
...Happy Reading...
...❤...
“Terima kasih, sayang. Kamu sudah menghadirkan dia di dalam rahimmu, aku sangat bahagia saat ini.” Ezra mengelus Ayu, saat keduanya sedang menunggu di depan pintu lift.
Ayu mengusap pelan lengan Ezra yang masih berada di perutnya, tak ada jawaban yang bisa ia katakan, untuk ucapan terima kasih Ezra. Sungguh, saat ini dirinya bahkan masih merasa seperti sedang bermimpi, di antara percaya dan tidak percaya dengan berita bahagia ini.
“Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu,” imbuh Ezra lagi, sesekali ia mendaratkan kecupan di puncak kepala Ayu yang terhalang oleh jilbab.
Ayu menyandarkan kepalanya di bahu depan Ezra, menikmati harum tubuh yang selalu membuatnya tenang. Berusaha tidak menghiraukan orang yang berada di dekatnya, seperti suaminya.
Sedangkan di belakang mereka, tampak seorang pria, memandang interaksi sepasang suami istri itu, dengan tatapan rumit.
‘Ayu, kamu sekarang terlihat sangat bahagia bersama dengan lelaki itu, apa sekarang kamu sudah benar-benar melupakanku?’ gumamnya dalam hati.
Tangannya mengepal dengan erat saat mendengar perkataan Ezra berikutnya.
“Aku tidak sabar memberitahu Naura, kalau sebentar lagi dia akan mendapatkan seorang adik,” ucap Ezra.
‘Apa, adik? Mungkinkah Ayu sedang mengandung?’ Lelaki itu baru saja mengerti dengan apa yang dibicarakan Ezra pada Ayu saat ini.
‘Tidak mungkin, ini semua tidak mungkin terjadi,’ menggeleng keras, menolak pemikirannya sendiri.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka harus menunggu orang-orang yang keluar terlebih dahulu sebelum bisa masuk ke dalam kotak besi tersebut.
Ayu dan Ezra masuk dan berdiri di samping depan. Tubuh Ayu sempat menegang, saat melihat seseorang yang begitu dikenalnya. Seseorang yang telah ia anggap sebagai masa lalunya.
Pandangan mereka sempat bertaut sebentar, sebelum akhirnya Ayu memutuskannya. Berbeda dengan Ayu, Ezra menatap lelaki itu dengan tatapan tajam, dengan kewaspadaan berubah berkali-kali lipat. Ia menganggap lelaki di depannya sebagai bahaya yang harus segera disingkirkan.
Radit mengangguk samar, kepada sepasang suami istri itu, sebelum melangkah masuk dan berdiri di sisi yang berlawanan dengan Ezra dan Ayu.
Ayu membalas dengan senyuman canggung, sedangkan Ezra hanya melirik sekilas, lalu mempererat rangkulannya pada istrinya. Ia seakan ingin memberi tahu pada dunia kalau Ayu sekarang sudah menjadi miliknya.
Ya, itu adalah Radit. Dia baru saja bertemu dengan dokter yang menangani Sari beberapa hari ini. Sekarang dia akan kembali ke ruang rawat ibunya itu. Radit tak pernah menyangka bisa bertemu dengan Ayu dan Ezra di rumah sakit ini, setelah hampir setahun ini dia tak pernah melihat kedua orang itu.
Setelah keputusan persidangan perceraiannya dengan Ayu, dia sama sekali tak bisa menemui wanita itu lagi, karena penjagaan ketat yang dilakukan oleh Ezra di sekitarnya.
Kini dia bisa melihat kalau Ayu tampak lebih cantik dan bersinar, wanita itu terlihat sangat berbeda ketika masih menikah dengannya dahulu.
Beberapa saat kemudian lift berhenti, Radit keluar terlebih dahulu, sedangkan Ayu dan Ezra masih berada di dalam lift.
__ADS_1
Ayu baru saja bisa bernapas lega, saat pintu lift kembali tertutup. Berada di satu tempat dengan pria masa lalunya itu, membuatnya terasa sesak, bayangan rasa sakit itu kembali, membawa ketakutan dalam dirinya.
Tanpa terasa bahkan ia mencengkeram kemeja yang dipakai oleh Ezra, apa lagi melihat penampilan Radit saat ini, ia malah bertanya-tanya, bagaimana kehidupan orang itu saat ini. Kenapa mantan suaminya itu terlihat sangat berbeda.
Tak ada semangat dalam matanya, wajahnya pun terlihat kusut, dengan bulu halus yang dibiarkan tumbuh tak beraturan. Badannya bahkan terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali ia melihatnya.
Selama ini Ayu terlalu sibuk untuk melupakan lelaki itu dan fokus pada masalah keluarganya, dia bahkan tak pernah mendengar lagi kabar Radit setelah berita terakhir tentang terbongkarnya hubungan gelap antara Radit dan Mala kala itu.
“Ayo, sayang,” bisikan dari Ezra menyadarkan Ayu dari lamunannya.
Wanita itu menaikkan pandangannya, menatap wajah tampan milik suaminya, ia merasa bersalah karena sudah memikirkan lelaki lain, dengan statusnya saat ini. Walau itu bukanlah rasa kagum. Ia hanya merasa penasaran dengan perubahan Radit saat ini.
Ezra tersenyum tenang, ia mengusap lembut wajah istrinya itu, seakan mengatakan saat ini dia baik-baik saja.
Walau ia merasa sedikit terganggu saat mendapati Ayu melamun, setelah melihat Radit. Tak dipungkiri, dia merasa takut kalau istrinya itu akan kembali mengingat mantan suaminya itu setelah ini.
Tanpa terasa keduanya telah sampai di depan ruangan Naura, begitu pintu terbuka mereka langsung disambut wajah bahagia semua keluarga Darmendra dan Ansel yang sudah berada di sana.
Nawang langsung memeluknya dengan senyum mengembang.
“Selamat ya, sayang. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, dan aku akan mempunyai cucu baru, hahaha!” Nawang berkata dengan begitu semangat, tawa pun mengiringi di belakangnya.
“Terima kasih, Mah,” jawab Ayu, air matanya kembali menetes melihat begitu bahagianya orang yang berada di sana.
“Selamat ya, Kak.” Keenan merangkul Ezra sekilas.
“Akhirnya aku akan mempunyai seorang keponakan lagi,” ucap Ansel, dengan senyum tipis di wajahnya, walau matanya itu terlihat berair.
“Terima kasih, Kak,” Ayu memeluk Ansel, dengan perasaan haru.
Karena penasaran, Nawang menelepon dokter Ranti, untuk mendengar hasil pemeriksaan menantunya itu, kebahagiaan pun langsung meliputi perasaan semua yang mendengar kabar bahagia itu, apa lagi Naura. Anak kecil itu bahkan berteriak senang, karena sebentar lagi akan mendapatkan adik.
“Yeay, Rara mau jadi kakak!” teriak Naura penuh semangat. Waktu mendengar perkataan Nawang, yang menjelaskan tentang kehamilan Ayu.
.
Di tempat lain, Radit baru saja sampai di ruang rawat Sari. Pikirannya masih kacau, mengingat pertemuannya dengan Ayu beberapa saat yang lalu, kenangan manis bersama dengan wanita itu pun terlintas di kepalanya, hingga rasa bersalah merambat, ketika semua kesalahannya pun teringat kembali.
‘Kenapa aku begitu bodoh, hingga mencampakan wanita tulus sepertimu, demi seorang wanita murahan itu!’ geramnya dalam hati.
Radit mengepalkan tangannya, menyesali perbuatan yang ia lakukan di masa lalu. Kini, tak ada yang bisa ia lakukan lagi, penyesalannya sudah terlambat, karena wanita itu telah menjadi milik orang lain.
Apa lagi tatapan cinta yang terpancar, begitu jelas dari mata Ayu, ketika menatap wajah lelaki itu. Entah kenapa, ia merasakan sakit seperti tertusuk ratusan belati di dadanya.
“Dit, kamu sudah datang?”
__ADS_1
Suara lirih Sari, membuyarkan lamunan Radit, ia mengalihkan pandangannya pada sang ibu yang terbaring di atas brankar.
Seminggu yang lalu, Sari mengalami serangan jantung saat mendapatkan surat gugatan cerai dari ayahnya. Ditambah dengan pengakuan Pram yang ternyata sudah menikah lagi di luar kota sejak beberapa tahun yang lalu.
Akhirnya di sinilah sekarang dia, terbaring dengan kondisi tubuh bagian bawahnya tak dapat berfungsi, bahkan tangannya pun akan terasa bergetar bila digunakan untuk mengangkat sesuatu yang sedikit berat.
“Iya, Bu,” jawabnya, duduk di samping ibunya.
“Kapan ibu sudah boleh pulang, Dit. Ibu capek diam terus di sini,” keluh Sari.
Radit menghembuskan napas lelah, ibunya selalu bertanya seperti itu kepada dia.
“Sabar, Bu. Kalau tekanan darah ibu sudah stabil, besok ibu juga sudah boleh pulang. Makanya, ibu harus mengatur emosi ibu, ya,” lembut Radit, dia mengusap punggung tangan ibunya.
“Bagaimana ibu bisa mengontrol emosi ibu, kalau bayangan wanita perebut ayahmu terus menghantui pikiran ibu,” ucap sendu Sari.
“Ibu harus ikhlas, bukannya dulu ibu yang menyarankan aku untuk menduakan Ayu, lalu kenapa ibu sekarang sakit hati ketika ayah mempunyai istri lain?” ucap Radit, bayangan wajah Ayu beberapa waktu lalu melintas lagi di benaknya. Itu membuatnya tak sadar kembali membahas Ayu dan membuat Sari tersinggung.
“Itu kan, karena dia tidak bisa memberikan keturunan untukmu, sedangkan ibu, tidak memiliki salah apa pun kepada ayahmu,” bantah Sari, tidak terima.
“Ya, terserah ibu saja, lagi pula sekarang dia sudah bahagia dengan keluarga barunya, bahkan kini mereka tengah menantikan calon anak mereka,” gumam Radit, membuat Sari langsung memandang anaknya itu tajam.
“Apa kamu bilang barusan?!” tanya Sari, memastikan yang ia dengar.
“Aku baru saja bertemu dengan Ayu dan suami barunya, Bu. Mereka baru saja memeriksakan kandungan Ayu.” Radit menurunkan pandangannya, sekilas sebum beralih melihat kembali wajah ibunya, dengan tatapan sendu.
“Apa kamu tidak salah dengar? Bukannya dia tidak bisa hamil?” tanya Sari lagi.
“Sudah berapa kali aku bilang, kalau kami berdua sehat, Bu. Dokter tidak pernah menemukan kejanggalan di dalam kesehatan Ayu, itu hanya anggapan ibu saja,” tekan Radit.
Dia mengingat kembali saat ibunya itu terus menganggap Ayu tidak bisa memiliki keturunan, padahal selama ini dokter selalu menyatakan kalau wanita itu sehat.
“Kamu tidak ingat kalau kalian sudah menikah selama satu tahun, tapi dia belum juga hamil? Lalu apa ibu salah bila menganggap dia bermasalah, hah?” Sari sedikit meninggikan suaranya.
“Sudah, sebaiknya ibu sarapan dulu saja, setelah itu minum obat.” Radit mengambil jatah sarapan ibunya yang sudah disiapkan rumah sakit. Dia berusaha mengalihkan perhatian ibunya dari pembicaraan tentang Ayu.
Sari mendengus kesal, tetapi, dia juga tak menolak saat Radit menyuapinya makan.
Keduanya terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
...🌿...
...Karma mulai bertebaran ya😁😁...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...