
...Happy Reading...
...❤...
Hari terus berlalu, sore ini Ayu mengendarai mobil miliknya, keluar dari area Clarissa boutique.
Menyatu dengan kemacetan yang sudah menjadi ciri khas, suasana kota di sore hari.
Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di salah satu toko bunga yang cukup besar di pinggir jalan.
"Eh, Nak Ayu, sudah lama tidak datang!" sapa wanita paruh baya yang ternyata adalah pemilik toko bunga tersebut.
"Iya, Bu. Aku agak sibuk belakangan ini, jadi gak sempat ke sini," jawab Ayu tersenyum ramah.
"Seperti biasa?" tanya wanita pemilih toko bunga itu, seakan sudah tahu apa yang di inginkan oleh Ayu.
"Iya, Bu," angguk Ayu.
"Sebentar ya," ucap wanita paruh baya itu, lalu memanggil salah satu karyawannya untuk merangkai bunga yang di inginkan oleh Ayu.
Beberapa menit kemudian, seorang gadis membawakan buket bunga berwarna biru kepada Ayu.
Ayu menerima dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
*gambar hanya pemanis ya*
Wanita berpakaian tertutup itu, masuk ke dalam mobil dengan membawa buket bunga di tangannya.
Sekitar tiga puluh menit berkendara, Ayu kembali menghentikan mobil miliknya, di parkiran sebuah pemakaman umum.
Keluar dari mobil, dia menyempatkan mampir di salah satu warung yang berjualan bunga di pinggir pintu masuk ke makam.
Wanita itu membeli dua bungkus bunga tabur dan satu botol air mawar.
"Eh, Neng Ayu. Tumben baru datang lagi?" seorang lelaki paruh baya menegur Ayu.
"Iya, Pak. Baru sempet kesini lagi. Bapak sehat?" tanya Ayu.
"Alhamdulillah, Bapak sehat, Neng."
Mereka berbincang sebentar sebelum Ayu masuk ke pemakaman.
"Oh iya, Neng. Beberapa hari yang lalu ada yang nanyain makamnya Almarhum Bu Puspa,"ucap Lelaki yang merupakan penjaga makam.
"Siapa, Pak?" Ayu menutkan kedua alisnya.
"Gak tau, Neng. Eh, kayaknya tadi Bapak liat dia datang lagi."
"Sekarang kira-kira masih ada gak ya, Pak?" tanya Ayu, memandang ke arah pemakaman.
"Gak tau juga, coba aja Neng susul," ucap pria paruh baya itu.
__ADS_1
Sebelum pamit Ayu memberikan amplop berisi uang untuk Bapak penjaga makan tersebut.
Dengan langkah lebar, wanita itu terus menyusuri jalan menuju makam sang ibu.
Hatinya bergemuruh, menebak kira-kira siapa yang menanyakan makan ibunya, setelah beberapa tahun ini, hanya dirinyalah yang selalu datang ke makan sang ibu.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat melihat seorang lelaki yang sedang bersimpuh di samping makam sang Ibu.
Punggung kokoh itu, terlihat bergetar dengan kepala tertunduk dalam.
Tubuh wanita itu mematung, terpaku dengan sosok yang saat ini ia lihat.
Matanya mengabur terhalang air yang sudah siap tumpah.
'Lelaki itu, kenapa dia bisa berada di sini?'
'Kenapa baru sekarang dia datang ke tempat ini?'
Batin Ayu bergejolak, hatinya terasa sakit kembali.
Setelah beberapa hari ini dia menghilang, bahkan setelah tau kebenaran tentang dirinya.
Dia bahkan tidak pernah berusaha menemui atau menghubunginya. Ansel pun tidak tau keberadaan dia, selama beberapa hari belakangan.
Ayu bersembunyi di balik sebuah pohon besar, saat melihat lelaki itu beranjak berdiri.
Jantungnya masih terasa berdetak lebih cepat, telapak tangannya terasa lembab oleh keringat.
Mengintip sedikit dari balik pohon, Ayu menghela napas lega, saat melihat lelaki tadi sudah tidak ada di makan sang ibu.
"Kenapa harus sembunyi?"
Tubuh Ayu kembali mematung, mendengar suara orang yang sedari tadi dia hindari.
"Apa tidak lelah, kamu selalu bersembunyi?" tanyanya lagi.
Ayu menggeleng dengan senyum hambar menghiasi wajahnya.
"Aku tidak pernah bersembunyi. Mungkin Anda yang sibuk bersembunyi selama ini?" balas Ayu, menatap wajah lelaki di hadapannya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Lelaki itu mengangguk-aggukan kepalanya, memalingkan pandangannya dari sosok wanita yang tak lain adalah anaknya sendiri.
Menengadah ke atas, menahan air mata yang kini terasa sulit ia tahan.
"Untuk apa Anda datang ke makam ibuku? Belum cukupkah Anda memberi penderitaan untuk dia selama hidupnya, sampai anda kembali datang untuk mengembalikan luka!"
Ayu menatap marah, punggung lelaki yang merupakan cinta pertamanya itu. Sudah cukup selama ini dia hanya diam, sekarang dirinya tidak mau lagi hanya memendam rasa yang terasa semakin menyesakkan dada.
"Untuk apa Anda hadir, jika hanya untuk menambah luka! Lebih baik jangan pernah menampakkan diri, bila semua itu dapat mengembalikan luka yang sudah berangsur pulih."
Ayu terus berbicara, dengan air mata kini telah membasahi wajahnya, genggaman di buket bunga yang ia bawa, terasa semakin erat.
"Kenapa? Kenapa sekarang Anda diam? Anda tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana dariku?" kekehan yang terdengar memilukan itu mengiringi perkataannya.
"Ya, untuk apa juga Anda jawab. Siapa aku? Berani bertanya pada seorang pengusaha besar, keturunan keluarga terhormat seperti Anda. Aku tidak pantas! Ya, untuk sekedar bertanya saja aku tidak pantas,"
__ADS_1
Emosi wanita itu kini begitu tidak stabil, luka yang ia rasakan begitu menyakitkan, hingga tawa dan tangis itu tak bisa ia bedakan lagi.
Lelaki itu, atau Larry menggeleng ribut, melihat anak perempuannya dengan tatapan sendu dan hati yang sangat sakit.
"Tidak, tidak seperti itu, Nak." tangan Larry berusaha menggapai tubuh sang anak.
"Lalu, apa? Ah, iya ... maafkan aku, Tuan. Seharusnya aku tidak ada di depan Anda saat ini," Ayu berbalik, melangkah meninggalkan ayah yang telah banyak melukai hatinya.
"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah," Larry mencekal tangan kanan Ayu yang membawa bingkisan bunga tabur dan Air mawar.
Semua itu langsung jatuh ke tanah, karena terlalu terkejut dengan apa yang sudah di lakukan oleh Larry.
Tangan kirinya, mendekap erat buket bunga, hingga terlihat sedikit kusut.
"Sebelum meminta maaf, seharusnya Anda tanya dulu pada diri anda sendiri. Pantaskah Anda untuk di maafkan?" Ayu masih menatap lurus, tak ingin ia memandang wajah itu lagi.
"Jangan pernah meminta maaf, sebelum Anda tau, apa kesalahan Anda,"
Larry menunduk dalam dengan bulir bening perlahan menetes dari matanya.
"Aku mohon ... jangan ganggu anak haram ini lagi. Nama baik Anda bisa tercemar, bila orang tau seorang Larry Ardinata meminta maaf ataupun mempunyai urusan dengan seorang wanita hina seperti saya .... Assalamualaikum."
Ayu menghempaskan lengan Larry, lalu berjalan menuju makam sang ibu, tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
Larry memandang punggung anak perempuannya, dengan perasaan hancur. Penyesalan kini menyelimuti hati dan pikirannya.
Ayu bersimpuh di makam sang ibu, kakinya seakan sudah tak berulang, ia sudah tak kuat bahkan hanya untuk menopang dirinya sendiri.
Semua perkataan itu bagaikan dua bilah mata pisau yang berbalik menyakiti dirinya sendiri.
Ketegarannya kini sudah runtuh, dia jatuh, jatuh ke dalam lembah yang ia buat sendiri, tenggelam dalam rasa sakit, karena ucapannya sendiri.
"Ibu, heuks ... heuks ...." Ayu terisak, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Larry menghapus air mata di wajahnya, mengambil ponsel di dalam kantong.
"Ans, tolong datang ke makam ibumu, secepatnya," ucapnya singkat, lalu kembali menutup sambungan teleponnya.
"Maaf ... maafkan Ayah," Larry terus bergumam, matanya terus menatap punggung bergetar sang anak.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Di sini kita buka lagi inti permasalahan rumit keluarga Ayu ya.
Aaaa... Kalian semua baik banget sih sama aku🥰🥰
****Terima kasih ya, untuk semua yang udah kasih vote dan hadiahnya🙏🥰🥰****
Aku seneng banget, karya receh aku sampe masuk rangking vote. Semua ini berkat kalian semua.
Pokoknya makin sayang kalian semua😘😘😘
__ADS_1
Eh, iya lupa, sambil nunggu aku up, bisa baca karya terbaru dari teman literasi aku