
...Happy Reading...
......................
Waktu sudah menjelang siang, sewaktu ibu pulang dari pasar. Riska sedang duduk di depan televisi bersama dengan Rio, mereka berdua asik bermain game bersama di ponsel milik Rio.
Di samping keduanya terdapat sebuah piring kecil berisi bedak tabur bayi untuk dicoretkan ke wajah siapa saja yang kalah.
Wajah Rio maupun Riska sudah hampir penuh dengan bedak sebagai hukuman.
"Yah, aku kalah lagi," desah Rio, yang diiringi dengan tawa Riska.
"Yes!" Riska mengacungkan kepalan tangannya ke atas, dengan ekspresi puas.
"Sini wajah kamu, giliran aku kasih bedak," ujar Riska, sambil bersiap menorehkan kembali bedak ke wajah adiknya.
"Muka aku udah bedak semua. Sekarang, Kakak, mau kasih bedak di mana lagi?" tanya Rio, sambil bertingkah seperti sedang memelas.
Dia begitu, bukan karena Rio terlalu banyak dikalahkan. Akan tetapi, Riska yang jahil sengaja menorehkan banyak bedak setiap kali Rio kalah darinya.
"Ya, terserah aku dong, kan aku yang menang." Riska sudah meremas bedak di salah satu tangannya.
"Kak," Rio berusaha memelas kepada kakaknya agar tidak lagi menambahkan bedak di wajahnya.
"Gak bisa! Sini, cepetan." Riska mengambil tangan Rio yang berada di depannya dan menariknya lebih dekat lagi.
"Ini dia!" teriak Riska sambil mengusapkan tangan berisi bedak itu ke kepala Rio.
"Hahahah, liat wajah kamu! Ya ampun, lucu banget sih, hahaha!" Riska tertawa geli, saat melihat penampakan wajah sang adik yang penuh dengan bedak bayi.
Rio tidak mau kalah dia pun ikut mengambil bedak dan menorehkannya pada kedua pipi sang kakak, hingga kini wajah Riska juga penuh dengan bedak.
"Nah, ini baru cantik, hahaha!" ujar Rio, disertai dengan tawanya.
"Sini-sini foto dulu, buat kenang-kenangan," imbuh Rio lagi sambil mengambil ponselnya dan mengaturnya pada mode kamera.
Dengan senang hati Riska pun berfoto menggunakan kamera depan ponsel Rio, Riska memasang berbagai gaya yang lucu bersama dengan sang adik.
Keduanya kembali tertawa, saat melihat penampakan foto yang baru saja diambil.
Diam-diam Rio mengirimkan salah satu foto Riska yang sedang tertawa bahagia, pada Keenan. Agar kakak iparnya itu tidak lagi merasa khawatir pada istrinya.
__ADS_1
"Astagfirullah, apa yang sedang kalian lakukan?!" kaget ibu waktu masuk ke dalam rumah.
Dia memang lebih dulu berhenti di warung, untuk memasukkan barang belanjaan di sana. Dia hanya membawa bahan masakan dan es cendol pesanan Riska ke rumah.
Riska dan Rio pun menolehkan kepalanya pada ibu yang baru saja datang.
"Ya Allah!" Ibu terkejut melihat wajah kedua anaknya yang sudah tak berbentuk karena terhalang oleh bedak.
"Eh, Ibu. Ini Riska sama Rio," ujar Riska yang takut kalau ibunya tidak mengenalinya.
Rio hanya tersenyum lebar hingga menampilkan giginya, saat melihat wajah terkejut ibunya.
Ibu menatap seluruh tubuh kedua anaknya yang terlihat penuh dengan bedak, juga lantai di sekitarnya. Dia menggeleng lemah, melihat tingkah kedua anaknya itu.
"Kalian ini sudah pada dewasa, badan juga sudah pada gede, malah Riska seventar lagi mau punya anak. Tapi, kenapa kelakuannya masih kayak anak kecil begini? Ya ampun, kenapa perang bedak di rumah!" omel Ibu, tidak habis pikir dengan kelakuan dua anaknya itu.
Mereka seakan tidak pernah kehabisan cara untuk membuat ulah, bila sedang berdua seperti ini. Mulai dari berdebat hal sepele, sampai kelakuan kekanak-kanakan seperti sekarang ini.
"Hehe, maaf, Bu. Nanti kita beresin kok. Tapi, boleh gak kita minum es cendol itu dulu," ujar Riska, menatap canggung wajah ibunya.
Wanita yang tengah hamil muda itu sudah menelan salivanya setelah matanya tidak sengaja melihat es cendol pesanannya yang berada di dalam sebuah kantong plastik transparan.
"Cuci tangan sama muka dulu, baru boleh minum esnya." Ibu langsung berjalan menuju ke dapur.
"Siap, Bos!" ujar keduanya bersamaan.
Ibu tersenyum senang di tengah langkahnya. Rasanya lelah yang dia rasakan langsung menghilang saat melihat kedua anaknya itu.
Rio dan Riska pun langsung berdiri dan berjalan menuju ke kamar mandi bersama, untuk melakukan perintah dari wanita yang melahirkan mereka.
Di dalam kamar mandi, Riska menyipratkan air pada wajah Rio, dia tertawa saat Rio berusaha menghindari.
"Kak, udah dulu ih!" ujar Rio, sambil berusaha menutupi wajahnya menggunakan tangan.
"Riska, ingat kamu sedang hamil, jangan mainan air di kamar mandi!" teriak Ibu, saat mendengar suara tawa dari kamar mandi.
"Tuh kan, dimarahin lagi sama Ibu," ujar Rio.
Riska menghentikan aktivitasnya saat mendengar teriakan ibunya dari dapur.
"Oh iya, aku lupa aku lagi hamil," ujar Riska santai lalu pergi meninggalkan Rio yang menatapnya dengan mata melebar.
__ADS_1
"Astaga, bisa-bisanya ada wanita lupa kalau dia lagi hamil?" lirih Rio, bertanya pada dirinya sendiri.
Dia tampak melihat Riska dengan tatapan terkejutnya, lalu beranjak mengikutinya.
"Mau heran. Tapi, itu kakakku. Ck ck ck," ujar Rio lagi sambil menggeleng kepala samar.
Sampai di dapur ternyata Ibu sedang menuangkan es cendol itu pada gelas yang lumayan besar. Riska langsung duduk dan mengambil es yang sudah sangat diinginkannya itu.
"Eumm, kayaknya seger banget," ujar Riska sambil mengambil gelas yang sudah berisi es cendol.
Riska melihat penuh minat es yang terbuat dari, gula aren dan santan, juga cendol yang dibuat dari campuran tepung sagu dan tepung beras itu.
Perlahan Riska mulai menyeruput air yang berbau wangi campuran pandan dan gula aren, juga gurih dari santan kelapa.
Semuanya bercampur menjadi satu, lalu sensasi dingin dari es batu, hingga menjadikan suatu rasa yang mampu membuat suasana hati menjadi lebih indah.
Riska memejamkan matanya, menikmati rasa yang sudah lumayan lama dia rindukan.
"Ish, lebay banget sih. Cuman makan es cendol doang, udah kayak abis makan es krim harga ratusan ribu." Rio berdecak malas dengan sikap berlebihan sang kakak.
Riska yang mendengar suara sang adik langsung membuka matanya, dia menatap tajam adik laki-lakinya itu.
"Apa kamu bilang barusan?" tanya Riska tidak terima karena merasa terganggu dengan adiknya.
"Apa? Aku gak ngomong apa-apa," jawab Rio, sambil kembali meminum es cendolnya.
"Ish, dasar pengganggu!" geram Riska.
"Sudah-sudah, kalian ini urusan minum es cendol aja diributin." Ibu menghentikan pertengkaran dari anak-anaknya.
Rio dan Riska pun langsung menghentikan perdebatan keduanya. Baik Riska dan Rio pun akhirnya menikmati es cendol pesanan Riska bersama-sama.
Keduanya tampak menikmati minuman khas Indonesia itu hingga tandas.
"Akhirnya, aku bisa merasakan lagi es ini," ujar Riska sambil menaruh kembali gelas di atas meja.
...🌿...
...🌿...
...Berambung...
__ADS_1