Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.57 Cerita


__ADS_3


...Happy Reading...


.......❤.......


Di dalam sebuah mobil mewah, seorang lelaki paruh baya tengah termenung. Sejak tadi, dirinya hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.


Berusaha, kembali mengingat apa yang telah ia lupakan.


"Akh! Kenapa aku tak bisa mengingatnya?!" teriaknya, prustasi.


Sudah sering kali dirinya mencoba mengingat semua masa lalunya. Tetapi entah mengapa, semakin lama semua itu terasa semakin sulit.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya sopir pribadinya.


"Ya, aku tidak apa-apa!" jawabnya, menegakkan kembali tubuhnya.


Jalan yang padat dan sedikit tersendat, membuat perjalanannya ke rumah, memakan waktu cukup lama.


Suara umpatan dan kalkson dari pengendara yang tak sabar ingin segera sampai ke tempat tujuan pun, menjadi pelengkap suasana sore itu.


Ingatannya kembali pada percakapannya bersama Ansel, tadi siang.


Setelah, menenangkan tangis Bian, yang di tinggalkan oleh Ayu dan Naura, Ansel mengajak dirinya untuk berbicara berdua, di tempat yang lebih *p*rivate.


Sebelum itu, Ansel meminta dirinya mematikan ponsel. Agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.


Dirinya menyetujui permintaan anak sulungnya itu.


Walau selama ini dirinya selalu bersikap acuh dan tidak perduli dengan semua yang di katakan oleh Ansel. Tetapi, di dalam hatinya dia merasakan ada sesuatu yang hilang.


Flash back


"Namanya, Ayunindia Clarissa Ardinata. Itu yang ku ingat dulu, Tapi, entah kenapa sekarang nama belakangnya tidak ada lagi?"


Ansel mengingat kembali, ketika dirinya membatu proses cerai adiknya itu.


Lary memperhatikan setiap kata yang ke luar dari mulut sang anak. Tak ada niatan untuk menyela.


"Aku ingat sekali, sore itu Papah pamit untuk pergi bekerja ke luar kota. Seperti biasa sebelum Papah pergi, Papah selalu bertanya pada kami bertiga mau di bawakan apa nanti kalau Ayah pulang?" Ansel mulai kembali mengingat awal dari perpisahan keluarganya.


"Aku dan Nindi akan sangat antusias, terutama Nindi. Masing-masing dari kita akan memesan sebuah mainan atau apa saja oleh-oleh khas dari daerah yang Papah kunjungi."


Ansel tampak tersenyum, mengingat masa itu.


"Sedangkan Ibu, dia hanya akan bilang, Aku hanya menginginkan kamu pulang dengan selamat, sampai di rumah lagi."


"Kata yang sangat sederhana. Tapi, itu berhasil membuat senyum kita semua mengembang."


Mata Ansel mulai berkaca-kaca mengingat wajah lembut ibunya.


"Setiap Papah ke luar kota, Nindi yang paling gelisah dan selalu saja merengek untuk menghubungi Papah. Ibu dan aku selalu di buat kerepotan karena sikap manjanya itu."

__ADS_1


Mata lelaki itu sudah merah, menahan air mata yang akan tumpah.


"Ibu, Ayah kenapa lama sekali? Ndi kangen!, kata-kata itu hampir setiap jam anak itu ucapkan."


Ansel tertawa sumbang mengingat kebahagiaan keluarganya dulu.


"Hingga tiga hari berselang, ibu tiba-tiba saja mengajakku ke sebuah rumah besar. Mengenalkan aku pada dua orang yang katanya adalah kakek dan nenekku, lalu meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun."


"Aki bingung, tak tau apa yang terjadi. Sampai hari berikutnya aku di bawa lagi ke rumah sakit besar. Di sana aku melihat Ayah terbaring tidak sadarkan diri dengan berbagai macam alat penunjang kesehatan."


"Aku pernah mengira kalau aku di jual oleh ibu, untuk melunasi biaya pengobatan Papah."


"Hingga saat itu, aku mendengar percakapan antara dua orang tua itu dan Papah.


"Dari sana aku paham, ternyata aku memang di jual oleh ibu kepada orang tua Papah."


"Bukan hanya aku yang di jual, tapi pernikahan kalian juga di korbankan. Mereka meminta ibu berkorban begitu banyak hanya untuk menyelamatkan nyawa orang seperti Papah."


Air mata itu akhirnya keluar dari manik mata Ansel.


"Mereka bahkan menambahkan fitnah untuk membumbui cerita palsunya. Memutar balikan fakta dan bersandiwara seolah-olah ibu adalah wanita paling hina di dunia."


Ansel tersenyum miris, mengingat masa itu.


Andai saja dulu dirinya bisa melakukan sesuatu, pasti dia akan lakukan apa pun untuk menyatukan kembali keluarganya.


"Mengasingkan aku dengan alasan pendidikan, mengatur semua jalan hidupku dan mencegah agar aku tidak kembali ke tempat kelahiranku sendiri, selama bertahun-tahun."


"Papah tidak tau semua itu 'kan?"


Benar, selama ini memang dirinya tidak tau apa-apa. Yang ia tahu hanyalah meneruskan perusahaan keluarga.


"Papah di jadikan robot untuk mengembangkan perusahaan, oleh mereka. Tapi sayangnya Papah tidak menyadari itu."


Ansel tersenyum miris, sedangkan Lary melebarkan matanya sedikit tidak terima dengan kata-kata kasar dari anaknya.


"Aku belum selesai, Pah," sela Ansel, saat melihat Lary akan menyangkal perkataannya.


"Beberapa hari yang lalu, aku dan Nindi pergi ke makam Ibu. Nindi juga menunjukan kenangan keluarga kita yang masih ada. Jika Papah mau, aku bisa membawanya," ucap Ansel.


"Oh iya, beberapa hari yang lalu aku juga mendapat sampel rambut Nindi, kalau Papah ingin melakukan tes DNA"


"Atau kita bisa meminta langsung pada Nindi, walaupun itu pasti kembali melukai hatinya," ucap Ansel, mengingat dirinya beberapa hari lalu menemukan rambut rontok sang adik di atas bantal tidurnya.


"Sebaiknya jangan di lakukan di rumah sakit kita, aku tidak percaya dengan orang-orang di sana," sambungnya lagi.


Flash back off


"Tuan, kita sudah sampai."


Perkataan dari sopirnya membuyarkan lamunan Lary. Melihat ke luar mobil yang ternyata sudah berada di depan rumahnya.


Keluar dari mobil dan langsung di sambut oleh Arumi yang sudah berdiri di teras rumah.

__ADS_1


"Tumben, pulangnya terlambat. Ponsel Papah juga gak bisa di hubungi?" tanya Arumi, mengambil jas dan tas kerja suaminya.


"Iya, tadi ada pertemuan di luar kantor. Ponsel aku juga mati," jawab Lary.


"Memangnya ada apa, hem?" tanya lelaki paruh baya itu.


"Itu, tadi Melati telpon katanya kangen sama kamu, Mas."


"Oh, biar nanti aku telepon dia, setelah mandi."


Melati memang berada di luar negri, adik dari Ansel itu memilih tinggal bersama kakeknya yang tinggal seorang diri. Sekaligus menempuh pendidikan di tempat kelahiran sang kakek.


...❤...


Ezra menggaruk kepalanya saat melihat hujan yang semakin deras. Awalnya dia akan pulang setelah makan malam, tapi ternyata hujan turun dengan begitu deras.


Di tambah dengan angin yang berhembus cukup kencang.


"Lebih baik, Den Ezra menginap saja. Cuacanya sangat tidak bagus untuk berkendara." Mang Surip mencoba memberi masukan.


Jalan menuju ke kota memang lumayan curam dan akan sangat licin bila sedang hujan seperti sekarang.


Di tambah lagi perjalanan di malam hari akan berbahaya, karena mereka akan melewati perkebunan yang cukup luas.


"Apa tidak akan terjadi masalah, kalau aku menginap di sini?" tanya Ezra.


Dia takut nanti akan menjadi omongan warga atau malah di grebek di tengah malam karena di kira berbuat hal yang tidak senonoh.


"Tidak, Tuan. Saya dan istri saya yang akan jadi jaminannya. Lagi pula saya juga akan menginap di sini." Mang Surip memberikan solusi.


"Kalau Aden setuju, saya akan ke rumah pak RT untuk melapor," sambungnya lagi.


"Baiklah, kalau begitu aku menginap saja," ucap Ezra akhirnya.


Naura bersorak gembira ketika mendengar perkataan Papahnya.


"Hore, Rara mau tidur sama Aunty!" seru Naura, memeluk erat wanita yang tengah duduk di sofa.


Sedangkan Ayu malah terlihat terkejut dan sedikit gelisah.


"Tidak apa-apa. Mang Surip akan melapor ke RT, kita aman kok di sini." jelas Ezra, seakan tau apa yang di khawatirkan oleh Ayu.


Ayu hanya mengangguk lalu kembali asik bermain dengan Naura.


Ezra hanya memperhatikan keduanya dengan sesekali tersenyum tipis.


Ada perasaan hangat yang menjalar ke dalam hatinya, saat melihat kedekatan dua perempuan berbeda usia itu.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak biar aku tambah semangat❤👍✉🔥⭐🌹☕


Terima kasih😘😘


__ADS_2