Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab.108 Gelisah


__ADS_3


...Happy Reading...


...❤...


Pram mengendarai mobilnya dengan terburu-buru, ia baru saja mendapat kabar kalau akhirnya Radit sadar, beberapa waktu yang lalu.


Sampai di rumah sakit ia langsung menuju ruang ICU, tempat anaknya dirawat.


Ia bisa melihat Sari yang sedang duduk dengan kepala tertunduk dalam, di kursi besi tepat di depan ruangan Radit.


Mengatur ritme napas yang masih terasa memburu, akibat berjalan setengah berlari dari parkiran mobil, perlahan Pram mendekati istrinya.


“Bagaimana kondisinya?” Pram memilih duduk di samping Sari dengan mata menatap pintu yang masih tertutup rapat.


Sari melirik Pram dengan tatapan tajam. “Ke mana saja kamu, Mas? Anak sakit bukannya langsung ke rumah sakit, ini malah baru datang sekarang!” sindir Sari.


Ya, wanita paruh baya itu sudah tahu kalau suaminya sudah datang dari pagi.


“Aku ada urusan dulu sebentar,” alasan Pram.


Sebenarnya tadi pagi dia sudah melihat Radit sebentar, hanya saja Sari sedang tidak ada di ruang rawat, jadi mereka tidak bertemu.


Sari tersenyum kecut, menatap Pram penuh rasa kecewa. “Kamu memang selalu lebih mementingkan urusanmu, daripada anakmu sendiri, Mas!”


“Aku bertanya, kondisi Radit.” Pram lebih memilih mengalihkan pembicaraan daripada harus terus menimpali ocehan istrinya.


“Dia sedang diperiksa dokter,” jawabnya, mengalihkan pandangannya pada pintu kamar rawat.


Beberapa saat menunggu, seorang dokter akhirnya keluar, membuat kedua paruh baya itu langsung bangkit.


“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?” tanya Sari.


“Akibat benturan yang cukup kuat di kepala, dia mengalami cedera otak, kami masih melakukan pemantauan kepada pasien untuk beberapa hari ke depan. Mohon kepada keluarganya untuk membantu kami dalam mengawasi setiap perkembangan pasien,” jelas dokter lelaki yang berusia mungkin empat puluh tahunan.


“Baik, Dok. Terima kasih,” jawab Pram.


Setelah kepergian dokter yang memeriksa Radit, Pram dan Sari langsung masuk ke dalam kamar rawat Radit.


Sari kembali tak kuasa meneteskan air matanya, melihat kondisi Radit saat ini.


Terbaring tak berdaya, dengan selang oksigen dan jarum infus menghiasi tubuhnya.


“Radit, bagaimana perasaanmu sekarang, Nak? Mana yang sakit?” tanya Sari lirih, setelah duduk di samping ranjang tempat anaknya terbaring lemah.


Radit tampak tersenyum, menatap bergantian kedua orang tuanya. Walau sesekali ia masih meringis seperti menahan sakit.


“Aku tidak apa-apa!” lirihnya, sebagai jawaban. Suaranya bahkan hampir tak terdengar oleh Pram dan Sari.


Air mata Sari mengalir semakin deras, saat mendengar suara lirih yang berusaha di keluarkan oleh anaknya.


 

__ADS_1


.................


 


Hari berlalu begitu saja, saat ini Ezra tengah bertemu dengan Edo, asisten pribadi Agra di salah satu ruangan privat restoran langganannya.


Edo tampak menyerahkan amplop yang cukup besar kepada Ezra. Tanpa menunggu lama, Ezra langsung menyambar dan membukanya dengan tergesa-gesa.


Matanya tampak menatap tajam, setiap lembar kertas yang ada di tangannya, lalu memasukkannya lagi, setelah ia merasa cukup untuk memeriksanya.


“Terima kasih,” ucap Ezra, yang langsung diangguki oleh Edo.


Beberapa saat berbincang, keduanya tampak keluar dan memisahkan diri begitu saja.


“Aku sudah mendapatkan data tentang wanita itu, kita bertemu di lokasi, aku share sekarang!” Ezra berucap pada seseorang di ujung teleponnya, setelah masuk ke dalam mobil.


Tampak sekali lelaki itu tengah menahan emosi di dalam dirinya, terlihat dari cengkeraman di stir mobil yang terlihat sangat kuat, dan rahang yang mengeras, hingga urat di sekitar leher tampak menonjol.


Di tempat lain, Ayu tengah menjemput Naura dari sekolah. Ia baru saja turun dari mobil, saat ada seorang ibu yang bertanya padanya.


“Mau jemput siapa?” tanya salah satu wali murid yang tampak berkerumun di depan pintu masuk sekolah.


“Mau jemput Naura, Bu,” jawab Ayu ramah.


“Wah, ternyata ini ya ibu sambungnya Naura,” salah satu wali murid yang terlihat masih muda, menatap Ayu dari atas sampai bawah, dengan ekspresi tidak suka.


“Oh, ibunya Naura ya, kenalkan saya Ami ibunya Dion, salah satu teman sekelas Naura.” wanita yang tadi menyapanya terlebih dahulu memperkenalkan dirinya.


Ayu tersenyum ramah, lalu menyambut uluran tangan Ami. “Saya Ayunindia,” ucapnya, memperkenalkan diri.


“Mamah!” teriakan Naura mengalihkan perhatian Ayu.


“Eh, jangan lari-lari, sayang.” Ayu langsung berlari demi menyongsong kedatangan sang anak.


“Kayaknya Naura senang banget ya sama ibu sambungnya?” ucap Ami, melihat kedekatan antara Ayu dan Naura.


“Halah, mana ada ibu tiri yang baik, paling dia cuman mau duit bapaknya saja!” timpal ibu muda yang tadi menatap Ayu tidak suka.


“Eh, gak boleh ngomong gitu Bu Eni. Nanti kalau Bu Ayu dengar bagaimana?” tegur Ami, melirik Ayu yang sedang menciumi wajah Naura.


"Biarkan saja, aku tidak peduli. Lihat saja, sebentar lagi dia pasti menunjukan sifat aslinya!" debat wanita yang di panggil Ibu Eni.


Ayu bersikap acuh dan memilih untuk fokus pada Naura, padahal ia bisa mendengar semua yang dikatakan oleh para ibu itu, di belakangnya.


“Ayo, sayang. Bukannya kita mau ke kantor Papa?” ajak Ayu.


Sejak tadi pagi, Naura memang sudah merengek untuk pergi ke kantor papanya. Selama beberapa hari ini Ezra memang terlalu sibuk, hingga selalu pulang malam dan pergi saat pagi buta.


Entah apa yang dikerjakan lelaki itu, hingga ia sampai tak mempunyai waktu untuk anak dan istrinya.


“Iya, Mah. Ayo, aku udah enggak sabar mau main sama Papa!” semangat Naura, menarik tangan Ayu menuju mobil.


“Ibu-ibu saya duluan ya,” pamit Ayu, dengan senyum hangat di wajahnya.

__ADS_1


“Iya, Bu Ayu. Silakan.”


Sampai di kantor pusat Ezan Designs, Ayu langsung disambut oleh para karyawan yang sudah tahu kalau dia adalah istri Ezra.


“Apa, Mas Ezra ada di ruangannya?” tanya Ayu pada salah satu karyawan yang berada di dekatnya.


Mereka tampak saling melirik, dengan tatapan bingung sebelum menjawab pertanyaan Ayu.


“Em, Pa Ezra dan Pa Keenan sedang ke luar sejak pagi tadi.”


Ayu menautkan keningnya, terdiam beberapa detik seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Baiklah, biar kami tunggu di ruangan saja, terima kasih,” ucap Ayu, tersenyum ramah, walau dalam hati dipenuhi rasa bingung.


"Mah, Papah sama Uncle gak ada ya?" tanya Naura, setelah mendengar perbincangan Ayu dan karyawan papanya.


"Iya, sayang. Kita tunggu di ruangan papah aja ya sebentar. Nanti biar Mama coba telepon Papah!" ucap Ayu, yang langsung diangguki oleh Naura.


"Anak pintar." puji Ayu, mencolek pucuk hidung anak sambungnya.


Mereka berjalan berdua menuju lantai dua di mana terdapat ruang Ezra, dengan bergandeng tangan. Di lengan Ayu yang satunya, membawa paper bag berisi makan siang untuk mereka bertiga.


"Mas, Ezra kemana sih?" gumam Ayu, sambil terus mencoba menghubungi suaminya.


Matanya tampak bergerak gelisah, sejak pagi bahkan suaminya tak memberi kabar padanya, sekarang teleponnya pun tidak dapat dihubungi.


Hari sudah menjelang sore, tetapi Ezra belum ada kabar sama sekali. Pandangannya teralih melihat Naura yang sudah tertidur pulas di atas sofa.


Akhirnya ia memaksa anak sambungnya itu untuk makan siang terlebih dahulu, sambil menunggu Papahnya datang. Walau awalnya Naura terus menolak, tetapi, dengan segala cara Ayu berhasil membuatnya makan dan tidur siang.


...🌿...


...🌿...


...Bersambung...


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2