
...Happy Reading...
...❤...
"Mas," rintih Ayu saat merasakan sakit di dalam perutnya semakin menjadi, tangannya menggenggam erat tangan Ezra menahan rasa sakit hingga terlihat memutih di beberapa bagian.
Tak ada teriakan kesakitan atau umpatan yang biasanya mewarnai ruangan persalinan. Ayu hanya terus beristigfar dengan sesekali merintih dan memanggil suaminya lirih, setiap kali rasa sakit yang hampir saja tak dapat dia tahan, menyerangnya.
"Iya, sayang ... Mas ada di sini. Sabar ya, sayang ... istigfar," ujar Ezra, sambil mengelus wajah sang istri dengan salah satu tangan yang terbebas.
Ayu menarik napasnya dalam lalu mengehembuskannya, berusaha mengatur perasaannya dan tetap tenang, walau rasa sakit itu, semakin tak tertahankan.
'Ya Allah, beginilah rasa sakitnya melahirkan, dan ini juga yang dirasakan ibuku saat melahirkanku dulu?' gumam Ayu, dengan perasaan bercampur aduk, saat mengingat almarhum ibunya kembali.
'Ibu, maafkan Ndi. Ndi sudah banyak merepotkan dan membuat ibu susah," sambungnya lagi, dengan air mata tak dapat lagi ia bendung.
Sesuatu di dalam perutnya terasa mendorong dengan begitu kuat, hingga rasanya dia tidak bisa lagi menahan desakan untuk mengejan.
"Ya Allah, Mas," rintihnya lagi, sambil kembali mengencangkan genggamannya, dia memejamakan mata dengan begitu rapat juga mengeratkan gigi hingga bibirnya bergetar menahan rasa sakit. Saat ini posisi Ayu sedang tertidur miring ke samping kiri dengan lengan Ezra di depannya.
Ezra yang sudah tidak tahan dengan semua itu, menatap Dokter Ranti dengan tatapan memohon. Melihat Ayu yang tampak begitu tersiksa membuatnya merasa tidak berguna.
Kalau saja dia bisa menggantikan dirinya dengan sang istri, itu mungkin akan lebih baik jika dia yang merasakan rasa sakit ini, dari pada melihat istrinya seperti sekarang ini.
Bila dia tidak sadar dengan semua prosedur melahirkan yang begitu panjang, mungkin kali ini dia sudah mengamuk dan menyuruh semua dokter untuk menyembuhkan rasa sakit istriya itu.
"Tante, apa belum saatnya juga?" tanya Ezra dengan wajah gusar.
Dokter Ranti tampak melihat waktu sebelum beranjak dari tempat duduknya dan memriksa pembukaan leher rahim Ayu kembali.
Ezra memabantu Ayu untuk berbaring terlentang dan bersiap menerima pemeriksaan itu.
__ADS_1
"Pembukaan sudah lengkap, kita sudah bisa memulai persalinan," instruksi Dokter Ranti kepada Ayu dan Ezra, juga seluruh tenaga medis yang berada di sana.
.
Di bagian depan Rumah sakit, Nawang dan Garry yang baru saja datang langsung disambut oleh Gino dan di arahkan ke ruang persalinan Ayu.
"Bagaimana kondisi anak perempuanku?" tanya Nawang, begitu Gino menghampirinya.
"Bu Ayu sudah masuk ke dalam ruang bersalin, Nyonya," jawab Gino, di sela langkah cepatnya.
"Astaga, kenapa kamu baru memberitahuku di saat sepeti ini, Gino?" gerutu Nawang, menjadikan sopir sekligus pengawal menantunya itu, pelampisan rasa kesal dan khawatirnya.
Dia bahkan hampir saja pergi bersama teman-temannya untuk makan malam bersama, saat Gino mengabarkan kondisi Ayu.
Sedangkan Garry masih berada di kantor, karena ada rapat yang belum diselesaikan. Mereka berdua langsung meninggalkan kesibukannya dan secepatnya pergi ke rumah sakit.
"Maafkan saya, Nyonya," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Gino, tanpa ada pembelaan sama sekali.
"Sejak kapan Nindi merasakan tanda-tanda mau melahirkan, kenapa kalian tidak mengabari kami sebelumnya?" tanya Garry, dengan intonasi yang lebih tenang.
Nawang melebarkan matanya, saat mendengar penjelasan dari Gino, dengan perasaan tak menentu. Marah, kesal dan khawatir, kini begitu kuat menekan dirinya.
"Apa! Butik?! Nindi masih pergi ke butik?" tanya Nawang, dengan suara tinggi.
"Iya, Nyonya. Karena Pak Keenan sedang tidak enak badan dan Mba Riska tidak bisa datang ke butik, terpaksa Ibu menggantikan Mba Riska, untuk datang ke butik dan Pak Ezra menggantikan Pak Keenan di kantor.
"Apa? Keenan sakit, bagaimana bisa tidak ada yang mengabari kami berdua?! Astaga, anak-anak ini!" geleng Garry. Tidak habis pikir dengan semua anak dan menantunya.
Gino tak menjawab lagi, dia memilih diam dan mendengarkan perbincangan kedua orang tua itu, yang lebih pantas disebut dengan ocehan kepada anak-anaknya.
Begitu sampai di depan ruang persalianan, kedua orang itu mencoba melihat ke dalam, melalui kaca kecil di pintu, walau mereka hanya bisa melihat sekilas kesibukan di dalam sana, tanpa mengetahui dengan pasti keadaan menantunya.
Sedangkan Bi Yati yang sudah datang lebih dulu, tampak segera beranjak menghampiri kedua majikannya.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya, sebaiknya duduk dulu," ujar Bi Yati.
Nawang lansung mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya itu dan ikut duduk di samping Bi Yati. Dia sama sekali tak menyadari kehadiran pengasuh anaknya itu, karena rasa khawatirnya.
"Sejak kapan Bibi ada di sini? Bagaiman kondisi anak perempuanku, Bi?" tanya Nawang, memegang tangan pengasuh kedua anaknya itu.
"Saya sudah setengah jam di sini, Nyonya. Kata perawat yang beberapa saat lalu masuk, kondisi Ibu masih baik-baik saja, jadi Nyonya gak usah khawatir. Saya yakin, Bu Ayu akan baik-baik saja juga dengan bayi yang di kandungnya," ujar Bi Yati, berusaha menenangkan perasaan majikannya itu.
"Iya, Bi. Kamu benar ... mereka pasti akan baik-baik saja, Nindi adalah wanita yang kuat, dia pasti bisa melewati ini dengan sangat mudah dan keluar dengan selamat," jawab Nawang, menyetujui perkataan Bi Yati.
Beberapa saat kemudian, Ansel, Larry dan Elena, datang bersamaan dengan langkah cepat dan wajah paniknya.
"Bagaimana keadaan Nindi?" ujar mereka bersamaan, begitu sampai di depan Nawang dan Garry. Mereka bahkan lupa untuk mengucap salam saking paniknya.
"Nindi sudah ada di dalam, sebaiknya kita berdoa saja, semoga persalinanya lancar dan ibu serta anaknya diberikan keselamatan," jawab Garry, setelah dia bisa mengendalikan kepanikan di dalam dirinya sendiri.
"Iya, benar. Sebaiknya kita doakan Nindi, agar kelahirannya diberikan kemudahan," ucap Larry dengan napas yang masih memburu.
Dia yang sudah memutuskan untuk mundur dari jabatanya dan memilh diam di rumah bersama anak dan cucu, langsung berangkat bersama dengan Elena saat menerima kabar dari Gino.
Sedangkan Ansel yang kini sudah mengambil alih perusahaan keluarga Ardinata, segera membelokkan mobilnya ke arah rumah sakit, saat dirinya sedang di dalam perjalanan pulang.
Mereka semua akhirnya memilih duduk di kursi tunggu dengan semua pikirannya masing-masing. Di dalam hati setiap orang di sana, terselip doa yang tak pernah berhenti terucap untuk Ayu yang sedang berjuang, juga bayi yang akan segera lahir ke dunia ini.
Nawang dan Elena tampak saling menguatkan dengan genggaman tangan yang tak pernah lepas, sedangkan Garry dan Larry tampak bergerak gusar walau keduanya tengah duduk berdampingan.
Ansel sendiri memilh untuk berdiri di depan pintu ruang bersalin dan sesekali menengok ke dalam, berharap dia bisa mengetahui dengan pasti, keadaan sang adik dan keponakannya.
...🌿...
Sudah pada siapkah untuk kelahiran Ezra junior? komen👍❤
...🌿...
__ADS_1
...Bersambung...