
...Happy Reading...
...❤...
Pagi ini Ezra, Keenan dan Ansel tengah berkumpul di kantor Ezan Auto Designs. Pusat dari semua bengkel modifikasi milik Ezra.
"Apa semua ini sudah cukup untuk menghukum mereka semua?" tanya Ansel setelah melihat kumpulan bukti yang sudah di dapatkan oleh Ezra dan semua anak buahnya, juga teman yang bersedia untuk membantu dalam masalah ini.
"Aku yakin ini semua sudah cukup, aku juga sudah mendapatkan beberapa orang saksi." Keenan langsung menjawab keraguan dari Ansel.
"Apa benar, secepat ini?!" kaget Ansel membagikan pandangannya pada adik kakak di dekatnya.
Ezra mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh Keenan.
"Aku gak nyangka punya sahabat seperti kalian berdua! Memang siapa saksi itu?" tanya Ansel, sedikit membungkukan tubuhnya.
"Asisten rumah tangga di rumah Om Larry," jawab Keenan, dengan sangat bangga.
Ansel membolakan matanya, mendengar perkataan Keenan, menatap Ezra dengan penuh tanya.
Ezra kembali mengangguk, "Benar apa yang di katakan Keenan."
"Bagaimana bisa, bukankah semua pekerja Papah, sudah di ganti oleh istrinya?" tanya Ansel lagi.
"Ini semua berkat bantuan dari Om Larry," ucap Ezra, ingtannya kembali pada beberapa hari yang lalu, saat dia bertemu dengan Larry.
Flash back
"Ada apa, Om?" tanya Ezra setelah bertanya kabar dan berbasa-basi sebentar.
Larry menyerahkan sebuah botol berisi serbuk kepada Ezra.
"Apa ini, Om?" Ezra menautkan alisnya, memandang Larry dengan penuh tanya.
"Itu adalah obat yang bisa memperlambat ingatan. Selama ini Arumi selalu mencampur, makanan atau minuman untukku dengan itu"
Ezra terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Larry, matanya menatap selidik botol di tangannya.
"Untung saja dua tahun yang lalu, ART di rumah yang sudah ikut denganku semenjak remaja, memergokinya dan mendapatkan samplenya. Setelah tau itu obat apa, dia memberi tahu aku tentang semua ini."
"Sejak saat itu, diam-diam aku berkonsultasi pada dokter di rumah sakit lain, dan selalu membuang apa yang dia hidangkan sendiri untukku."
"Enam bulan setelahnya, ingatanku berangsur pulih. Dibelakang mereka aku mencoba mencari Nindi dan ibunya. Tapi ternyata mereka mengetahui, dan kembali mengancamku akan mencelakai Ayu dan Puspa, kalau sampai aku tetap mencarinya."
"Pengawasan mereka kepadaku juga lebih ketat lagi, membuat langkahku semakin sulit."
Ezra mengangguk-anggukan kepalanya sebagai tanggapan, dari apa yang di katakan panjang lebar oleh Larry.
__ADS_1
"Apa Om juga mempunyai bukti lain, seperti video CCTV atau foto saat istri Om melakukannya?" tanya Ezra.
"Aku tidak punya. Tapi, aku akan berusaha untuk menemukannya." ucap Larry.
"Baik, Om. Mulai saat ini, rekam semua percakapan telpon dengan tante Arumi. Nanti aku akan memberikan kamera pengawas kecil yang bisa om pasangkan di tempat yang tidak terlihat oleh orang lain."
"Kita akan buat ART itu pulang, dan di jalan aku akan membawanya ke tempat yang lebih aman. Aku takut rencana kita di ketahui dan itu sangat berbahaya bagi saksi."
Larry mengangguk menyetujui rencana dari Ezra.
"Baiklah, aku tunggu kabar selanjutnya darimu," ucap Larry, saat mereka berdua akan berpisah kembali.
Flash back off
Sejak saat itu, ada anak buah Arumi yang mau berpihak pada Larry dan sekarang menjadi mata-mata di pihak musuh.
Dengan sedikit iming-iming bayaran yang lebih mahal, dan ancaman akan dilaporkan ke kantor polisi, bila mereka masih ingin ikut dengan rencana Tuannya.
Itu semua berhasil, banyak orang yang tadinya mengawasi Larry kini berbalik memihak padanya.
"Waw! Kalian memang benar-benar hebat. Aku sangat beruntung punya sahabat seperti kalian! Terima kasih, Zra, Keen." Ansel memandang terharu kedua sahabatnya.
"Hei, kita itu sudah bersahabat sejak lama, kenapa jadi melow begini sih?!" Keenan menepuk pundak Ansel berulang.
Ezra dan Ansel tersenyum melihat Keenan yang selalu mencairkan suasana.
"Baiklah, sekarang kita tinggal mencari orang dari kepolisian atau pengadilan yang bisa membantu kita dalam masalah ini. Juga memastikan mereka tidak bisa menegelak lagi!" semangat Keenan.
"Oke, bagus! Berarti kita hanya tinggal menyusun semua bukti dan saksi, kemudian menunggu kabar darimu untuk bertemu kenalanmu itu. Masalah pengacara, biar pengacara keluargaku yang ambil alih, nanti." ucap Ezra.
Keenan dan Ansel mengangguk mantap, dengan senyum mengembang di wajahnya.
'Tunggu sebentar lagi, kita akan segera menjemput setelah situasi di sini tidak lagi berbahaya untuk kamu, Ndi,' batin Ansel.
'Tinggal beberapa langkah lagi,' batin Ezra, dengan bayangan wajah Ayu di dalam pikirannya.
'Semoga setelah ini, kalian bisa segera bersama, Kak,' batin Keenan menatap sang kakak.
...❤...
Di desa, saat ini Ayu tengah berkutat dengan segala peralatan tulis di hadapnnya.
Sudah seminggu Ayu berada di kampung ini, menunggu kabar baik dari kota.
Rasa sepi kini mulai ia rasakan. Walaupun di sini banyak orang yang menemaninya. Tetapi, ketiadaan orang yang ia sayangi membuatnya merasa sendiri.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu, mengalihkan perhatian Ayu.
__ADS_1
"Teh, katanya mau di anter ke makam kakeknya? Ayo atuh, sekarang ajah. Mumpung masih pagi," ucap Dian, saat Ayu membuka pintu.
Ayu melihat jam yang tergantung di dinding, ternyata sudah pukul sembilan lewat lima belas menit.
"Sebentar, Teteh ambil tas dulu ya," kata Ayu, sebelum kembali masuk ke dalam rumah sewa.
"Yuk, naik mobil atau motor saja?" tanya Ayu, sambil berjalan menuju rumah Dian.
Ya, mobil miliknya memang tidak bisa sampai ke rumah sewa, maka dari itu dia menaruh di depan rumah Dian.
"Terserah, Teteh ajah," ucap Dian.
"Kalau gitu kita naik mobil aja ya, biar bisa sekalian belanja ke pasar." Ayu memberi saran.
Dian langsung mengangguk senang, lokasi rumah yang lumayan jauh dari pasar, membuatnya jarang pergi ke pasar.
Sehari-hari, warga hanya mengandalkan warung tetangga yang berjualan.
Setelah sekitar dua jam berkendara, karena tadi terjeda mampir ke pasar untuk membeli oleh-oleh, Ayu dan Dian sampai di sebuah kampung, sudah terlihat lebih ramai dibandingkan dengan kampung Bi Asih.
Di sini memang cukup dekat dengan tempat wisata, membuatnya lebih cepat berkembang dan penduduk yang bertumbuh pesat. Dari warga asli dan para pendatang yang bekerja di tempat pariwisata ataupun wisatawan yang hadir dan singgah silih berganti.
Ayu berjalan menuju sebuah pemakaman umum, dengan Dian mengikuti di belakangnya.
Berhenti di depan dua buah makan, yang tak lain adalah makam kakek dan neneknya.
"Assalamualaikum," gumamnya perlahan, mengusap nisan yang terlihat sudah lapuk termakan usia.
Membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar makam sebelum memanjatkan doa.
Setelah itu, Ayu dan Dian mulai membaca surat Yasin dan dan berdoa dengan khusyuk.
Walaupun selama hidupnya, Ayu belum pernah di bertemu dengan kedua orang tua ibunya itu. Tetapi, Puspa selalu bercerita tentang mereka berdua, sehingga membuatnya merasakan kedekatan dengan almarhum dan almarhumah.
...🌿...
...🌿...
...Bersambung...
Selamat tahun baru Imlek bagi yang merayakan🎉🎎
Terima kasih yang masih setia menunggu dan memberikan dukungan juga kritik dan sarannya.
Maaf atas segala kekurangan dan semoga kedepannya aku bisa lebih baik lagi dalam dunia kepenulisan.
Sampai jumpa di bab berikutnya👋🥰🥰❤
Sambil nunggu aku up lagi, boleh baca karya teman literasi aku.
__ADS_1