Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.141 Kangen


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ayu masih di dalam perjalanan pulang, setelah mengantar Naura ke sekolah, saat dering ponsel di tasnya terdengar.


"Assalamualaikum, Mas," sapa Ayu, begitu ponsel menempel di telinga.


"Waalaikumsalam ... sayang, di mana?" tanya Ezra, bibirnya tersenyum saat mendengar suara sang istri. Hatinya yang sejak tadi kesal karena dua orang perempuan itu, kini terasa lebih baik.


"Aku lagi di jalan, dari mengantar Naura ke sekolah ... ada apa, Mas?" tanya Ayu, begitu mendengar suara suaminya yang terdengar berbeda.


"Gak, apa-apa. Aku hanya rindu suara istri tercinta ini," ujar Ezra, beralasan.


"Apa sih, Mas? Bukannya tadi malam kita sudah video call?" Ayu tersenyum dengan wajah memerah, karena masih ada Gino yang pasti mendengar percakapannya dengan Ezra saat ini.


"Aku memang kangen, sayang. Video call sangat berbeda dengan pertemuan sesungguhnya, aku maunya kita bertemu langsung."


Ayu terkekeh mendengar perkataan Ezra, dia selalu saja dibuat tersenyum jika sedang berbicara dengan sang suami.


"Bagaimana masalah bengkel, Mas? Katanya tadi malam mau bertemu dengan para pelanggan yang kehilangan mobilnya?" tanya Ayu, berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Urusan dengan pelanggan sudah selesai, Aku baru saja bertemu mereka, ini sedang dalam perjalanan ke hotel lagi. Sepertinya hari ini aku mau pulang, di sini biarkan Keenan saja yang mengurusnya," jawab Ezra.


"Aku kangen sama kamu, udah gak tahan pengen ketemu," ujar Ezra sedikit menurunkan nada bicaranya agar tak terdengar oleh Gino. Padahal Gino memang tak bisa mendengar percakapan darinya, karena Ayu mengecilkan suara ponselnya.


"Mas, gak usah berlebihan deh! Ini baru tiga hari, kamu udah ngomong gitu," cebik Ayu tidak percaya.


"Hei, aku beneran kangen sama kamu, sayang. Kalau kamu perlu bukti, aku bisa pulang sekarang juga," tantang Ezra.


"Eh! jangan, Mas. Urus dulu semuanya di sana, kasian Keenan kalau nanti Mas tinggalin begitu saja," lembut Ayu.


"Oh, jadi sekarang lebih perhatian sama Keenan dari pada suami sendiri?" tanya Ezra dengan suara dibuat merajuk, padahal salah satu sudut bibirnya menyunggingkan senyum, di balik telepon.


"Ish! Bukan begitu, Mas. Maaf, aku hanya gak mau kamu maksain diri," jelas Ayu.


'Kenapa dia jadi kayak anak kecil gini sih!' gerutu Ayu, dalam hati.

__ADS_1


Ezra terkekeh pelan karena sudah berhasil mengerjai istrinya, suasana hati yang tadi kacau, kini sudah kembali baik. Berbicara dengan Ayu memang selalu bisa membuatnya tentang dan bahagia, walau hanya melalui sambungan telepon. Ah, apa lagi kalau bertemu langsung.


Pikiran Ezra, semakin mendorongnya untuk segera pulang ke rumah. Bertemu dengan istri dan anak yang selalu menunggu kedatangannya, menyambut dengan senyum penuh kerinduan, hingga membuat hatinya terasa bahagia di tengah keluarga kecilnya kini.


Dia rindu sentuhan lembut dari tangan halus istrinya, juga rengekan manja anak sulungnya. Padahal baru tiga hati mereka terpisah, akan tetapi, kenapa ini terasa sudah begitu lama.


Menggeleng kepala samar dengan senyum tak pernah pudar, Ezra tak pernah menyangka kalau dirinya bisa ada di dalam fase seperti sekarang. Disaat dirinya bergantung dengan seseorang yang dinamakan dengan perempuan. Seorang Ezra, yang mengagungkan sebuah hubungan keluarga, hingga tak bisa berjauhan satu sama lain.


Padahal, dulu dirinya adalah seorang lelaki yang bisa melupakan semuanya ketika sudah bekerja, bos perfeksionis yang dingin dan tegas, hingga dia tidak akan membiarkan para karyawannya pulang, bila masalah belum terselesaikan sampai tuntas.


Namun kini yang terjadi, dirinya sendirilah yang telah berubah. Sekarang dia lebih memperhatikan keluarga tanpa perduli dengan pekerjaan. Sering kali dia mengutus Keenan,untuk menggantikannya menghadiri pertemuan atau menyelesaikan tugas kerja dia sendiri.


"Mas, sudah dulu ya, aku sudah sampai di rumah. Sepertinya ada Mama di dalam, gak enak kalau aku masuk sambil menelepon."


Perkataan Ayu menyadarkan dirinya dari pikiran yang sedang berkelana.


"Iya, sayang. Salam buat Mama ya. Assalamualaikum," ujar Ezra.


"Waalaikumsalam." Ayu langsung menaruh ponselnya di tas, kemudian turun dari mobil, senyumnya terukir cerah melihat mobil ibu mertuanya terparkir di halaman.


"Mama, sudah lama datangnya?" tanya Ayu sambil bercipika cipiki, setelah mengucap salam dan mencium punggung tangan ibu mertuanya itu.


"Alhamdulillah baik, Bu. Dia juga baik, makin ke sini aku udah gak ada keluhan lagi kok, Mah," jawab Ayu sambil tersenyum lembut. Keduanya memilih duduk di ruang keluarga.


"Mama kapan pulang, bukannya kemarin masih nemenin Papa di luar kota?" tanya Ayu.


"Tadi malam, setelah acara selesai kita langsung pulang. Mama khawatir sama kamu, apa lagi Ezra sedang tidak ada di rumah. Ohya, Mama bawain kue dari sana, mau gak? Biar Mama siapin ya," ujar Nawang.


Ayu tersenyum, dia bersyukur telah mendapatkan ibu mertua yang memperlakukannya seperti anaknya sendiri.


"Gak usah, Mah. Aku masih kenyang setelah sarapan tadi pagi," tolak Ayu halus.


"Mama juga mau ngajak kamu belanja perlengkapan bayi, sekarang kan kehamilan kamu sudah berumur delapan bulan, jadi kamu harus menyiapkan perlengkapan bayi, juga ibu nifas dan menyusui.


"Tapi, apa gak apa-apa kalau Mas Ezra gak diajak, Mah?" tanya Ayu, merasa tidak nyaman dalam salah satu sudut hatinya mengingat Ezra sedang di luar kota.


"Tidak apa-apa. Kita hanya membeli barang-barang yang memang penting banget, nanti selanjutnya kamu boleh ajak Ezra.


Ayu akhirnya mengangguk, tak enak juga kan menolak kemauan ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Di sisi Lain, Ezra yang belum menutup teleponnya mendengar semua percakapan Ayu dan Nawang, hatinya semakin menghangat mendengar kedekatan antara ibu dan istrinya.


Hatinya terasa semakin berbunga, mendengar semua perkataan dua orang yang begitu di sayanginya itu.


.


Keenan baru aja turun dari sebuah angkutan umum, tubuh bau keringat dengan rambut lepek juga pakaian berantakan. Jangan lupa juga wajah lelahnya.


Berjalan sedikit untuk sampai di depan hotel, bibirnya terus berkomat-kamit mengumpat sang kakak yang dengan tega, meninggalkannya di restoran yang berjarak lumayan jauh dari hotel.


"Dasar kakak raja tega! Masa aku ditinggal di sana sendiri, mana aku lupa isi baterai ponsel, sampai mati begini! Huh, bener-bener sial banget sih hari ini," gerutu Keenan sambil terus berjalan.


Brak!


Keenan melempar berkas yang dia bawa ke atas meja di kamar Ezra, lalu menjatuhkan diri di atas kasur besar itu.


"Lah, kamu kenapa, Keen?"


Dengan wajah tak bersalah, Ezra bertanya, dia tampak sedang mengemas bajunya ke dalam koper.


"Capek, aku mau tidur sebentar, jangan ganggu dulu ya, Kak," ujar Keenan dengan mata yang mulai terpejam.


"Eh! Nanti dulu, Aku mau kita selesaikan semua ini sekarang juga. Nanti sore aku mau pulang," ujar Ezra.


Keenan langsung mengangkat kepalanya, menatap sang kakak dengan kening bertaut dalam, penuh tanda tanya.


"Kakak mau pulang? Terus pekerjaan di sini bagaimana?" tanya Ezra.


"Kamu yang akan pantau secara langsung. Aku gak mau bantahan!" tegas Ezra.


Keena menghembuskan napas kasar, bila sudah begini dia menolak pun akan percuma. Menjatuhkan kepalanya lagi ke atas kasur, lalu memejamkan mata acuh.


"Ya, nanti kita kerjakan. Sekarang aku mau istirahat sebentar. Setengah jam saja," ujar Keenan.


Ezra akhirnya tak mendebat lagi, dia fokus menyiapkan kepualangannya, dengan bayangan wajah Ayu dan naura menghias di benaknya.


...🌿...


...🌿...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2