
...Happy Reading...
...❤...
Sore menjelang, Ezra baru saja keluar dari ruangannya dengan membawa sedikit bahan pekerjaan untuk asisten barunya itu.
Karena Keenan belum resmi pindah, untuk sementara Alvin bekerja di ruangan yang sama dengan adiknya itu, walau belum bisa memilikinya seutuhnya.
Ezra mengetuk pintu beberapa kali, sebelum masuk ke dalam, dia bisa melihat Alvin, langsung berdiri dan menyambut kedatangannya, dengan sangat formal.
"Pak, Ezra," ujar Alvin, sambil berdiri.
"Duduk saja, aku ke sini karena mau menyerahkan beberapa pekerjaan yang harus kamu kerjekan. Oh ya, sekarang kamu ikut aku pulang dulu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan," ujar Ezra, memberi perintah.
"Baik, Pak," jawab Alvin, dia langsung membereskan semua berkas yang sedang dikerjakan dan membawa yang belum selesai untuk dikerjakan di rumah.
Ezra menunggu sebentar, lalu melangkah ke luar setelah melihat asisten barunya itu sudah selesai bersiap.
Gayanya masih sangat dingin dan tidak terlalu banyak bicara. Itu semua yang membuat Alvin merasa sedikit gugup saat melihat Ezra duduk di kursi Keenan dan menunggunya bersiap.
'Astaga, Pak Ezra emang pendiam dan dingin seperti ini ya. Aduh, aku kan jadi gugup kalau dia ngeliatin aku terus' gumam hati Alvin.
Setelah selesai, tanpa kata Ezra langsung berdiri dan berjalan keluar dari ruangan yang langsung diikuti oleh Alvin.
"Kamu ke sini naik apa?" tanya Ezra, di sela langkahnya.
"Aku naik motor, Pak," jawab Alvin.
"Kamu bisa menyetir mobil kan?" tanya Ezra lagi.
"Bisa, Pak." jawab Alvin.
Mereka beruda berbincang, sambil sesekali menjawab sapaan dari para karyawan.
"Tinggalkan motormu di sini, sekarang kamu ikut denganku," ujar Ezra.
"Baik, Pak," jawab Alvin, dalam hati dia bingung besok mau pergi ke kantor menggunakan apa.
'Nanti setelah dari rumah Pak Ezra saya akan kembali lagi ke sini, untuk menggambil motor' gumamnya dalam hati.
Ezra pun menyerahkan kunci mobilnya pada Alvin, begitu mereka sampai di parkiran, Alvin bingung dengan cara mengemudikan mobil yang jarang dimiliki oleh orang pada umumnya.
"Maaf, Pak. Saya memang bisa mengendarai mobil, hanya saja itu mobil biasa dan sederhana, bukan mobil seperti ini," ujar Alvin dengan suara sedikit bergetar dan kepala menunduk dalam.
Jujur saja, hatinya sudah resah saat melihat ternyata mobil yang dipakai oleh Ezra setiap hari, bukanlah mobil biasa. Apa lagi dengan modifikasi di beberapa bagian, hingga terlihat lebih nyaman.
__ADS_1
Ezra menatap Alvin tanpa ekspresi, dia kemudian mengambil kembali kunci mobil di tangan asisten barunya.
"Belajar cara mengemudikan mobil seperti ini dari Keenan, karena saat ada pertemuan dengan klien kamu harus menyetir mobilku." Ezra berkata, setelah mereka ada di dalam mobil.
"Ba–baik, Pak," angguk Alvin.
Mereka pun akhirnya pergi ke rumah Ezra, dengan Ezra yang menyetir mobil sendiri.
Dalam diam, Alvin memperhatikan cara menyetir bos barunya itu.
Sampai di rumah, Ezra menelepon Keenan untuk datang ke sana.
"Masuk, Vin," ujar Ezra, begitu dia keluar dari mobil.
Wajah dingin yang sejak tadi menghiasi, seketika berubah dan berganti dengan senyum, begitu melihat Naura yang berlari ke arahnya.
Alvin pun sejenak terpaku oleh, perlakuan hangat dan lembut Ezra pada keluarganya.
"Pah, itu siapa?" Naura yang kini sudah berada di dalam gendongan Ezra bertanya, saat ia melihat wajah baru yang pulang bersama ayahnya.
Ezra melirik Alvin sekilas, lalu berjalan menuju dua orang lagi yang kini sedang menunggunya di ambang pintu utama.
"Itu, Om Alvin, yang akan menemani Papah kerja, menggantikan Uncle," jelas Ezra, dengan nada bicara lembut.
Alvin tersenyum dan melambaikan tangannya pada Naura, sebagai tanda perkenalan. Dia tak berani membuka suara dan menyela omongan hangat ayah dan anak itu.
"Hai, Om Alvin," sapa Naura, dia kemudian turun dari pangkuan ayahnya, dan menghampiri Alvin untuk berkenalan. Sedangkan Ezra beralih pada istri dan anak laki-lakinya.
"Waalaikumsalam, Papah," ujar Ayu, sambil menirukan suara nak kecil.
Ezra terkekeh, dia tak berani memegang Zain, sebelum membersihkan diri terlebih dahulu.
"Sayang, kenalkan, ini Alvin, dia asisten baruku," ujar Ezra.
Ayu, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya samar, sebagai tanda sapaan untuk Alvin.
"Alvin, ini Nindi, istriku," ujar Ezra mengenalkan Ayu.
Alvin pun membalas senyuman Ayu dengan sopan.
"Mas, mau langsung mandi, atau mau ke ruang kerja dulu?" tanya Ayu, saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
Alvin mengedarkan pandangannya, melihat seisi rumah yang tampak sangat mewah dan juga berkelas.
Begitu masuk, yang terlihat untuk pertama kali, adalah sebuah foto keluarga kecil Ezra, yang sengaja di pasang di bagian depan, agar semua tamu tahu, siapa saja anggota keluarga yang tinggal di rumah itu.
"Aku mau mandi dulu saja, biar bisa menggendong Zain," jawab Ezra.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Alvin?" tanya Ayu, menatap Alvin sekilas.
"Dia biar menunggu di sini dulu," jawab Ezra.
"Vin, kamu tunggu di sini dulu," perintah Ezra yang langsung diangguki oleh laki-laki muda tersebut.
Ayu ke belakang sebentar, meminta pelayan untuk menyajikan minuman atau kudapan untuk Alvin, sebelum naik ke lantai dua.
Sedangkan Naura memilih untuk kembali bermain di ruang keluarga, bersama dengan salah satu pelayan juga Alvin.
Begitu sampai di dalam kamar, Ayu langsung menidurkan Zain ke atas tempat tidur dan menyiapkan pakaian untuk Ezra.
Beberapa saat kemudian Ezra sudah selesai mandi, dia keluar dai kamar mandi, dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya saja.
Ayu yang sedang menyusui Zain, menoleh, melihat suaminya yang berjalan ke arahnya, dengan wajah yang terlihat lebih segar.
"Sebentar ya, Mas ... aku lagi kasih ASI Zain dulu," ujar Ayu.
"Kamu fokus aja kasih ASI untuk Zain, tidak usah mmebantuku, lagi pula bajuku juga sudah kamu siapkan," ujar Ezra, sambil beranjak mengambil baju yang sudah disiapkan oleh Ayu, di atas ranjang.
Ayu yang memang sudah terbiasa menyipakan baju Ezra dan membantu suaminya itu memakinya, merasa ada yang kurang saat kegiatan itu terlewat.
Hanya saja dia jua sadar, kalau dirinya skearang harus lebih fokus pada sang anak yang sangat membutuhkan perhatian darinya.
Apa lagi, saat ini Zain baru saja lahir dan dalam masa ASI eksklusif selama enam bulan ke depan.
Ayu hanya mengangguk, dia kembali mengalihkan perhatiannya pada Zain yang kini sedang memandangnya, sambil terus meminum ASI.
"Assalamualaikum, Zain. Kangen gak sama Papah?" Ezra langsung menghampiri dan duduk di depannya.
Zain yang mendengar suara sang ayah, seakan mengerti, dia melirik Ezra, dan menghentikan sejenak gerakan bibirnya beberapa saat, kemudian asyik minum ASI kembali.
Ezra terkekeh, dia mnggoda Zain dengan mencium pipinya berulang kali.
"Mas," tegur Ayu, saat melihat Zain sudah tidak nyaman.
"Aku kangen sama Zain, sayang," ujar Ezra, sambil terus menggoda anak laki-lakinya itu.
Tangan Zain mencari keberadaan wajah sang Ayah, saat Ezra menjuhkannya, dan saat dia mendekatkannya kembali, tangan mungil itu seakan sedang meraba wajah Ezra.
Lelaki dewasa itu terkekeh kecil, melihat tingkah kecil dai Zain dan sambutan hangat dari Naura dan juga Ayu, selalu dapat menghilangkan semua rasa lelahnya, setelah seharian bekerja di kantor.
Ayu ikut tersenyum, melihat kahagiaan yang terpancar dari wajah suaminya. Suami yang telah memberikannya cinta dan kasih sayang yang melimpah.
Bukan hanya dari Ezra sendiri, akan tetapi dari seluruh keluarga dan juga Naura. Juga menghadirkan sesuatu yang tadinya dia anggap mustahil, yaitu anak yang ia lahirkan dari rahimmnya sendiri.
...🌿...
__ADS_1
...🌿...
...Bersambung...