
...Happy Reading...
...❤️...
"Abang, kok belum tidur?" tanya Riska dengan suara parau.
Matanya memicing, melihat suaminya yang duduk bersandar di kepalan ranjang.
"Aku hanya terbangun. Kamu tidur lagi saja ya," jawab Keenan.
Dia memang terbangun beberapa saat yang lalu dan tidak bisa tidur lagi sampai sekarang.
"Ada apa, Bang? Sepertinya, Abang, lagi banyak pikiran," tanya Riska, malah bangun dan ikut bersandar di samping suaminya.
Keenan menatap wajah bantal sang istri, dia tersenyum melihat Riska mengucek matanya, memaksa kesadarannya untuk segera kembali.
"Gak apa-apa, sayang. Aku hanya tidak bisa tidur saja," jawab Keenan.
Riska melihat waktu di jam dinding, ternyata baru pukul dua dini hari.
"Masih malam, Bang. Kita tidur lagi aja yuk," ujar Riska, menyandarkan kepalanya di pundak sang suaminya.
Dia masih sangat mengantuk, rasanya sulit sekali membuka mata.
Keenan langsung memeluk Riska, memberikan kenyamanan dan kehangatan untuk istrinya, dia beberapa kali mengecup kening sang istri.
Riska semakin menyusupkan wajahnya di dada Keenan dengan mata kembali terpejam, mencari kenyamanan di diri sang suami.
"Sayang, jangan seperti ini. Nanti kalau aku tergoda bagaimana?" ujar Keenan, sedikit menahan gerakan Riska.
Riska menghentikan gerakannya, kini dia hanya bersandar di dada bidang suaminya.
"Maaf," ujarnya lirih.
"Sudah, lebih baik kita tidur lagi saja," ujar Keenan, membaringkan diri, dengan Riska berada di pelukannya.
"Heem." Riska hanya bergumam dan tak lama napasnya pun kembali teratur. Itu semua menandakan kalah dia sudah tertidur kembali.
Keenan menatap langit-langit rumah yang sudah tampak menguning di beberapa bagian. Dia masih mengingat kata penuh hinaan yang diucapkan oleh ibu dari Fatir.
'Beginikah dia hidup selama ini?' gumam hati Keenan.
Ingatannya beralih pada beberapa saat yang lalu, ketika dirinya mengobrol berdua dengan Rio.
Flashback
"Abang ngapain di sini?" tanya Rio, saat dirinya batu saja keluar.
__ADS_1
Keenan yang sedang termenung di ruang tamu, bersama laptop yang masih menyala di depannya, mengalihkan perhatiannya pada Rio.
"Ada sedikit pekerjaan yang masih aku kerjakan, kamu belum tidur?" tanya Keenan.
Ya, dia hanya tertidur sekitar satu jam dan kembali terbangun, hingga saat ini dia tidak bisa tidur kembali.
Keenan pun memilih keluar dengan membawa laptop, untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sesungguhnya belum selesai sepenuhnya.
Namun, ternyata pikirannya tak bisa lepas dari kejadian di pos ronda.
"Aku terbangun, ingin ke kamar mandi," jawab Rio.
Keenan menganggukkan kepala sebagai jawaban, dia berpura-pura kembali sibuk dengan laptopnya.
Setelah memastikan kalau Rio cukup jauh darinya, Keenan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi sederhana itu.
'Siapa sebenarnya mereka? Apa ibu itu sudah sering menghina Riska?' gumamnya di dalam hati.
"Ada apa, Kak? Kok malah melamun," tanya Rio sambil duduk di samping kakak iparnya.
Keenan yang terkejut dengan suara tanya dari adik iparnya, langsung melihat wajah Rio yang ternyata sudah berada di sampingnya.
Menegakkan kembali tubuhnya dengan wajah yang terlihat sedikit kusut.
"Kamu gak tidur lagi?" Keenan malah bertanya kembali.
Rio menggeleng, dia menatap Keenan penuh tanya, seakan masih menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Aku hanya terpikir kejadian tadi," ujar Keenan. Dia sudah tak sanggup menahan rasa penasarannya.
Rio tersenyum, sambil menatap wajah gusar Keenan.
"Kenapa, Kak? Kakak khawatir sama Kak Riska?" tanya Rio dengan nada sedikit mengejek.
Keenan menarik sebelah bibirnya tipis hingga membentuk sebuah garis lurus.
"Eggak! Untuk apa aku khawatir pada kakakmu, jika masih ada aku di sisinya?" ujar Keenan, dengan senyum yang tampak semakin lebar seiring dengan Senyuman Rio.
"Ya, Kakak, memang yang terbaik untuk Kak Riska," puji Rio pada kakak iparnya itu.
"Lalu apa yang membuat, Kakak, gusar?" tanya Rio.
"Aku hanya penasaran dengan hubungan Riska dan lelaki itu." Keenan menjeda perkataannya dengan kening mengernyit.
"Siapa tadi namaya? Fa–" Keenan tampak mengingat-ingat.
"Fatih, Kak," potong Rio langsung.
__ADS_1
"Ah, iya. Siapa dia? Kenapa ibunya bisa menghina Riska begitu?" tanya Keenan kemudian.
Rio menghembuskan napasnya kasar sebelum meemulai bercerita pada Keenan.
"Bang Fatih dan Kak Riska berteman sudah sejak dari kecil, mereka sangat dekat sampai-sampai orang kampung menganggap mereka sudah berpacaran." Rio memulai ceritanya.
Keenan sedikit mencondongkan tubuhnya, memperhatikan dengan seksama setiap kata yang terucap dari mulut sang adik ipar.
Mendengar kata-kata dekat dan pacaran, sudah membuat tangannya mengepal kuat. Akan tetapi dia masih bisa menahan emosi dan rasa cemburunya.
"Tapi, ibunya yang mata duitan dan sombong setinggi langit itu, tidak suka kalau Bang Fatih dekat sama Kak Riska, makanya dia selalu mencari masalah sama kakak atau ibu."
"Dia sering sekali menghina atau bahkan menyalahkan Kak Riska, kalau melihat atau mendengar Kak Fatih bersama dengan kakak. Itu semua hanya kerena kami dari keluarga yang kekurangan. Juga, Kak Riska yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang kuliah."
Wajah Rio berubah sendu, di akhir kalimatnya.
"Sebenarnya, Mba Ayu sudah pernah menawarkan untuk membiayai kuliah kakak. Tapi, kakak lebih memilih untuk memberikan semua itu padaku. Dia malah memilih fokus bekerja, untuk membantu ibu."
Rio menundukkan kepalanya, saat mengingat masa saat Riska akhir sekolah SMA. Waktu itu Ayu sempat datang ke rumahnya untuk berbicara pada ibunya masalah biaya kuliah Riska.
Hanya saja, Riska menolak. Dia malah menawarkan biaya itu untuk Rio yang saat itu baru saja masuk SMP.
Riska juga tau, kalau saat itu keuangan butik belum stabil, dia tidak mau menjadi beban untuk Ayu.
Keenan menepuk punggung Rio, memberikan kekuatan untuk adik iparnya itu. Di dalam hati, ia juga juga merasa kagum dengan istrinya yang mau mengorbankan dirinya sendiri demi keluarga.
"Kak, Kak Riska mungkin terlihat urakan, kasar dan cerewet. Tapi, itu semua dia lakukan untuk menutupi kelemahannya dari orang-orang seperti ibunya Bang Fatir juga menutupi kesedihannya dari kami," ujar Rio, melihat Keenan dengan mata yang memerah.
"Di balik semua sikap jeleknya di luar, dia adalah seorang kakak dan anak yang begitu perhatian kepada aku dan ibu, juga orang-orang di sekitarnya," sambungnya, dengan senyum tipis.
"Dia bahkan tidak pernah melawan orang yang lebih tua darinya, walaupun itu sebuah hinaan yang membuatnya terpuruk sekalipun. Akan tetapi, dia selalu siap melawan, jika hinaan itu ditunjukkan untuk aku atau ibu."
Keenan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sekarang mengerti, kenapa di pos ronda, Riska tidak melawan ibunya Fatir sama sekali.
Sebagai suami, dia juga sering mendapatkan sikap dewasa dan penyayang Riska, walau hanya di saat-saat tertentu.
"Kak, tolong jaga Kak Riska dan buat dia bahgia. Setelah kepergian Bapak, dia bahkan tidak pernah lagi memikirkan kebahgiannya sendiri. Sekarang, aku berharap Kak Riska bisa bahagia bersama Kak Keenan," ujar Rio, penuh permohonan.
Keenan mengangguk pasti, di dalam hati dia berjanji untuk memberikan kebahagiaan pada istrinya itu.
"Aku akan berusaha untuk terus membahagiakan kakakmu," janjinya pada Rio.
Sekitar dua jam, Rio dan Keenan berbicara berdua dengan saling bertukar cerita, hingga ibu keluar dan menyuruh keduanya tidur kembali.
Flashback off
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...