Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.44 Di rawat


__ADS_3


...Happy Reading ...


...❤...


Malam pun akhirnya berlalu, bersama dengan datangnya pagi hari, di bawah sinar mata hari yang bersinar sangat cerah.


Ayu mulai mengerejapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang datang.


Kepalanya masih terasa sedikit pening, walau sudah lebih baik di bandingkan dengan kemarin sore.


"Dek...?" suara seorang lelaki di dekatnya, membuat Ayu langsung melebarkan matanya.


Ansel, sang kakak berdiri di sampingnya dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


Ya, Ansel memilih tetap berada di samping sang adik, sedangkan Elena, harus pulang. Karena, hatus menjemput Bian di rumah kakek dan nenek nya, dan mengantarnya ke sekolah.


"Kamu?" lirih Ayu langsung berusaha untuk bangun.


"Jangan bergerak, biar aku naikkan ranjangnya saja," cegah Ansel, berjalan cepat menuju ujung brangkar.


Ayu tak menjawab, namun dia menuruti perkataan sang kakak.


Pikirannya, berusaha mengingat kembali kejadian kemarin sore.


Dia ingat saat itu ia sedang menangis ketika tiba-tiba ia merasakan pusing yang teramat sangat, sebelum akhirnya kegelapan merenggut kesadaran dirinya.


Lalu, siapa yang membawanya ke sini?


Pertanyaan itu tertahan di benak Ayu, saat Ansel tiba-tiba duduk kembali di sisinya.


"Maafkan Kakak, Dek. Karena Kakak kamu jadi kayak gini," ucap Ansel dengan tatapan sendu.


"Untung saja, Ezra ke rumahmu tadi malam dan menemukan kamu, sehingga kamu bisa mendapat pertolongan dengan cepat," tambahnya lagi.


"Ternyata, Ezra yang membawa aku kesini?" batin Ayu.


"Ini semua bukan salah kamu, ini semua sudah biasa terjadi padaku," ucap Ayu.


Dia memang mempunyai anemia sejak percobaan bunuh diri waktu itu. Setiap dia mempunyai banyak pikiran atau terlalu cape, maka tekanan darahnya akan langsung drop dan mengakibatkan dirinya harus melakukan rawat inap, atau transfusi darah.


Mungkin itu juga salah satu efek dari depresi yang ia derita, hingga tubuhnya menjadi lebih lemah, di bandingkan orang lain.


Untuk latihan fisik, tubuhnya masih tergolong kuat, itu terbukti di saat dirinya mengikuti latihan bela diri, di pedepokan Abah.


Namun, bila itu berurusan dengan pikiran dan emosi, tubuhnya tergolong lemah dan mudah sekali drop.


"Kamu sudah biasa seperti ini?" tanya Ansel dengan alis bertaut.


Ayu mengangguk.


Klek...


Suara pintu terbuka membuat kedua orang di ruangan itu, mengalihkan pandangannya.


"Aunty...!" sosok kecil yang muncul dari balik pintu, membuat bibir pucat Ayu, tertarik ke atas.


"Maaf, saya mengganggu," Ezra menyusul di belakang, dengan memakai kemeja, bagian lengannya ia gulung sampai ke siku.

__ADS_1


Terlihat segar dan berkarisma, tak terlihat kalau dia sudah mempunyai anak satu.


Lelaki berumur tiga puluh tahun itu, lebih terlihat beberapa tahun lebih muda dari usianya.


Ayu hanya melirik sebentar dan menganggukan kepala sambil tersenyum tipis pada Ezra.


Ansel beranjak menghampiri sahabatnya itu.


"Aunty, kenapa bobo di lantai? Kan jadinya sekarang sakit," ucap lucu Naura di dalam pangkuan Ayu.


"Iya, Aunty lupa, jadi ketiduran di lantai. Tapi sekarang Aunty udah gak sakit lagi kok," jawab Ayu, sambil mengusap lembut rambut Naura.


"Naura kok gak sekolah?" tanya Ayu, melihat baju yang di pakai bocah kecil itu, bukanlah seragam sekolahnya.


"Rara gak mau sekolah, Rara mau di sini aja, temenin Aunty." Peluk Naura di pinggang wanita yang selalu membuatnya nyaman.


"Eh, gak boleh begitu dong, sayang. Naura sekolah ya, nanti pulang sekolah kan bisa kesini lagi buat temenin Aunty," Ayu mencoba merayu Naura.


"Enggak mau, pokoknya Rara mau di sini sama Aunty!" geleng Naura, menelusupkan wajahnya di dada Ayu.


"Sayang, gak boleh kaya gitu, itu Auntinya masih sakit," Ezra bergerak menghampiri Ayu dan sang anak, setelah berbicara dengan Ansel.


"Enggak apa-apa, Pak. Biarkan saja," ucap Ayu, mendongakan wajahnya untuk melihat Ezra yang berdiri di sampingnya.


Ezra menatap tidak suka dengan panggilan Ayu padanya.


"Terima kasih untuk semalam, maaf saya merepotkan," ucap Ayu lagi, menundukan kepalanya, karena tak sanggup melihat tatapan tajam dari mata Ezra.


Ezra tak menjawab, dia hanya menganggukan kepalanya, samar.


Ansel memperhatikan gerak-gerik keduanya dari sofa di ruangan itu, ia tau kalau sahabatnya itu mempunyai perasaan lebih kepada sang adik.


Semua itu, begitu terlihat dari cara Ezra menatap dan memperlakukan Ayu.


Namun, dia juga sadar, perjuangan sahabatnya untuk mendapatkan hati Ayu, akan lumayan berat.


Mengingat, wanita itu terlalu banyak di lukai oleh lelaki di sekitarnya, salah satunya yaitu dirinya dan sang ayah.


Dengan segala bujuk rayu dari Ayu, akhirnya Naura mau untuk pergi ke sekolah, dan akan kembali bersama dengan Bian nanti siang.


.


Di sisi lain, Radit baru saja pergi dari rumah untuk bekerja sekaligus menghadiri sidang ke dua, perceraiannya dengan Ayu.


Setelah melihat sang suami telah pergi, Mala langsung bersiap, untuk berkunjung ke rumah sang mertua yang hanya berjarak beberapa blok saja dari rumahnya.


Beberapa saat kemudian, Wanita yang sedang mengandung itu, sudah siap, dengan memakai gaun berwarna hijau daun, sebatas lutut, dan sebuah tas kecil yang dia gantungkangkan di bahu sebelah kanannya.


Karena hari masih pagi, dengan matahari yang belum terlalu terik, Mala hanya akan berjalan kaki menuju rumah mertuanya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Mala sudah sampai di pelataran rumah kedua orang tua Radit.


"Apa kabar, Bu?" sapa Mala, sambil memeluk Sari.


"Baik, sayang. Kamu baik-baik saja kan? Gimana kabar cucu, Ibu?" tanya Sari, mengelus perut Mala yang sudah semakin terlihat membesar.


Gerakan halus pun sudah mulai terasa, saat sang bayi di dalam perutnya menendang.


"Dia, baik kok, Bu. Sekarang gerakannya sudah mulai terasa," ucap Mala ikut mengelus perut bagian bawahnya.

__ADS_1


Sari tersenyum hangat, menggandeng lengan sang menantu, untuk duduk di sofa ruang keluarga.


Perbincangan hangat antara kedua wanita, berbeda usia itu pun terlihat sangat menyenangkan.


Hingga, tiba-tiba saja, wajah Mala berubah menjadi murung.


"Kamu kenapa, Mala?" tanya Sari saat baru saja kembali dari dapur, untuk membawa camilan.


Mala menggelang, dengan senyum yang sangat terlihat di paksakan.


"Aku gak papa kok, Bu," ujar Mala, dengan wajah yang masih saja terlihat sendu.


"Ada apa, hm? Bilang sama Ibu. ... Apa Radit menyakiti kamu?" tanya Sari dengan penuh selidik.


"Enggak, Bu. ... Hanya saja beberapa minggu yang lalu, jabatan Mas Radit di turunkan," Mala mengadu pada sang ibu mertua.


"Di turunkan bagaimana? Kamu bercanda 'kan, Mala?" Sari mengerutkan keningnya dalam.


"Itu yang di bilang sama Mas Radit padaku, Bu.... Aku gak tau itu benar atau tidak," jawab Mala, menundukan kepalanya.


"Bagiaman bisa terjadi? Selama ini, Karir Radit di perusahaan itu, selalu bagus!" Sari masih belum bisa percaya, dengan apa yang di katakan oleh menantunya.


Selama ini, tidak pernah ada kendala dalam pekerjaan sang anak. Bahkan, karir Radit di sana, semakin naik dan banyak mendapatkan bonus, karena pekerjaannya yang selalu bagus dan memuaskan atasannya.


Namun, apa yang dia dengar dari sang menantu, membuatnya sangat terkejut, dan sedikit tidak masuk akal.


"Aku bingung, Bu, bagaimana nanti akan memenuhi kebutuhan rumah tangga kita, kalau itu memang benar terjadi," ucap Mala lagi.


Sari memandang istri kedua anaknya itu.


"Kita juga harus mempersiapkan segala keperluan anak, dan persalinan. Tapi, kalau seperti ini, dari mana kita bisa mempunyai uang lebih?" sambungnya lagi.


"Aku sudah menawarkan untuk ikut bekerja, agar bisa membantu keuangan rumah tangga kita. Tapi, Mas Radit tidak mengijinkannya."


"Padahal, Masih banyak penawaran untuk menjadi model atau endorse tentang kehamilan," Mala sudah mulai terisak.


"Ibu, setuju dengan Radit," ucapan Sari membuat Mala terkejut.


Mala langsung melihat wajah sang mertua.


"Kamu sedang hamil, bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa dengan kandungan kamu? Ibu juga tidak mengijinkan kamu untuk bekerja," sambung Sari.


"Lebih baik kamu menurut saja apa yang di katakan oleh suami kamu. Urusan uang, biar menjadi tanggung jawabnya," nasihat Sari.


Mala menghembuskan napas kasar, mengangguk lemas.


Dia mengira sang mertua akan mendukung keinginannya untuk bekerja kembali, tetapi ternyata itu tidak terjadi.


Padahal, dirinya sudah sangat bosan, terus berdiam diri di rumah.


Membantu keuangan, hanyalah alasan, agara dia bisa di perbolehkan kembali kepada kehidupannya dulu.


Gaya hidup yang bebas dan bertemu banyak orang setiap hari, itu semua sangat ia rindukan.


Semenjak Radit tau tentang kehamilannya dan menikahinya, dirinya seperti sedang terkurung, dan tidak bisa bebas seperti dulu.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


...🙏😊🥰...


__ADS_2