
...Happy Reading...
...❤...
Sore hari dua menantu dan para mertua itu menghabiskan waktu mereka di gazebo yng ada di taman belakang rumah Ezra, mereka asyik bercengkerama hingga hampir lupa waktu. Semua itu mereka lakukan untuk menghilangkan rasa canggung Riska.
Sebagai seorang menantu baru, apa lagi dengan status sosial yang jauh berbeda, tentu akan membuat anggota baru kluarga Darmendra itu menjadi merasa tidak percaya diri, atau bahkan tidak pantas berada di sana.
Itu semua sudah bisa diperkirakan oleh pasangan paruh baya itu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk melakukan pendekatan dulu dengan didampingi oleh Ayu yang sudah lebih dulu dekat dengan Riska.
Ternyata semua rencana Nawang dan Garry cukup berhasil, karena sekarang Riska tidak lagi secanggung seperti tadi, dia lebih bisa membaur dengan kedua mertuanya.
Menjelang magrib mereka semua memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Para perempuan kembali berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam, Ayu memisahkan makan malam untuk suami dan juga adik iparnya terlebih dahulu sebelum menghidangkan makanan itu di atas meja.
Tadi sore, Ezra sudah memberi tahu kalau dia mungkin akan pulang larut malam, karena masih ada pekerjaan yang harus dia selesikan.
"Ris, kami duluan ke kamar ya. Kamu kalau sudah mengaantuk tidur dulu saja, jangan terus menunggu suamimu, entah kapan mereka akan pulang malam ini," ujar Nawang setelah malam semakin larut dan mereka belum mendapat kabar kapan dua ank lelakinya itu akan pulang.
"Iya, Mah. Aku masih belum nagntuk," jawab Riska.
"Ya, sudah. Nanti tolong ingatkan Nindi juga, buat istirahat tepat waktu, dia suka tidak tau waktu kalau sedang menunggu suaminya pulang," pesan Nawang, yang langsung diangguki oleh Riska.
Saat ini Ayu sedang menemani Naura tidur, setelah sejak tadi gadis kecil itu terus bermain dengan para mainannya.
Di kamar Naura, Ayu baru saja beranjak setelah melihat Naura sudah tertidur lelap. Dia membetulkan letak tidur anak sambungnya itu, lalu menarik selimut sampai sebatas dada, mematikan lampu tidur hingga hanya menyisakan cahaya temaram berwarna merah muda, dari lampu hias memanjang yang terletak di atas tempat tidur.
"Selamat tidur, sayang. Mama sayang, Naura," ujar Ayu setelah memberikan kecupan di kening gadis kecil itu.
Melihat jam karakter yang menggantung di dinding kamar, Ayu menghela napas napas panjang, saat jarum jam itu sudah menunjuk pada angka sepuluh malam.
"Sepertinya masalah kali ini cukup berat, sampai malam begini Mas Ezra belum pulang juga," gumam Ayu.
Mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak di atas nakas, melihatnya berharap ada pesan dari sang suami.
Kembali menghela napas, saat dia mendapati tidak ada satu pesan pun dari sang suami. Sebagai seorang istri ia tetap saja merasa khawatir pada suaminya bila pulang lewat dari waktu.
Walaupun Ayu tahu kalau Ezra bukanlah seseorang yang bis dengan mudah dilukai, apalagi saat ini ada Keenan dan para anak buahnya yang engelilingi lelaki itu. Akan tetapi, bayangan sewaktu Era pulang dengan luka tembak beberapa bulan yang lalu, selalu menghantuinya.
__ADS_1
Memilih keluar kamar dan berjalan menuju lantai bawah, dia masih ingin menunggu sang suaminya. Dari arah tangga dia bisa melihat Riska yang masih duduk di ruang keluarga seorang diri, dengan televisi yang masih menyala.
"Kamu belum tidur, Ris?" tanya Ayu, begitu dia sampai di ruang keluarga.
Riska mengalihkan perhatiannya pada Ayu. "Belum ngantuk, Mba. Mba juga belum istirahat?"
"Belum, Mba mau nunggu Mas Ezra dulu," jawab Ayu, sambil duduk di samping Riska.
Mereka berdua memutuskan untuk masuk ke kamar setelah satu jam menunggu, tetapi, Ezra dan Keenan masih juga belum pulang.
Di dalam kamar Ayu memutuskan untuk menunggu kembali suaminya sambil membaca buku tentang kehamilan dan berbagai ilmu parenting untuk mempersiapkan diri menghadapi waktu kelahiran sang anak.
Sedangkan Riska, malah mengerutkan kening bingung, ia duduk di atas sofa dengan pikiran melayang.
"Kok aku ngerasa khawatir ya sama Bang Keenan, apa aku mulai jatuh cinta sama dia?" gumam Riska menerka perasaannya sendiri.
"Ah, gak mungkin aku jatuh cinta secepat ini sama dia. Paling ini hanya rasa peduli saja, itu kan wajar di rasakan pada siapa pun." Riska menggelengkan kepalanya, menolak pemikirannya sendiri.
"Apa sih, aku ini? Kok malah kepikiran sama dia?" gumam Riska kemudian, dia berjalan menuju ranjang lalu mengambil bantal dan kembali berjalan menuju sofa.
"Dari pada aku mikirin dia, mendingan aku tidur!" ujarnya lagi, merebahkan diri di sofa dengan bantal yang tadi dia ambil secara acak di ranjang milik Keenan.
"Apa ini juga yang dirasakan Mba Ayu, setiap kali Bang Ezra pulang malam? Kasihan banget sih, dalam keadaan hamil gitu masih aja harus mengkhawatirkan suaminya yang belum pulang, sampe tidur malam? Aku yakin sekarang Mba Ayu pasti juga belum tidur di kamarnya sama kayak aku," gumam Riska, berbicara sendiri, menerjemahkan isi hatinya.
Menjelang tengah malam, Riska baru saja mendengar suara mobil yang masuk ke dalam pelataran rumah. "Nah itu pasti mereka, baru pulang!'
Riska berdiri dengan wajah sumringah, berjalan menuju ke arah pintu kamar, berniat untuk turun ke lantai bawah. Akan tetapi, pemikirannya kembali menghentikan niat awalnya.
"Eh, ngapain juga aku nyamperin dia, mau ngapain? Ih, nanti dia malah ge'er lagi," ujar Riska kembali duduk di atas sofa.
"Mending aku pura-pura tidur saja lah!" kembali Riska berucap sambil merebahkan tubuhnya lalu memejamkankan mata.
Cklek.
Suara pintu kamar terbuka membuat tubuh Riska bereaksi, dia menegang dengan mata yang makin tertutup rapat.
Suara langkah kaki yaang semakin dekat, membuat tubuhnya terasa semakin tegang, jantungnya bertalu dengan ujung jari yang mulai dingin, telapak tangannya terasa basah karena keringat.
.
__ADS_1
Keenan dan Ezra yang baru saja sampai di rumah, memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar masing-masing, rasa lelah yang mendera tubuh dan juga pikiran mereka sudah menguras habis tenaga keduanya.
Keenan bisa melihat lampu utama kamarnya sudah mati, menyisakan lampu tidur yaang memancarkan cahaya temaram. Matanya mengedar saat dia melihat tempat tidurnya masih kosong, hingga ia bisa melihat istrinya itu tertidur di sofa.
Berjalan dengan langkah gontai, ia menghentikan kakinya tepat di depan wajah Riska, berjongkok dengan tangan bertumpu di samping wajah istrinya.
Huffth!
"Kenapa harustidur di sini? Memangnya kamu gak lihat ada ranjang di sana? Apa kamu sengaja, melakukan ini untuk mencari perhatianku?" ujar Keenan, bergumam tepat di depan wajah Riska.
Riska sampai menahan napasnya saat sapuan napas hangat Keenan terasa di wajah, tubuhnya semakin tegang dengan pikiran bimbang.
'Enak saja dia bilang aku cari perhatiaan! Kalau gak lgi pura-pura tidur, sudah habis kamu sama aku!' gumam hati Riska memaki Keenan.
"Hk!' Riska hampir saja memekik saat merasakan tubuhnya melayang di dalam gendongan Keenan.
"Heh, ngapain pake gendong aku segala?" tanya Riska dengan mata terbuka lebar.
Keenan tak perduli dengan pertanyaan gadis di gendongannya, dia tetap melanjutkan langkahnya menuju tempat tidur.
"Turunin aku! Bang Ken, turunin aku!" pekik Riska berusaha untuk memberontak agar Keenan mau menurunkannya. Tangannya bahkan memukul dada Keenna dengan brutal.
"Bisa diem gak sih kamu, Ris? Nanti kalau mama sama papa dengar gimana?" ujar Keenan.
Riska langsung menutup mulutnya, dengan wajah memerah, dia merutuki dirinya sendiri.
Keenan tersenyum tipis saat istrinya itu langsung diam, karena ucapannya barusan, padahal tidak mungkin juga orang tuanya akan mendengar keributan mereka, karena semua kamar di lantai dua dilengkapi dengan peredam suara.
Riska mengernyit saat melihat senyum Keenan. "Abang, bohong ya? Ih, Abang, turunin aku!"
Bruk!
Keenan tak bisa lagi menahan gerakan dari Riska, kini ia ikut terjatuh ke atas tempat tidur dengan Riska berada di bawahnya.
"Bang Keeee! Dasar nyebelin!"
...🌿...
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...