Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.123 Periksa


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Ezra dan Ayu kini sedang  berjalan menuju ruangan dokter Ranti. Ayu meremas ujung jilbabnya, berusaha untuk meredam rasa gugup.


Ezra merangkul pinggang istrinya posesif, ia bahkan tak melepaskannya sepanjang perjalanan. Sebenarnya dia juga sedang menahan rasa gelisah dalam dirinya.


Ini terasa lebih menegangkan dari kejadian apa pun yang pernah ia lalui sebelumnya. Kalau sampai hasil dari pemeriksaannya tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan, bukan hanya kedua orang tuanya yang akan kecewa, tetapi dia akan lebih khawatir dengan perasaan istrinya.


Itulah yang membuatnya malas untuk pergi ke dokter kandungan, dia takut akan menyakiti hati istrinya.


Beberapa saat kemudian, keduanya sudah sampai di sepanjang ruangan Dokter Ranti. Mereka langsung disambut oleh perawat yang berjaga di depan.


“Dengan bapak Ezra dan Ibu Ayunindia?” tanya perempuan muda yang memakai baju perawat.


“Betul, Sus,” jawab Ayu.


“Ibu bisa ikut saya dulu, kita akan melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tekanan darah untuk melengkapi berkas kesehatan ibu,” ujar perawat itu begitu sopan.


Ayu mengangguk, dia kemudian mengikuti perempuan itu ke sebuah meja di sudut ruangan itu. Sedangkan Ezra menunggu di kursi, sambil memperhatikan istrinya.


.


Di tempat lain, Ansel baru saja mengerjapkan matanya, keningnya tampak berkerut dalam dengan satu tangan memijat pangkal hidungnya, menahan rasa sakit di kepala.


Kilasan ingatan kejadian semalam, berputar bagaikan kaset rusak di dalam otaknya, membuat rasa sakit di hatinya kembali terasa.


Ruangan putih dengan bau khas rumah sakit, langsung menyapa mata dan hidungnya, begitu dia tersadar. Sudah dipastikan saat ini dia sedang berada di rumah sakit.


Ia juga bisa mendengar suara gemercik air di kamar mandi. Bangkit dan bersandar di ujung brankar. Ansel meringis merasakan tengkuknya yang berdenyut nyeri.


“Sakit juga bekas pukulan si Keenan,” gumam Ansel, lengannya mengusap tengkuk perlahan. Dari rasa sakitnya, ia bisa menebak kalau ini pasti meninggalkan jejak membiru.


“Heh, ini belum apa-apa, dibandingkan rasa sakit yang Ibu dan Nindi rasakan,” sinis Ansel.


Mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya, ia menarik jarum infus di lengannya secara kasar, beranjak menuju ke sebuah kaca besar yang masih tertutup oleh tirai berwarna putih.


Ingatan tentang pembicaraan di kafe tadi malam kembali terbayang, menorehkan luka dan penyesalan yang begitu besar dalam dirinya.


Karena semua itu, dia terpisah dari adik dan ibu kandungnya, bahkan dia tak bisa melihat wajah sang ibu untuk terakhir kalinya.


Ansel merasa menjadi anak lelaki yang tidak berguna, karena tak dapat menyelamatkan ibu dan Nindi dari penderitaan. Rasa sesal itu kini memenuhi seluruh pikirannya, menguasai tubuh juga jiwanya.


Hufth ....


“Maafkan aku, Bu .... Maafkan aku,” lirinya, dengan mata memerah menahan desakan air di pelupuk.


Tenggorokannya terasa kering, napasnya sesak seperti tercekik sesuatu. Tangannya terkepal kuat, saat bayangan wajah orang-orang yang menyebabkan semua itu terlintas.


“Sayang sekali kalian semua sudah mati. Kalau aku tahu semua ini sebelum kalian semua menyatu dengan tanah, aku pasti akan membalas semua perbuatan biadab kalian pada keluargaku!” desis Ansel.


Mata merahnya menatap tajam ke luar jendela, walau pemandangan itu tak terlihat olehnya, karena terhalang amarah besar yang mendesak ingin keluar.


Cklek.

__ADS_1


Keenan keluar dari kamar mandi, dengan wajah yang terlihat segar, rambutnya bahkan masih setengah kering saat ini.


Pandangan matanya, langsung menyorot ke arah Ansel yang berdiri di depan jendela, dengan tangan mengepal erat.


Dia yakin kalau saat ini Ansel sedang menahan amarahnya.


“Sel?”


Tepukan tangan Keenan di pundaknya, menyadarkan Ansel dari semua lamunan dan amarah yang memuncak.


Lelaki itu menoleh pada Keenan sekilas, kemudian kembali melihat lurus ke depan.


Menghela napas berat, sesaat pandangannya jatuh, menandakan betapa terpuruknya lelaki itu saat ini.


“Semuanya sudah berlalu, Sel. Saat ini, menyesal pun sudah tak ada gunanya. Lebih baik kamu fokuskan hidupmu, untuk memberikan masa lalu yang hilang dulu,” ucap Keenan.


Ansel menatap tak bergairah adik sahabatnya itu, walau hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Keenan.


“Kenapa semua ini terjadi pada keluargaku, Ken? Kenapa mereka harus mati dulu, sebelum aku mengetahui semuanya, Ken? Kenapa?!” Ansel meninggikan suaranya di kata terakhir.


“Semua itu sudah takdir tuhan, Sel. Kita tidak bisa mengatur hidup dan mati seseorang,” jawab Keenan, mencoba menenangkan lelaki di depannya.


"Coba kamu pikir, memang kamu akan berbuat apa bila mereka masih hidup? menghukumnya di penjara, mereka kebal hukum, Sel. Itu terbukti dengan keluarnya Arumi, padahal saat itu tuntutan Kak Ezra sudah sangat berat. Atau membunuh mereka? Itu hanya akan membawa kamu ke dalam masalah baru." Keenan berkata dengan bijak.


Ansel berlutut dengan bahu berguncang, isak tangis tertahan terdengar begitu lirih dan menyakitkan.


Keenan ikut berjongkok di samping Ansel, tangannya menepuk bahu lelaki itu, berusaha memberi kekuatan. Dia ikut merasakan sakit, saat melihat Ansel.


Dia tidak bisa membayangkan bila kejadian ini menimpa keluarganya, mungkin saat ini Keenan tidak akan bisa menerima semuanya.


.


“Saya baik, Tan. Bagaimana kabar, Tante?” ujar Ezra, bersalaman dengan dokter Ranti, di susul oleh Ayu.


“Baik, ayo silakan duduk, ibu kamu sudah menjelaskan semuanya di telepon tadi. Jadi sejak kapan istrimu ini telat datang bulan?” tanya Ranti, langsung. Dia meraih laporan kesehatan Ayu yang tadi di simpan di mejanya.


“Kalau dari catatan saya, sudah hampir dua bulan, Dok,” jawab ragu Ayu.


“Wah, benarkah? Baiklah, kalau begitu kita langsung periksa saja ya,” ucap Ranti, sambil berdiri dari kursi.


Ayu mengikuti langkah Ranti, diikuti Ezra di belakangnya. Berbaring di atas brankar, tangannya tak lepas dari Ezra, kedua suami istri itu merasa begitu gugup saat ini.


Ranti dan perawat yang mendampingi menyiapkan peralatan, USG.


Ezra dan Ayu terlihat semakin tegang, saat dokter Ranti memulai pemeriksaannya. Bahkan Ezra sampai menahan napasnya, menunggu perkataan yang keluar dari mulut teman ibunya itu.


Ranti, mengembangkan senyumnya, saat dia bisa melihat tanda-tanda kabar bahagia bagi sepasang suami istri itu.


“Zra, sepertinya sebentar lagi Naura akan mendapatkan seorang adik, lihatlah di sana sudah terlihat kantung janin, juga embrio yang mulai berkembang di dalamnya,” jelas dokter Ranti, menunjuk satu titik kecil di layar monitor.


Perkataan Ranti, jelas saja membuat sepasang suami istri itu mengembangkan senyumnya, mereka tak pernah menyangka, akan diberikan momongan begitu cepat, padahal keduanya tak terlalu berharap, mengingat Pernikahan Ayu sebelumnya.


“Mas,” lirih Ayu, menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca.


“Iya, sayang,” Ezra mengusap air mata yang terlanjur jatuh di wajah istrinya.


Dokter Ranti bahkan menjeda penjelasannya, ia tersenyum melihat kebahagiaan dari anak dan menantu temannya itu.

__ADS_1


“Usianya baru menginjak enam minggu, masih sangat muda dan rentan, jadi kalian harus benar-benar menjaganya,” imbuhnya lagi.


“Pasti, Tan. Aku pasti akan menjaga istri dan anakku dengan sebaik-baiknya,” jawab Ezra dengan begitu bersemangat. Dalam hati ia mengucap begitu banyak syukur, kepada Sang Pencipta, atas karunia yang diberikan kepadanya.


“Tadi malam, istriku sempat sakit di perut bagian bawah, setelah menggendong Naura ke kamar mandi, apa itu tidak apa-apa, Tan?” tanya Ezra, saat mengingat kejadian semalam.


“Hem, sepertinya tidak apa-apa, hanya saja karena kehamilannya masih sangat muda, disarankan untuk tidak beraktivitas berat terlebih dulu, juga menghindari stres berlebih,” jawab Ranti, beranjak berdiri dan berjalan kembali pada kursi kerjanya.


Perawat tadi membantu membersihkan gel dia tas perut Ayu, setelah itu Ezra langsung membantu Ayu untuk bangun.


“Terima kasih, sayang,” Ezra langsung memeluk Ayu, mendaratkan kecupan kilas di kening istrinya, saat Ayu masih duduk di atas brankar.


Ayu mengangguk, air matanya kembali jatuh tak tertahan saat mengingat keadaan dirinya saat ini. Tangannya perlahan mengusap perut bagian bawahnya.


Wanita itu begitu bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan padanya saat ini.


Untuk sesaat, Ayu dan Ezra terhanyut oleh rasa bahagia di dalam hatinya, hingga mereka tak sadar kalau masih ada dua orang lain di ruangan itu.


Dokter Ranti dan perawat yang berada di ruangan itu sampai harus menundukkan sedikit pandangannya, agar tak mengganggu suasana romantis pasangan suami istri itu.


Ezra merangkul pundak Ayu, saat mereka berjalan menuju meja dokter Ranti kembali.


Ranti kembali menjelaskan beberapa poin penting, dalam menjalani dan mendampingi proses kehamilan, untuk sepasang suami istri di depannya. Ayu dan Ezra, tampak mendengarkan dengan begitu teliti, bahkan sesekali mereka mengajukan pertanyaan, bila dirasa kurang memahami.


“Ini resep vitamin dan penguat kandungan untuk Nindi,” Ranti mengulurkan secarik kertas pada Ezra, setelah mengakhiri sesi tanya jawab pagi ini.


“Baik, Tan. Terima kasih,” jawab Ezra.


“Sama-sama. Semoga kehamilannya diberi kelancaran sampai melahirkan nanti,” ujar dokter Ranti.


“Amiin,” jawab keduanya serempak.


Setelah semuanya selesai, Ayu dan Ezra keluar dari ruangan dokter, dengan wajah dipenuhi binar bahagia.


“Aku anterin kamu ke ruangan Naura dulu ya, baru nanti aku tebus vitaminnya,” ujar Ezra.


Ayu mengangguk patuh, dirinya tak mau membuat suaminya khawatir. Lagi pula dia juga ingin melihat keadaan Ansel.


Keduanya berjalan dengan Ezra yang masih memeluk posesif pinggang ramping istrinya, ia tak merasa terganggu oleh pandangan semua orang yang menjadikan mereka berdua bahan perhatian.


Ayu menundukkan kepalanya, ia merasa risih, melihat banyak pengunjung atau petugas rumah sakit, yang terang-terangan memperhatikan mereka berdua.


Saat ini suasana rumah sakit sudah mulai ramai, karena hari sudah semakin siang, tanpa terasa mereka cukup lama berada di ruangan dokter Ranti, hingga melupakan waktu sarapan.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat kemesraan mereka dengan tatapan penuh penyesalan.


...🌿...


...Hem, kira-kira siapa ya?🤔🤔...


...🌿...


...Bersambung...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2