Berbagi Cinta : Antara Kita

Berbagi Cinta : Antara Kita
Bab. 156 Menemukan Lokasi.


__ADS_3

...Happy Reading...


......................


Di rumah Aryo, Alana masih saja terlihat merayu suaminya dan meminta maaf atas semua yang sudah dia lakukan kepada Keenan dan Riska sebelumnya.


“Honey, aku mohon maafkan aku, aku janji gak akan buat kayak gitu lagi,” ujar Alana.


Saat ini keduanya sedang berada di kamar. Aryo sedang bersiap untuk pergi ke kantor, setelah beberapa saat yang lalu Ezra dan Keenan telah pergi.


Laki-laki itu, tidak menjawab apa pun sambil mengambil dasi di dalam almari.


“Sini, biar aku bantu.” Alana mengambil dasi di tangan suaminya.


“Tidak usah, aku masih bisa sendiri,” tolak Aryo, sambil menjauhkan dasi di tangannya dari sang istri.


“Honey, jangan kayak gini dong. Aku gak bisa kalau kayak gini terus.” Alana duduk di sisi ranjang dengan air mata yang sudah menganak sungai.


Aryo menatap istrinya dari pantulan kaca di depannya, ada rasa iba di dalam hatinya, melihat istrinya yang sedang menangis tersedu.


Menghembuskan napas kasar seiring dengan selesainya dia memasangkan dasi di lehernya.


Berbalik demi melihat wajah sendu istrinya. Lalu mulai melangkah ke luar, tanpa menghiraukan Alana.


Setelah menemui kedua anaknya, dia langsung pergi menuju ke kantor, bahkan tanpa sarapan terlebih dahulu.


Alana melihat kepergian suaminya, dari depan rumah, tatapan sendu dan rasa sesal di dalam dada kini mulai dia rasakan.


Namun, semua itu hanya bertahan sebentar, karena sepeninggal Aryo, dia kembali menghapus air mata di pipi, dan berjalan kembali ke dalam kamar.


Mengambil ponsel di atas meja, kemudian menghubungi seseorang. Wanita itu berjalan menuju depan jendela, dengan ponsel yang berada di telinganya.


Menghubungi seseorang yang berada entah di mana. Dia menatap tajam dengan senyum miring mengganggu wajahnya.


"Awasi dia terus, jangan sampai ada celah untuk dua melarikan diri," perintahnya pada seseorang di sana.


"Berhati-hatilah, karena sekarang mereka sudah mulai menyadarinya." Alana langsung memutuskan sambungan teleponnya, sesaat setelah mendengar jawaban.


.


.


Di tempat lain, Alvin baru saja menerima kabar, dari salah satu anak buahnya.


Ternyata dari semua tempat yang mereka curigai, tidak ada satupun yang menunjukkan keberadaan Riska maupun laki-laki itu.


"Bagaimana?" tanya Keenan, setelah melihat asisten kakaknya itu menyadari teleponnya.

__ADS_1


"Tidak ada satupun dari mereka yang menemukan keberadaan Bu Riska," jawab Alvin, penuh sesal.


Keenan menggeram kesal, menahan rasa marah dan putus asa yang ada di dalam hatinya, otaknya benar-benar tidak bisa berjalan dengan baik saat ini.


Ezra tampak mengerutkan keningnya, dengan situasi yang saat ini begitu mendesak. Mencari cara agar secepatnya dapat menemukan keberadaan Riska, sedangkan pelakunya saja masih terasa belum jelas.


"Coba tanyakan nomor telepon laki-laki itu, pada tetangga. Berikan itu pada bagian IT kantor, siapa tau kita bis amenemikan lokasinya," usul Ezra, dengan suara penuh penekanan.


Itu semua terdengar seperti suatu perintah untuk Alvin.


Dia pun langsung mengangguk dan bergerak sendiri bertanya pada tetangga yang berada tidak jauh dari sana.


Beberapa saat kemudian Alvin sudah kembali, dengan tugas yang sudah selesai dia kerjakan.


"Baiklah, kita semua sekarang tinggal menunggu kabar dari kantor. Vin, kamu laporkan semua ini kepada polisi," ujar Ezra, memberikan instruksi.


"Baik, Pak," jawab Alvin, mengangguk patuh.


Ezra beralih melihat sang adik yang masih saja memperhatikan setiap isi di dalam ruangan itu.


"Ken, Ayo. Kita tunggu di mobil saja," ajak Ezra, kemudian.


Keenan melihat kakaknya yang tampak sedang memperhatikan dirinya, pandangan mereka sempat beradu beberapa saat, hingga akhirnya Keenan mengangguk lalu mengikuti Ezra keluar dari rumah itu.


Sepeninggal Ezra dan Keenan, Alvin kemudian menghubungi nomor salah satu kenalan Ezra yang berada di kepolisian, untuk melaporkan hilangnya Riska sekaligus penemuan mencurigakan di rumah tersebut.


Keduanya hanya terdiam, tidak ada yang berinisiatif untuk membuka suara lebih dulu. Pikiran dan juga raga mereka sama-sama lelah, hingga rasanya tidak ada tenaga hanya untuk berbicara.


Merebahkan sedikit kursi mobil, untuk meluruskan kaki dan tulang belakang mereka. Menyandarkan punggung dengan mata yang terpejam.


Walaupun, tubuh mereka ada di tempat itu. Akan tetapi, pikirannya sedang berkelana ke lain tempat, mencari cara yang lebih efektif lagi, untuk segera menemukan keberadaan satu wanita yang sekarang entah sedang berada di mana.


Cukup lama mereka berdiam diri, hingga suara ketukkan di kaca mobil, membuat mata keduanya terbuka.


Terlihat Alvin yang sedang berdiri condong di samping mobil, Ezra pun akhirnya bangun dan membuka pintu. Dia keluar dan berdiri di depan asisten pribadinya itu.


Keenan pun ikut turun dan menatap penuh tanya kehadiran asisten dari kakaknya itu. Walaupun, tubuh terasa sangat lelah, ditambah dengan hati yang terus terasa gundah.


Namun, Keenan seakan melupakan semua itu, demi menemukan sang istri kembali.


"Pak, kita sudah menemukan lokasi keberadaan Bu Riska," ujar Alvin, melaporkan.


Ya, beberapa saat yang lalu, dia mendapatkan telepon dari kantor, dengan rincian lokasi dari pemilik nomor yang dia berikan.


"Benarkah? Di mana?!" tanya Keenan, penuh semangat.


Dia bahkan sampai menggoyangkan tubuh Alvin, karena tidak sabar ingin mengetahui keberadaan istrinya saat ini. Harapan untuk bisa bertemu lagi dengan istrinya, kini mulai menyala, membuat semangat Keenan bertambah berkali-kali lipat.

__ADS_1


"Ken, tenang." Ezra menepuk pundak adiknya, untuk menenangkannya.


Keenan menatap wajah sang kakak, lalu perlahan nelepaskan tangannya di pundak Alvin.


"Maaf," ujarnya yang langsung diangguki oleh asisten Ezra itu.


Alvin bernapas lega, setelah tangan Keenan akhirnya lepas darinya, setelah beberapa saat yang lalu, dia seperti sedang menaiki suatu wahana hingga tubuhnya berguncang keras.


"Jelaskan, Vin," perintah Ezra, pada asistennya.


Alvin menganggukan kepala, sebelum memulai penjelasannya.


.


.


Di tempat lain, Riska menhembuskan napas kasar, setelah dirinya berhasil menenangkan dirinya sendiri. Dia kemudian duduk kembali dengan mata yang mengedar, mencari cara untuk melepaskan diri dari tempat itu.


Pandangannya jatuh pada pecahan piring yang masih berserakan di lantai.


"Semoga itu bisa membantuku membuka ikatan ini," gumamnya, sambil berusaha menggeser tubuhnya ke sisi ranjang.


Riska menurunkan terlebih dahulu kakinya yang juga terikat, dengan sangat hati-hati, menghindari pecahan piring itu.


Perlahan dia menurunkan tubuhnya, agar bisa amenjangkau pecahan piring yang masih besar. Akan tetapi, karena kakinya yang terikat, membuat tubuhnya oleng dan akhirnya jatuh terjerembab, hingga tangannya yang berada di belakang punggung, mengenai salah satu pecahan piring yang lumayan besar.


"Akh!" Riska refleh berteriak, walau secepat kilat dua mengatupkan bibirnya, agar tidak terdengar ke luar.


"Sssh," desisinya merasakan perih dan sakit di tangan sebelah kanan.


Ya, dia hampir saja jatuh tertidur ke sebelah kanan, hingga membuat tangannya refleks menahan bobot tubuhnya, dan mengenai pecahan piring cukup dalam.


Entah bagaimana keadaan tangannya saat ini, dia sama sekali tidak bisa melihatnya. Akan tetapi, dia bisa melihat tetesan dari dari tangannya di lantai.


Dengan tangan bergetar, Riska mengambil pecahan piring yang bisa dia genggam, untuk membantunya memotong ikatan di tangannya.


...🌿...


Banyak yang bilang kelamaan, Keenan nemuin Riskanya. Padahal di cerita ini masih di hari yang sama🤭 Masalahnya di sini, aku yang gak bisa up banyak, jadi kalian merasa lama🙏


Oh iya, di cerita ini gak ada yang dipaksakan ya, semuanya berkaitan. Ikuti terus, biar kalian tau akhirnya bagaimana😁 dan jangan lupa like dan komennya👍


Maaf, juga karena akhir-akhir ini aku gak balas komen kalian. Tapi, aku selalu lihat kok, walau memang gak sempat buat balas. Terima kasih semuanya, lope-lope sekebon untuk kalian semua😘❤️❤️❤️


...🌿...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2