
...Happy Reading...
...❤...
Ezra baru saja keluar keluar dari bengkelnya, saat ia menerima sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Sambil terus melangkah menuju mobil, Ezra membuka pesan itu, yang ternyata adalah sebuah foto dan rekaman Ayu sedang berbicara dengan Radit.
Tangannya mengepal, melihat semua itu, dia sempat menghentikan langkahnya beberapa detik saat baru membuka pesan tersebut.
"Ada apa, Kak?" tanya Keenan, yang hendak membuka pintu mobil.
Ezra menatap sang adik lalu menggeleng pelan dan memasukan kembali ponselnya di saku. "Tidak apa," jawabnya sambil membuka pintu dan masuk ke dalam mobil.
Keenan mengangkat kedua bahunya, melihat sikap Ezra, lalu ikut masuk dan duduk di balik kemudi.
Sepanjang jalan Ezra berusaha untuk menenangkan diri, mengingat sebentar lagi dia akan bertemu dengan pihak aparat keamanan terkait kejadian perampokan di bengkel miliknya, hingga menghilangkan beberapa mobil mewah milik pelanggannya.
Semua itu cukup membuat dirinya merugi karena harus mengganti kehilangan pelanggannya, dan juga mengusut semua kejadian ini sampai tuntas.
Sekitar jam delapan malam Ezra baru saja masuk ke kamar hotel, dia kemudian memutar video yang tadi belum sempat dia lihat sepenuhnya.
Video itu seperti di ambil dari jarak cukup jauh, hingga tak bisa mendengar apa yang Ayu dan Radit bicarakan di sana. Akan tetapi, semua gerak-gerik yang keduanya terlihat dengan jelas.
Entah bagaimana caranya, orang itu mendapatkan videonya, sedangkan Ayu dan Gino tak menyadarinya sama sekali.
Tak sanggup menahan emosi karena cemburu dan khawatir, Ezra langsung menelepon Ayu untuk meminta penjelasan.
Sudah beberapa kali panggilan, tetapi istrinya tak juga menjawab teleponnya, membuat Ezra gusar dengan pikiran tak menentu.
"Gino, ibu ada di mana?" tanya Ezra, setelah ia akhirnya memutuskan untuk menelepon sopir pribadi istrinya.
"Ada di ruang tengah bersama Non Naura, Pak," jelas Gino. Dia baru saja keluar dari pintu belakang setelah makan malam dan sekarang sedang menikmati kopi di pos, bersama dengan satpam jaga.
"Coba kamu bilang untuk meneleponku secepatnya," perintah Ezra.
"Baik, Pak." Gino langsung berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah, agar bisa menyampaikan pesan dari tuannya itu.
"Ada apa?" tanya salah seorang satpam yang sedang berada di sana.
"Ini, Pak Ezra menyuruhku menyampaikan pesan pada Bu Nindi," jelas Gino, kemudian meneruskan langkahnya.
Sampai di dalam rumah, Gino langsung bisa melihat kedua perempuan berbeda usia itu, tengah bercengkerama sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Permisi, Bu Nindi," sapa Gino.
Ayu langsung menghentikan pembicaraannya dengan Naura, dan mengalihkan perhatian pada sopir pribadinya itu.
"Ada apa, Pak Gino?" tanya Ayu, tak biasanya sopirnya itu menemui dirinya di saat jam seperti ini.
"Bapak menitipkan pesan kepada saya untuk disampaikan ke ibu," ujar Gino.
Ayu mengernyit sesat, hingga akhirnya dia mengingat kalau ponselnya berada di kamar karena sedang di isi baterai.
"Pesan apa, Pak?" tanya Ayu.
"Katanya, Ibu disuruh menghubungi Bapak secepatnya," jawab Gino.
"Baiklah, terima kasih, Pak Gino," ujar Ayu.
Setelah kepergian Gino, Ayu meminta Bi Yati untuk menemani Naura terlebih dahulu, sementara Ayu akan menghubungi suaminya di kamar.
Berjalan perlahan menaiki setiap anak tangga, Ayu langsung mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas, dia sempat terkejut mendapati banyaknya panggilan tak terjawab dari suaminya.
Berjalan menuju balkon sambil mulai mencari nomor suaminya, kemudian menekan layar yang bergambar telepon, untuk menghubungi suaminya.
Tak menunggu lama, panggilan Ayu telah diangkat, Ayu tersenyum saat menerka kalau suaminya itu memang tengah menunggunya.
Kening Ayu mengernyit, mendengar nada suara yang tidak biasa dari suaminya, walau jarinya langsung mengkonfirmasi permintaan video call dari suaminya.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Ayu, begitu melihat wajah suaminya yang tampak lelah dan sedikit berantakan.
"Waalaikumsalam ... kamu lagi ngapain sih, kok gak angkat telepon aku sejak tadi?" tanya Ezra, ada kerutan halus di kening, saat Ezra bertanya.
"Aku sedang menonton televisi di bawah dengan Naura, sedangkan ponsel aku taruh dikamar karena sedang mengisi baterai," jelas Ayu, begitu lembut.
"Ada apa, Mas? Bukankah biasanya Mas menghubungiku di jam sembilan?" tanya Ayu, dia memilih duduk di kursi balkon.
"Aku hanya sedang kangen saja sama kamu, kemana saja kamu hari ini, hem?" tanya Ezra, memancing istrinya untuk bercerita.
"Aku seperti biasa, menjemput Naura di sekolah, lalu pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari bahan tugas sekolah Naura. Setelah itu kami makan bersama di restoran cepat saji," cerita Ayu, sambil mengingat kegiatannya seharian ini.
"Benarkah? Sepertinya menyenangkan. Apa kamu tidak merasa ada yang terlewat," tanya Ezra, sambil menatap wajah sang istri yang memenuhi layar ponselnya.
Ayu terdiam, dia tahu ke mana arah pertanyaan sang suami, bukan tidak mungkin dia sudah mengetahui pertemuannya dengan Radit tadi siang, entah itu dari Gino atau mungkin anak buahnya yang lain.
"Sebenarnya tadi siang aku tidak sengaja bertemu dengan Radit, di restoran cepat saji. Sepertinya dia adalah salah satu karyawan di sana," jelas Ayu perlahan. Dia tak mau sampai suaminya itu berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Lalu, untuk apa kamu berbicara dengannya, hanya berdua?" tanya Ezra.
Ayu tersenyum tipis saat melihat wajah kesal suaminya di layar ponselnya. "Mas, cemburu?" tanya Ayu, meledek suaminya.
"Ya, aku cemburu! Aku takut kehilanganmu, apa lagi saat ini aku berada jauh darimu. Bagaimana aku bisa tenang saat aku melihat istriku bertemu dengan mantan suaminya," jawab Ezra, mengakui rasa yang kini membuatnya gelisah.
Ayu terkekeh pelan, lalu kembali menatap suaminya dengan serius, kemudian mulai menceritakan semua kronologis yang terjadi di pusat perbelanjaan tadi siang.
Beberapa saat kemudian Ezra baru saja bisa menghembuskan napas lega, setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari sang istri, Ayu hanya menggeleng kepala, melihat sifat posesif yang dimiliki oleh suaminya itu.
"Sudah puas, Mas," tanya Ayu dengan satu alis dinaikkan, menggoda sang suami.
"Ya, aku sangat puas, terima kasih sudah mau menjelaskan, hingga aku merasa tenang sekarang," jawab puas Ezra.
"Kamu di balkon? Kenapa diam di sana saat malam seperti ini? Cepat masuk, angin malam tidak bagus untuk kesehatan tubuh kamu, sayang," cerocos Ezra saat baru saja menyadari tempat Ayu menelepon sekarang.
"Aku hanya sedang ingin menikmati malam di sini, lagi pula ini belum terlalu malam," ujar Ayu, sedikit membantah perintah Ezra.
"Tidak bisa, kamu harus segera masuk. Nanti saja menikmati malamnya kalau aku sudah berada di rumah, jangan sekarang!" tegas Ezra. Dia begitu khawatir dengan istri dan anak yang kini tengah ada di dalam kandungan sang istri.
Ayu mencebik kesal, walau akhirnya dia juga beranjak dan kembali masuk ke dalam kamar, diiringi dengan senyuman puas dari sang suami.
"Bagaimana kabarnya, apa dia baik-baik saja?" tanya Ezra, setelah melihat Ayu duduk di tempat tidur.
"Baik, dia sedikit lebih aktif hari ini," ujar Ayu, sambil mengelus perutnya berulang.
"Aku sangat merindukan kalian, ingin rasanya aku pergi sekarang juga dari sini dan kembali ke rumah saat ini juga," ujar Ezra.
Ayu tersenyum, sejak saat kejadian penangkapan Arumi, Ezra memang baru kali ini berada di jauh dari Ayu. Itu juga karena ada sesuatu yang sangat mendesak, hingga memintanya untuk langsung mengurus semuanya.
"Aku juga kangen sama, Mas. Kapan semuanya selesai?" tanya Ayu.
"Enggak tau, tetapi bila semua urusan dengan pelanggan selesai, aku akan pulang lebih dulu. Biarkan di sini Keenan yang mengurusnya. Aku khawatir padamu bila terlalu lama kita berjauhan seperti ini, sayang," jelas Ezra panjang lebar.
Percakapan keduanya berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Naura menyusul Ayu dan mereka bertiga berbicara bersama, walau hanya menggunakan ponsel sebagai alat penghubung.
Malam itu Ayu dan Naura akhirnya tertidur di ranjang yang sama, setelah puas berbincang dengan Ezra.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1