
...Happy Reading...
...❤...
"Gini deh, sekarang Papah tanya sama, Kak Rara. Apa selama ini, Kakak, merasa ada yang berbeda dari perlakuan Mama, sebelum dan setelah Zain lahir?" tanya Ezra.
Naura tampak berpikir, dia kemudian menatap ayahnya dengan wajah serius, kemudian menggeleng.
"Gak ada sih. Tapi, sekarang Mama sering gak bisa nemenin aku, karena harus memberi ASI untuk Baby Zain," jawab Naura, dengan suara lirih.
Ezra kemudian tersenyum, dia mengusap pelan puncak kepala Naura dengan penuh kasih sayang.
"Tuh, Kak Rara, sudah bisa jawab sendiri. Tidak ada yang berubah dari perhatian dan kasih sayang, Mama. Hanya saja sekarang Mama juga harus melakukan tanggung jawabnya sebagai ibu, untuk memberi ASI pada Baby Zain. Kan, Baby Zain belum bisa makan, dan makanan utamanya saat ini adalah ASI dari Mama." Ezra berusaha memberikan pengertian pada Naura.
"Bukan Mama gak sayang sama, Kak Rara, atau Papah. Tapi, memang saat ini Baby Zain lebih membutuhkan perhatian lebih dari Mama. Kak Rara, mengerti sekarang?" tanya Ezra.
Naura mengangguk, dia kemudian tersenyum kembali.
"Jadi, Mama masih sayang sama aku kan, Pah. Walaupun aku gak sama seperti Baby Zain?" tanya polos Naura.
Kepalan tangan Ezra semakin mengerat, mendengar pertanyaan kecil yang seakan membakar emosi seorang ayah itu.
"Apa, Kakak, tau semua ini dari sekolah, atau dari mana?" tanya Ezra.
Naura mengangguk. "Ada yang bilang kalau Rara itu bukan lahir dari perut Mama, seperti Baby Zain. Jadi, Mama gak sayang sama Rara, Mama lebih sayang sama Baby Zain," adu Naura, dengan wajah polosnya.
Emosi Ezra sudah hampir meluap, bila saja tak ingat dengan keberadaan putrinya saat ini.
'Siapa yang berani memberikan perkataan seperti itu kepada putriku? Awas saja kalian!' geram Ezra dalam hati.
"Apa lagi yang mereka katakan tentang Mama sama, Kak Naura? Coba bilang sama Papah, biar Papah bis ajelasin, mana yang benar dan mana yang salah," pinta Ezra.
"Mereka bilang, gak ada ibu tiri yang baik, semua ibu tiri itu jahat, termasuk Mama. Nanti Kalau Mama sudah punya bayi sendiri yang lahir dari perutnya, Mama gak akan sayang lagi sama aku, dan lupain aku."
"Mereka juga bilang, kalau Mama sebenarnya cuman sayang sama Papah dan mau ngerebut Papah dari aku. Nanti Papah dibawa pergi dan ninggalin aku sendiri."
__ADS_1
Naura bercerita dengan wajah sendu dan mata yang sudah memerah menahan tangis.
Ezra memeluk Naura, dia tidak menyangka kalau selama ini anaknya itu mendapat tekanan dari lingkungan sekolahnya.
Dia pikir, Naura tidak pernah mendapatkan perkataan kotor dan tak pantas seperti itu, hingga dia bersikap santai dan biasa saja. Akan tetapi, ternyata semua itu batu terungkap dari mulut anaknya sendiri.
"Sayang, lain kali, kalau ada yang bilang seperti itu lagi, cerita sama Papah ya," pinta Ezra yang langsung diangguki oleh sang anak.
"Dengar sayang, semua yang dikatakan oleh orang-orang itu, sama sekali tidak benar. Mama sangat menyayangi Kak Rara. Walaupun sekarang sudah ada Baby Zain. Tapi, Kak Rara, masih tetap menjadi putri kecilnya Mama. Papah yakin itu," jelas Ezra.
"Sekarang, Kak Rara, jangan lagi berpikiran seperti itu ya. Kalau Mama tau, pasti nanti Mama sedih. Kak Rara gak mau kan, melihat Mama sedih?" tanya Ezra.
Naura menatap Ezra kemudian perlahan menggeleng.
"Rara, sayang Mama, sayang Papah, sayang Baby Zain juga," ujar Naura.
"Anak pintar. Sekarang kita ke kamar Baby Zain dulu, sebelum ke bawah," ajak Ezra, setelah anaknya sudah berpakaian rapi.
Naura mengangguk semangat, dia pun merentangkan tangannya kembali meminta untuk digendong.
Ezra tersenyum, dia kemudian mengangkat tubuhnya kecil anaknya.
"Eh, Kak Rara udah cantik. Sini coba Mama cium, udah wangi belum?" Ayu merentangkan sebelah tanganya, bersiap menyambut putrinya.
Ezra langsung menurunkan Naura, yang langsung berlari menuju keberadaan Ayu.
"Heummh! Wanginya putri kecil Mama!"
Naura terkekeh kecil, dia senang mendapatkan pujian dari ibu sambungnya.
"Mah, Ayo kita turun, aku sudah lapar," ajak Naura, sambil menarik sedikit baju yang dipakai oleh Ayu.
"Sebentar ya, sayang ... Mama masih memberi ASI. Kalau, Kak Rara, turun berdua dulu sama Papah gimana? Nanti Mama nyusul kalau Baby Zain, sudah kenyang," ujar Ayu, dengan nada lembut.
"Gak mau ah, aku mau tungguin, Mamah, aja." Naura beranjak duduk di sofa, dekat dengan sang ayah.
Ayu melirik sekilas wajah Ezra, seakan bertanya apa yang terjadi, sampai Naura terlihat sedikit berbeda.
__ADS_1
Ezra tak memberikan jawaban, dia hanya memberikan isyarat untuk menuruti keinginan Naura sementara waktu.
Ayu pun menurut, dia memilih untuk fokus memberi ASI, karena Zain yang sudah hampir terlelap.
"Mah, Rara udah lapar, Baby Zain belum selesai juga?" Naura kembali bertanya, setelah beberapa saat bermain dengan mainan di kamar Zain.
"Sebentar ya, sayang. Baby Zainnya, mau bobo ... tuh lihat, matanya sudah tertutup," jawab Ayu.
Naura melihat sekilas pada wajah Zain.
"Itu, Baby Zain udah bobo," ujarnya menunjuk mata Zain yang memang sudah tertutup, tapi gerak bibirnya masih menempel kuat di sumber makanannya.
"Iya, sayang. Baby Zain memang sudah tidur, tapi belum pulas. Itu lihat, bibirnya masih gerak-gerak. Nanti kalau sudah lepas, baru Mama bisa tinggalkan Baby Zainnya," jelas Ayu, dengan sabar.
Ezra melihat interaksi Ayu dan Naura, hatinya semakin panas, saat bayangan perbincangannya dengan Naura, beberapa saat yang lalu melintas di ingatan.
'Bagaimana mungkin, ada orang yang tega memberikan racun dan hasutan kepada pikiran polos seorang anak kecil sepertimu, sayang' gumam Ezra, melihat Naura yang memang terlihat lebih manja di bandingkan sebelumnya.
Matanya beralih melihat Ayu, wanita lembut dan penuh kasih sayang, hingga berhasil membuatnya tertarik, bahkan dari pandangan pertama, begitu juga Naura, anaknya itu bahkan langsung akrab dengan Ayu, sejak pertemuan mereka pertama kali.
'Kenapa masih saja ada yang meragukan kasih sayangmu kepada keluargaku, sayang. Apa mereka buta, hingga tak bisa melihat ketulusan yang terpancar dari setiap gerakan tubuhmu?'
Ezra kembali bergumam di dalam hati, menatap miris dua orang perempuan yang ia sayangi di depannya.
Ada perasaan gagal yang tiba-tiba saja merambat dalam dada. Bagaimana seorang Ezra, anak sulung keluarga Darmendra, bisa lalai dalam menjaga dua perempuan yang sudah Tuhan titipan padanya, kenapa ada saja mulut-mulut jahil dan suara sumbang dari orang yang tidak memiliki moral.
Berbicara tanpa berpikir dan mencari kebenarannya terlebih dahulu. Berkoar dan menyebarkan berita tanpa tahu dampak kepada orang yang mereka bicarakan.
'Aku berjanji, akan memberikan pelajaran yang sangat berharga, kepada orang yang sudah berani berbicara sembarangan tentang keluargaku, sampai mereka tak akan bisa berkutik lagi'
Janji Ezra di dalam hati.
Beberapa saat kemudian, Ayu sudah selesai memberi ASI untuk Zain, keluarga kecil itu pun akhirnya turun ke bawah bersama-sama, untuk melakukan sarapan pagi.
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...