Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.155 Kehidupan Baru


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Beberapa saat kemudian Riska dan Keenan baru saja sampai di rumah Ezra. Keduanya tampak keluar dari mobil secara bersamaan. Di depan sana, Ayu, Ezra dan Naura sudah berdiri dengan menyambut kedatangan keduanya.


"Uncle!" teriakan dari Naura langsung menimbulkan senyum lebar di wajah Keenan, dia berjongkok di depan mobil, demi menyambut kedatangan keponakannya itu.


"Uh, cantiknya Uncle sekarang tambah berat, ya?" ujar Keenan sambil berdiri kembali dengan menggendong anak sulung Ezra.


"Iya dong, 'kan aku mau cepet gede biar bisa gendong ade lau udah lahir," jawab Naura.


Riska tersenyum melihat keakraban Keenan dan Naura. Dia berjalan di samping suaminya, dengan sedikit menundukkan pandangan. Malu rasanya saat dirinya harus menjadi adik ipar dengan cara tidak sewajarnya seperti ini, apa lagi dengan berita yang beredar, itu semua semakin membuat Riska tidak percaya diri di depan semua keluarga Keenan.


"Kak." Keenan menatap Ezra dan Ayu bergantian.


Ezra yang tau kalau saat ini Keenan sedang butuh dukungan, tersenyum lalu menepuk pundaknya berulang.


"Ikut Kakak ke ruang kerja, kita bicarakan di sana saja," ujar Ezra kemudian.


"Sayang, kamu turun dulu, ya. Uncle sedang ada pekerjaan dengan Papa, sekarang main sendiri dulu ya," lembut Ayu pada Naura.


Gadis kecil itu mengangguk, lalu meminta turun kepada Keenan. "TTapi, nanti kalau kerjanya selesai, uncle harus nemenin aku main ya?" ujar Naura setelah turun dari gendongan Keenan.


"Iya, uncle janji." Keenan meunjukanjari kelingkingnya yang langsung di sambut oleh Naura dengan senyummengembang.


"Janji!" ujar Naur, sambil menautkan jari kelingkingnya dengan Keenan.


"Ya udah aku mau main sama Bi Yati aja," sambungny lagi, sebelum berlari masuk ke dalam rumah.


Ayu beralih pada Riska, dia memeluknya dengan usapan lembut di punggung gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri itu.


"Sabar ya, Ris. Mba yakin, semua ini pasti akan cepat berakhir," ujar Ayu, sambil memeluk gadis itu.


Riska mengangguk, menyandarkan dagunya di pundak Ayu dengan air mata yang kembali menetes, walau secepat kilat dia hapus sebelum terlihat oleh wanita hamil itu.


"Yuk, kita masuk. Mba antar ke kamar kamu dan Keenan," ujar Ayu setelah mengurai pelukan mereka berdua.


Keenan menatap istrinya yang kini berada di samping Ayu.


"Aku ke ruang kerja Kak Ezra dulu," pamit Keenan sebelum berjalan lebih dulu bersama dengan lelaki beranak satu itu.


Riska mengangguk, dia pun Ikut berjalan di belakang kedua lelaki itu, sambil bergandeng tangan dengan Ayu. Langkah Ayu yang lambat membuat keduanya tertinggal jauh dari Ezra.


Mereka naik ke lantai dua, Keenan dan kedua orang tua Ezra memang sudah mempunyai kamar sendiri di rumah itu, karena mereka memang sering menginap di sana.


"Hati-hati, Mba," ujar Riska begitu mereka sedang menaiki tangga.

__ADS_1


Ayu memang masih menempati kamarnya di lantai dua, dia tidak mau pindah walau Ezra sudah beberapa kali menyarankan untuk pindah ke kamar yang ada di bawah.


"Iya, kamu gak usah khawatir, aku gak apa-apa," jawab Ayu sambil melirik sekilas pada Riska yang ada di sampingnya.


"Ini ruang kerja Mas Ezra, sedangkan ini kamar mba dan itu kamar Naura," ujar Ayu menunjuk satu persatu ruangan di lantai dua.


Riska mengangguk, dia mengikuti setiap telunjuk Ayu dan berusaha mengingatnya. Selama ini dia memang sering datang ke rumah ini, hanya saja cuma sampai di lantai bawah.


Ini baru pertama kali dia menginjakkan kakinya di lantai dua, karena itu memang ruangan khusus keluarga, bahkan kamar tamu saja ada di lantai satu. Tidak ada yang bebas untuk datang ke lantai dua rumah Ezra, kecuali keluarga.


Riska mengedarkan pandangannya melihat setiap sudut yang dapat ia lihat, semuanya tampak begitu indah dengan kesan feminim yang lebih dominan, di dominasi dengan warna putih dan perpaduan warna biru langit dan merah muda yang ternyata bisa menyatu dengan begitu indah, hingga menampilkan ruangan konsep ruangan yang terlihat nyaman.


Mereka berjalan kembali menuju pintu yang lainnya, Ayu menghentikan langkahnya di sana, lalu menatap Riska dengan senyum mengembang.


"Ini kamar Keenan, selama di rumah ini, ini juga akan menjadi kamar kamu," ujar Ayu, dia kemudian membuka kamar yang memang tidak pernah dikunci itu.


Riska tersenyum canggung, dia melangkah masuk mengikuti Ayu ke dalam kamar. Suasana yang sangat berbeda kini langsung menyapa matanya.


Ruangan luas yang mungkin hampir sama dengan luas keseluruhan rumahnya itu, lebih di dominasi dengan warna coklat muda dan putih dengan perpaduan banyak interior dari kayu menghiasi kamar lelaki yang kini sudah menjadi suaminya itu.


"Nah, ini dia kamar Keenan. ujar Ayu begitu dia masuk ke kamar adik iparnya itu.


"Di sana ada kamar mandi yang langsungmenyatu dengan walk in kloset, sedangkan itu pintu balkon," tunjuk Ayu pada beberapa pintu yang ada di amar itu.


Riiska hanya mengikuti setiap gerak Ayu smabil mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berniat untuk menimpali perkataan wanita hamil itu.


Dalam hati, dia meringis melihat semua kemewahan yang ada di kamar ini. Semua ini tampak berbeda jauh dengan kamarnya yang seadanya, bahkan mungkin terlihat memprihatinkan, bila dibandingkan dengan semua yang dilihatnya kini.


Riska mengangguk. "Terima kasih, Mba. Maaf, aku jadi ngerepotin."


"Tidak ada yang merasa direpotkan, Ris. Kamu gak usah sungkan sama, Mba. KIta sudah bersama sejak lama, Mba sudah menganggap kamu seperti adik Mba sendiri ... apalagi sekarang kita sudah menjadi sebuah keluarga, jadi jangan ngomong gitu lagi, ya."


"Tidak ada keluarga yang akan merasa direpotkan bila dimintai tolong oleh saudaranya, apa lagi Keenan dan kamu, kalian sudah banyak berjasa dalam kehidupan Mba, juga hubungan Mba dan Mas Ezra."


"Mba justru sangat bersyukur karena akhirnya kalian berjodoh, walau dengan cara yang lumayan ekstrim." Ayu tersenyum samar saat mengingat cara mereka berdua menikah.


"Sekarang ini, Mba hanya berharap hubungan kalian berdua akan memanjang, dengan rasa sayang yang perlahan bisa kalian rasakan satu sama lain." Ayu memegang tangan Riska.


"Ini adalah awal dari perjuangan kamu, Ris. Dapatkan kasih sayang Keenan dan perjuangkan hak kamu sebagai seorang istri. Mba akan selalu mendukung kamu dalam hubungan kalian," ujar Ayu lagi.


"Semangat!" ujar Ayu, mengepalkan tangannya dan mendorongnya ke atas.


Riska terkekeh kecil mendapati Ayu yang selalu mendukung dirinya, sejak ia memutuskan untuk ikut dengan wanita itu. Begitu banyak sudah hutangnya pada Ayu, dari mulai materi sampai dengan dukungan dan kasih sayangnya, yang seakan tidak pernah meminta balasan dari Riska dan keuarganya.


Kebaikan dan ketulusan hati wanita itu lah yang membuat Riska tetap bertahan di sisi Ayu, berjuang bersama memajukan butik yang dulu masih sangat kecil dengan pelanggan yang hanya bisa dihitung dengan jari.


"Ya sudah, Mba, pamit keluar dulu ya," pamit Ayu yang langsung diangguki oleh Riska.


Riska menatap punggung Ayu sampai menghilang di balik pintu. Menghembuskan napas kasar, kemudian memilih duduk di atas sofa panjang yang ada di kamar itu.

__ADS_1


Matanya mengedar sekali lagi, menatap keseluruhan ruangan besar itu, yang kini telah menjadi kamarnya dan Keenan.


Dia semakin merasa kecil dan tak pantas untuk menjadi seorang istri dari Keenan, suaminya itu terasa sangat tinggi bagaikan bintang di langit, hingga sulit untuk dia gapai.


Sedangkan dirinya bahkan tidak mempunyai sayap untuk terbang dan meraih bintang itu. Dia sadar akan semua itu, Riska bertekad untuk harus tetap sadar diri dan menapak di bumi agar nanti tidak terjatuh dan terluka kedepannya.


"Apakah aku pantas untuk bersanding denganmu, mendampingi setiap kesempurnaan yang telah kamu miliki?" gumamnya, menatap foto lelaki itu yang berada di atas nakas di samping tempat tidur.


Riska terlalu takut untuk berharap, kini dia bahkan merasa tak pantas untuk mendapatkan rasa sayang dari lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu.


"Sanggupkah aku menjalani kehidupan baru ini denganmu, tanpa ada rasa cinta dan sayang di antara kita?"


.


.


Di tempat lain, tepatnya di ruangan kerja Ezra, kedua kakak beradik itu tampak sedang fokus pada layar monitor di depan mereka, melihat perkembangan setiap berita yang kini masih berusaha dihentikan oleh para tim IT milik perusahaan Ezra dan keluarganya sekaligus.


Ya, terlambatnya mereka mengetahui tentang berita itu membuat sudah banyak akun yang merepost berita itu. Hingga semakin menyebar tidak terkendali.


Berita itu diterbitkan pada saat menjelang dini hari, di saat banyak mata masih tertutup rapat menikmati mimpi masing-masing.


Drrt ... drrt ...


Getar ponsel Ezra mengalihkan perhatian kedua lelaki itu, terdapat nama sang ayah di layar itu, membuat Ezra langsung menggeser ikan bergambar telepon berwarna hijau.


"Ya, Pah?" sapa Ezra begitu dia menempelkan ponselnya di telinga. Matanya melirik sekilas pada wajah adiknya yang kini sedang menatapnya.


"Apa yang sedang terjadi dengan Keenan, Zra? Kenapa berita itu bisa bocor ke luar?" tanya Garry dengan suara tegasnya.


"Maaf, Pah. Sepertinya ada seseorang yang memang sudah merencanakan semua ini ... dan itu berawal saat Keenan dan Riska terjebak di sana," jelas Ezra.


"Maksudmu, ada yang sedang mencari masalah dengan keluarga kita?" tanya Garry memastikan prasangkanya.


"Benar, Pah. Aku dan Keenan sekarang sedang mencari tau dalang semua ini, sambil mencoba menghapus semua berita yang terlanjur tersebar luas," jawab Ezra.


"Baiklah, Papa dan Mama baru saja sampai di bandara, kita akan langsung pergi ke rumah kamu," ujar Garry, sebelum memutuskan sambungan telepon bersama anak sulungnya itu.


"Apa kata Papah, Kak?" tanya Keenan.


"Papa dan Mama sudah ada di bandara, mereka akan langsung datang ke sini," jelas Ezra.


Keenan mengangguk samar, dia kembali mencari celah dalam setiap berita yang ada, siapa tahu ada petunjuk yang akan membawanya pada pelaku sesungguhnya.


Keduanya kembali sibuk mencari titik terang dari masalah yang kini sedang dihadapi, sambil sesekali berkomunikasi dengan para anak buah yang bekerja di lapangan.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2