... aku tidak sebodoh itu, kau harus perlihatkan dulu mereka berdua!”


Tawa meremehkan itu terdengar begitu menyebalkan. Mencoba memberikan tekanan kepada lawan.


“Cih.” Ezra berdecih sinis.


“Baiklah, kau boleh meminta salah satu anak buahmu untuk melihat mereka.” Ezra memberikan kelonggaran.


 


... 🌿...


 


... 🌿...


 


 


...Bersambung...

__ADS_1


Hayo, siapa kemarin yang nembak Melati 🤔🤭


Maaf ya, hari ini gak bisa up panjang🙏 aku lagi ada acara di luar kota. Happy weekand semuanya🥰🥰


__ADS_2