
...Happy Reading...
...❤...
Beberapa saat mereka larut di dalam suasana haru yang tercipta karena cinta yang kini telah terucap dan bersambut.
Keenan memberikan ciuman bertubi-tubi di puncak kepala Riska, bahkan satu tetes air mata bahagia jatuh tak tertahankan. Begitupun dengan Riska, di dalam pelukan Keenan, dia terus berucap syukur, karena ternyata suaminya itu memang ditakdirkan untuknya.
Keenan menghapus air matanya sebelum mengurai pelukan mereka, dia menangkup wajah istrinya yang terlihat berantakan akibat tangis.
Mata sebab itu bertemu dengan matanya, bertaut dalam hingga tak bisa saling melepaskan, menyelami setiap rasa yang ada, memperkuat ungkapan cinta yang ada.
Keenan kembali mendaratkan bibirnya di kening Riska lalu kedua mata, ujung hidung dan pipi yang terasa lembap oleh air mata.
Menjauhkan wajahnya untuk sesaat, demi melihat muka merah istrinya. Tersenyum samar, sebelum akhirnya dia menyatukan bibir keduanya.
Riska memejamkan mata saat Keenan memulai permainannya yang begitu lembut dan membuai, tangan Keenan pun sudah bergerak menyusuri tubuh istrinya.
Riska tak melawan, dia membiarkan Keenan dengan kegiatannya, hingga saat suaminya itu mau membuka bajunya, dia menghentikan permainan secara tiba-tiba.
"Bang." Riska menahan lengan suaminya.
Keenan tak menyerah, dia melepaskan baju Riska dari genggaman, tangannya kini menyelusup ke dalam, tanpa membukanya.
"Abang." Riska masih berusaha menggeliatkan badannya di tengah rayuan Keenan yang terus menerus.
Keenan membungkam kembali mulut istrinya, menyatukan bibir tampa memberikan jeda untuk istrinya berbicara lagi.
"Eummh." Riska masih mencoba menahan tangan suaminya yang sudah berada di dua gundukan kembar miliknya.
Keenan sudah tak bisa menahan diri, suara yang Riska keluarkan semakin membakar api gairah di dalam tubuhnya.
Gerakannya pun semakin tak terkendali, dengan rayuan yang hampir saja menghanyutkan Riska di dalam rasa nikmat yang diciptakan.
"Abang, jangan." Riska langsung menahan tangan Keenan yang hendak menyelusup memasuki celananya.
Tangannya rafleks langsung mendorong tubuh suaminya, tanpa aba-aba terlebih dahulu. Keenan yang terkejut dengan sikap Riska menaikkan satu alisnya, dengan tatapan bingung.
"Ada apa, sayang? Kenapa?" tanya Keenan.
Lelaki itu sudah tak bisa lagi menahan gairah di dalam dirinya, hingga bagian tubuhnya sudah ada yang meminta jatah, untuk dipuaskan.
__ADS_1
"Maaf, Bang. Aku gak bisa," jawab Riska.
"Tapi, kenapa? Apa kamu masih belum percaya sama aku?" tanya Keenan lagi.
"Bukan! Bukan itu, Bang!" Riska tampak bingung mengungkapkannya.
"Lalu apa? Ayolah, sayang ... ini benar-benar tanggung, kamu menghentikan aku di tengah permainan." Keenan berucap manja.
"A–aku ... A–ku sedang halangan, Bang," jawab Riksa dengan suara lirih dan wajah menunduk dalam.
"Hah?!" Keenan terkejut dengan perkataan Riska.
"A–apa, kamu bilang tadi?" Keenan bertanya, berharap telinganya salah mendengar atau bahkan itu hanya kejahilan Riska untuknya.
"A–aku sedang dapat tamu bulanan, masa Bang gak tau sih?" ujar Riska, kini menatap Keenan dengan kesal.
"K–kapan? Bukannya tadi pagi kita juga melakukannya? Kamu pasti bohong kan? Kamu cuman mau ngerjain aku, ya?" ujar Keenan.
Lelaki itu mengacak rambutnya pruatasi, dengan napas yang masih memburu, menahan desakan gairah.
"Aku gak bohong, Abang. Sejak tadi siang dia datang," jelas Riska.
"Akh, kenapa kamu gak bilang, sayang?" Keenan bertanya dengan wajah memelas, dia menatap inti tubuhnya yang sudah bersiap untuk bertemu dengan pawangnya.
Dia memajukan bibirnya, sebagai protes pada sang suami yang terus saja memotong ucapannya sejak tadi.
"Hah?! Jadi tadi kamu mau bilang itu?" tanya Keenan, dia mengacak rambutnya sendiri.
Melihat Riska yang sedang cemberut malah semakin membuatnya gemas, dia ingin sekali ******* bibir Riska yang terlihat semakin sek*i karena perbuatannya beberapa saat yang lalu.
Riska mengangguk, tanpa tau penderitaan suaminya yang tak bisa menuntaskan gairahnya. Dia bersikap acuh, karena memang tidak tahu, kalau lelaki akan sangat tersiksa bila semua hasratnya tak tersampaikan.
"Ish, kamu tega banget sih, sayang, sama aku," gumam Keenan menatap Riska bergantian dengan bagian bawahnya yang sudah sangat kencang.
"Kok tega sih? Abang, sendiri yang main nyosor aja, tanpa tanya dulu sama aku." Riska tak mau kalah, dia merasa tidak bersalah.
Keenan kembali mengack rambutnya prustasi, dia menatap ristrinya dengan wajah memelas dan tak berdaya.
"Abang, kenapa sih?" tanya Riska, dengan wajah polosnya.
Keenan menggeram dengan semua perubahan wajah istrinya yang malah semakin membuat dirinya semakin tersiksa.
"Gak apa-apa, aku ke kamar mandi dulu," jawab Keenan.
__ADS_1
Beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi, tanpa berbalik lagi.
"Main solo deh," gumam Keenan lirih.
Riska yang tidak tau apa-apa hanya mengangkat bahu acuh, menarik selimut yang sempat tersingkir karena kegiatan singkat yang Keenan lakukan, lalu bersiap untuk tidur.
Sedangkan di kamar mandi, Keenan harus berjuang dengan sabun mandi milik Riska, untuk menuntaskan hasrat yang tak tersampaikan.
Setengah jam kemudian, Keenan keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, dia melihat Riska sudah terlelap di dalam tidurnya.
Menghembuskan napas kasar, lalu melanjutkan langkahnya ke dalam walk in closet untuk mengganti baju.
"Seumur-umur, aku baru pertama kali melakukan semua ini, dan itu gara-gara kamu, Riska," gumam Keenan, sambil melihat dirinya di depan cermin.
Tersenyum geli, saat kegiatannya di kamar mandi terlintas di ingatannya. Bagaimana mungkin dia berbuat seperti itu, hanya karena berciuman dengan istrinya.
Inti tubuhnya itu bahkan seperti merajuk dan sangat sulit untuk ia taklukan, karena bukan pawangnya yang memanjakannya.
Keenan kembali ke kamar, dia membaringkan tubuhnya di samping Riska, membawa tubuh istrinya itu kedalam dekapan kehangatannya.
Riska yang baru saja terlelap, kini mulai tersadar kembali, saat merasakan kehadiran suaminya.
"Abang, mandi lagi?" tanya Riska dengan suara yang parau khas orang bangun tidur.
"Heem," gumam Keenan.
Riska mendongakkan kepalanya, matanya memicing melihat rambut basah suaminya, apa lagi dengan harum sabun yang berbeda dari biasanya.
"Bukannya, Abang, baru mandi, ya? Kok sekarang mandi lagi? Mana, pakai sabun aku," tanya Riska dengan polosnya.
"Ya, tadi aku gerah jadi aku mandi lagi. Masalah sabun ... aku cuman lagi mau pake sabun kamu aja," jawab Keenan, dia mendaratkan bibirnya di bibir Riska sekilas, lalu kembali mengeratkan pelukannya.
"Sudah, lebih baik kita tidur saja, aku ngantuk," sambung Keenan lagi.
Riska mengangguk, dia akhirnya kembali memjamkan mata di dalam kehangatan pelukan sang suami.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah terlelap dengan perasaan bahagia dan juga lega di dalam hati masing-masing, hingga membawa ketenangan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
__ADS_1