Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.165 Sushi


__ADS_3


......Happy Reading ......


...❤...


Setelah drama pagi tadi, siang ini Riskaa dan Keenan tengah berada di perjalanan menuju slah satu pusat perbelanjaan terbesar, untuk mencari perabotan di apartemen mereka.


Riska masih saja cemberut dia masih kesal dengan Keenan karena kejadian tadi pagi. Bibirnya bahkan masih terlihat lebih tebal dan merah karena ulah Keenan.


"Sudah dong marahnya, aku 'kan sudah minta maaf," ujar Keenan, melihat sekilas wajah Riska di sela kesibukan menyetirnya.


"Siapa juga yang marah?" Riska melirik sekilas wajah Keenan lalu kembali menatap lurus ke depan.


Dia memang tidak marah pada Keenan, dia hanya malu, apa lagi bila mengingat kesalahannya karena sudah memukuli Keenan, walau akhirnya lelaki itu mencuri ciumannya juga.


"Kalau gak marah, terus kenapa dari tadi kamu diemin aku?" tanya Keenan dengan alis bertaut.


'Ish, kenapa pake nanya gitu sih, gak tau apa kalau aku itu malu?!' gumaam hati Riska.


"Engak apa-apa, aku cuman lagi mau diem aja," jawab Riska.


"Haah?"Keenan terkejut dengan jawaban Riska, sejak tadi dia sudah tidak enak hati, karena mengira kalau istrinya itu marah. Akan tetapi, jawaban yang didapat membuatnya merasa sia-sia dengan apa yang dikhawatirkannya sejak tadi pagi.


'Astaga, apa semua perempuan seperti ini? Apa dia tidak sadar kalau sudah membuat aku bingung sejak tadi pagi, dan sekarang dia bilang begitu dengan entengnya?' gumam hati Keenan, menepuk keningnya dengan wajah kesal.


Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Keenan sudah masuk ke dalam area parkir gedung perbelanjaan itu, mereka berdua keluar dari mobil bersamaan, berjalan beriringan dengan Keenan berada di samping Riska.


"Kita cari makan dulu yak, aku lapar," ujar Keenan, begitu mereka sudah sampai di dalam.


Riska mengangguk. "Mau makan apa?"


"Gimana kalau kita makan sushi, kayaknya enak deh," ujar Keenan memberi ide.


"Ya udah ayo," Riska kembali berjalan menaiki eskalator untuk sampai ke tempat yang dimaksud Keenan.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah sampai di restoran khas negara tirai bambu yang dituju, keduanya duduk di tempat yang terdapat di sisi restoran itu, Keenan memesan berbagai macam sushi yang ada di sana, sedangkan Riska memesan satu mangkuk Ramen dengan kuah miso.

__ADS_1


"Kamu hnya pesan itu saja?" tanya Keenan sebelum menyuruh pelayan itu pergi.


Riska hanya mengaguk, dia belum pernah makan sushi sebelumnya. Dari yang dia dengar, sushi terbuat dari nasi yang diberi irisan ikan mentaah, makanya dia lebih memilih Ramen. Jenis mie yang pastinya tak akan terdapat ikan mentah di dalamnya.


Beberapa saat kemudian, semua pesanan sudah datang, berbagai jenis sushi terhidang cantik di atas meja, juga semnaagkuk ramen pesanan dri Riska.


Riska meringis melihat banyaknya irisan ikan mentah dari berbagai jenis, barumelihaatnya saja dia sudah merasa mual, apa lagi jika harus memaakannya. Gadis itu bergidik ngeri saat membayangkan semua itu.


Keenan sudah mulai mengambil salah satu sushi pilihannya, mencelupkannya pada sesuatu berwarna coklat yang Riska kira itu mungkin semacam Kecap atau saus khusus untuk makanan itu.


"Kamu mau?" tanya Keenan setelah selesai mengunyah satu buah shusi dan bersiap untuk mengambilnya kembali. Dia bisa melihat kalau sejak tadi Riska melihat dan memperhaatikannya makan.


Riska mneggeleng, kemudian mulai merasakan kuah dari ramen di depannya.


Keenan mengangkat bahunya acuh, lalu kembali satu buah sushi untuk dia makan. "Kamu beneran gak mau coba? Ini enak loh."


Keenan kembali menawarkan, kali ini dengan sumpit berisi sushi yang sudah berada di depan mulut Riska.


Riska menutup mulutnya sambil menggelengkan kepala "Enggak aku gak mau."


"Coba dulu, ini bukan ikan mentah kok," ujar Keenan lagi, dia tahu kalau Riska pasti tidak suka dengan jenis sushi yang memiliki toping tau isian dari ikan mentah.


"Iya, makanya coba dulu, ini enak banget." Keenan kembali meyakinkan Riska.


Dengan sedikit ragu, Riska mulai membuka mulutnya dan menerima suapan dari Keenan. Dia memejamkan mata sambil mulai menguyah pelan.


Keenan tersneyum, melihat tingkah Riska yang terlihat lucu, bagaikan seorang anak kecil saat dipaksa mencoba makanan baru.


"Bagaimana?" tanya Keenan tidak sabar.


Riska membuka matanya, dia menatap Keenan dengan senyum canggung, kemudian mengangguk. "Enak."


Keenan ikut tersenyum dengan jawaban dari Riska. "Mau coba yang lain?"


"Boleh?" tanya Riska ragu.


"Tentu saja boleh ... aku memesan banyak, kalau kamu kurang, kita bisa memesannya lagi" jawab Keenan.

__ADS_1


"Tapi, jangan ada ikan mentahnya," ujar Riksa dengan muka yang memerah.


Keenan kembali tersenyum, dia kembali mengambilkan satu buah sushi dan menyodorkannya di depan mulut Riska.


Siang itu tanpa sadar, mereka berdua makan dengan satu sumpit yang sama, dengan Keenan menyuapi Riska di sela makannya.


Banyak pula para pengunjung yang memperhatikan sepasang pengantin baru itu, terlihat begitu romantis dengan perhatian kecil Keenan yang sebenarnya ia lakukan secara tidak sengaja.


Begitu pula dengan Riska, doa hanya terus menerima suapan sushi yang sudah dipilihkan oleh Keenan, tanpa memperhatikan sekitarnya yang sudah saling berbisik mengagumi mereka berdua.


Ada juga beberapa orang yang mengambil foto dan mempostingnya di media sosial mereka masing-masing.


Tanpa sadar, kemesraan Keenan dan Riska siang ini seperti sebuah klarifikasi tentang berita yang sempat ternding beberapa hari yang lalu.


Beberapa orang tampak mengira kalau itu semua hanya sebuah berita palsu atau hoak yang sengaja di buat untuk menjatuhkan nama besar Darmendra, karena yang sedang mereka lihat saat ini, tidak seperti orang yang dipaksa menikah, tetapi malah seperti dua orang yang sedang kasmaran.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Keenan dan Riska berjalan menuju salah satu toko perabot rumah, mereka membeli berbagai peralatan memasak dan juga tambahan perlengkapan makan, untuk mengisi apartemen yang masih kosong itu.


Keenan berjalan dengan mendorong troli belanjaan, sedangkan Riska memilih barang dengan sesekali bertanya pada Keenan. Siang ini, mereka memang terlihat seperti seorang pengantin baru yang sesungguhny, walau kenyataan di balik pintu tak sejalan dengan yang terlihat di permukaan.


Selesai dengan satu toko, kini mereka berjalan untuk menuju ke swalayan yang masih berada di pusat perbelanjaan yang sama. Riska menghentikan langkahnya saat melihat ada stan minuman yang terlihat begitu menyegarkan.


"Bang, boleh aku beli itu dulu gak? Aku haus," keluh Riska, menunjuk minuman masa kini dengan isian berbentuk bulat di dalamnya.


Keenan melihat Riska lalu mengikuti arah telunjuk gadis di depannya, mengangguk kemudian, diiringi dengan senyum lebar penuh semangat istrinya.


Riska berjalan lebih dulu, sedangkan Keenan berjalan santai di belakang, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku, pandangannya tak pernah lepas dari sosok gadis yang terlihat tak bisa diam itu.


'Astaga, kenapa aku seperti sedang mengajak Naura jalan-jalan?' gumam hati Keenan.


Memilih menunggu di salah satu kursi yang tersedia, sambil melihat Riska yang sedang mengantri di depan sana.


Ya, suasana pusat perbelanjaan siang itu memang cukup ramai, padahal itu bukanlah akhir pekan. Mungkin karena kebanyakan anak sekolah sudah waktunya pulang.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


......Bersambung ......


__ADS_2